Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
256



Jofan memasuki mobilnya, Aurora mengikutinya dan duduk di samping Jofan, tak lama Jofan langsung mengendarai mobilnya.


Jofan tak melirik sedikit pun pada Aurora, dia hanya fokus dengan jalanan, Aurora yang awalnya ingin sedikit membuka perkataan, namun diurungkannya karena melihat Jofan begitu serius.


"Aku akan membiarkanmu memilih," ujar Jofan. Aurora yang mendengarnya langsung menatap Jofan.


"Maksudnya?" tanya Aurora.


"Aku akan setuju menikah denganmu, tapi aku hanya menganggap pernikahan ini adalah pernikahan bisnis untuk kelangsungan keluarga kita, jadi aku dan kau tidak ada hubungan," kata Jofan dengan sangat serius, dia bahkan tidak melirik pada Aurora.


Aurora hanya terdiam mendengar perkataan Jofan, dia memainkan tangannya, mendengarkan kata-kata Jofan membuat hati Aurora terasa sakit, matanya terasa pedih, namun dia tak ingin menangis di depan Jofan. Hanya sebatas itu kah hubungan mereka? hanya alat untuk meningkatkan bisnis.


"Pernikahan ini tidak seperti pernikahan biasa, aku tahu kau wanita yang baik, tapi aku tidak tertarik sama sekali denganmu, aku tidak suka memaksakan perasaan, maka karena itu aku tidak suka jika nantinya kau memaksaku melakukan apa pun, tentang anak, maaf aku rasa aku tidak akan bisa memberikanmu anak, aku sudah menganggap Jared dan Jenny adalah anakku, jika kau merasa sanggup menjalani pernikahan seperti itu, kau boleh menyetujuinya, dan kita akan menikah, tapi kalau tidak, aku juga akan memakluminya," Jofan menjelaskan semua yang ada di kepalanya, dia tak ingin nantinya akan membuat Aurora merasa tersiksa saat dia sudah menikah dengannya.


Aurora kembali terdiam, pernikahan seperti itu apakah benar adalah pernikahan?, apakah Aurora bisa melewatinya?.


"Jika kau tidak mau, kau tinggal menolaknya," kata Jofan yang melihat Aurora sedikit murung.


"Tidak, aku akan memikirkannya, jadi pernikahan ini akan seperti hidup bersama tanpa hubungan, kita akan bersama, namun hanya seperti teman hidup ya?" tanya Aurora lagi.


"Mungkin seperti itu, kau akan mendapatkan semuanya, posisi ibu negara, pembagian harta hingga semua yang harus kau dapatkan, kecuali yang berhubungan dengan ku, jika nanti kau bertemu seorang pria dan kau ingin berhubungan dengannya, tak usah takut aku akan mendukungnya, bahkan jika kau ingun. punya anak dengannya, silakan saja," kata Jofan lagi dengan sangat entengnya.


"Ehm ... baiklah, aku akan memikirkannya, tapi kita akan menjadi sahabatkan apa pun keputusanku?" Aurora melirik ke arah Jofan yang serius dengan pekerjaannya sekarang.


"Baiklah."


"Kalau begitu, sebagai awal dari persahabatan yang mungkin akan berlangsung seumur hidup kita, maukah kau bercerita tentang dia?"


"Siapa?"


"Wanita yang membuatmu sampai tidak bisa menerima siapa pun."


"Oh, dia, hanya gadis biasa yang bekerja di kedai kopi di depan kampus," kata Jofan tersenyum manis, Aurora yang melihat itu hanya terdiam, begitu terpesona dengan senyuman manis Jofan.


"Benarkah? jadi ini adalah cinta masa kuliah? wah dia sangat beruntung, sekian lama masih dicintai olehmu."


"Sebenarnya dia tak pernah tahu, Dia dulu hanya bekerja, seorang gadis polos yang baru lulus SMA, di kampus, semua orang menghormati aku, mereka mau berteman denganku karena kedudukan ayahku, jadi hari pertama dia bekerja di sana, dia memarahiku karena aku mengambil kue seenaknya, dia tak tahu aku siapa, sejak saat itu aku suka datang saat shiftnya bekerja, dia bahkan membayariku minuman karena dia berpikir aku hanya mahasiswa biasa," Jofan tampak menerawang jauh, setiap dia mengingat wajah manis Sania, dia akan tersenyum.


