Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
145



Bella meletakkan tasnya di ranjang, mengambil handphone barunya, lalu segera menelepon Angga.


"Hallo?" kata Angga.


"Kau masih sibuk?" kata Bella kesal.


Angga bisa mendengar suara kesal Bella, dia segera berdiri dan keluar dari ruangan pertemuan padahal dia masih ada urusan yang lain.


"Ada apa?" kata Angga.


"Apa yang kau katakan pada kak Daihan?, kenapa dia bilang aku hamil?" kata Bella benar-benar kesal, masa Angga menjelekkan namanya dengan mengatakan dia hamil padahal dia dan Angga belum menikah, lagian bagaimana bisa hamil, melakukan saja tidak pernah?. Mendengar itu Daihan sedikit tersenyum.


"Ya, aku mengatakannya karna aku tidak mau dia berharap lebih denganmu, apa lagi menganggumu malam ini," kata Angga serius.


"Ya, tapi bukan dengan cara mengatakan aku hamil, apa lagi tadi kak Daihan mengatakannya di depan Judy dan yang lain." kata Bella.


"Ya baguslah, apa lagi yang dia adukan?"


"Bukan apa lagi yang dia adukan, tapi apa lagi yang kau katakan padanya?" kata Bella mondar mandir karena kesal.


"Aku katakan aku sudah sering tidur dengan mu," kata Angga tenang.


Bella yang mendengar ini langsung terdiam, dia berhenti, terkejut dengan kata-kata Angga.


"Ha? Apa? kau katakan itu padanya? kau benar-benar mencoreng namaku." kata Bella lagi sangat-sangat kesal pada Angga.


"Bella, aku tak ingin ambil resiko apapun, Kau milikku, bahkan apa pun yang terjadi, aku tak akan memberikanmu pada siapa pun, jadi ... aku akan melakukan apa pun agar Daihan tak bisa mendekatimu," kata Angga terdengar sangat serius membuat Bella terdiam, dia tahu Angga tak mau Daihan mendekatinya, tapi bukan dengan cara begini.


"Tapi kan bukan begini juga,"


"Sudah, aku sudah mengatakannya, jangan di bantah." kata Angga


"Baiklah, tapi aku sudah mengatakan aku tidak hamil," kata Bella.


"Kenapa mengatakan itu? kau masih mau di goda olehnya?"


"Ya habis, itu kan memalukan, tapi yang lain aku tidak mengatakan apapun."


"Baiklah, kalau dia menanyakan soal itu, kau harus menjawabnya 'iya'." kata Angga


Bella memanyunkan bibirnya padahal tak ada orang di sana, Angga pun tak bisa melihatnya.


"Jadi? Bagaimana jawabannya?" Kata Angga menuntut jawaban


"Baiklah, aku akan menjawab iya," kata Bella lagi.


"Baguslah, sekarang istirahatlah, besok aku akan datang lagi, tapi mungkin tak bisa pagi," kata Angga.


"Selesaikan saja dulu semua urusan di sana, aku akan menunggu," kata Bella.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang," Angga memutuskan panggilannya.


Bella duduk di ranjangnya, sedikit ingat apa yang di katakan oleh Angga pada Daihan, terkadang Angga benar-benar tak tertebak, bisa-bisa dia melakukan itu, pantas saja dia mengelus perutku tadi, pikir Bella sambil geleng-geleng kepala.


---***---


Daihan duduk di kamarnya, entah kenapa sekarang pikirannya terbang ke Nakesha, gadis itu begitu tampak mandiri dan kuat, bahkan dari matanya Daihan tak bisa menebak apa isi pikirannya.


Daihan mengambil Handphonenya, lalu menghubungi seseorang.


"Asisten Yu, tolong cari data tentang seseorang di daerah pesisir selatan, nama dan fotonya akan ku kirimkan, yang penting aku ingin tahu lokasinya sekarang," kata Daihan serius, jika serius begini ternyata Daihan tak kalah kharismanya dengan Angga maupun Jofan.


"Baik Tuan, " jawab asisten Yu.


"Terima kasih, mohon bantuannya,"


Daihan menaruh handphonenya di samping mejanya setelah mengirim sebuah pesan, kembali menatap indahnya lautan dengan warna jingga yang mulai menyelimuti cakrawala yang luas terhantui oleh gelap malam, pikirannya terbang entah ke mana-mana, tak lama handphonenya berdering, dia melihat pesan masuk, melihat alamat itu dia langsung berdiri dan berjalan keluar.


"Judy, aku ingin keluar," kata Daihan melihat Judy berdiri di luar lorong ruangan Bella.


"Baik Tuan," kata Judy.


