Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
35



Terkadang aku tak ingin bangun dan melihat kenyataan, karna aku terlalu terbuai oleh kenyamanan yang ku rasakan, aku mulai takut kehilangan, semua hal yang saat ini kau berikan


____________________________________________


"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Raphael, " kata Angga dengan senyuman tipisnya


" Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda, oh, perkenalkan ini istri saya, Clara," kata Raphael mengenalkan istrinya. Angga memberikan salam dengan sedikit' menundukkan kepalanya, Clara hanya tersenyum. Raphael lalu melihat ke arah Bella.


"Oh, ini Mika," kata Angga.


"Salam kenal Tuan Raphael dan Nyonya Clara, " kata Mika memberikan salam.


"Ini wanita Anda ?" kata Raphael lagi


Angga menatap Bella sesaat…


"Iya," kata Angga datar saja, membuat Bella menatap Angga.


"Wah, pasangan yang cocok sekali," kata Clara memuji, melihat ke arah Bella dengan senyumnya, terlihat sekali kehidupan wanita ini begitu bahagia.


"Tuan, dan Nyonya, semua sudah siap," kata Asisten Jang


"Baiklah, Silahkan, " kata Angga mempersilahkan Raphael dan istrinya berjalan duluan, mereka tetap saja berjalan dengan bergandengan tangan, seolah tak malu menunjukkan betapa bahagianya mereka berdua.


Bella menatapnya, perasaan wanita itu pasti sangat senang, kapan yah dia bisa berjalan begitu senangnya di samping suaminya, sayangnya percintaannya dan kehidupan penikahannya ternyata tragis, belum lagi 1 hari memiliki suami, suaminya malah ingin membunuhnya. Mengingat itu Bella mengulum senyumnya, tidak ingin merubah citra Mika yang ceria. Angga yang berjalan di sampingnya memperhatikan Bella yang terus menatap pasangan di depannya dengan tatapan sendu, walaupun sesaat, tapi tatapan itu dapat di tangkap oleh Angga.


"Kemari," kata Angga dengan suara beratnya. Membuat Bella yang dari tadi asik memperhatikan Raphael dan Clara jadi kaget dan bingung.


"Kemari?" kata Bella tak mengerti kata-kata Angga.


Angga tampak sedikit kesal, masa Bella tidak tahu? Dia lalu dengan sepihak menggengam tangan Bella, Bella yang dapat perlakuan itu langsung kaget, gugup, dan bingung, apa lagi mereka sekarang berjalan di depan banyak orang. Clara yang melihat pasangan di belakangnya, tersenyum manis. Sekarang Bella dan Angga benar-benar seperti sepasang kekasih, sepasang kekasih yang canggung.


Tangan hangat Angga kembali terasa, hangat tangan Angga itu menjalar keseluruh tubuh Bella, membuatnya merasa kepanasan, wajahnya sekarang pasti sangat merah, maka dari itu dia tidak berani melihat Angga, dia bersyukur restaurant itu cukup ramai, kalau hening, mungkin Angga bisa mendengar suara detak jantungnya sekarang, karena rasanya jantungnya sudah berontak di dalam dadanya ingin bebas dari tempatnya.


Angga merasakan tangan Bella begitu dingin, untung saja dia memegangnya, karena memang udara di pegunungan ini lumayan dingin, dan dia mengunakan baju yang cukup tipis, dia lupa mengatakan bahwa restauran ini ada di pegunungan, jadi pasti udaranya dingin. Dia mengenggam tangan Bella dengan erat, mencoba menghangatkan tangan Bella, dia tidak tahu bahwa Bella sekarang kepanasan karena kelakuannya.


"Jangan terlalu gugup, aku hanya ingin mereka berpikir kita tidak sedang bertengkar karena jalan masing-masing," kata Angga lagi dengan wajah dinginnya, masih menjaga egonya. Padahal alasannya yang ada di dalam hatinya berbeda.


“Oh, ok," kata Bella , dia sedikit kecewa mendengar pengakuan dari Angga, benar mana mungkin pria seperti Angga begini bisa begitu perhatian, semua ini adalah bagian dari sandiwara, dan sekarang dia juga harus bersandiwara, jangan terlalu berharap apapun, di hatinya hanya ada Mika yang asli, dan baginya tidak ada termpat untuk Bella sama sekali.


