
Madeline turun dari mobilnya, masuk dan berjalan dengan anggunnya menuju ke meja resepsionis di lobby perusahan Hexan Corp. kantor Angga. Seketika dia masuk, dia langsung jadi pusat perhatian karna kecantikan dan ke anggunannya.
"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu?" kata salah satu resepsionis dengan sangat sopan.
"Namaku Madeline Dowson, Putri dari Abraham Downson, Pedana menteri, aku adalah teman dari Angga, aku ingin bertemu Angga sekarang," kata Madeline dengan gaya angkuhnya.
"Maaf Nona, namun nama Anda tidak ada di daftar pemilik janji bertemu dengan Tuan Angga, juga di dalam daftar orang-orang yang diizinkan langsung bertemu dengan Tuan Angga," kata Resepsionis itu sopan, mereka memang harus mengikuti prosedur yang sudah di tetapkan Angga, kalau tidak mereka bisa kena masalah dengan 'The Himalayan Boss' itu.
"Apa? jadi kau tidak mengizinkan aku masuk? dia pasti sangat marah jika tahu kalian memperlakukanku seperti ini, aku adalah teman spesial Angga dan aku baru kembali dari luar negeri, maka dari itu namaku tidak ada di sana, kalau begitu biar aku langsung menghubungi Angga," kata Madeline kesal sambil menunjukkan handphonenya yang sedang menghubungi nomor Angga, kedua resepsionis itu saling berpandangan, melihat gaya Madeline mereka menjadi ragu, bisa saja dia benar-benar teman Angga, atau lebih parahnya malah kekasih bos mereka yang dingin itu.
"Maaf Nona, Tuan Angga sedang rapat, Anda bisa menunggu di ruang tunggu, silakan Nona, saya akan mengantarkan Anda," kata Resepsionis ini sungkan.
"Tidak perlu, aku tahu setiap sudut perusahaan ini, aku akan naik lift khusus saja," kata Madeline langsung meninggalkan kedua resepsionis yang sudah membuatnya kesal itu.
"Mereka pasangan yang cocok ya, sangat menyebalkan," kata salah satu Resepsionis itu berbisik pada temannya
"Benar, entah bagaimana mereka bisa bersama seperti itu, entah bagiamana nantinya perusahan ini jika mereka sampai menikah," kata Resepsionis lain sambil melihat kepergian Madeline yang langsung menuju lift khusus Angga.
"Akan seperti neraka mungkin," saut Resepsionis yang lain.
Madeline langsung masuk ke dalam lift yang biasanya hanya Angga yang boleh memakainya.
Madeline tahu Angga sudah beraktifitas seperti biasanya, karena itu dia langsung merinisiatif untuk datang menemui Angga, dia ingin Angga sadar bahwa sebenarnya wanita yang pantas dengannya hanya Madeline, bukan wanita licik seperti Mika itu. Madeline tahu Angga hanya tergoda sesaat dengan wanita licik itu, lagi pula, Madeline dan Mika? heh ... wanita itu salah mencari saingan.
Pintu lift terbuka, Madeline dengan percaya dirinya keluar dari lift yang tepat berada di samping ruangan kerja Angga, dia lalu berjalan dengan gaya anggun sekaligus angkuhnya, dia berhenti sesaat karena mendengar suara.
"Nyonya sudah dalam perjalanan ke sini, jika beliau sudah datang langsung sambut dan bawa beliau ke ruangan Tuan, Tuan Angga sebentar lagi akan selesai rapat, pasti beliau sudah menunggu Nyonya," kata Asisten Jang memberi perintah pada beberapa penjaga.
"Siap," kata mereka serempak, lalu mereka segera bubar.
Madeline mendengar itu langsung tersenyum sinis, kebetulan sekali, ini waktu yang tepat untuk menghancurkan pernikahan Angga dan Mika, wanita itu harus merasakan apa yang di rasakan oleh Madeline waktu itu, bagaimana rasanya melihat priamu sedang bersama wanita lain, pikirnya licik.
Madeline langsung menuju dan masuk ke ruangan Angga yang besar dan mewah, dia memperhatikan ruangan itu, melihat apakah ada CCTV di ruangan Angga, dia lalu tersenyum, tak menemukan adanya tanda-tanda CCTV di sana.
