Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
94



"Tuan Aksa, aku ingin bicara dengan Nona Sania sendirian, ini masalah wanita, aku harap Anda mengabulkan permintaan saya." Kata Bella tegas. Aksa melihat ketegasan itu di wajah Bella.


"Baiklah Nona, apakah penjaga juga harus keluar?"


"Ya, aku hanya ingin sendirian."


"Aku tidak bisa ambil resiko tentang itu, bagaimana wanita ini nantinya akan mencelakakan Anda." kata Aksa menatap Sania dengan sorot mata tajam, Sania mengembalikan pandangan itu dengan pandangan tenang namun terlihat mengerikan.


"Wanita ini masih punya nama Tuan Aksa, saya tidak suka Anda mengatakannya seolah-olah dia tidak punya nama, namanya Sania." Kata Bella sedikit meredam emosinya yang keluar.


Aksa melihat Bella bingung, kenapa seolah-olah Bella sekarang begitu membela Sania.


"Kenapa Anda membela wanita yang ingin mencelakakan Anda Nona Mika?" kata Aksa dengan wajah berkerut.


"Mungkin karena hatiku begitu lembut, bukannya Anda yang mengatakan itu, kau tahu pekerjaanku di bidang sosial, jadi bagiku hukuman ini terlalu berlebihan untuknya," kata Bella.


Sania menatap Bella dengan nanar, matanya bergerak-gerak, namun mulutnya tetap terkunci.


"Baiklah, akan ku tinggalkan kalian berdua. Tapi aku akan mengawasimu dari CCTV. " kata Aksa. Bella mengangguk.


Angga yang memperhatikan dan mendengarkan semua percakapan Bella dan Aksa bernapas sedikit lega karena Aksa keluar dari ruangan itu, dia memantau semua keadaan Bella dari laptop di mobilnya, di telinga dia mengunakan handsfree, terhubungan dengan Jofan.


"Wow, gadismu ini pintar sekali memainkan perannya." Kata Jofan dari handsfree itu. Angga hanya tersenyum, tidak menjawab Jofan, dia kembali fokus dengan laptopnya.


Bella memperhatikan pintu itu, sudah tertutup sempurna rupanya, dia lalu melihat ke arah Sania, gadis itu hanya memainkan jari-jarinya yang lentik, ada sedikit bekas cat kuku yang berantakan tersisa, tampak sekali segala yang di lakukannya dulu tidak bisa lagi dia dapatkan.


Sania dan Bella hanya bertatapan, seolah tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Cahaya lampu itu sedikit menganggu.


"Nona Sania, bagaimana kabarmu?" kata Bella, namun Sania tidak sama sekali merespon, seolah bibirnya yang terlihat pucat itu sudah tertutup rapat, sedikitpun tak bergerak.


Bella mengigit bibirnya, dia ingin mengatakan maaf, namun Aksa yang sedang mengawasinya pasti juga bisa mendengarnya, jika mengucapkan kata itu, sama saja Bella bunuh diri.


"Apa ada yang ingin kau lakukan sekarang?" kata Bella.


Sania kembali tak bergeming, seolah emosinya sudah hilang, Bella saja tak bisa membaca mimik wajahnya, apa mungkin karena terlalu tertekan dan terguncang, membuatnya seperti ini?.


"Aku dengar kau masih punya orang tua, apa kau ingin menghubungi mereka?" tawar Bella, begitu Bella mengatakan ‘orang tua’ raut wajah Sania tampak berubah, wajahnya seolah mendapatkan sedikit pencerahan, Bella melihat itu langsung mangambil handphone dari tasnya, karena memang Bella tidak melakukan pemeriksaan seperti biasanya, handphonenya tidak di sita. Dia lalu menyerahkannya pada Sania.


"Anda bisa menelepon mereka, mereka pasti merasa sangat sedih." Kata Bella begitu lembut, membuat pertahanan Sania runtuh, bulir air matanya mengalir begitu saja, langsung jatuh ke meja, dengan tangan bergetar dia mengambil handphone Bella. Menekan beberapa nomor. Lalu menaruh handphone itu ke telinganya.


