Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
72



Lilin tak pernah mengeluh menahan panasnya bara yang melelehkannya hingga tak tersisa hanya untuk seberkas cahaya, mungkin rasa itu sama sepertiku sekarang yang rela menahan sakit dan lara hanya demi melihatmu bahagia.


____________________________________________


Dia menemukan sosok itu di depan matanya, Daihan berdiri dengan senyuman hangatnya, sehangat matahari pagi ini.


"Kakak!, kakak di sini?" kata Bella tersenyum ceria, senang akhirnya ada yang datang melihatnya.


"Ya, maafkan aku tidak bisa datang langsung, aku langsung ke mari setelah tiba dari Jerman," kata Daihan.


"Wah, enak ya jadi kakak, sering pergi ke mana-mana?" kata Bella, melihat Daihan yang mengambil posisi duduk di sabelahnya, tiang infus membatasi mereka di tengah.


"Hanya urusan pekerajaan, bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?" Kata Daihan dengan sorot mata yang begitu menunjukkan perhatian, melihat itu Bella jadi sedikit merasa gugup.


"Oh, sudah. Lihat saja aku sekarang ada di sini. kakak tidak perlu terlalu cemas ya, aku hanya salah minum kemarin." kata Bella tersenyum gugup.


"Aku tidak bisa tidak cemas padamu. Aku rasa yang kau lakukan ini sangat berbahaya. Tapi aku tidak bisa melarangmu." Kata Daihan dengan tatapan sendu, menatap lurus pada mata Bella yang terdiam, menangkap kepedulian yang begitu terpancar di sana. Hatinya jadi tak enak.


"E… aku rasa aku bisa menjaga diriku kak, tenanglah." Kata Bella tersenyum tak enak sambil membuang wajahnya, menunduk melihat tangannya yang sedang digenggamnya sendiri.


"Ke mana Angga? kenapa dia bisa membiarkanmu hingga seperti itu?" kata Daihan lagi.


"Oh, kami sedang tidak berbicara. Ada beberapa hal yang… ehm… membuat kami menjauh. Sebenarnya aku yang menyuruhnya menjauh." kata Bella dengan senyuman yang kecut, Daihan bisa menangkapnya.


"Kenapa?" kata Daihan.


Bella terdiam sejenak, tidak mungkin dia mengatakan bahwa Angga menyatakan perasaannya ke Bella, dan Bella juga punya rasa pada Angga, namun Bella takut untuk mengembangkan rasa itu hingga menyuruh Angga menjauhinya, kalau Bella mengatakanya pasti perasaan Daihan juga akan buruk, karena kemarin Daihan juga mengatakan bahwa dia menyukai Bella. Ah, rumit sekali.


"Hanya masalah kecil." Kata Bella lagi tak ingin menjelaskan, mendengar itu Daihan hanya diam, tahu bahwa Bella tidak ingin dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Baiklah, kau bisa menceritakan apapun padaku jika nantinya kau ingin," kata Daihan sambil mengelus pelan kepala Bella, membuat Bella merasa sedikit nyaman.


Angga sebenarnya tadi pagi dia sama sekali tidak ingin meninggalkan Bella, tapi karna ada hal yang harus secepatnya dia urus dan dia harus bertemu beberapa orang yang sudah jauh-jauh datang berbisnis dengannya, dia terpaksa pergi ke perusahaannya. Setelah hal itu selesai, Angga lalu sengaja mengosongkan semua jadwalnya hari ini, itu membuat Asisten Jang jadi kewalahan karena semua yang sudah disusunnya selama seminggu ini jadi kacau. Bahkan dia mempercepat pertemuannya dengan para client itu, begitu mendapat kabar Bella sudah sadar.


Dia benar-benar sudah tak sabar bertemu dengan Bella, dia ingin tahu keadaannya, dan dia ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di sana tadi malam.


Angga segera menuju ruangan Bella,  Asisten Jang langsung membukakan pintu ruangan Bella, namun yang ditemukannya hanya ruangan kosong. Kemana dia? kenapa dia malah meninggalkan ruangannya? seharusnya dia istirahat di sini, pikir Angga.