Dia meletakkan tasnya di atas meja kerja Angga dengan design minimalis yang keseluruhannya terbuat dari kaca, Madeline segera saja mengeluarkan kaca rias dan menambahkan riasan di wajahnya yang mungil dan halus, dipoleskannya lipstik berwarna merah darah di bibirnya, dia menyemprotkan parfum di sekitar leher dan belakang telingatnya, dia bahkan menyemprotkan parfum itu ke sekitar ruangan Angga, membuat ruangan itu menjadi penuh dengan wangi manisnya parfum Madeline.
Madeline lalu membuka blazer warna abu-abunya, meninggalkan dalaman satin putih dengan model tali tipis yang tampak sangat tebuka, roknya yang sempit dan mini itu membalut tubuhnya yang kurus, terlihat cukup seksi, dan membuat pria tak bisa menolak dirinya akan godaannya. Dia juga menata rambutnya yang halus itu agar terlihat lebih mengoda, menampilkan lehernya yang jenjang.
Dia tersenyum sinis, Angga pasti tak akan menolak dirinya jika begini, wanita itu tak akan punya kesempatan lagi nantinya.
---***---
Bella memutuskan untuk pergi dengan Daihan dan Nakesha, Dia duduk di belakang, sedangkan Nakesha duduk di samping Daihan yang mengemudikan mobilnya, 2 mobil penjaga mengikuti mereka, 1 di depan, 1 lagi mengikuti di belakang.
Suasana di dalam awalnya cukup canggung, namun untunglah Nakesha selalu punya cara untuk mencairkan suasana.
"Kak, aku cukup kasihan padamu?" kata Nakesha memposisikan dirinya menatap Bella di belakang.
"Ha? kenapa?" kata Bella.
"Lihatlah, ke mana-mana kau harus di ikuti begitu banyak penjaga, terasa sangat tidak bebas," kata Nakesha melihat mobil penjaga di depannya. Bella hanya mengulas senyum.
"Bella memang harus di jaga dengan ketat, Aksa pernah menculik Bella dan melukainya, semenjak itu Angga tidak pernah tenang jika meninggalkan Bella tanpa penjagaan," kata Daihan menjelaskan pada Nakesha.
"Benarkah? Mantan suamimu begitu kejam, Apakah Archie tahu ayahnya seperti itu?" kata Nakesha lagi pada Daihan.
"Tidak, yang Archie tahu aku adalah Ayahnya," kata Daihan.
"Ha? jadi nanti jika aku bertemu dengan Archie, kita harus pura-pura jadi ...." kata Nakesha kaget, Cobaan apa lagi ini? pikir Naskesha, masa dia harus pura-pura jadi istrinya Daihan?, Bella hanya bisa mengulum senyumnya, saat Nakesha menatapnya dengan ekspersinya yang kaget.
"Archie masih berumur 1 tahun, dia tidak akan mengerti, kau hanya perlu bertemu dan memperlakukannya dengan baik," kata Daihan melirik Nakesha dengan sedikit tersenyum manis. Nakesha tampak bernafas lebih lega, Bella yang duduk di antara mereka hanya merasa mereka cocok jadi pasangan, karena dari gerak gerik mereka, mereka tampak begitu manis.
"Anak-anak memang masih kecil, tapi mereka mengerti keadaan, mereka akan sedih jika melihat kedua orang tuanya tidak harmonis," kata Bella menjelaskan.
Nakesha dan Daihan terdiam sejenak.
"Baiklah, kita akan lakukan sebaik-baiknya, setelah Archie mengerti, kita akan bilang kita sudah berpisah," kata Daihan lagi.
"Baiklah," kata Nakesha, ada sedikit nada kecewa di suaranya, Bella langsung menangkap hal itu.
"Hati Archie pasti akan tersakiti, kenapa tak jadi pasangan selamanya saja?" kata Bella lembut di antara mereka berdua, toh mereka berdua terlihat sangat manis jika jadi pasangan.
Mendengar kata-kata Bella, Nakesha langsung salah tingkah, dia segera mengalihkan pandangnnya ke jendela, melihat reaksi Nakesha, Bella tahu bahwa Nakesha memiliki perasaan pada Daihan.
Bella lalu melihat Daihan yang hanya tampak diam, sedikit kecewa, sepertinya Daihan masih terjebak dengan perasaannya. Bella lalu memalingkan wajahnya ketika Diahan menatapnya dari maca spion tengah mobil.