
Jofan kembali mendarat di pulau Biru, namun kali ini dia tidak turun dari Helicopternya, bukan karena tidak ingin mencari alamat Shella, namun karena pulau Biru ini cukup ramai oleh penduduk, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian dan membuat masalah di sini, akan menjadi hal aneh jika seorang presiden datang ke sebuah rumah warga biasa, itu bisa menjadi hal yang mengemparkan nantinya, karena itu dia memutuskan untuk tetap tinggal di sana, sedangkan para penjaganya yang menjemput orang Tua dari Shella.
Setelah menunggu 30 menit lebih, para penjaganya berhasil membawa seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang masih berumur awal 20 tahunan, mereka segera di arahkan masuk ke dalam helikopter itu untuk bertemu dengan Jofan.
Saat pintu terbuka, Jofan dengan ramah tersenyum pada mereka, mereka yang melihat Jofan langsung tercengang, bagaimana seorang presiden yang baru saja dilantik hingga mereka sangat hapal wajahnya bisa ingin bertemu dengan mereka, mereka tampak sangat terkejut, namun juga senang melihat sambutan Jofan yang hangat, mereka segera masuk dan duduk di dalam helicopter itu.
"Selamat siang Tuan Hariston, benar? " kata Jofan langsung membuka pembicaraan, menyerahkan tangannya pada Tuan itu. Tuan Hariston tampak kaget, dengan tangan gemetar dia lalu menyambut tangan Jofan.
"Benar. "
"Saya di sini ingin bertanya tentang Shella? Benar anak bapak? "kata Jofan dengan senyuman ramah ciri khasnya, membuat wanita yang ada di sana tampak tersipu sekaligus terpukau, ternyata Tuan Presiden ini bahkan lebih tampan dari pada yang di lihatnya di TV.
"Ya, apa anak saya sudah membuat kesahalahan,"kata Tuan Hariston kaget mendengar nama anaknya di sebut,
"Apakah adik saya membuat masalah? "kata wanita itu menimpali, bagaimana Tuan presiden ini tahu nama adiknya?.
"Akan jadi kesalahan dan masalah jika nantinya Anda tidak memberitahukan pada saya di mana Shella sekarang,"kata Jofan lagi pada Tuan Harison dan kakaknya Shella, mereka terdiam, saling menatap.
Shella sudah pernah menatakan bahwa dia harus berkerja di suatu tempat, namun dia menyampaikan bahwa tempat itu harus di rahasiakan, tapi jika seorang Presiden yang bertanya, apakah mereka juga harus merahasiakannya?.
Jofan melihat keraguan dan kebingungan di wajah kedua orang yang ada di depannya sekarang, dengan melihat itu saja dia sudah tahu bahwa mereka mengetahui di mana sebenarnya Bella. Jadi dia hanya menunggu hingga kedua orang ini mau membuka suaranya.
"Apakah ada yang terjadi pada Shella? " kata Tuan Hariston bergetar suaranya.
"Tidak ada Tuan, semua baik-baik saja, namun saya perlu mengetahui dia ada di mana sekarang, saya bukan orang yang suka memaksa, namun ini sangat penting bagi saya dan sahabat saya, jadi saya harap Anda bisa kooperatif dengan saya,"kata Jofan mencoba sesopan mungkin.
Tuan Hariston masih terlihat ragu, menatap putrinya sekali lagi, dari penampilannya yang rapi walau pun berasal dari pulau kecil seperti ini, Jofan bisa menilai Tuan Hariston adalah orang yang berhati-hati, namun Kakaknya Shella bukan lah orang yang sama seperti Tuan Hariston, dia mudah di pengaruhi.
"Aku tahu di mana dia,"kata Kakak Shella dengan cepat.
"Baik lah Nona, di mana Shella?"kata Jofan mengalihkan pandangannya pada wanita muda yang cukup manis, kulitnya hitam eksotis khas wanita pinggir pantai.
"Tuan, tolong bantu kami untuk menjaga keluarga kami, juga keselamatan Shella di sana, "kata Tuan Hariston memohon.
