
Daihan menatap wajah Nakesha yang memandangnya dengan penuh pertanyaan. Dia sebenarnya tak mau lagi menjelaskan pada seseorang tentang Mika, tapi tak mungkin menutupinya dari kembarannya sendiri.
"Mika sudah meninggal," kata Daihan serak, tercekat di tenggorokan.
"Apa? Tidak mungkin, Tuan Anda jangan becanda, Kau pasti bohong padaku! " Kata Nakesha berdiri tiba-tiba, tak percaya, tidak mungkin kakaknya sudah meninggal, walaupun terpisah dari kecil, tapi dia adalah kakaknya, sedarah dan sedanging dengannya.
"Bagaimana dia bisa meninggal?" Kata Nakesha lagi menatap Daihan dengan tatapan menuntut jawaban, matanya yang tadinya cerah dan jernih itu tampak berkaca-kaca, di sudut-sudutnya sudah tampak basah karena tak mampu lagi membendung air matanya.
"Dia membunuh dirinya sendiri," kata Daihan lagi lirih
Mata Nakesha terbelalak, wajahnya terkejut, tidak mungkin, pasti bohong! Saking kagetnya dia terhuyung ke belakang,
"Tidak mungkin, kau pasti membohongiku! Kakakku tak mungkin pergi begitu saja! Kau bohong! Aku tidak percaya denganmu lagi!" Kata Nakesha pergi berlari meninggalkan Daihan, dia tidak mau lagi mendengarkan apa pun dari Daihan, Daihan yang melihat itu langsung mengejar Nakesha,
Nakesha berhenti di bibir pantai, kepalanya seakan ingin pecah, air matanya tak terbendung lagi, mengalir sangat deras, banyak sekali masalah hari ini, dia berteriak kecang! Bagaimana bisa kakaknya pergi meninggalkan dunia ini dengan cara seperti itu? Tak mungkin tidak ada sebabnya, banyak sekali pertanyaan muncul dan mengisi kepalanya yang seakan ingin pecah sekarang.
"Kenapa dia bisa bunuh diri?" Kata Nakesha yang tahu Daihan sudah ada di belakangnya.
"Itu semua salahku," kata Daihan tercekat.
Wajahnya suram, suaranya gemetar, menahan seluruh rasa sedih, sesal, marah, dia sudah menahannya selama ini, tak bisa menangatakannya pada siapapun, salahnya karna tak menerima Mika, salahnya karna tak bisa menjaganya Mika walaupun Tuhan sudah memberikannya kesempatan ke dua, ya semuanya adalah salahnya.
Mata Nakesha membesar, tangannya melayang, menampar pipi halus Daihan dengan keras, bahkan suara tamparan itu tidak bisa tertutupi oleh suara air laut yang saling mengulung.
"Kau pria yang kejam, bagaimana kau bisa membuat kakakku sampai bunuh diri? Pantas saja kau memperlakukanku dengan baik, kau ingin menebus rasa bersalahmu pada kakakku melalui aku?! Aku tak akan pernah memaafkanmu sampai kapan pun! Kau pantas mati dengan segala penyesalan itu, aku tak akan memaafkanmu! Pergi dari sini!" Kata Nakesha penuh emosi, matanya memerah.
Daihan mengertakan giginya menahan sedih yang amat dalam, Nakesha seolah sudah membaca semua pikirannya, dia memang ingin menebus semua rasa penyesalannya yang mengerogotinya selama ini, berusaha tetap bahagia, tapi tak pernah bisa. Menutupinya semua dengan tawa dan senyuman tapi tak pernah hilang sedikit pun rasa sesal itu.
"Maafkan aku karena aku tak bisa menjaganya, Maafkan aku tak bisa mencegahnya lompat dari gedung itu, maafkan aku karna tak bisa membuatnya sembuh dari deprsi, Maafkan aku karna pernah mengabaikannya," katanya dengan penuh emosi kesedihan, air mata berlinang dari mata Daihan, tak bisa dia bendung lagi, matanya memerah menahan gejolak di hatinya, menarik napas yang terasa tak sampai ke paru-parunya, dadanya berat dan nyeri, serasa udara yang masuk malah seperti duri. Rasa sesal memang sangat menyesakkan.
"Kenapa minta maaf padaku?! Kau harusnya mengatakan itu pada kakakku,"kata Nakesha dingin, bahkan lebih dingin dari udara yang ada di sana, membuat Daihan merasa mengigil.
"Seandainya ada jalan aku bisa meminta maaf padanya, aku akan minta maaf padanya," kata Daihan lagi dengan seluruh emosinya.
"Menyesal tak akan membuat kakakku hidup lagi, pergi lah, aku tak akan memaafkanmu, jangan harap!" Kata Nakesha dengan wajah merah, matanya pun memerah padam.
