
' Maaf, bukan ku tak menganggapmu ada, tapi aku hanya terlalu sulit, terlalu sulit untuk bisa lupa, dengan cinta yang pernah ada,'
____________________________________________
Bella sedang berguling-guling di ranjangnya, pikirannya melayang ke perlakuan Angga tadi pagi, entah kenapa dia malah merasa malu sendiri, tapi perlakuan Angga itu benar-benar membuatnya jadi kaget, ehm…tapi yah, pasti Angga hanya ingin membantunya saja, tidak mungkin dia punya maksud apa-apa, apa lagi perasaan saat melakukan itu, benarkan?.
Bella menatap jam, sudah hampir pukul 11 malam, tapi Angga belum juga pulang, dia lalu keluar dari kamarnya, melihat Judy masih setia ada di sana, dia lalu mendatangi Judy.
" Judy, kenapa Angga belum pulang juga?, " kata Bella penasaran.
" Mungkin Tuan masih banyak pekerjaan Nona, jika Nona ingin tahu, Anda bisa bertanya pada Asisten Jang, dia pasti selalu ada bersama Tuan, " kata Judy.
" Iya, benar juga, aku akan menghubunginya, " kata Bella, dia lalu menuju ke ruang tengah, dia membuka handphonenya, awalnya dia ingin menelepon, tapi diurungkan, mungkin saja Asisten Jang sedang sibuk, jadi dia hanya mengirimkan pesan pada Asisten Jang menanyakan kabar Angga.
Tak begitu lama, handphone Bella berdering, dari Asisten Jang.
" Halo, " kata Bella.
" Selamat malam Nona Mika, Tuan Angga sedang mengadakan rapat conference dengan para kliennya, sehingga mungkin akan pulang lebih malam, " kata Asisten Jang.
" Wah, bahkan sampai malam begini juga masih rapat?, " kata Bella tak percaya Angga ternyata sesibuk itu.
" Iya, seharusnya rapat ini di lakukan tadi pagi, namun Tuan memindahkan jadwalnya jadi malam hari " kata Asisten Jang.
" kenapa dipindahkan?, " kata Bella lagi penasaran, bukannya rapat malam hari akan sangat melelahkan.
" Sebab tadi Tuan Angga memutuskan untuk menemui Anda di Central Park, " kata Asisten Jang menjelaskan.
Bella terdiam, berarti Angga bekerja lembur sampai begitu malam hanya karena dia, Angga bisa saja tak peduli dan tidak membatalkan rapatnya yang begitu penting, tapi dia malah membatalkannya dan memilih untuk bekerja begitu malam hanya gara-gara melindungi Bella dari Aksa, hati Bella tersentuh mendengarnya sekaligus merasa begitu bersalah. Dia bahkan tidak mengatakan kata maaf padanya.
" Nona, Anda masih di situ? " kata Asisten Jang yang tidak mendengar jawaban dari Bella.
" Owh, iya, kira-kira kapan Angga akan pulang? " kata Bella.
" Belum bisa di pastikan, jika seperti ini mungkin bisa sampai jam 1 malam, Nona, " kata Asisten Jang.
" Baiklah, Ehm… Asisten Jang, Maafkan aku, karena aku kau juga terkena imbasnya, " kata Bella menyesal.
" Eh, tidak apa-apa Nona, bukan salah Anda, saya pamit dulu Nona, Tuan Angga akan mencari saya jika terlalu lama, " kata Asisten Jang lagi.
" Baiklah, terima kasih Asisten Jang, Anda sudah bekerja keras, " kata Bella
" Sama-sama Nona, " kata Asisten Jang lagi.
Bella memutuskan untuk menunggu Angga karena dia memang merasa bersalah karena sudah merusak jadwal kerjanya, apa lagi gara-gara dia, Angga harus bekerja hingga larut malam. Dia pasti sangat lelah sekarang.
" Selamat malam Nona, kenapa Anda tidak tidur? Ini sudah jam 12.00, " kata Judy yang melihat Bella masih duduk di ruang tengah.
" Aku ingin menunggu Angga, Judy, apakah Angga memang suka mengganti jadwal seperti ini?, " kata Bella lagi.
" Setau saya, Tuan Angga adalah orang yang sangat terjadwal, dia paling marah jika ada hal yang tidak sesuai dengan jadwalnya, " kata Judy menerangkan.
Bella makin merasa tak enak, berarti tadi sebenarnya Angga sedang marah padanya, karena Bella, dia harus mengatur semua jadwalnya lagi, pantas saja di pergi tanpa melihat Bella sama sekali, sekarang dia benar-benar harus minta maaf pada Angga.
