
Angga baru saja ingin keluar mengikuti perawat yang sudah berjalan jauh di depannya, namun saat perawat itu ingin berbelok, tiba-tiba seorang pria menghadangnya dan segera merampas bayi Bella yang ada di dalam gendongan Perawat itu. Perawat itu melawan, namun tidak sekuat pria itu, bahkan perawat itu sampai jatuh.
Angga yang melihat itu awalnya terhenti, matanya langsung membesar, melihat pria itu membawa Bayinya, Angga dan pria itu sesaat betatapan, dan Angga yakin siapa yang di lihatnya, Aksa!.
Aksa langsung berlari, Angga yang melihat Aksa membawa anaknya segera mengejar Aksa, sedangkan perawat yang tadi membawa anak Angga berteriak-teriak minta tolong.
Teriakan itu sampai terdengar ke ruangan Bella, membuat baik bidan dan Bella kebingungan dan kaget.
"Ada apa?" kata Bella, merasa ada yang aneh, naluri keibuannya merasa ini ada yang tidak beres.
"Saya akan menanyakannya, Nyonya tunggu saja di sini," kata Bidan itu yang baru juga selesai mengurusi Bella.
"Baik," kata Bella yang masih tidak tenang.
Bidan itu keluar dari ruangan Bella, bertemu dengan perawat dan salah satu petugas keamaanan, bidan itu tampak kaget, mereka semua melihat ke arah Bella, perasaan Bella makin parah, pasti ada masalah.
"Ada apa? " kata Bella, entah kenapa perasaannya sedih, karena itu saat mengatakan ini, dia menangis.
"Nyonya, bayi Anda … " kata Perawat itu.
"Ada apa dengan Bayiku? " kata Bella tangisnya meledak.
"Bayi Anda di culik," kata Bidan itu langsung, Bella mendengar itu tidak percaya, matanya membesar, dia lalu segera mencoba bangkit.
"Aku ingin melihat anakku, kau bohong! Aku mau anakku," kata Bella.
"Nyonya, nyonya, keadaan Anda belum stabil, kami sudah menanganinya, Anda harus istirahat dulu, " kata bidan itu menahan Bella yang memaksa untuk duduk, ingin keluar.
"Tidak, aku mau melihat anakku! Sekarang! " kata Bella berteriak histeris, Satpam dan perawat itu langsung menahan Bella, mereka tidak bisa membiarkan Bella pergi, karena keadaannya masih begitu lemah.
Angga langsung mengejar Aksa yang berlari, mereka melewati lorong-lorong rumah sakit, Aksa yang melihat Angga mengejarnya, berusaha untuk terus kabur, dia menjatuhkan beberapa barang yang ada di lorong-lorong rumah sakit itu, mencoba membuat Angga terhalang, namun Angga sebisa mungkin mengejar, apapun yang terjadi, dia akan menjaga anaknya. Bahkan jika di butuhkan, dia akan menukar hidupnya asalkan anaknya tidak ada masalah.
"Aksa!! kembalikan anakku! " Teriak Aksa, namun Aksa terus saja berlari.
Namun langkah Aksa segera berhenti ketika dia tidak bisa lagi berlari kemana-mana, di depannya hanya ada dinding kaca, di balik kaca itu tidak ada lantainya, jika kaca itu pecah, maka akan jatuh langsung ke lantai dasar, Aksa melihat ke arah bawah, karena mereka ada di lantai 4 rumah sakit itu, jadi terlihat sangat jauh ke lantai dasar, saat dia ingin pergi ke kanan dan kiri, keamanan rumah sakit sudah mengepungnya, dia melihat ke belakang, melihat Angga sudah mendekat padanya.
Aksa segera mengeluarkan pistol dari balik bajunya, dia lalu mengacungkannnya pada semua orang yang ada di sana, semua orang yang melihat itu langsung kaget, beberapa perawat yang juga melihatnya langsung teriak.
"Tidak, kalau kalian mendekat aku akan terjun dengan anak ini," kata Aksa mengancam, semua orang yang mendengar itu segera berhenti, Angga pun begitu, dia langsung serba salah, apa yang harus dia lakukan sekarang?.
Angga mengamati penampilan Aksa yang begitu lusuh, rambutnya panjang tak terurus, wajahnya yang biasanya mulus dan rapi, benar-benar tidak terawat, kumis dan jenggotnya juga sudah panjang. Bagaimana dia bisa kabur dari penjara?, pikir Angga menatap Aksa dengan sangat dalam, dia terus memperhatikan anaknya yang mulai menangis, membuat hati Angga langsung miris mendengarnya.
"Aksa, jangan sakiti anakku, tolong," kata Angga tidak peduli lagi dengan apa pun, bahkan di hina oleh Aksa pun dia tidak peduli lagi.
