
Bella menatap Angga dengan kerutan di wajah, merasa sangat tak wajar dengan suasana ini, Jofan, Daihan dan Nakesha yang melihat itu langsung mengerti, Bella dan Angga harus banyak berbicara dulu tentang keadaan masing-masing.
"Baiklah, aku harus kembali ke istana kepresidenan, besok aku ada pertemuan penting, Senang melihat kalian berdua lagi, mengobrolah, banyak yang harus kalian ceritakan,"kata Jofan menepuk bahu kiri Angga, Angga mengangguk.
"Ya, kami juga harus pulang dulu, Archie sudah harus tidur, dia tidak akan mau tidur jika ibunya tak di sana," kata Daihan lembut, mendengar itu Angga kembali mengangguk.
"Tenang, begitu aku punya waktu aku akan kemari lagi," kata Jofan.
"Ya, kami juga, kalian istirahatlah, dan habiskan waktu berdua,"kata Nakesha dengan senyum mengoda. Melihat itu Bella menjadi tertawa.
Jofan segera memberikan gestur untuk semuanya beristirahat, setelah memberikan selamat pada Angga dan Bella, mereka semua pergi termasuk Jofan, Daihan dan Nakesha. Sheilla yang bingung langsung diberikan petunjuk di mana dia bisa tinggal malam ini.
Angga mengarahkan Bella ke mana kamar mereka, Setelah masuk Angga dan mengunci pintu, Angga menatap wajah Bella yang sangat dia rindukan, rasanya walau pun dari tadi dia memanadang wajah Bella, namun tidak bisa juga menghapus rasa rindunya yang sudah begitu mengembu ini.
"Ada apa denganmu? "kata Bella yang tahu ada yang tidak beres dengan Angga, Bella mengusap wajah Angga menatapnya dalam. Angga mengambil tangan Bella, menegecup telapak tangannya dengan penuh perasaan. Bibir hangat Angga terasa menyengat seluruh tubub Bella. Angga membawanya duduk di salah satu sofa di ruang tidur mereka.
Aku tidak bisa bicara dengan lancar sekarang, kata Angga dengan bahasa isyarat.
"Kenapa? "kata Bella terkejut.
Mereka memberiku obat yang merusak bagian kemampuan bicara di otakku, jadi aku tidak bisa bicara dengan lancar sekarang, peraga Angga lagi.
Bella yang melihat itu langsung merasa sedih, Mereka pasti menyiksanya hingga begini, kenapa mereka begitu tega? Tanpa terasa air mata Bella mengalir begitu saja sembari menatap wajah Angga yang memandangnya lembut.
"Menangis … " kata Angga sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, artinya dia melarang Bella untuk menangis.
Aku baik-baik saja, hanya perlu berlatih lebih giat, kata Angga dengan bahasa isyaratnya.
"Ya, Aksa memberi tahuku kau sudah meninggal karena kecelakaan, aku menangis karena bahagia ternyata kau masih bisa ada bersamaku dan anak kita,"kata Bella mencari alasan agar Angga tak tahu dia menangis karena merasa Angga seperti ini pasti hanya gara-gara dia.
Apa Aksa melukaimu?, Kata Angga, dia sudah cukup bersiap jika saja Bella mengatakan hal yang tidak ingin di dengarnya, karna bagaimana pun mereka bersama 5 bulan ini.
"Tidak, awalnya saat dia tahu aku mengandung anakmu, dia ingin mengugurkannya, tapi aku mengancamnya dengan bunuh diri, lalu dia berjanji tak akan menyentuhku dan anak kita, jadi dia segera mengasingkanku ke pulau lain, aku dan dia tidak melakukan apa pun," kata Bella meyakinkan, takut Angga berpikir yang tidak-tidak.
Angga tersenyum manis, dia senang mendengarkan hal itu, dia lalu memeluk Bella, begitu banyak kata yang ingin dia katakan, namun sepertinya tak ada kata-kata yang pas untuk menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang, dia hanya ingin membawa Bella dalam pelukannya.
"Kita … besama … selamanya,"kata Angga terbata-bata mengatakannya, mendengar itu Bella makin merasa terharu, Perasaannya yang hampa kini sudah kembali terisi dengan cintanya pada Angga, dia akhirnya menemukan 1/2 jiwanya yang hilang.
"Aku harus terbiasa denganmu yang lebih pendiam sekarang, "kata Bella lagi menghapus air matanya, Angga mendengar itu hanya tersenyum lebar.
Sudah malam, mandilah, aku akan menyuruh orang membawa makanan, pasti lapar kan? , kata Angga mengerakkan tangan-tangannya.
Angga segera keluar dari kamarnya, Bella segera menuju kamar mandi dan segera membersihkan dirinya, tak ingin terlalu lama karena sudah cukup malam, setelah dia selesai, dia baru ingat, bukannya dia tidak punya baju ganti di sini?, jadi Bella hanya keluar dengan berbalut handuk.
Saat dia buka pintu, Angga yang sedang meletakkan makanan di meja segera melihat Bella, matanya yang melihat Bella hanya berbalut handuk langsung tampak berbinar, tak bisa melepaskan pandangannya dari pemandangan indah yang sudah sangat lama tak di lihatnya.
