
Bella hanya meringkuk di kamarnya, sudah 3 hari dia melakukan ini, rasanya seluruh badannya itu sakit semua, dan nyawanya untuk melanjutkan hidup hanya tinggal setengah. Bayang-bayang akan kematiian Sania adalah salahnya membuatnya bahkan tidak bisa tidur, walaupun dia ada di tempat tidur sepanjang waktu.
Angga melarang Bella untuk melihat berita apapun, bahkan handphonenya pun untuk sementara disita oleh Angga. Angga memang sengaja tidak memperbolehkan Bella untuk melihat berita, sehingga Bella tidak tahu kapan Sania akan dieksekusi, dan sebenarnya, Sania sudah di eksekusi sehari setelah Bella bertemu dengannya.
Bella masih meringkuk di dalam selimutnya, padahal mata hari sudah sangat tinggi. Terlalu malas untuk meninggalkan kehangatan dan kenyamanan ranjang dan selimutnya, Angga membuka pintu kamar Bella, hari ini adalah hari libur, jadi Angga juga seharian ada di rumah.
"Belum mau bangun?" kata Angga melihat Bella yang tampak tenggelam dalam kasurnya.
"Yah, aku masih sakit." kata Bella benar-benar lemah.
"Kau tidak sakit, hanya tidak ingin bangun dari tempat tidur, ayo, bangun lah." kata Angga menarik selimut Bella agar Bella mau keluar dari kasurnya. Namun saat itu ternyata Bella sama sekali tidak memakai celana, hanya kaos panjang sepahanya, membuat pahanya yang mulus itu terpampang jelas.
"Kyaa! Kau ini mesum sekali, "kata Bella langsung terduduk, menutup pahanya dengan selimut lagi.
"Aku mana tahu kau tidak pakai celana, lagian kenapa harus malu, kau saja sangat PD saat memakai bikini dulu." kata Angga sebenarnya sedikit terpana dengan pemandangan yang baru di lihatnya.
" Sudah keluar dari sini, aku akan segera keluar." kata Bella sedikit kesal.
"Baiklah, aku akan menunggu di ruang makan. " kata Angga.
"Iya. " kata Bella segera turun dari ranjangnya, sebelum Angga keluar, dia melihat Bella sekilas yang sedang berlari kecil ke kamar mandi dengan baju gembornya itu, Angga jadi tertawa kecil melihatnya.
Setelah mandi dan bersiap-siap, Bella keluar dari kamarnya, pergi ke ruang makan untuk makan, karena ini sudah jam 10, dia sebenarnya sudah melewati sarapan, Bella lalu melihat ruang makan yang di dominasi warna putih itu, melihat Angga sedang menunggunya sambil melakukan panggilan telepon, begitu dia melihat ke arah Bella, dia menyudahi panggilan itu.
Bella sedikit mengerutkan dahi, dia lalu duduk di tempat biasanya dia duduk, tetap menatap Angga dengan wajah bertanya. Di meja makan sudah terhidang makanan untuk Bella.
"Makanlah, ada yang ingin aku katakan padamu setelah ini." kata Angga, melihat wajah dan nada bicara Angga, Bella sedikit merasa ada yang tidak beres dengan ini semua.
Bella makan sedikit, tidak berselera makan selama beberapa hari ini, perutnya terasa mual, apa lagi selalu ada suara yang bergema di kapalanya, apa yang di makan Sania hari ini? sedangkan dia makan dengan enak sekarang.
" Sudah?" kata Angga melihat Bella yang sudah menepuk-nepuk mulutnya dengan tisu.
"Yah, tak berselera." Kata Bella
"Nanti siang apa makanan yang membuatmu selera, biar aku menyuruh koki untuk memasakkanya."
"Nanti sajalah, apa yang ingin kau bicarakan?" perasaaan Bella tak enak ketika mengatakan hal ini.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini padamu, tapi sepertinya kau harus tahu, kalau tidak kau akan hidup seperti ini selamanya. "
"Apa ini tentang Sania. "
"Ya."
Bella merasa bibirnya masam, sangat masam hingga terlihat dari wajahnya, dadanya juga sakit, dia sudah tahu apa yang ingin di katakan oleh Angga.
"Eksekusinya sudah di lakukan 2 hari yang lalu, seperti permintaanya, tubuhnya tidak di serahkan ke keluarganya." kata Angga dengan suara berat sedikit serak.
"Lalu?"
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengurus tubuhnya, kemarin juga sudah di kremasi. Dia di perlakukan dengan layak." kata Angga menatap Bella yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Bagaimana dengan orang tuanya?" kata Bella menyeka air matanya yang tertimbun dengan jari telunjuknya yang lentik, bola matanya melihat ke atas.
Bella terdiam mendengar itu, kenapa semua yang memikirkan itu adalah Angga?, seolah-olah kematian Sania adalah salahnya.
"Kenapa kau harus melakukan itu?" kata Bella dengan wajah berkerut.
"Karena apapun yang kau perbuat, itu juga jadi tanggung jawabku. " kata Angga serius melihat Bella
"Kenapa begitu? " kata Bella masih penasaran.
"Karena kau adalah wanitaku, aku tidak ingin kau hidup dengan penyesalan, Sania meninggal sebenarnya bukan karena mu, dia tetap harus di hukum karena sudah memasukkan racun berbahaya di minumanmu, bisa saja jika tidak ada yang melihatnya, malam itu kau meninggal, tapi aku tahu kau sangat menyalahkan dirimu sendiri, sekarang yang bisa kita lakukan hanya membuat kedua orang tuanya bahagia walaupun kehilangan anak."