Angga baru sampai ke rumahnya pukul 1.45 malam, pelayan segera membukakan pintu untuknya, dia melihat Judy masih berdiri menyambutnya, dia sedikit mengerutkan dahinya.
" Selamat pagi Tuan, " kata Judy dengan sopan.
" Kenapa kau masih disini? Apa Nona Mika belum tidur? " kata Angga, Jam kerja Judy adalah hingga Bella tertidur, jika sampai sekarang Judy masih ada, berarti Bella belum tidur, pikir Angga.
" Sebenarnya Nona sudah memerintahkan saya untuk pulang dan Nona tadi ingin menunggu Anda, tapi… " kata Judy lagi.
" Dia kenapa? " kata Angga.
" Nona tertidur di kursi ruang tengah, " kata Judy.
" Dia tidur di sana lagi, apa dia tidak takut sakit?, udara di luar kan sangat dingin, " kata Angga lagi sambil membuka jacket panjangnya, menyerahkannya pada Judy.
Setelah itu Dia lalu segera berjalan menuju ruang tengah. Melihat Bella yang sudah tidur dengan lelapnya di sana, dia hanya mengelengkan kepalanya.
" Judy, kau sudah boleh beristirahat, " kata Angga.
" Terima kasih, Tuan " kata Judy, setelah memberikan salam, Judy lalu segera meninggalkan mereka.
Angga hari ini sungguh lelah, banyak sekali pekerajaannya, tapi melihat Bella yang tidur dengan sangat nyenyaknya, dia menaikkan sedikit sudut bibirnya, dia lalu mengendong Bella lagi, Bella segera meringkuk dalam gendongan Angga, Tubuh Angga yang hangat membuat Bella nyaman karena memang hari ini terasa begitu dingin. Dia lalu segera membawa Bella ke kamarnya, meletakkannya kembali dengan sangat hati-hati.
" Angga, maafkan aku " kata Bella meracau lagi.
Angga menatap Bella dengan lembut, baru kali ini wajahnya bisa tampak selembut itu, Angga sedikit tersenyum, ternyata itu yang ingin dia katakan hingga menunggunya sampai tertidur, Angga sedikit tersentuh, dia kembali menarik selimut Bella, lalu meninggalkan Bella yang tertidur lelap. Rasa lelahnya sedikit hilang karena Bella.
Bella terbangun, dia melihat dirinya sudah kembali lagi ke kamar, dia sedikit heran, rasanya kemarin dia menunggu Angga pulang di ruang tengah, dan ketiduran, tiba-tiba dia sudah ada di kamar, siapa yang memindahkannya? Apa mungkin Judy, atau jangan- jangan Angga? kalau benar Angga, dia pasti sudah membuatnya kerepotan, pulang begitu malam dan masih mengendong Bella lagi, Bella benar-benar merasa tak enak sekarang.
Bella melihat kearah jam, masih jam 2.15 pagi, tapi dia masih sedikit penasaran, apakah Angga sudah pulang atau belum?. Dia lalu turun dari tempat tidurnya, dan berjalan keluar kamarnya. dia lalu melihat ke ruangan-ruangan yang ada di rumah itu, semua kosong, ehm…bodohnya dia, pasti kalaupun Angga sudah pulang, dia pasti sedang tidur sekarang, pikir Bella.
Dia lalu berjalan naik ke atas, karena memang seluruh lantai 2 rumah itu adalah ruang pribadi Angga. Saat pertama kali dia selesai menaiki tangga terdapat ruang kerja yang sangat luas yang sengaja dibuat tanpa sekat, dari sana dia langsung bisa melihat ke pemandangan dinding terbuat dari kaca itu.
Bella berjalan dengan perlahan karena seluruh lantai di sana terbuat dari paquet jati, awalnya dia ingin melihat apakah benar Angga sudah pulang atau belum, karena jika Angga belum pulang bahkan jam segini, Bella akan benar-benar merasa sangat bersalah.
Dia berjalan ke arah kamar Angga, namun semakin dia mendekati kamar itu, semakin dia merasa ragu, kalau Angga sudah pulang dan dia sedang tertidur, bukannya dia nantinya malah membuat Angga terganggu, itu yang ada di dalam pikirnannya, karenanya begitu sampai di depan pintu Angga dia segera membatalkan maksdunya dan segera berbalik untuk pergi, namun sebelum dia melangkah, tiba-tiba pintu kamar Angga terbuka.