"Bajuku tidak ada, "kata Bella lagi.
"Pakai, " kata Angga mengambil sweaternya lalu menyerahkannya pada Bella, Bella langsung mengambil sweater itu dan memakainya, cukup kebesaran untuk tubuh Bella, tercium wangi khas Angga yang sangat di rindukannya, mencium itu pula rasanya dia sangat nyaman. Angga hanya bisa memperhatikannya saja sambil menahan dirinya.
Aku akan mandi, makanlah duluan, tidak baik untuk bayi, kata Angga dengan bahasa isyaratnya, lalu dia segera berjalan ke kamar mandi, sedangkan Bella langsung segera makan, dia memang sangat lapar, mungkin anaknya juga sudah sangat lapar.
Bella hampir menghabiskan makananya, saat Angga keluar dengan celana panjang tidurnya, namun dia tidak memakai pakaian apapun, mempertunjukkan tubuhnya yang tetap terpahat begitu indah, hanya luka bekas jaitan yang cukup panjang di lengan kanannya, Bella melihat itu mengerutkan dahi.
"Tanganmu kenapa? " kata Bella dari tempat makannya. Angga berjalan ke arahnya masih dengan dada yang terbuka dan helaian-helaian rambut yang turun dan basah, membuat Bella melihatnya cukup menelan ludah.
"Tidak apa-apa,"kata Angga cukup lancar mengatakan hal itu, dia meletakkan tangannya di kursi Bella dan yang lain di meja makan, Bella yang melihat Angga begitu dekat dengannya jantungnya langsung berdetak kencang sekali, sudah lama tak melihat Angga sedekat ini apa lagi mendapatkan perlakukan seperti ini membuat diri Bella sedikit bergejolak.
"Tidak makan? "kata Bella menatap lurus ke mata hitam Angga yang begitu indah, dia sangat menyukai mata itu, mata seindah dan semisterius orangnya. Wajah Angga lembut memandang wajah Bella, sangat lembut seolah menghinoptis Bella.
Angga tidak mengambil waktu lama, dia langsung mencium bibir Bella, ingin sekali melepaskan semua rasa yang dari tadi di tahannya, Angga menyusupkan kedua tangannya ke sela-sela rambut Bella, mencoba menahan kepala Bella agar tetap bisa di ciumnya, semerbak wangi pasta gigi kini membaur dimulut Bella, namun dia juga sudah sangat merindukan ciuman dan sentuhan Angga.
Angga mengiring Bella untuk berdiri, membawanya perlahan ke arah ranjang tanpa memutuskan ciuman mereka, di dudukannya Bella di ranjang, lalu merebahkan tubuh Bella di kasur yang empuk itu.
Angga membantu membukakan sweaternya yang di pakai oleh Bella, memampangkan tubuh putih nan mulus Bella, hanya perutnya yang mulai membesar itu terlihat berbeda, Angga tersenyum bahagia melihatnya, mencium perut Bella dengan penuh perasaan, Bella kegelian ketika Angga melakukannya.
"Terima kasih," bisik Angga pada telinga Bella, merasa senang karena Bella sudah menjaga anaknya dengan baik, tak terbersit sedikitpun keraguan pada Bella, dia yakin Bella tak akan menyerahkan dirinya pada siapa pun.
Bella mengangguk kecil, merasa senang dengan kata-kata Angga, awal-awal kehamilannya sangat berat, apa lagi dia hampir keguguran, dia harus tinggal di tempat tidur lama sekali, bahkan untuk buang air pun susah, untungnya sekarang kandungannya sudah cukup sehat, hingga tidak perlu terlalu takut.
Bolehkah melakukannya jika sedang hamil?, kata Angga takut terjadi apa-apa pada anaknya.
"Ya, kata dokter setelah trimester pertama tidak apa-apa melakukannya, namun harus hati-hati,"kata Bella pelan, cukup malu mengatakannya, namun tak bisa di pungkiri olehnya, dia juga rindu sentuhan dari Angga.
Aku akan melakukanya perlahan, kata Angga dengan gerakan tangan.
Bella mengangguk dengan pelan, dan Angga langsung menjelajahi seluruh tubuh Bella, mencium, menyentuh, mengelus, menyusuri setiap jengkal tubuh Bella, melakukannya perlahan dan hati-hati, tak ingin terburu-buru, karena Angga benar-benar ingin menumpahkan semua rasanya bersama Bella dan bukan hanya sekedar permainan tubuh semata.
Dia mecium tubuh Bella dari atas hingga bawah, seolah menandai seluruh tubuh Bella adalah miliknya, bergumul ria bersama, dengan sentuhan-sentuhan kecil yang menyengat tubuh mereka masing-masing malah membuat keduanya semakin terbang merengkuh kenikmatan dunia ini bersama, menyatukan napas yang berburu, merasakan tubuh yang menjadi satu, bermandikan keringat bersama, hingga akhirnya sama-sama lemas dan tertidur bersama dalam selimut tanpa sehelai benang pun.