Bella lalu tersenyum begitu manis, Angga melihat itu hanya mengangkat alisnya, kenapa wanita ini? Pikirnya, tapi perlahan tangan Bella sudah tidak dingin lagi. Angga melepaskannya begitu masuk kedalam ruangan mereka yang benar-benar spesial, tempat itu khusus untuk mereka, dan pemandangannya juga menakjubkan, langsung menghadap ke arah kota yang ada di bawahnya,


Angga segera mengambil tempat duduknya, sedangkan Raphael dan Clara masih menikmati pemandangan dari dinding kaca yang besar, setelah itu Raphael duduk di depan Angga, Clara masih asik menatap pemansangan yang benar-benar memanjakan matanya.


"Silahkan Nona, Anda ingin memesan apa?" kata Pelayan pada Bella, Bella ingat terakhir kali dia makan, dan hal paling sia-sia adalah melihat menunya, karena Angga pasti akan membantah jika tidak cocok dengan selera Mika, karena itu dia hanya tersenyum manis lalu melirik Angga.


"Gaga, kau saja yang memesan makanan untukku ya, kau tahu percis kan apa makanan kesukaanku?" kata Bella begitu manis, hingga seluruh perhatian jatuh padanya, Raphael dan Clara mengira kedua pasangan ini pasti sangat jatuh cinta.


"Baiklah," Kata Angga sedikit menaikan sudut bibirnya.


"Iya, kalau begitu aku akan ke tempat kak Clara," kata Bella berdiri lalu meninggalkan ke dua laki-laki itu dan berjalan dengan anggunnya ke arah Clara yang tetap menatap pemandangan itu, orang hamil memang harus melihat yang indah-indah bukan?.


Bella sebenarnya juga menikmati pemandangan itu, pemandangan itu sangat baru di lihatnya, pemandangan alam dan modern bersatu dengan begitu indah, disuguhkan secara khusus hanya untuk mereka berempat, benar kata Dorland, kalau punya uang semuanya memang akan mendapatkan tempat terbaik.


"Wah," kata Bella tanpa sadar dia mengucapkannya.


Clara menatap Bella yang wajah polosnya terpampang.


"Indah ya? Kau pasti sering melihat seperti ini kan?" kata Clara lagi, mengingat pacar Mika juga merupakan orang terkaya, pasti melihat hal seperti ini adalah hal yang mudah baginnya.


"Begitu ya? Ternyata Pria mau dari belahan dunia yang mana juga, kalau sudah bekerja, memang lupa waktu ya?" kata Clara lagi dengan senyum manisnya.


"Ya, begitulah Kak," kata Bella lagi.


"Haha, jangan memanggil aku kakak, sepertinya kita seusia, hanya aku duluan saja menikah, Raphael memaksaku untuk cepat menikah dengannya, dia takut kisah cintanya akan serumit ayah dan ibunya, karena itu begitu kencan ke 3 kalinya, dia langsung bersujud meminta aku menikahinya, padahal aku belum begitu mengenalnya," kata Clara tersenyum sambil melirik suaminya yang juga mendengar kata-katanya. Bagi Bella hal itu sangat romantis, bersujud di depannya, memaksa menikah walau baru berpacaran, ah… kenapa hidup bisa sesempurna itu?


"Itu terdengar sangat romantis," kata Bella menatap Clara.


"Benarkah? Aku hanya sangat beruntung mendapatkannya, walaupun awalnya aku menolaknya," kata Clara lagi, Bella sedikit terkejut, menolak seseorang seperti Raphael? Pria yang wajahnya nyaris sesempurna malaikat, ya memang Bella belum pernah melihat malaikat, tapi dia rasa wajahnya akan seperti Raphael dan Angga, Raphael juga sangat kaya, dan Clara menolaknya.


"Bagaimana bisa kau menolaknya?" kata Bella tak percaya.


"Haha, dia memakasaku untuk berkencan, Aku hanya seorang gadis yang bekerja di kantornya, lalu menurutmu apa aku tidak akan ragu dia mengajakku berkencan, haha, makanya aku menolaknya," kata Clara lagi mengenang cerita mereka.


"Wah, ada ya kisah cinta seperti di drama, kalian memang cocok sekali," kata Bella lagi melirik kearah Raphael dan Angga yang sedang berdiskusi.


