Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
51



Aku marah bukan berarti tak punya perasaan, aku kesal bukan berarti tak perhatian, hanya saja mungkin itu lah cara yang bisa aku lakukan, begitulah cintaku aku tunjukkan.


____________________________________________


Di dalam lift yang berjalan turun itu, Bella hanya menunduk, dia hanya mengenggam tangannya sendiri, hal itu sering di lakukannya jika dia benar-benar bingung, gugup, dan sedih, seperti perasaanya sekarang, Angga pun hanya diam, tidak bergeming, hanya menatap lurus dengan wajah yang begitu dingin, melirik Bella pun dia tidak.


Bella tidak tahu harus apa sekarang, dia hanya menyiapkan dirinya untuk dimarahi oleh Angga, karena dia tahu Angga pasti marah sekali dengan dirinya. Tapi bagaimana Angga bisa tahu tadi dia bersama dengan Daihan? Bukannya dia sudah menyuruh Judy untuk tidak memberitahukan pada Angga, dan Bella yakin Judy tidak melakukannya.


Pintu lift terbuka, mereka keluar ke basemen, mobil sudah menunggu mereka,  Asisten Jang juga sudah membukakan pintu untuk Angga, Angga segera masuk ke dalam, Bella menyusulnya, tak lama mobil mereka pergi dari sana.


Perjalanan itu terasa lebih dingin dan tegang, Bella benar-benar tidak tahu dia harus melakukan apa? Karena Angga begitu diam dan benar-benar terlihat sangat marah, selama Bella mengenal Angga, dia tidak pernah melihat wajah Angga seburuk itu. Angga seperti berusaha keras untuk tidak meledak di dalam mobil itu.


Angga mengeluarkan tablet yanga ada di saku kursi di depannya, membuka sesuatu dan menyerahkannya pada Bella, namun tetap dia tidak ingin menatap Bella. Bella melihat foto yang ada di layar tablet itu terdiam, bagaimana bisa? Bagaimana foto Daihan sedang memeluknya sampai pada Angga, dia juga melihat fotonya saat bergandengan tangan dengan Daihan, kalau begini pantas saja Angga begitu marah padanya, karena siapapun pasti salah paham jika melihat foto seperti ini. Tapi siapa yang mengambil foto itu dan menyerahkannya pada Angga, karena di dalam foto itu, Judy terlihat, jadi tak mungkin Judy yang mengambilnya.


"Jelaskan padaku apa yang kau pikirkan saat melakukan itu? "kata Angga terdengar sangat dingin, namun lagi-lagi enggan menatap Bella.


"Ini bukan seperti yang terlihat, "kata Bella ingin menjelaskan.


"Apa yang tidak seperti yang terlihat? Jelas-jelas kalian berpelukan, apa kau tidak berpikir jika melakukan itu semua rencana kita akan hancur?, bagaimana jika Aksa tahu kau di peluk pria lain?, kau tahu itu sama saja menghancurkan nama baikku? Bukannya sudah aku bilang untuk menjaga sikapmu, " kata Angga mengeluarkan kekesalannya pada Bella, namun dia tetap berusaha untuk tidak terlalu mengeluarkan seluruh emosinya, kalau tidak Bella pasti akan ketekuatan dengannya.


Bella terdiam, dia berpikir Angga ingin tahu kenapa Daihan memeluk dirinya? Bella pikir Angga marah karena Daihan memeluknya, Tapi Bella salah, ternyata Angga hanya peduli dengan rencana mereka dan juga dengan harga dirinya, Bella kembali menelan pil kecewa yang sangat terasa sangat pahit, benar-benar pahit hingga membuat seluruh kerongkongannya terasa tersekat, hatinya nyeri, sedih seketika menyelimuti dirinya, air matanya berkumpul di sudut matanya yang indah, benar-benar sedih, namun juga menyakitkan karena dia harus menahan rasanya, dia tidak ingin menunjukkan itu di depan Angga, walaupun dia tahu Angga tidak akan peduli, pria itu hanya peduli dengan dirinya sendiri, Benar! Kenapa Bella harus peduli padanya jika Angga sendiri tidak peduli, berkali-kali Bella kecewa, mungkin karena terlalu berharap pada Angga. Bodoh! Bodoh sekali, pikir Bella menghakimi dirinya sendiri.


