
"Kapan Archie akan datang?" kata Nakesha lagi mencoba mengembalikan suasana.
"Aku sedang mengurusnya, kemungkinan besar 3 hari lagi dia sudah ada di sini," kata Daihan sedikit tersenyum.
"3 hari lagi? Kak, kau harus membantuku agar aku bisa seperti kakak kandungku," kata Nakesha terkesan heboh, Bella hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Jangan jadi sepeti Mika, Jadilah dirimu sendiri, aku tak mau kau seperti ibunya, karena ibunya sendiri tidak menginginkannya, aku tidak mau Archie tahu itu, jadilah dirimu sendiri," kata Daihan menatap Nakesha dalam, membuat Nakesha terdiam dengan tatapan dalam nan lembut yang bahkan bisa membuat semua wanita tersentuh.
Bella menatap Daihan, pria ini tak pernah berubah, dari awal dialah satu-satunya orang yang menentang Bella menjadi Mika, dia orang yang selalu memperlakukan Bella sebagai Bella bukan yang lain, siapa pun nanti yang mengantikan Bella di hatinya adalah wanita paling beruntung, pikir Bella tersenyum sambil memposisikan dirinya bersandar ke jok belakang mobil, mencoba menghilangkan dirinya di sana agar Nakesha dan Diahan bisa berbicara.
"Baiklah, " kata Nakesha tetap menatap Daihan.
"Kau sudah sempurna, jangan berubah jadi siapa pun, kau sekarang ibunya," kata Daihan tersenyum.
Mendengar itu Nakesha langsung tersipu, Bella yang mendengar itu hanya menahan senyum, melihat mereka berdua seperti melihat suatu scene di drama percintaan yang Bella sering tonton, ah! kenapa Angga tak pernah semanis ini, pikirnya.
Mobil Daihan akhirnya masuk ke area perkantoran milik Angga, sejujurnya Bella juga belum pernah masuk ke area kantor Angga, karena itu dia dan Nakesha tampak terpukau melihat kemegahan kantor Angga ini, tidak di sangka, Bella bisa menjadi Nyonya dari perusahaan seelit ini.
Mobil mereka berhenti di depan, pintu segera di bukakan, seluruh staf berjajar menyambut Bella, Bella langsung merasa sungkan.
"Apa penyambutannya selalu begini?" tanya Nakesha berbisik pada Daihan yang hanya berdiri di samping mobil.
"Ini kali pertama istri pemilik perusahan datang ke sini, karena itu penyambutannya begini," kata Daihan.
"Oh, begitu, " kata Nakesha tidak bisa membayangkan kalau dia ada di posisi Bella.
"Selamat datang Nyonya," kata Mereka serempak, Judy langsung mengarahkan Bella masuk, Bella hanya tampak sungkan, sesekali membalas hormat mereka, Diahan dan Nakesha mengikuti Bella dari belakang.
"Ha? Tuan Angga sudah menikah?" kata Resepsionis tadi melihat Bella yang datang.
"Bagaimana bisa pria seperti dia sudah menikah, lalu wanita tadi siapa?" kata resepsionis yang lain.
"Kita pasti di pecat kali ini," kata Resepsionis itu tampak sedih dan ketakutan.
Judy mengarahkan Bella menuju lift khusus.
"Kami akan naik lift biasa, kita akan bertemu di sana," kata Daihan.
"Baik kak," kata Bella.
Daihan segera mengajak Nakesha menuju lift biasa, karena lift ini juga banyak digunakan karyawan, maka menunggunya juga cukup lama.
"Ehm, kenapa tidak naik Lift itu saja,?" kata Nakesha.
"Itu lift khusus Angga, hanya dia dan keluarganya yang boleh mengunakannya," kata Diahan.
"Kakak tidak di izinkan juga?" kata Nakesha.
"Bukan tidak di izinkan, hanya tidak ingin," Kata Daihan, Lift yang mereka tuju akhirnya terbuka juga, Daihan mempersilakan Nakesha masuk duluan, menyuruhnya untuk berdiri di pojok karena ternyata ada banyak karyawan yang masuk setelahnya, mereka cukup berdesakan.
Sekarang Daihan ada di depan Nakesha, karena dia berdiri di pojok, Daihan membuat tubuhnya menjadi pelindung Nakesha, sehingga Nakesha tak perlu berdesak-desakan dengan karyawan yang memenuhi lift itu. Namun karena itu pula Nakesha makin merasa sesak karena perlakuan Daihan ini.
