Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
227



Setelah Angga selesai makan, Bella masih menikmati makannya, porsi makannya lumayan banyak sekarang, pantas saja wajahnya tampak lebih mengembang, tapi Angga menyukai itu, terlihat tampak lebih mengemaskan bagi Angga.


"Ada apa melihat aku seperti itu?" kata Bella melirik suaminya.


"Tidak … aku… e, pergi … ke tempat Aksa" kata Angga mencoba untuk terus saja berbicara, agar kemampuan bicara membaik.


"Aksa? untuk apa kau ke sana?" kata Bella kaget, dia sampai menghentikan makannya.


"Mengamati keadaan," kata Angga lagi, masih terdengar kaku, namun kata-katanya sudah benar. Bella menatap Angga sejenak.


"Aku rasa Aksa sudah cukup berubah, dia melepaskanku kemarin saat aku kabur, dia juga benar-benar menepati janjinya padaku untuk tidak menyentuhku sama sekali," kata Bella menjelaskan pada Angga, Angga yang mendegar kan itu melirik Bella dengan tajam. Bella langsung tahu Angga tidak suka Bella mengatakang hal seperti itu tentang Aksa.


Perasaan Angga langsung tak enak, dia tidak menyangka apa yang baru dia dengar, bagaimana bisa Bella mengatakan hal seperti itu tentang Mantan suaminya pada Angga?. Emosinya seketika naik.


"Tidak, aku bukan ingin memujinya atau bagaimana, aku hanya merasa dia sedikit berubah, ehm, bolehkah aku mengakui sesuatu?" kata Bella tampak sedikit takut mengatakan pada Angga, Angga makin menekukkan wajahnya, matanya masih menatap Bella makin tajam.


"Apa?" kata Angga dengan suara dinginnya, di dalam pikiran Angga sudah muncul banyak pikiran yang tidak-tidak, namun dia mencoba tetap menahan dirinya, walau pun api cemburu sudah terasa begitu membakar dirinya dari dalam, tangannya di bawah meja, sudah terkepal.


"Aksa mengatakan bahwa dia membunuhku dulu karena dia ingin melindungiku dari Raja Leonal, karena ternyata Raja Leonal sudah mengincarku dari dulu, dan dia bilang bahwa kau sudah meninggal, dia minta satu syarat agar mengizinkanku untuk pergi ke pulau pengasingan yaitu dengan mengakui bahwa anak kita adalah anaknya," kata Bella perlahan, dia lalu mengigit bibirnya menatap Angga.


"Kau setuju?" kata Angga kaget mendengar pengakuan Bella. benar-benar tidak percaya apa yang didengarnya barusan.


"Ya. aku tidak punya pilihan lain untuk mejaga anak kita, lagi pula aku kira kau benar-benar sudah meninggal," kata Bella sambil mengangguk pelan, suaranya mencoba menerangkan sebaik mungkin pada Angga yang sudah terlihat sangat marah.


Lekukan di dahi Angga tampak lebih jelas, dia membuang pandangannya ke tempat lain, mencoba menutupi wajahnya yang tampak penuh emosi, bagaimana Bella bisa setuju mengakui anak Angga sebagai anak Aksa?, dia benar-benar tidak senang mendengarnya.


Katakan yang sebanarnya, apa selama kalian bersama kalian memiliki hubungan?, kata Angga dengan mengunakan bahasa isyrat.


"Tidak," kata Bella langsung, dia tidak menyangka ternyata Angga masih ragu padanya, “Aku tidak melakukan apa pun dengan Aksa, dia memaksaku, tapi karena aku hampir keguguran dan mengancam untuk bunuh diri, dia jadi melepaskanku," kata Bella lagi mencoba untuk meyakinkan Angga.