Bella mengigit bibirnya dengan keras, hingga terasa nyeri, dia tak menyangka disalahkan karena ini, padahal sebenarnya bukan dia yang menginginkan di peluk oleh Daihan, dia juga kaget, dan juga tidak ingin di peluk seperti itu, dia ingin mengatakannya semuanya, namun mulutnya terkunci.


Keadaan kembali hening, Bella sudah malas untuk menjawab Angga, dia sudah benar-benar kecawa  dengan Angga, tidak ingin lagi menaruh harapan dengan apapun yang di lakukan Angga padanya nanti, karena dia harus sadar, semua itu hanya demi balas dendam ini… lagi pula kenapa dia bisa menaruh harapan pada Angga?, apa jangan-jangan? Tidak! Dia tidak boleh menyukai Angga, Angga itu orang paling tidak berperasaan yang dia tahu, dia sangat ambisius, hanya tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan yang dia mau, dan di dalam rencanannya, menyukai Bella sama sekali tidak ada… sekarang Bella sedikit menyesal meninggalkan Daihan tadi.


" Berikan Handphonemu padaku, "kata Angga, wajahnya terlihat lebih tenang.


" Untuk apa? "kata Bella menatap Angga.


" Sudah serahkan saja,"kata Angga lagi.


"Kenapa kau menghapus kontak Kak Daihan? "kata Bella protes.


Dengan begini kau tidak akan berhubungan lagi dengannya ,kata Angga dengan bahasa isyarat sehingga orang yang ada di mobil itu tidak tahu kalau mereka sedang bertengkar.


Kenapa aku tidak boleh berhubungan dengannya?, jawab Bella dengan bahasa isyarat, ekspresinya  kesal, mencari-cari kontak Daihan yang tersisa, namun sama sekali tidak ada, Angga yang melihat Bella masih mencari menjadi tambah kesal.


Kau benar-benar ingin berhubungan dengannya? ,kata Angga lagi pada Bella, wajahnya juga tampak kesal.


Bukan begitu, tapi setidaknya dia juga sudah baik padaku, kata Bella mengunakan bahasa isyarat, juga dengan ekspresi kesal


Memangnya apa yang dia lakukan padamu?, Hingga kau mau dekat dengannya,kata Angga lagi.


Setidaknya dia mencarikanku bunga kesukaanku, kata Bella menatap sinis pada Angga yang sesuka hatinya menghapus data orang.


Aku akan membelikanmu 1000 bunga kesukaanmu, biar kau tahu aku juga baik padamu, kata Angga sangat kesal hingga bahasa isyaratnya pun sangat berekspresif, Bella yang melihat itu menyipitkan matanya menatap Angga dengan tidak percaya dan begitu kesal, nama mungkin Angga akan membelikannya begitu banyak bunga.


Kau bahkan tidak tahu bunga kesukaanku, kata Bella lagi


Apa bunga kesukaanmu? Isyarat Angga lagi.


Tidak akan mengatakannya, kata Bella melempar wajah nya ke arah arah jendela, membelakangi Angga, Angga yang di cuekin begitu jadi tambah kesal, jadi dia hanya diam saja, membiarkan Bella terus menatap jendela.


Mobil mereka memasuki areal rumah Angga, pintu Bella langsung dibuka, Bella yang masih kesal segera turun.


" Kau tidak boleh pulang ke apartemen jika tidak ada izin padaku, lalu kau juga tidak di izinkan untuk keluar tanpa izinku,"kata Angga.


"Iya, baiklah! "kata Bella dengan emosinya.


Angga yang menangkap nada yang sangat kesal dari Bella untuknya menjadi terdiam, Bella bahkan tidak melihat Angga dan langsung masuk ke dalam rumah, Angga lalu menyuruh supir untuk mulai berjalan menuju kantornya, sedangkan Bella hanya masuk kembali ke kamarnya, dan mengunci diri di sana, dia sangat kesal dengan Angga hingga memukul-mukul bantal untuk melampiaskan kekesalanya, Aku benci kau Angga! pria itu benar-benar hanya memikirkan keuntungannya saja, teriak Bella dalam hati. Tak lama dia malah tertidur, mungkin karena terlalu kesal membuat dia kehabisan tenaga.