"Ramai ya?" kata Nakesha sungkan, Daihan benar-benar di depannya, bahkan sangat dekat.
"Ya, mungkin Angga membuat rapat dadakan lagi, dia suka melakukan hal itu," kata Daihan seadanya.
"Oh," kata Nakesha tak melanjutkan, karena bernapas saja dia sudah tak sanggup.
---***---
"Tuan Nyonya sedang dalam perjalanan kemari dengan Tuan Daihan dan Nona Nakesha," kata Asisten Jang menghentikan sedikit langkah Angga.
"Baiklah, perintahkan dia langsung ke ruangan ku," kata Angga serius.
"Baik Tuan," kata Asisten Jang. Baru saja Angga ingin melanjutkan langkahnya.
"Angga!" Suara Jofan terdengar. Angga melihat ke asal suara, menemukan Jofan yang sedang berjalan ke arahnya.
"Ada apa? sangat jarang kau bisa datang ke sini," kata Angga.
"Hanya ingin mengecek keadaanmu," kata Jofan tersenyum manis.
"kebutulan sekali, Bella, Nekesha juga sedang menuju kemari untuk makan siang,mari makan siang bersama," kata Angga.
"Baiklah," kata Jofan.
"Tuan Angga!" seseorang kembali menyapa Angga. Angga melihat Tuan Robert yang berjalan ke arahnya dengan Asistennya.
"Selamat siang Tuan Robert," kata Angga menjulurkan tangannya.
"Selamat siang, Apa kabar?" kata Tuan Robert menyambut tangan Angga.
"Saya baik, perkenalkan ini Jofandra Dowson," kata Angga.
"Dowson, apakah?..." kata Tuan Robert menjulurkan tangannya pada Jofan.
"Ya, dia putra dari Pedana Menteri, calon kuat penganti presiden nantinya," kata Angga lagi.
"Wah, senang bisa bertemu dengan Anda," kata Tuan Robert pada Jofan, Jofan hanya tersenyum menyambut tangan Tuan Robert.
"Ada apa Tuan Robert?" kata Angga.
"Ya, saya ingin datang ke sini untuk melihat kembali surat perjanjian kita," kata Tuan Robert tersenyum.
"Baiklah, surat itu ada di berangkas di ruangan saya, silakan," kata Angga memimpin langkah mereka, Angga baru saja ingin masuk saat dia melihat Bella baru keluar dari lift pribadinya.
Angga langsung berhenti, dan tersenyum sedikit melihat istrinya yang cantik dan Anggun itu mendekatinya dengan senyuman lembut nan manis. Angga langsung menyambut Bella.
"Tuan Robert, perkenalkan istri saya," kata Angga.
Tuan Robert menatap Bella dan seketika terkesima akan kecantikan Bella, pantas saja Tuan Angga yang terkenal dingin ini bisa di tahlukkan, wanita ini begitu sempurna.
"Saya tidak tahu anda sudah menikah Tuan Angga, Nyonya, Anda punya mata yang begitu mempesona," kata Tuan Robert terpesona dengan mata biru milik Bella. Bella hanya tersenyum pada Tuan Robert.
"Kami baru menikah," kata Angga tersenyum sedikit.
"Tuan Angga, saya rasa Anda punya rencana lain, bisakah saya hanya melihatnya sebentar di sini, saya juga harus pergi ketempat lain secepatnya." kata Tuan Robert.
"Tuan, izinkan saya mengambil surat perjanjiannya Tuan," kata Asisten Jang.
"Baiklah, silakan, " kata Angga memberikan izin pada Asisten Jang.
Asisten Jang langsung masuk ke ruangan Angga, tak lama terdengar suara jeritan wanita dari ruangan Angga yang mengkagetkan Angga, Bella, Jofan dan Tuan Robert.
Mereka segera masuk ke dalam ruangan Angga dan menemukan Asisten Jang yang jatuh di lantai terlentang, sedangkan Madeline sudah duduk di samping Asisten Jang dengan wajah kaget dan kesal mencoba menutupi tubuhnya yang terpampang jelas,
Saat Medeline menangkap wajah kakaknya di sana, dia langsung kembali teriak dengan keras.