Bella terdiam, padahal semua rencana ini, Angga sama sekali tidak tahu, dia merancangnya sendiri, tapi malah Angga yang begitu bertanggung jawab.
"Bagaimana? Apa menurutmu itu cukup?"
"Ya, sudah itu sudah cukup, apakah aku boleh menemui orang tuanya?"
Angga melihat Bella sejenak, melihat pancaran berharap dari mata Bella.
"Baiklah, ingin pergi bersama hari ini?" kata Angga sedikit lembut.
"Ya, aku akan siap-siap dulu ya, terima kasih. " kata Bella dengan rasa senang di hatinya, dia segera berdiri, lalu pergi ke kamarnya, Angga memperhatikan itu hanya tersenyum tipis.
Bella keluar dengan gaun hitam polosnya, Angga pun sudah siap dengan kemeja hitamnya, dia tampak lebih santai hari ini. Angga sudah menunggu Bella di ruang tamu.
"Ayo kita pergi. " kata Bella
"Ya." kata Angga berdiri lalu berjalan menuju mobil mereka dan setelah itu segera pergi meninggalkan rumah itu.
Tak terlalu lama, mereka berhenti di kawasan daerah padat penduduk, kedatangan Angga dan Bella malah membuat penduduk di sana sedikit penasaran, para penjaga Angga yang mengikuti dari depan dan belakang mobil itu segera melakukan penjagaan, Angga keluar dengan aura kepimpinannya, membuat orang-orang di sana tercengang. Bertanya-tanya siapa pria tampan ini sebenarnya.
Bella pun turun dari sana, seluruh pandangan jatuh pada Bella yang tampak anggun walaupun hanya menggunakan gaun sederhana itu. Angga langsung dengan cepat merangkul Bella untuk masuk ke dalam rumah itu, Asisten Jang menyambut mereka dengan senyuman.
Asisten Jang membukakan pintu untuk Angga dan Bella, kedua orang Sania tampak duduk dengan lesu, hanya memaksakan senyuman pahit untuk Angga dan Bella, ibu Sania kembali menangis melihat Bella, karena itu hati Bella kembali terasa teriris.
Angga dan Bella duduk di hadapan kedua orang Sania. Suasana canggung dan hanya terdengar suara isak tangis ibu Sania yang coba di tahannya namun tidak mampu, sedangkan suaminya tampak menahan segala emosinya, tangannya tak berhenti mengelus punggung istrinya.
"Kami turut berduka cita atas meninggalnya Sania," kata Bella bergetar. Rasanya seluruh badannya nyeri, rasa penyesalan yang dalam merongrong tubuhnya dari dalam, membuatnya gemetar karenanya. Dia yang sudah membuat kedua orang tua ini kehilangan harta paling berharga bagi mereka. Anak mereka.
Angga merasakan tubuh Bella yang gemetar, dia lalu memegang tangan Bella, menyembunyikannya di antara pahanya dan paha Bella untuk menghormati orang tua Sania.
Hangat tangan Angga menjalar dengan cepat ke seluruh tubuh Bella, membuat tubuhnya tenang seketika, apa lagi saat melihat wajah Angga yang serius namun ada kepedulian yang terpancar di sana.
"Kami juga berterima kasih atas bantuan Tuan dan Nona, sudah mengurus tubuh Sania hingga dia bisa diistirahatkan dengan tenang. " kata Ayah Sania dengan suara begertar, bahkan Bella bisa melihat seluruh tubunya bergetar, hanya saja dia mencoba untuk tegar, terus mencoba menenangkan ibu Sania yang sama sekali tidak bisa lagi di ajak bicara.
"Itu memang sudah menjadi kewajiban kami, Sania adalah teman kami, Tuan, sesuai dengan keinginan terakhir Sania, dia ingin aku menyerahkan rumah yang sudah di siapkannya untuk kalian, tolong di terima dengan baik." kata Angga dengan suara berat dan berwibawanya, Asisten Jang langsung memberikan foto rumah yang akan diberikan pada mereka. Bella memperhatikan wajah Angga, Angga hanya menatap pada kedua orang tua Sania yang tampak terharu, sedih dan senang, tidak tahu yang mana? mungkin campuran keduanya yaitu haru.
Ayah Sania yang terlihat tegar dari tadi, kali ini tidak bisa membendung tangisnya, air matanya turun dengan deras, namun dia berusaha untuk terus mengelapnya, mencoba memeluk istirinya yang bahkan terlihat sudah lemas. Bella jadi tidak enak melihat keadaan mereka, bisa-bisa jika terus ada di sana, dia akan ikut menangis tersedu-sedu, sekarang saja matanya sudah perih. Bella menarik sedikit tangan Angga. Angga memperhatikan Bella. Bella memberi isyarat mengangguk pelan.
"Baiklah Tuan, Nyonya, kami akan pulang sekarang, maaf sudah menanggu, " kata Angga memberikan salam, dia lalu berdiri, karena tangan Bella masih di genggam oleh Angga, Bella juga jadi bangkit.
Ayah Sania pun bangkit, dia memberikan salam, penghormatan yang paling tinggi untuk Angga, Angga membalasnya, Bella juga, lalu Angga segera keluar, Asisten Jang segera menghalau orang yang penasaran melihat mereka, Angga tidak suka keramaian, jadi dia dengan cepat ingin masuk ke dalam mobil itu, dia membiarkan Bella masuk duluan, lalu dia segera masuk, setelah itu mereka segera pergi.