"Aku tidak akan memaksamu, tapi ... Bisakah kau menemui seseorang, dia akan senang," kata Daihan
"Kau mau apa? Tak salah? " Kata Nakesha bingung dan merasa Daihan ini sangat berani, sudah membuat kakaknya meninggal masih saja minta bantuannya, sungguh tak punya harga diri.
"Temui Archie, Anak Mika, dia selalu bertanya tentang ibunya, Aku tidak bisa menjelaskan padanya ke mana ibunya sekarang," kata Daihan berharap.
"Kakakku dan kau sudah punya anak?" Kata Nakesha tambah terkejut, apa lagi ini?.
"Archie anak Mika, tapi dia bukan anakku, aku hanya menjaganya dari kecil."
"Ha? Apa maksudmu? Jadi siapa ayahnya?" kata Nakesha makin bingung.
"Aksa, dia pria yang di temui Mika saat dia pergi ke sebuah club, ntah bagaimana dia bisa tidur dan hamil anak Aksa, saat itu Mika akan menikah dengan sabahabatku, karena itu aku menolak perasaannya, tapi karena Mika sangat stress mengetahui dia hamil, dia mencoba bunuh diri pertama kali, namun dia selamat, aku menjaganya sampai dia melahirkan Archie, dia membenci anaknya hingga ingin membuang anaknya, aku mencegahnya, tapi karena terlalu fokus dengan Archie, Mika terjun dari lantai 5 rumah sakit." kata Daihan kembali harus menceritakan kisah tragis itu.
Nakesha mengenggam tangannya dengan sangat erat, tubuhnya gemetaran, ternyata kehidupan kakaknya begitu rumit. Membayangkannya saja sudah sangat mengerikan, kalau begitu cerita, itu bukan salah Aksa.
"Pria yang menghamili kakakku, apa dia tidak bertanggung jawab sudah tidur dengannya?"
Nakesha mengeleng lemah.
"Dia seorang pangeran, peringainya buruk, sangat buruk, bahkan dia tega membunuh istrinya sendiri,"
Mata Nakesha tampak bergerak-gerak menatap wajah Daihan. Itu artinya walaupun kakaknya menikah dengan pria yang menghamilinya, sama saja seperti masuk neraka.
"Jadi sebenarnya yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian kakakku adalah Aksa! ya kan? kalau dia tidak tidur dengan kakakku, pasti kakakku masih ada sekarang."
"Aku tak tahu siapa yang salah."
"Di mana anak itu?"
"Ada di Kanada, bersama sepupuku," kata Daihan lagi.
"Tidak, aku tidak bisa pergi ke sana, aku ... Ibuku butuh aku." kata Nakesa ingat pada ibunya.
"Aku akan membawanya ke sini, kau hanya perlu bertemu dengannya," kata Daihan sedikit tersenyum, seperti mendapat sedikit harapan, bagaimana pun baginya Archie sudah seperti anaknya sendiri.
"Baiklah, berapa umurnya?"
"Hampir 2 tahun."
"Baiklah, maafkan aku tadi ehm .... marah seperti itu," kata Nakesha yang sadar akan kelakuannya tadi.
"Tidak apa-apa, Aku rasa kita makanan kita pasti sudah datang, ehm, masih mau makan?" kata Daihan
"Ehm, tidak, apa kau mau makan, biar aku memesannya lagi?" kata Nakesha mulai menyisir pantai putih dengan pasir halus itu.
"Tidak, sifatmu benar-bener berbeda dengan kakakmu," kata Daihan mengikuti langkah Nakesha.
"Benarkah? mungkin dari kecil kami memang berbeda, kalau tidak kami pasti di adopsi bersama," kata Nakesha menatap kakinya yang memainkan pasir saat. dia berjalan.
"Ya, dia orang yang lembut, pintar, sangat hobi berenang, sangat manja, dan peduli dengan yang lain," kata Daihan mengingat.
"Kalian pasti sangat dekat ya?"
"Kami sudah bersama sejak kecil, tentu menegenalnya sejak kecil."
"Kau menyukainya ?"
"Aku menyukai wanita lain." kata Daihan tersenyum mengingat Bella.
"Oh benarkah, wah, sudah jam berapa ini? aku harus pulang sekarang," kata Nakesaha melihat jam.
"Aku akan mengantarmu," kata Nakesha.
"Tidak perlu, cari saja aku jika sudah membawa keponakanku ke sini, baiklah, aku pergi dulu," kata Nakesha melempar sebuah senyum tipis di antara matanya yang bengkak,
"Baiklah," kata Daihan menatap Nakesha yang menjauh sebelum berbalik melihat laut yang tak berujung. Setelah cukup lama melihat laut, Daihan memutuskan pulang kembali ke hotel.