Angga masih tampak marah, dia tidak ingin Bella dan anaknya diakui siapa pun, apa lagi Aksa, bahkan jika dulu dia benar-benar meninggal, dia tidak akan pernah bisa tenang di kuburnya jika Aksa mengakui anak Angga sebagai anaknya. Apalagi Angga curiga, Aksa melakukan semua hal baik pada Bella karena ada alasan dibaliknya, dia ingin agar Bella bersimpati padanya dan mendapatkan hati Bella, untung lah dia belum meninggal dan sekarang wanita ini ada di sampingnya.


Jangan lakukan itu lagi, dia anakku, tidak boleh ada yang mengakuinya!, kata Angga dengan bahasa isyarat namun raut wajahnya sangat kesal.


"Maafkan aku," kata Bella menunduk sedih, dia memang sudah membuat kesalahan, melihat Bella menunduk, membuat emosi Angga sedikit turun, dia tak sengaja marah pada istrinya saat dia sedang hamil begini.


"Jangan sedih, tak baik," kata Angga lagi, mencoba menahan diri, walau rasa di hatinya masih tak karuan, Bella lalu melihat ke arah Angga.


Kali ini aku akan memaafkanmu, tapi jangan pernah melakukan hal ini lagi, dia anakku, sampai aku mati aku tidak akan membiarkan siapa pun mengakuinya sebagai anakku, kata Angga mencoba terlihat tenang, namun tetap saja terlihat dari wajahnya dia masih memendam emosi.


"Baiklah," kata Bella.


"Makan lagi?" kata Angga.


"Tidak, sudah cukup," kata Bella yang kehilangan nafsu makannya, merasa atmosfir di ruangan itu terasa canggung.


Angga menatap Bella lagi, menarik napasnya dalam, dia seharusnya tidak menyalahkan Bella, mungkin saat itu Bella memang harus melakuannya untuk menyelamatkan dirinya dan anaknya, tapi bagaimana pun dia tidak mungkin bisa menerima hal itu.


Perasaan Angga masih merasa tidak enak, apalagi mendengar kata-kata Bella yang pertama, Aksa sudah membaik sekarang? dia takut perasaan Bella yang dulu terhadap Aksa kembali lagi.


Di antara cangung dan senyapnya ruang itu, tiba-tiba pintu ruang makan itu lalu di ketuk, membuat Angga kembali ke dunianya.


"Masuk," kata Angga lagi, Asisten Edward masuk.


Angga melihat ke arah Bella, Bella juga melihat ke arah Angga.


"Ingin melihatnya sekarang?" kata Bella tersenyum.


"Iya," kata Angga lagi mencoba untuk tersenyum, walau pun perasaaannya masih tidak enak.


Angga dan Bella segera berdiri dan meninggalkan ruang kamar itu, mereka segera menuju ke ruangan di mana alat USG itu di pasang.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya, sebelumnya selamat atas kehamilannya, boleh saya tahu tentang pemeriksaan terakhir kandungan Anda?" kata Dokter yang langsung menyambut mereka.


"Terima kasih, dokter mengatakan kandungan saya baik-baik saja," kata Bella tersenyum manis.


"Oh, baik Nyonya, silakan," kata dokter itu.


Dokter mengarahkan Bella untuk naik ke atas ranjang, dan dokter segera menyiapkan alat USGnya, Bella membuka bagian perutnya, dokter segera mengoleskan jelly ke perut Bella. Angga Berdiri di samping ranjang Bella, hanya mengamati saja, tak pernah melihat prosedur ini sebelumnya.


"Kita lakukan pemeriksaannya sekarang Tuan dan Nyonya," kata Dokter itu dengan senyuman. Angga mengangguk, dia mengenggam erat tangan Bella, Bella lalu tersenyum melihat kegugupan dari Angga.


Dokter segera menekankan alat itu pada perut Bella, di layar USG terlihat sebuah kantung dengan bentuk bayi kecil di dalamnya, melihat itu Angga tak berkedip, melihat gambaran bayi kecilnya di kandungan Bella, Bella yang melihat reaksi Angga tersenyum, benar-benar tak ternilai melihat momen ini.