"Hah, di mana sikap angkuh dan sombongmu itu? lihatlah dia, sangat cantik, Bahkan lebih canitk dari ibunya, aku memang mengakui, dia punya semua yang Bella dan dirimu miliki, bahkan matanya, apa kau sudah pernah melihat matanya, aku rasa belum, beruntung sekali aku sudah bisa mengendongnya," kata Aksa mengelus pipi anak Angga dengan perlahan, bayi itu menangis dengan kuat.
"Aksa! Tolong jangan sakiti anakku! " Bella histeris ketika melihat pemandangan di depannya, Angga yang mendengar suara Bella langsung melihat ke arah suara itu datang, melihat Bella yang ada di kursi roda yang di dorong oleh Perawat, Infus masih tergantung, wajahnya masih terlihat pucat sekali, dia baru saja melahirkan, tapi sudah harus melihat hal ini. Angga jadi bertambah miris. Merasa tak berguna sebagai suami dan ayah.
"Halo Bella, senang sekali bisa melihatmu lagi, sayangnya, kau sudah cukup mematahkan hatiku, kenapa kau tidak pernah melihatku di penjara?" kata Aksa menatap sedih wajah Bella yang masih pucat, menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Aksa, Aku mohon berikan anakku padaku, dia masih butuh aku," kata Bella yang tidak tega mendengar anaknya menangis begitu kuat. Angga hanya bisa diam saja.
"Tidak, aku tidak akan menyerahkannya, bukannya dulu kau setuju untuk membiarkan aku mengakuinya sebagai anakku," kata Aksa lagi dengan senyum menakutkan, bahkan seperti orang yang tak waras.
"Aksa, ganti saja dia denganku, kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja aku asal jangan melakukan apa pun pada anakku dan Bella, jangan sakiti mereka," kata Angga pada Aksa.
Aksa memindahkan pandangannya pada Angga, dia lalu tertawa dengan keras, membuat bulu kuduk orang-orang di sana langsung merinding.
"Jangan, bawa saja aku, dari dulu kau ingin aku kan? Bawa saja aku," kata Bella menangis menatap Aksa, Aksa kembali melihat Bella.
"Lihatlah sekarang bagaimana wajah kalian, kalian memohon padaku, sayangnya aku sudah tidak punya niat untuk membunuhmu, atau bersama denganmu Bella, aku ingin kalian merasakan penderitaannya, kehilangan anak kalian, kalian tenang saja, dia akan ku rawat, dia akan menjadi wanita yang cantik, dia akan mengantikanmu Bella, dia akan ku berikan semua pengajaran yang pernah kau dapatkan, dia akan sangat sempurna menjadi seorang putri Alexandrite, hahaha, aku tidak masalah jika harus menunggu 15-17 tahun lagi," kata Aksa melihat wajah cantik bayi Bella yang masih menangis, membuat pipinya memerah.
"Jangan! Aksa! Aku mohon! " kata Bella, Bella segera turun dari kursi rodanya, mengenyampingkan nyeri, sakit, letih dan tenaganya yang tak ada, bahkan ketika kakinya di pijakkan, seluruh tubuhnya ambruk lansung ke lantai, untungnya dia lansung bertumpu dengan lututnya, sakit bekas jahitan dan bekas melahirkan yang dia rasakan benar-benar membuatnya gemetar namun dia tidak memperdulikannya. apa pun dia lakukan, asalkan anaknya selamat.
Angga yang melihat Bella seperti itu langsung memeganginya, Bella sekarang dalam keadan bersujut pada Aksa, Aksa yang melihat itu tersenyum senang,
"Aku mohon Aksa, bawa saja aku, jangan buat anakku seperti diriku! Aku mohon! Angga bawa anak kita! " kata Bella memohon dengan lirih, dia tidak bisa membayangkan anaknya akan hidup seperti dirinya dulu, dia tidak akan sanggup hidup setiap hari memikirkan bagaimana nasib malang anaknya, Bella menangis lirih, Angga pun tak sanggup melihatnya, di sela matanya, mengalir air mata, benar-benar tak berdaya harus melakukan apa sekarang.
"Aksa, tolong, kau bunuh saja aku, itu akan menyelesaikan semua masalah, aku memohon padamu," kata Angga melepaskan Bella dan berlutut di depan Bella, Air mata menbasahi matanya yang indah, dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya, dia tidak peduli lagi apa pun, bahkan dengan nyawanya, dia akan melakukan apa pun, asalkan anak dan istrinya bisa selamat, bahkan sebagai pria, dia tidak sanggup jika harus berada di keadaan seperti ini.
Aksa tampak senang dengan pemandangan ini, dia lalu mengacungkan pistolnya ke arah Angga, Angga terlihat pasrah ketika pistol itu sudah menghadap ke arahnya, sedangkan Bella yang ada di belakang Angga hanya bisa melihat dengan ngeri, dia merangkak ingin mengapai Angga, namun tenaganya tidak bisa, apa lagi sakit di tubuhnya tidak bisa lagi dia tahan.
Duar!....