"Tenang, tanpa Anda minta, menjaga kalian adalah tugasku sebagai pelayan negara, terima kasih atas informasinya, saya pastikan kesalamatan kalian selama Anda juga membantu saya untuk menyimpan semua informasi pertemuan ini,"kata Jofan dengan senyuman khasnya, membuat Tuan Hariston tampak tenang dan senang.
"Baik Tuan, terima kasih,"kata Tuan Hariston lagi, setelah berjabat tangan mereka segera kembali di antar kan ke rumah.
Jofan diam, melihat ke arah peta, dan menemukan pulau kecil yang di maksud, bagaimana bisa Aksa membuang Bella hingga ke ujung negara ini, bahkan sepertinya tempat itu sangat tidak terjangkau, membiarkan wanita hamil tinggal di pulau kecil, Jofan benar-benar hanya bisa geleng-geleng kepala.
----***---
Suara ombak yang menghempas pantai, membuat irama saling bersautan, angin pantai yang mulai kencang menerbangkan rambut Bella yang sedang duduk santai menikmati semuanya, 3 bulan hidup di pulau yang sepi ini membuat Bella mulai mencintai semua yang ada di sana, bau asinnya, pasir pantainya yang halus, bahkan suara sepi yang berdengung jika malam menyelimuti, lantunan gesekan suara kaki jangkrik, hingga gesekan-gesekkan daun-daun di pohon jika angin mulai berhembus kencang.
Pulau ini jauh sekali dari peradapan, hanya ada desa kecil di sana, fasilitasnya pun tidak terlalu lengkap, bahkan untuk masalah kehamilannya, hanya ada 1 balai pengobatan dan seorang dokter yang standby untuknya, itu juga karena Aksa menyuruh dokter itu untuk selalu memantau Bella.
Bella boleh mengakui kebaikan Aksa kali ini, segala fasilitasnya terpenuhi, dokter akan membawa obat-obatan dan vitamin yang di perlukan oleh Bella saat dia kembali ke kota 1 bulan sekali, juga rumah kayu hangat yang tampak sederhana namun sangat nyaman dengan semua hal yang di butuhkan oleh Bella, dan ya … yang dibutuhkan Bella hanya ketenangan.
Semilir angin kembali membuainya, menyampaikan bau asin yang awalnya membuatnya mual sekarang malah membuatnya tak ingin lepas, dia mengelus perlahan perutnya dari balik gaun halus berwarna putih dengan aksen bunga-bunga kecil, sudah mulai membuncit dari perutnya yang biasa, dokter mengatakan kemungkinan besar usia kandungannya sudah menginjak 22-24 minggu, sekitar 5 bulan.
Bella ingat terakhir kali dia melakukan USG, dia mulai berbentuk, wajahnya semakin jelas, detak jantungnya yang mungil itu tampak berdetak keras, membuat Bella tak bisa menahan air matanya saat melihat itu, namun usia kandungan seperti ini dia belum bisa memastikan apakah anaknya laki-laki atau perempuan, apapun jenis kelaminnya, dia adalah malaikat kecil yang menjadi semangat baru untuk Bella.
Bella berdiri, perutnya yang mulai membucit itu belum terlalu terlihat jika dia bediri, hanya saja jika dia duduk, mulai terasa seperti ada yang menganjalnya, karena takut terjadi apa-apa pada kandungannya, dia jadi memutuskan untuk tidak terlalu lama duduk.
Saat dia baru menutup pintunya dan ingin berjalan ke kamarnya, tiba-tiba terdengar suara orang-orang yang berjalan ke arah pintunya, Bella menekuk dahinya, lalu segera melihat ke arah luar.
"Shella? " tanyanya sebelum dia bisa melihat ke arah luar, Shella memang pergi sebentar untuk memberi beberapa kebutuhan untuk makan malam, karena itu Bella berpikir mungkin ini Shella yang datang.
Saat dia melihat ke luar, tiba-tiba dia kaget, apa lagi ketika pintu itu terbuka, dia benar-benar kaget menangkap sosok yang berdiri di depannya, dia tidak percaya, kaget hingga seperti melihat hantu, dia terhuyung kebelakang, dan Pria itu perlahan mendekatinya.