"Terima kasih, oh, ya, jangan izinkan siapapun masuk dan keluar dari sini, jangan izinkan Nona Bella keluar ruangan, aku sudah mengirimkan pengawalan ke sini juga, mereka akan berjaga di sekitar hotel, jadi jangan cemas," kata Daihan sambil memakai mantel panjang berwarna coklat.


"Baik Tuan," kata Judy lagi.


Daihan tersenyum sedikit, lalu pergi meninggalkan Judy, dia turun lalu segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.


"Aku ingin ke alamat ini," kata Daihan memberikan alamat itu.


"Baik Tuan," kata Supir itu.


Jalanan pun terasa sendu, Daihan hanya melihat ke arah jalanan, menatapnya dengan nanar, cukup lama dia bersama dengan Mika, menjaganya, membuat perlahan-lahan dia bisa menerima Mika, tapi setelah dia bisa merimanya, wanita itu malah pergi lagi begitu saja.


Remangnya cahaya bulan purnama menerangi jalan, Mobil Daihan berhenti di salah satu pantai di daerah sana, dia menatap pemandangan indah yang terhampar, lautan tenang dan gelap, di dekatnya terdapat sebuah cafe yang cukup ramai.


"Itu tempatnya Tuan," kata supir itu lagi.


"Baiklah, terima kasih," kata Daihan yang mulai berjalan turun ke pasir putih pantai, berjalan menuju cafe itu, cafe itu itu benar-benar ramai, banyak pengunjung di sana, cafe itu tak berdinding hanya beberapa pembatas di hiasi dengan beberapa dekor dan lampu, sederhana namun juga tampak indah, Angin pantai leluasa menyapa dan menerpa pengunjung-pengunjung di sana yang kebanyakan orang asing.


"Bisa saya bantu Tuan?" kata Seorang pelayan dengan baju yang cukup ketat.


"Aku butuh 1 meja, dan, apa kau kenal Nakesha?" tanya Daihan.


"Ya, dia sedang di minta untuk menyanyi, setelah itu aku akan mengatakan Anda mencarinya, mari saya tunjukkan tempat Anda," kata pelayan itu berjalan menujukkan tempat duduk pada Daihan yang ada di bagian tengah cafe itu.


"Baiklah, terima kasih," kata Daihan duduk di tempat yang sudah di siapkan.


"Ingin persan apa Tuan?"


"1 bir dingin," kata Daihan tersenyum, membuat pelayan itu juga sedikit tersipu, pria tampan ini tersenyum padanya.


"Baiklah, aku akan segera membawakannya," kata pelayan ini pergi dari sana.


Daihan menikmati semilir angin yang juga menyapanya, membuai dirinya, tak lama pesanannya datang dan dia menikmatinya.


Tak lama matanya tertuju di panggung kecil yang ada tepat di depannya, Daihan mentap Nakesha berjalan masuk ke depan panggung, duduk di tengahnya dengan sebuah gitar, penampilannya berbeda sekali dengan yang tadi, tadi dia tampak begitu tomboy dengan topi, kaos dan jeans, sekarang dia mengunakan kemeja putih dan rok yang cukup ketat, rambutnya yang ternyata cukup panjang, hanya di ikat sederhana sisanya di biarkan terurai dengan bebas, tampak begitu manis.


Daihan bahkan tak bisa berkedip, terpaku menatap Nakesha di sana. Nakesha mulai memetik gitarnya dengan perlahan, lembut dan begitu menghayati, jarinya lincah berpindah-pindah di atas senar gitar. Bibirnya yang tipis mulai melantunkan lirik lagu.


 


***I've been alone with you inside my mind.


And in my dreams I've kissed your lips a thousand times.


I sometimes see you pass outside my door.


Hello, is it me you're looking for?


I can see it in your eyes


I can see it in your smile


You're all I've ever wanted, and my arms are open wide.


'Cause you know just what to say.


And you know just what to do.


And I want to tell you so much, I love you.


I long to see the sunlight in your hair


And tell you time and time again how much I care


Sometimes I feel my heart will overflow


Hello, I've just got to let you know


Cause I wonder where you are


And I wonder what you do


Are you somewhere feeling lonely, or is someone loving you?


Tell me how to win your heart


For I haven't got a clue


But let me start by saying, I love you.


(Hello-leonal Richie).


 


Alunan suara gitar dan lembutnya suara Nakesha membuat semua terbuai, bahkan aktivitas di sana terhenti sekejap selama Nakesha bernyanyi.


Tapi, untuk Daihan, sesaat hanya ada dirinya dan Nakesha di sana, Nakesha pun melihat Daihan, karna mereka tepat berhadapan, sesaat mata mereka saling berpaut, hening, hanya ada suara Nakesha dan alunan gitarnya.