
Helikopter mendarat dengan sempurna, Angga membantu Bella melepaskan sabuk pengamannya, Bella menyerahkan jas itu kembali pada Angga, Angga menuntun Bella untuk turun, beberapa orang segera menghampiri Angga, Angga menggenggam tangan Bella dengan erat.
"Silakan Tuan, mobil Anda sudah siap." kata salah satu dari mereka, segera menunjukkan mobil pada Angga.
Pintu sudah dibukakan untuk Angga dan Bella, Angga mempersilakan Bella untuk duduk duluan, meletakkan kembali jasnya di pangkuan Bella, Bella melihat itu hanya tertawa kecil, prianya ternyata over protective juga. Setelah Angga masuk dan duduk, mereka segera berjalan, ada 3 mobil saat mereka berjalan, Asisten Jang dan Judy duduk di mobil paling depan beserta penjaga, di belakang juga ada mobil penjaga.
"Apa harus seperti ini?" kata Bella melihat rombongan mereka begitu banyak, padahal hanya ingin melihat ibunya.
"Tidak ingin ambil resiko, Aksa bisa ada di mana saja." kata Angga melirik Bella.
"Oh, Baiklah." kata bella.
Mengingat ibunya, Bella sekarang menjadi gugup, semakin roda mobil itu berputar, semakin gugup dirinya, apakah ibunya akan senang bertemu dengannya? Apakah dia mengingat Bella? Bagaimana jika dia tidak menginginkan Bella lagi? cemas Bella dalam Hati.
"Bella, apa pun dan bagaimana pun, dia tetap Ibumu, kita akan menjaganya ya," kata Angga lembut, melihat ke arah Bella. Angga sebelumnya melihat kekhawatiran Bella yang menunduk di sampinganya.
Bella hanya diam, ada sesuatu yang sepertinya tak mengenakkan. tapi apa? Bella menarik napasnya dalam-dalam, benar, apapun yang terjadi, ibunya menerima dia atau tidak, Bella tetap akan merawat Ibunya.
Mobil itu tak lama masuk ke sebuah gedung suram yang tampak kecil dan sumpek, di pintu masuknya Bella sempat melihat tulisan Rumah Saki Jiwa, membaca itu Bella menjadi gelisah. Menatap ke luar, mengamati semuanya.
Angga juga tampak kaget melihat keadaan gedung yang sangat tak layak menurutnya. Bagaimana bisa ada rumah sakit jiwa seperti ini?.
Bella mengetatkan pegangan tangannya pada Angga, Angga menatap bela yang gusar.
"Ibuku ada di sini?" tanya Bella.
Angga tak bisa menjawab, dia hanya melihat ke arah mereka berhenti. Tak lama mereka keluar, bahkan udaranya terasa tak enak untuk di hirup, pengap dan panas.
Setelah keluar dari mobil, Asisten Jang mendekati mereka.
"Benarkah di sini? kenapa terlalu parah keadaanya? bukannya aku menyuruhmu untuk membuat keadaannya lebih baik?" kata Angga dengan serius pada Asisten Jang.
"Menurut laporan, saat ingin melakukan sesuatu, selalu ada seseorang yang menghalangi mereka, maka perintah Anda tak bisa di lakukan secara maksimal." Kata Asisten Jang yang melihat Angga gerah dengan keadaannya.
"Di mana ibuku?" kata Bella.
"Mari Nona." kata Asisten Jang mengarahkan dengan beberapa orang penjaga.
Bella mengikuti Asisten Jang, Angga berjalan di sampingnya. Bella yang berjalan itu tampak bertambah gusar, keadaan di sana benar-benar buruk dan kotor.
"Apa kau tahu Ibu begini?" kata Bella dengan raut wajah suram
"Ya." kata Angga tercekat melihat wajah sedih Bella.
"Mereka bilang aku harus jadi anak baik, putri yang baik agar ibuku hidup senang, tapi kenapa ibu ku begini?" kata Bella menahan rasa sedihnya, semakin dia masuk semakin suram tempat itu, banyak sampah di mana-mana, lantainya kotor, benar-benar tak terurus dengan baik.