Nada sambung mulai terdengar, hal itu membuat mata Sania makin basah, air matanya benar-benar tidak terbendung, bahkan sekarang dia beberapa kali menarik ingusnya. setelah beberapa kali nada sambung, akhirnya telepon itu terangkat.


"Halo?" suara seorang wanita tua terdengar dari sana. Mendengar suara itu Sania makin tidak bisa membendung tangisnya, bahkan senggugukan, dia mencoba menahan tangisnya, tapi rasanya sangat menyiksa, seperti ada rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya hingga naik ke atas ke kepalanya, membuat seluruh ruangan itu berputar, dengung seperti menyarang dirinya.


"Halo, Sania?" kata ibu itu terdengar sedih, sepertinya dia juga menangis. Mendengar kata-kata itu, Sania makin terisak, rasanya hatinya sangat sakit.


"Sania, anakku?" kata ibu itu lagi, Sania makin parah menangis, seolah menyesali segala hal yang sudah di perbuatnya, meraung seolah ingin kembali lagi bisa memperbaiki semuanya.


Sania dulu berpikir mengejar materi dan kekayaan agar nama keluarganya terangkat, Sania memang bukan orang yang kekurangan, namun juga bukan orang yang punya segalanya, dia menyadari dia punya hal lebih yaitu kecantikan. Dia pikir dengan bisa memikat Aksa, dia akan memiliki segalanya, akan membuat kedua orang tuanya bangga, namun sekarang… dia sungguh menyesal, ingin sekali dia menukar apapun yang dia miliki sekarang, hanya untuk pulang ke rumah dan memeluk ayah dan ibunya, melihat senyum mereka sekali lagi.


"Ma… "kata Sania bergetar, tertutup oleh tangis yang tak tertahankan.


Bella yang melihat itu pun diam-diam tak bisa membendung tangisnya, pipinya sudah basah, namun dia tidak ingin bersuara, dia bisa tahu perasaan Sania, bahkan walaupun sudah terpisah dengan ibunya sejak kecil, dia rela menganti nyawanya untuk nyawa ibunya.


"Sania! Sania!... " kata ibu itu histeris, namun kemudian melemah, sepertinya ibu itu pingsan, ada suara orang yang mencoba menyadarkannya.


Sania tampak panik, mungkin karena terlalu sedih ibunya sampai pingsan, Sania mencoba mendengarkannya dengan baik, apa yang terjadi pada ibunya.


"Sania, mama akan baik-baik saja… " suara pria tua yang bergertar mengatakan itu, mencoba tegar namun ternyata tetap terdengar nada sedihnya.


"Pa… " kata Sania tidak melanjutkan kata-kata. Di sana pun tak menjawab, namun terdengar suara tangis yang tertahan oleh katupan bibir, ayahnya tak pernah menangis, dari kecil dia selalu bekerja keras untuk keluarganya, namun kali ini Sania tau, pria yang sangat kuat itu menangis untuknya.


Sania menahan perih di hatinya, sangat perih, bahkan lebih perih dari mendengar vonis hukumannya, ini lebih parah, dia sudah membuat orang tuanya seperti ini, hanya malu dan kesedihan yang ternyata dia bisa tinggalkan bagi mereka.


"Pa, jaga mama ya, kalian harus sehat, maafkan anakmu yang memalukan ini, aku tidak akan bisa pulang, jika aku sudah menjadi mayat, tak perlu datang mengambilnya, tak perlu menguburkan ku, sumbangkan saja ke rumah sakit atau sekolah, agar aku bisa bermanfaat nantinya… Pa, Ma, aku pergi dulu. " kata Sania bergetar memberikan pesan terakhirnya untuk kedua orang tuanya.


"Sania, San… " terdengar suara tua itu memanggil, namun Sania sudah tak sanggup lagi, dia menyudahi panggilan itu. Tertunduk, menangis sejadinya, seolah ingin menguras selaruh air matanya untuk terakhir kalinya.