Aurora menatapnya, dari mata Jofan terlihat pancaran cinta yang begitu dalam.


"Lalu? kenapa kau tidak mengatakan perasaanmu padanya?"


"Dia tiba-tiba menghilang, dan saat aku menemukannya kembali, wanita itu sudah bersama pria lain, karena aku merasa dia tak akan bersamaku lagi, aku jadi bermain dengan banyak wanita, suatu hari, aku menemukan bahwa dia akan di hukum mati karena dituduh meracuni seseorang, dia di siksa hingga wajahnya hancur, aku menyelamatkannya, tapi sepertinya dia sudah tak mengenaliku karena selama aku di kedai kopi, aku selalu mengunakan penyamaran agar bisa leluasa berbicara dengannya," kali ini mata Jofan memancarkan kesedihan yang mendalam, Aurora tak tahu nasib wanita itu sungguh malang.


"Jadi? apakah dia sudah ...." kata Aurora tak berani melanjutkan.


"Meninggal maksudmu? aku tak tahu, dia kembali meninggalkanku."


"Tapi dengan kedudukanmu sebagai Presiden, seharusnya kau bisa dengan mudah menemukannya."


"Aku belum menemukannya sampai sekarang, mungkin memang dia sudah tidak ada lagi di dunia, terakhir kali dia sakit parah, dokter memvonis hidupnya tak akan lama," sorot mata Jofan menyuram, sesuram perasaannya sekarang, sangat merindukan Sania, namun tak tahu harus kemana, cinta pertama dan terakhirnya, kandas bahkan sebelum bersama.


Aurora menangkap kesuraman itu, dia langsung bisa merasakan kesedihan hati Jofan yang membuat hatinya tersentuh, mungkin suatu saat, pancaran cinta itu bisa jadi miliknya, dan status sahabat ini akan menjadi pasangan yang sebenarnya.


"Aku akan menerima tawaranmu," kata Aurora serius. membuat Jofan kaget hingga mengerem mendadak, untungnya jalan malam itu sudah sepi.


"Maksudmu?" tanya Jofan yang tak menyangka Aurora dengan cepat memutuskan pilihannya.


"Aku akan menerimanya, sepertinya bersahabat dengan status menikah akan menjadi menyenangkan, aku akan menuruti semua syaratmu, dan dengan begini ayahmu dan ayahku tak akan sibuk menjodohkan kita dengan orang lain, jujur saja itu mengesalkan," jelas Aurora sambil tersenyum.


"Ya, memang menyebalkan, aku mau kau memikirkannya masak-masak, aku tidak masalah dengan semua keputusanmu."


"Ya."


"Sudah malam, lebih baik aku cepat mengantarmu pulang, akan jadi berita heboh jika ada yang memergokiku mengantarmu malam-malam begini," ujar Jofan tersenyum pada Aurora, akhirnya dia bisa tersenyum padanya.


"Baiklah," kata Aurora senang, sedikit demi sedikit dia berharap bisa mengantikan wanita itu di hati Jofan, siapa yang tahu tentang masa depan kan?.


Jofan melajukan mobilnya segera setelahnya.


---***---


Sebuah pagi yang cerah, Angga sedang tampak merapikan baju resmi kerajaan yang sangat pas di kenakannya.


"Bagaimana?" tanya Angga meminta pendapat Bella yang sudah tampak Anggun dengan Gaun putihnya.


"Cocok sekali," Bella mendekati suaminya, mengelus bahu suaminya yang tegap nan bidang, Angga hanya memperhatikan wajah Bella yang begitu cantik dan anggun, sudah lama dia tak melihat istrinya ini dengan setelan gaun, benar-benar terlahir menjadi seorang putri.


"Apa aku sudah punya kharisma seorang pangeran?" tanya Angga yang ternyata masih mengingat perkataan Bella.


"Haha, kau ini, tidak, kau tidak punya kharisma seorang pangeran."


"Lalu?" kata Angga sedikit mengerutkan dahinya, masa dia begitu tampan dan gagahnya dengan pakaian resmi kerajaan ini tidak memiliki kharisma itu.