Tak lama seorang penjaga berhenti di sebuah ruangan, ruangan itu tak besar, cat putihnya sudah terlihat menguning, banyak yang terkelupas. Bella diam, tidak berani untuk masuk, hatinya merasa belum siap untuk masuk ke dalam.
Dari jendela kecil yang lebih tepatnya seperti terali besi penjara yang mulai berkarat, Bella samar melihat sosok di dalamnya, mengamati keadaanya.
Wanita itu sedang duduk di ranjang pasien yang lusuh, sperainya yang entah apa warnanya yang pasti tampak kusam, duduk diam hanya tampak berkomat-kamit, rambutnya tampak cukup terawat walaupun masih terlihat awut-awutan, kamarnya cukup di rias, walaupun sederhana.
Menatap itu, Air mata Bella mengalir, butirannya jatuh ke lantai, dia tak tahu apakah dia menangis akhirnya menemukan ibunya, atau miris karena melihat kondisinya yang pasti sekarang rasanya hatinya tertusuk dalam, kenapa mereka melakukan ini pada ibunya?.
Wanita itu lalu menolehkan wajahnya menghadap ke arah Bella, jejak-jejak kecantikan itu masih terlihat, hidungnya yang mancung, bibir tipisnya yang sekarang tampak berkerut, dan yang tidak bisa di pungkiri, mata mereka yang sama.
Tangis Bella pecah melihat wajah ibunya kembali, sekarang dia yakin, wanita ini ibunya, dia ingat betul matanya yang sama percis dengan dirinya, tangis Bella pilu, bagaimana mereka bisa membiarkan ibunya seperti ini? padahal dia hidup bertahan di kurung 20 tahun hanya untuk Ibunya, dia bahkan rela di dorong masuk ke dalam lautan malam itu, karna lebih memilih hidup ibunya, tapi apa yang mereka lakukan, mereka membiarkan Ibunya hidup menyedihkan begini.
Angga yang melihat ke dalam itu juga merasa miris, terlalu tega memisahkan anak dari ibunya, dan membiarkan ibunya mencari anaknya hingga kehilangan ke warasannya, bahkan untuk orang yang dingin seperti Angga, tindakan itu terlalu kejam.
Angga menarik Bella dalam pelukkannya, membiarakan menangis, mencoba menenangkan tubuh Bella yang bergetar, Angga mengelus kepala Bella dengan lembut. Tangis Bella bener-bener pilu, bagaimana bisa ibunya jadi seperti itu?. Setelah cukup mereda, Angga berbisik pada Bella.
"Masuklah, temui dia, dia sudah mencarimu 20 tahun ini."
"Apa dia akan mengenaliku?" kata Bella menyeka air matanya, Angga membantunya mengusap air mata Bella dengan ibu jarinya, memandang Bella dengan penuh kasih sayang.
"Tidak perduli dia mengenalimu atau tidak, dia tetap ibumu. Pergilah, aku menunggumu di sini." kata Angga
"Kau benar, Baik lah, aku masuk dulu." kata Bella sedikit tersenyum.
Angga juga membalasnya dengan senyuman tipis, tak tahu akan seburuk ini keadaan ibu Bella, dia mengeluarkan gestur, membuat Judy dan beberapa orang masuk menemani Bella. Angga menunggu di luar.
"Siapa yang menanggung jawabi rumah sakit ini?" kata Angga berat dan serius
"Pemerintah daerah sekitar." kata Asisten Jang.
"Lakukan apapun untuk bisa mengubah rumah sakit ini jadi lebih layak huni," kata Angga melihat sekitarnya
"Mereka pasti akan senang." kata Asisten Jang.
Angga tak menjawab, dia kembali melihat ke sekeliling, menarik napas panjang, tak bisa membayangkan hidup begini.
"Hei, kalian! sudah aku bilang kan jangan lagi datang kemari! aku menolak kalian melakukan apa pun pada Ibuku!" suara seorang wanita yang terdengar emosi.
Mendengar itu Angga dan semua orang yang ada di sana teralihkan perhatiannya. Mata Angga tampak membesar, di matanya tersirat kekagetan yang dalam, dia bahkan terhuyung ke belakang beberapa langkah, menangkap sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya dengan mencakakan tangan di pinggangnya.
"Mika?" katanya kaget tak percaya.