Bella melihat kebelakang, melihat Angga sedang berdiri menatapnya dingin.
" Owh, ternyata kau sudah pulang, aku kesini hanya untuk melihat kau sudah pulang atau tidak, " kata Bella salah tingkah.
" Ya, sudah, " kata Angga seadanya saja.
" Eh, belum tidur? " kata Bella lagi.
" Aku bukan orang yang bisa tidur dengan cepat, " kata Angga lagi.
" Benarkah? " kata Bella.
" Iya, Ada apa? " kata Angga
" Ehm, aku di sini hanya ingin minta maaf, " kata Bella dengan suara pelan dan sungkan.
Mendengar itu Angga sedikit melunak, wajahnya tak sedingin yang tadi.
" Tidak apa-apa, " kata Angga lagi.
" Maafkan aku gara-gara aku kau harus bekerja hingga larut malam, " kata Bella lagi.
" Itu bukan karenamu, itu karena hari ini adalah hari libur, jika hari ini aku tidak libur, aku pasti lebih memilih untuk rapat dari pada datang kesana, " kata Angga lagi.
" Owh, begitu yah? Baiklah kalau begitu, Kenapa kau tidak bisa tidur? " kata Bella.
" Hanya sudah menjadi kebiasaan, " kata Angga.
" Aku tahu, dulu sewaktu aku kecil dan aku tidak bisa tidur, pengasuhku memberikanku susu hangat agar aku bisa tidur, sebentar aku buatkan ya " kata Bella segera berjalan turun tanpa menunggu jawaban dari Angga. Bella langsung menuju ke dapur, dia segera mengambil air hangat dan melihat susu bubuk yang ada di sana.
" Tidak perlu melakukan itu, akan aku suruh pelayan saja, " Kata Angga, karena ruangan itu sepi suaranya terasa mengema, dia melipat tangannya lalu bersender di kusen pintu dapur itu, perawakannya yang begitu mengoda membuat siapapun terpana.
" Srttt... " kata Bella meletakkan jari
telunjukknya di depan bibirnya yang merekah bagaikan mawar itu.
‘ Jangan Ribut, Pelayan masih tidur ‘ kata Bella mengunakan bahasa isyarat.
Angga yang melihat itu sedikit terkejut, namun keterkejutannya itu berubah menjadi sedikit senyuman, Bella ternyata benar-benar cepat belajar, Mika pun selalu melakukan hal ini jika rumah sesepi ini, berbicara dengan bahasa isyarat, jadi tidak membuat keributan.
Dia hanya memperhatikan Bella yang membuatkan susu untuknya, dengan hati-hati Bella lalu membawakan susu itu untuknya, Angga segera mengambilnya.
‘ Terima Kasih’ kata Angga membalas dengan bahasa isyarat.
‘ Sama-Sama, Tidurlah, jangan sering tidur sepagi ini, tidak baik untuk kesehatan,’ kata Bella kembali mengunakan bahasa Isyaratnya.
Angga menatap Bella, tampak kesenduan di dalam matanya, ternyata hal seperti ini lah yang sangat dirindukannya, melihat Mika memarahinya karena dia sering tidur terlalu malam, Angga terus menatap Bella, merasakan kembali hal seperti ini, sedikit mengobati rasa rindunya pada wanita itu.
Angga mememinum susu yang di buat oleh Bella, setelah semua habis dia lalu memberikannya kembali pada Bella. Bella tersenyum senang melihat Angga yang menghabiskan susunya.
‘ Terima kasih, Mika, Aku akan tidur ’ Kata Angga lagi dengan senyum tipisnya, lalu dia berbalik dan mulai berjalan pergi.
Bella tersenyum tipis, dia senang karena Angga mau melakukan apa yang dia perintahkan, tapi ketika Angga mengatakan nama Mika, ada perasaan tidak enak di hatinya, benarkah dia berterima kasih untuknya?.
Bella meletakkan gelas di westafel, lalu segera berjalan kembali menuju kamarnya, saat dia melewati tangga, dia melihat keatas, tidak ada siapa-siapa, tapi perasaannya rasanya ingin kembali ke atas, namun dia tepis dan melanjutkannya kembali.
Dia cukup sulit untuk tidur kembali, dia berguling-guling di ranjangnya, entah kenapa? Dia merasa perasaanya jadi tidak enak, padahal tadi sebelumnya perasaannya baik-baik saja, dan dia tidak tahu kenapa menjadi begitu gusar, hingga sulit untuk memejamkan matanya, tapi perlahan-lahan karena di paksakan, dia akhirnya tertidur juga.