"Kau tidak punya kharisma pangeran, karena kau sebentar lagi akan jadi Raja, jadi yang aku lihat, kau punya kharisma seorang Raja," goda Bella pada Angga, Angga yang mendengar kata-kata istrinya hanya tersenyum, dia melingkarkan tangannya pada pinggang kecil istrinya.


"Sudah siap menjadi ratu?"


"Asal kau Rajanya, aku siap kapan saja."


Angga tersenyum mendengar gombalan istrinya, dia tak bisa menolak untuk mencium gemas bibir istrinya, dia menciumnya dengan dalam, namun hanya diam saja.


"Ups!" terdengar suara kecil Suri yang melihat ayah dan ibunya sedang berciuman, dia tampak mengemaskan dengan gaun putihnya dan mahkota kecil di atas kepalanya. Dia menutup matanya dengan jemari kecilnya.


Bella dan Angga yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangan ke Suri, mereka hanya bisa tertawa.


"Kemari," Kata Angga memanggil anaknya, mendengar itu, Suri langsug berlari ke arah Ayahnya, Angga langsung mengedong anaknya, saling berpelukan, sungguh gambaran keluarga yang bahagia.


Tak lama sekretaris Kerjaan datang memasuki kamar itu.


"Yang mulia, Acara penobatannya akan di mulai sebentar lagi, apakah Anda sudah siap?" Tanya sekretaris kerajaan pada Angga.


"Ya, saya sudah siap," kata Angga mantap.


Ruangan Aula yang luas dan penuh ukiran indah itu penuh, banyak orang yang datang untuk menyaksikan penobatan Angga.


Daihan, Nakesha, Jofan dan para bangsawan yang lain tampak di baris depan, mereka tak sabar akan penobatan Raja yang baru.


Suasana khitmat menyelimuti ruangan itu, Angga berjalan dengan penuh wibawa, dia mengandeng Bella, sedangkan Suri memegang tangan ibunya, mencoba mengikuti cara ibunya berjalan, semuanya takjub melihat keluarga kerajaan yang baru.


Pemimpin acara segera memulai acara penobata, Angga berlutut, Ratu Ayana menyerahkan Mahkota ke kepala Angga, menyerahkan tongkat dan tanda Kerajaan pada Angga, Angga menerimanya dan segera berdiri.


Selanjutnya Ratu Ayana menyerahkan mahkota Ratu yang di pakainya, di letakkan di atas kepala Bella, suatu hal yang seharusnya di terima oleh Bella sejak beberapa tahun yang lalu.


"Berikan hormat kepada Yang Mulia Raja Angga Xavier dan Ratu Bella," terdengar suara pemimpin acara mengema, seluruh orang di sana berdiri, lalu memberikan salam serempak pada Raja yang baru.


Angga mengenggam tangan Bella dengan erat, menatap ke depan melihat jalan masa depan yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya.


Bella pun tak menyangka, akhirnya dia kembali lagi ke takdirnya selama ini.


Rumah adalah di mana aku dan dirimu bersama, memupuk cinta, memeliharanya hingga tua dan keturunan kita dengan bangga menceritakan cerita cinta kita yang tak tepisahkan oleh waktu dan masa.


Kita mulai dengan sebuah takdir yang mempertemukan, terasa dekat karena punya tujuan yang sama, di lanjutkan dengan keteguhan untuk bersama, hingga berakhir dengan cinta yang tidak akan bisa dipisahkan.


***The End for Love, Revenge and The Sea.


____________________________________


Halo kakak semua, dan akhirnya cerita ini selesai juga, untuk kisah Angga dan Bella selasai sampai di sini.


Terima kasih sudah membaca Love, Revenge and The Sea sampai tamat. saya tidak bisa membalas apa pun, hanya bisa berterima kasih dengan seluruh hati saya, saya bisa melanjutkan hingga tamat karena kalian.


Jika ada yang bertanya? Jofan bagaimana? atau adakah cerita Archie atau suri? jawabannya ADA!


Saya melanjutkan cerita mereka di Novel saya yang baru (sudah publish loh, sudah lulus juga, bisa di search atau langsung klik Nama saya, dan lihat di karya saya)


Judulnya : "Shameless Prince"


( Pangeran yang tak tahu malu).


Sekali lagi terima kasih, dan semoga menyukai cerita selanjutnya ya kak ... aku tunggu di sana.


Salam Quin***.