Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
66



Bella menghempaskan dirinya di ranjang, akhirnya dia sampai juga di kamarnya, tubuhnya lumayan lelah, dan sekarang sudah tengah malam,  Angga benar-benar memaksakan mereka pulang saat itu juga, selama perjalanan juga dia hanya tidur dikamar pesawat, lagi-lagi tak mengizinkan Bella bertemu dengannya dan sekarang Angga sudah dikamarnya.


Bella awalnya ingin langsung tidur, tapi karena sedikit penasaran dengan keadaan Angga yang belum juga membaik, dia lalu keluar dari kamarnya, ruangan di rumah itu masih kosong, semua pelayan memang masih libur karena seharusnya mereka pulang 2 hari lagi.


Bella melanjutkan jalannya ke lantai 2, di sana dia melihat  Asisten Jang yang telihat tertidur di salah satu kursi yang di letakan di depan kamar Angga, tampak begitu kelelahan. Pasti dia sangat cemas karena Angga sedang sakit.


Bella perlahan membuka pintu kamar Angga. kamarnya ternyata tidak di kunci, mungkin agar memudahkan  Asisten Jang untuk melihat keadaan Angga.


Bella lalu melihat ke dalam kamar Angga, ternyata ruangan itu tidak langsung menuju kamar utama,  ruangan yang Bella masuki seperti ruang baca dan perpustakaan kecil yang cukup nyaman dengan sofa dan buku yang banyak di rak-rak yang tersusun sangat rapi, seolah tak mengizinkan siapapun menyentuh barang-barangnya. di ujunganya terlihat seperti ruangan khusus untuk Angga melakakukan rapat conference jika dia di rumah, pria ini memang pekerja keras bahkan di kamarnya saja ada temapt seperti itu.


Bella berjalan menuju  ke ruangan yang lain, dia berjalan sangat perlahan, lalu mengintip sedikit dan akhirnya memukan Angga yang sedang tidur, ruangan untuk kamarnya saja sangat luas, bernuansa minimalis perpaduan warna putih dan hitam,terlihat sangat nyaman dengan carpet yang menawan.


Bella berjalan mendekat, semakin dia mendekat, dia bisa melihat Angga yang tampak begitu gelisah tidrnya, Bella lalu segera mendekat, dia melihat wajah Angga yang tampak lebih memerah, dia segera duduk di ranjang Angga. dia segera mengecek suhu Angga, dan suhu Angga kembali suhunya mencapai 39 derajat,  Angga juga kelihatan mengigil.


Bella panik, dan ingin pergi ke luar memanggil  Asisten Jang, namun saat dia mau bangkit, tangan Angga menariknya.


" Jangan pergi,"kata Angga bergetar, pandangannya lemah.


" Tapi kau sedang demam tinggi, aku akan memanggilkan  Asisten Jang agar memanggilkan dokter, " kata Bella khawatir.


" Tidak perlu, di sini saja, " kata Angga tampak memelas. Melihat itu Bella akhirnya luluh, lagi pula Angga mengenggam tangannya sangat erat, panas genggaman Angga itu serasa menjalar di seluruh tubuh Bella, Bella lalu hanya duduk memperhatikan Angga.


Angga tetap saja tampak gusar dan kedinginan, Bella yang bingung harus apa? lalu mengambil inisiatif untuk masuk ke dalam selimut Angga, dan memeluknya, hanya itu yang terlintas di pikiran Bella karna dulu para pengasuhnya melakukan hal itu pada Bella. Bella yang awalnya ingin memeluk Angga agar dia tidak kedinginan, malah di peluk erat oleh Angga. Angga memeluk Bella seperti memeluk boneka, meringkuk memeluknya… dia menyandarkan kepalanya pada dada Bella, Bella yang merasakan itu langsung kikuk dan malu, wajahnya langsung bersemu merah, jantungnya berdebar, napasnya tak beraturan, dia sekarang benar-benar gugup, takut Angga menyadari suara jantungnya yang begitu keras.


Suhu tubuh Angga yang panas, membuat seluruh tubuh Bella pun menghangat, namun Bella bisa merasakan napas Angga lebih teratur, dan kelihatannya dia sudah bisa tidur dengan tenang. Bella tersenyum, dia lalu mengelus rambut Angga yang sekarang ada di hadapannya, mungkin karena dia pun lelah, tak lama dia tertidur.


Angga bangun pukul 9, dia bangun secara alami, biasanya kalau badannya fit dia pasti terbangun pukul 5, namun karena kelelahan, dan juga sedang sakit, dia jadi kebabalasan tidurnya.


Dia melihat ke sampingnya, seingatnya kemarin Bella ada di dalam pelukannya, tapi  sekarang kenapa dia hanya tidur sendiri, apa mungkin dia hanya mimpi?.