"Yang berdetak kecil itu adalah jantungnya," kata dokter menunjukkan degupan kecil di layar itu, Angga terpukau dengan apa yang di lihatnya, tak lama tersenyum dengan begitu sumringah. dokter segera menekan sebuah tombol, dan tiba-tiba terdengar suara degup jantung yang cepat dan berirama.


Mendengar suara itu Bella dan Angga terkejut senang, Bella dan Angga sama-sama baru mendengar suara jantung bayi mereka, Angga mengetatkan genggamanya pada Bella, senyuman sumringah merekah di wajah keduanya.


"Yang ini kepala, tulang belakang, dan yang ini … kakinya, jenis kelamin belum bisa di tentukan, dan dari ini semua keadaan kandungan Nona sehat dan lengkap," kata dokter itu dengan senang, menjelaskan perlahan, menunjukkan pada Bella dan Angga.


Angga masih belum bisa menutupi kekagumannya, tidak percaya ada kehidupan lain yang sedang bertumbuh di perut istrinya, dokter menyerahkan foto print dari hasil USG tadi, Angga mengambilnya dan terus menatap gambar kecil itu, tak sabar menunggu anaknya akan lahir ke dunia.


Bella menatap Angga, dia begitu senang dengan ekspresi yang di tunjukan Angga, namun ....


"Dokter, boleh aku bertanya?" kata Bella, Angga segera mengalihkan pandangannya pada Bella.


"Ya, Tentu saja nyonya," kata Dokter itu.


"Apakah bisa melakukan Tes DNA saat di dalam kandungan?" kata Bella menatap dokter itu serius. Angga mengerutkan dahinya mendengar hal itu, begitu juga dokter yang mendengarnya, dokter itu melirik Angga sekilas lalu menjawab pertanyaan Bella.


"Ehm … Ya, teknologi sekarang memang bisa membuat tes DNA bahkan saat bayi masih dalam kandungan mulai umur 10-12 minggu dari cairan ketuban anda, tapi hal itu juga bisa berakibat buruk pada kandungan Anda," kata dokter itu menjelaskan serius, ingin bertanya kenapa? namun dia tidak punya keberanian. Angga lalu melirik dokter itu, dokter itu mengerti.


"Saya permisi dulu Tuan dan Nyonya," kata Dokter itu, dia segera keluar dari ruangan itu, setelah dokter itu keluar, Angga langsung menatap Bella.


"Kenapa?" kata Angga dengan kerutan dalam di dahinya. Ada apa lagi ini? pikirnya.


"Aku tidak mau ada perasaan ragu darimu, apa lagi jika nanti kau bertemu Aksa dan aku takut dia akan mengatakan hal yang tidak-tidak padamu, jika sudah di tes DNA, kau pasti akan percaya padaku," kata Bella.


Angga menatap Bella yang tampak melihatnya dengan tatapan nanar. Angga memang tak sengaja mengatakan hal yang memberikan kesan Angga ragu pada Bella, tapi sebenarnya dia tidak pernah mempermasalahkannya, selama Bella yang mengandungnya, dia akan menyakini anak ini adalah anaknya dan dia sejujurnya akan lebih mempercayai Bella dari pada Aksa hanya saja dia memang tidak bisa mengontrol emosinya.


Tidak perlu melakukannya, aku percaya dia anakku, kata Angga dengan bahasa isyarat.


"Tapi …. " kata Bella merasa belum puas sebelum membuktikan pada Angga.


"Jangan, dia anak ku," kata Angga terdengar tegas walau pun kaku, Angga lalu mencium dahi Bella. "Terima kasih," kata Angga tersenyum manis mencoba untuk membuat Bella percaya pada kata-katanya, Bella hanya mengangguk tersenyum, entah kenapa malah dia yang menjadi takut dan ragu.