"Bagaimana denganmu? Kalian terlihat sangat manis?" kata Clara


"Ha? Eh? Kami sudah bersama cukup lama, sudah 7 tahun," kata Bella lagi


"Wah, sudah sangat lama, kenapa tidak menikah?" kata Clara penasaran


"Oh, hanya belum siap, Angga masih terlalu fokus mengembangkan perusahaannya, " kata Bella mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di depannya


"Jangan khawatir, kalian berdua tampak begitu cocok, Angga memang pria yang terlihat sedikit dingin, tapi sepertinya sangat setia, jadi bersabarlah, aku yakin kalian akan bersama," kata Clara yang mencoba menghibur Bella


Bella mendengar itu hanya tersenyum tipis, apanya yang cocok? Semua yang mereka lakukan hanya sandiwara, Angga begitu padanya karena dia adalah duplikat Mika, jika tidak, mereka bahkan tidak cocok sama sekali, entah kenapa ada rasanya nyeri di hati Bella saat ini, karena otaknya menyadarkannya sekarang, benar semua ini , kebahagian ini adalah kesemua semata, dia tak ingin terjebak, tidak untuk ke dua kalinya, tiba-tiba perasaan Bella berubah, sedih, dia sedih... tapi ini bukan waktunya sedih? Dia sedang jadi Mika sekarang.


"Ayo, kita harus melerai dua orang pria itu, kalau tidak makan siang ini akan jadi makan siang bisnis yang membosankan, " kata Clara menyadarkan Bella


"Iya, benar," kata Bella tersenyum hangat


Bella berjalan di belakang Clara yang berjalan perlahan, setelah dekat dengan tempat duduknya, Raphael lalu menarik kursi untuk istrinya, mencoba membuat istrinya senyaman mungkin. Bella kembali ke tempat duduknya di samping Angga, Angga meliriknya sekilas.


"Sedang membicarakan pekerjaan ya?" kata Clara lagi


"Hanya sedikit kok," kata Raphael


"Kau ingat Ibu mertua bilang apa? Tugasku di sini adalah agar memastikan waktu makan tidak menjadi waktunya berbisnis, lagi pula ini hari libur, jangan bekerja," kata Clara menatap suaminya dengan lembut


"Baiklah Nyonya Tadder, kami tidak akan membicarakan tentang bisnis saat makan siang ini, Angga maaf, tapi Bos besarku mengatakan aku tidak boleh berbicara bisnis sekarang," kata Raphael menatap istrinya dengan penuh cinta, lalu beralih pada Angga dan Bella


"Benar, kau juga harus beristirahat, seminggu kemarin kau sudah bekerja begitu keras," kata Bella menatap Angga dengan pandangan yang sama seperti Clara memandang Raphael, membuat Angga yang menatapnya terasa terjebak, tiba-tiba saja dia merasa tidak bisa bicara apapun.


"Baiklah," kata Angga yang sedikit gugup sambil meminum minumannya yang sudah datang, menutupi kegugupannya.


"Haha, romansa saat pacaran, kita terlalu cepat menikah sepertinya," Kata Raphael memeluk pinggang istrinya.


"Kau yang terburu-buru," kata Clara menekan nekan hidung semuanya, selanjutnya mereka terus bercanda, mereka benar-benar menunjukan betapa cinta bisa sebegitu menyenangkannya, Bella yang memperhatikan mereka saling lempar ejekan dan tawa, juga ikut tertawa dengan mereka, kebahagian mereka menular kepadanya, tak ada lagi rasa iri di hati, hanya kekaguman pada pasangan ini, pertemuan ini benar-benar santai dan penuh dengan tawa, membuat Bella pun bisa melupakan bahwa sekarang dia berpura-pura.


Angga pun begitu, melihat tawa dan senyuman Bella yang tampak nyata, dia jadi ikut tersenyum, sesekali pandangan mereka bertemu, namun mereka langsung fokus kembali ke pasangan di depannya.


Setelah mereka selesai makan, hari sudah mulai sore, Angga dan Bella menatap kepergian Raphael, sesekali Bella melambaikan tangannya pada Clara, hari ini dia senang sekali bisa tertawa begitu lepas. Bertambah lagi temannya di dunia ini.


Selepas mobil Raphael tidak terlihat, mobil mereka langsung menjemput mereka, Angga langsung masuk begitu Asisten Jang membukakan pintunya, Bella hanya melihat Angga, apakah dia tidak belajar bagaimana Raphael memperlakukan istrinya? Walaupun Bella bukan Mika, kalau di luarkan mereka statusnya tetap saja pacaran. Jangan-jangan dulu juga dia tak pernah membukakan pintu untuk Mika. Bella lalu masuk kedalam mobilnya setelah Asisten Jang membukakan pintu untuknya.


Perjalan kembali hening, Bella tidak terlalu mengambil pusing lagi apa yang ingin dilakukan oleh Angga, jadi kalau Angga sedang diam, ya biarkan saja, toh memang dia begitu. Bella memperhatikan lampu- lampu jalanan, dan pikirannya langsung terbang, bertanya pada dirinya sendiri, kapan dia bisa mendapatkan cinta yang seindah itu?.