Dia lalu mencoba duduk, panasnya sudah turun bahkan rasanya sudah tidak panas lagi, namun kepalanya dan badannya masih terasa lemas, dia pria yang jarang sekali sakit, sekali sakit terasa sangat menderita.


Dia lalu melihat Bella yang datang, dia membawakan makanan di tangannya, Angga hanya menatap Bella, dia lalu tersenyum manis.


" Sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? "kata Bella meletakkan makanan di meja kecil agar Angga bisa makan di atas ranjangnya, setelah itu dia baru duduk di samping Angga yang hanya bisa melihatnya. Bella lalu mengambil termometer elektrik meletakkannya di dahi Angga, 37.8, sudah hampir mendekati normal.


" Keadaanmu sudah baikan, makanlah, agar bisa minum obatnya,"kata Bella tersenyum. Namun Angga hanya diam, memandang Bella dengan begitu lembut.


Setelah kedua orangtuanya meninggal, dia hidup sendiri, hanya hidup dengan pengasuhnya, kedua orang tuanya memang meninggalkan uang yang cukup untuk membesarkan Angga, namun Angga tak pernah dapat kasih sayang seperti ini.


Walaupun di dulu memiliki Mika, Mika lebih kecil umurnya dari dia, dia dulu bersikap seperti kakak yang menjaga Mika, jika dia sakit, dia akan berdiam di kamar, Mika tidak akan di izinkan mendekatinya, dan Mika bukanlah gadis yang keras kepala seperti Bella, dia penurut, karena itu mungkin sudah jadi kebiasaan atau bagaimana, walaupun Angga sakit, Mika tak akan mengganggunya.


" Kau kenapa? menatapku seperti terus? "kata Bella yang bingung Angga hanya menatapnya, apa kalau dia sakit dia jadi pendiam?.


" Terima kasih,"kata Angga tersenyum begitu lembut, membuat Bella tersentuh… hatinya jadi terasa manis. Dia menginggit bibirnya sedikit, takut dia salah tingkah.


Heran ya? Hanya dengan kata terima kasih saja sudah membuat hati seorang wanita bisa sangat berbunga-bunga jika kata-kata itu keluar dari mulut orang yang ada di hatinya, tapi memang hanya semudah itu membuat hati seorang wanita bahagia, namun sayangnya terkadang pria tidak mengetahui hal itu.


" Ya, sama-sama, makanlah, supmu nanti dingin, aku memasakkan sup ikan untukmu, ada beberapa sayuran juga di sana agar keadaanmu makin membaik,"kata Bella sedikit menutupi wajahnya yang tersipu.


"Kau sudah makan? "kata Angga masih menatap Bella.


"Ehm…belum. "kata Bella.


"Makanlah, aku sudah sakit, tidak ingin kau sakit, kalau kau sakit, aku belum bisa menjagamu sekarang,"kata Angga, dia mengambil nasi lembek dengan sendok, mencelupkannya sedikit dengan sup, lalu memberikannya pada Bella.


" Tapi yang seharusnya makan itu kau, kan kau sedang sakit, itu juga aku buatkan untukmu," kata Bella.


"Bukalah, makan ini,"kata Angga menyuapi Bella, Bella yang terperangkap dengan suara lembut Angga juga tatapan matanya yang seolah menghipnotis itu langsung menurut, dia membuka bibirnya sedikit, Angga langsung menyuapkan makanannya, melihat Bella menurut dia tersenyum manis, mengambil beberapa lembar tisu, menyeka sedikit bibir Bella yang tampak basah.


Bella yang di perlakukan begitu malah tambah tidak bisa mengunyah makannya, untungnya itu hanya nasi lembek, jadi gampang di telan.


Angga lalu menyulanginya lagi, terus saja hingga hampir habis setengah dari itu, saat melihat nasinya Bella baru sadar, kenapa malah dia yang makan?.


" Sudah, aku sudah kenyang, aku akan mengambilkan nasi dan sup yang lain,"kata Bella ingin berdiri, namun tangannya langsung di tarik lembut oleh Angga.


" Duduklah, aku akan makan, "kata Angga.


Bella terkejut, hah? Dia mau makan sisaku, tidak mungkin!, pikir Bella. Namun dengan tenangnya Angga menyuapkan makanan sisa Bella tadi ke mulutnya, bahkan tanpa mengganti sendoknya.


" Eh, kenapa kau makan sisa makananku?, aku akan mengambilkan yang baru, "kata Bella melihat kelakuan Angga.


" Kenapa memangnya?  akan sayang jika sisa begini.”


"Tapi apa kau tidak jijik, itu bekasku loh."


"kenapa harus jijik, liurmu saja ku rasakan,"kata Angga tetap tenang memakan makannya.


"…"


Bella tidak bisa menjawab, hanya saja dia jadi kembali tersipu, pria ini benar-benar atau hanya mengodanya saja.