"Cari dia!" perintah Angga.


Asisten Jang langsung menghubungi Judy. Setelah tahu di mana,  Asisten Jang langsung melaporkan.


"Nona  Mika ada di taman Tuan,"kata  Asisten Jang memberitahukan.


Angga menekuk dahinya, tadinya dia pikir Bella sedang ada di ruang pemeriksaan atau di ruang dokter, tapi kenapa dia ada malah ada di taman? Bukannya dia masih sakit? Pikirnya sediki cemas. Angga lalu segera mengambil langkah ke arah taman. Setelah membuka pintu yang membatasi ruangan itu dengan taman, Angga berhenti di situ, dia terdiam, sorot matanya terlihat sangat dingin, suram seakan ada badai salju yang menyelimutinya.


Dia melihat Bella dan Daihan yang sedang bercengkramah, Bella dan Daihan tak menyadari kehadiran Angga karena Angga memang ada di belakang mereka. Judy yang menyadarinya keberadaan Angga segera ingin memberi tahukan Bella, namun Angga mengeluarkan gestur untuk diam. Judy mengerti hanya mengangguk pelan dan kembali ke posisinya semula.


Angga memperhatikan mereka, bahkan saat dia sampai, Bella dan Daihan tampak sangat akrab, sangat dekat, Daihan bahkan mengelus kepala Bella dengan sangat lembut, selanjutnya Bella tampak begitu ceria, bahkan bukan seperti orang yang habis keracunan, ada rasa sakit yang menusuk perasaannya, serasa dadanya berat menyaksikan pemandangan yang ada di depannya, sebenarnya Angga tak ingin melanjutkannya, namun seolah mematung, dia tidak bisa memalingkan matanya yang mulai memerah karena menahan emosi. Semakin dilihat, semakin sesak dadanya, semakin pula tipis dia bernapas, hingga akhirnya dia menarik napas panjang, lalu kembali masuk ke dalam ruangan rumah sakit itu.


Angga kembali ke ruangan Bella, dia sendiri yang membuka pintunya dengan kasar dan langsung menutupnya tanpa membiarkan  Asisten Jang dan penjaganya masuk.  Asisten Jang yang melihat itu langsung tahu bahwa saat ini tuanya sedang tidak ingin di ganggu.


Angga kesal, dia marah, dia cemburu, bagaimana bisa Bella kembali berhubungan dengan Daihan, begitu dekat dan begitu ceria? Padahal saat Angga menyatakan bahwa dia memiliki perasaan dengannya, dia malah menyuruhnya menjauh. Apa artinya semua itu? Jangan-jangan Bella memang mau dekat dengannya selama ini hanya karena dia bisa membantunya membalaskan dendam. Kenyataan yang mengema di pikirannya itu sekarang membuatnya makin emosi, dia memukul tembok yang ada di sana dengan kuat, bahkan nyeri dan sakitnya pun tidak terasa lagi.


Perasaannya sekarang benar-benar tidak karuan, ingin rasanya dia mengeluarkan semuanya, sangat menyiksa hingga dia merasa lemah, bernapas saja susah, seperti ada yang mengerogotinya dari dalam, benar-benar tak tertahankan.


Tapi kenapa sekarang dia baru tahu rasanya cemburu, kalau dipikir, bahkan Mika lebih dekat dengan Daihan dari pada Bella sekarang, mereka sering keluar, mereka sering berada di apartemen bersama, bahkan Mika juga sering tampak lebih mesra dengan Daihan dari pada dengannya, dan saat itu dia merasa biasa saja, tidak ada sedikitpun merasa cemburu, apa karena dulu dia percaya Daihan dan Mika hanya sebatas teman masa kecil. Tapi Bella kan berbeda, dia tidak bisa menebak perasaan wanita itu, dia juga tahu Daihan meyukainya… tapi apa pantas menunjukkan kemesaraan mereka di depan Angga? Angga benar-benar tak habis pikir.


Sorot matanya masih penuh dengan emosi, dia kembali membuka pintu, lalu keluar dari ruangan itu dan segera meninggalkan tempat itu.