Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
27



' Aroma tubuhmu saja dapat membuatku gila, kenapa? karna hanya dengan menciumnya, sepanjang hariku akan penuh tawa, Bukan kah itu sudah cukup gila?


____________________________________________


Bella dan Daihan sudah berkeliling tempat itu, namun belum juga menemui bunga peony, tempat itu sangat luas, tidak mungkin mencari satu per satu. Bella mulai kelelahan, apa lagi hari mulai terasa panas.


" Kau lelah? " kata Daihan dengan nada perhatiannya.


" Lumayan kakak, ternyata tempat ini sangat luas, tidak apa-apa jika tidak menemukannya, " kata Bella lagi tersenyum sungkan.


" Benar, aku akan bertanya pada panitianya, mungkin mereka tahu di mana letaknya, sekalian aku mengambilkan minum untukmu, berteduhlah di sini, jangan terkana panas, " kata Daihan lembut.


" Baiklah kakak, aku akan menunggu di sini, " kata Bella tersenyum manis membuat Daihan tidak bisa melepaskan pandangannya, namun dia segera pergi.


Bella berteduh di bawah rangkaian bunga yang berbentuk hati, di sepajang jalan rangkaian bunga berbentuk hati tersusun seperti pilar, di ujungnya terlihat rangakaian bunga mawar merah yang besar berbentuk hati. Bella bisa mencium wanginya, cukup kuat.


Dia memperhatikan sekitarnya, di tempat itu banyak pasangan, saling berpegangan tangan berjalan di antara pilar-pilar bunga berbentuk hati itu, ada pula yang memeluk pingang pasangannya dengan mesra, mereka begitu tampak bahagia, sepertinya dia salah berada di tempat ini sendirian, tapi dia tetap dapat menikmatinya.


" Aksa, ayo kita ke sana, " terdengar suara yang cukup familiar di telinga Bella, itu suara Sania, Bella kaget, namun dia ingin memastikannya, dia baru saja ingin melihat ke belakang ke tempat asal suara itu terdengar, tiba-tiba badannya langsung di putar oleh seseorang yang datang dengan cepat dari arah belakangnya, sehingga pandangan Bella kembali ke arah semula.


" Jangan pernah berani untuk melihat ke belakang, " kata Angga yang sudah berdiri tepat di depan Bella, Bella saja sampai kaget, kenapa tiba-tiba Angga ada di sini? , wajahnya tampak kesal, sorot matanya begitu tajam, membuat Bella sedikit takut.


" Aksa, lihatlah bunga ini sangat cantik, benarkan?, " kata Sania manja terdengar dari belakang.


" Tapi tak secantik dirimu sekarang, " kata Aksa dengan suara mengodanya.


Bella bisa mendengar suara Aksa, bahkan dari suaranya saja dia sudah tahu itu pasti Aksa, seketika hatinya terasa sangat nyeri, seperti ada beban berat yang langsung memukul dadanya, rasanya napasnya sangat sesak, seluruh badannya terasa sakit, rasanya dia kembali tercekik dinginnya air laut malam itu, Dia masih ingat rasanya, rasa di ambang kematian, semua hal itu membuatnya gemetaran, padangan mata sinis dan dingin Aksa kembali terngiang, air matanya dengan cepat berkumpul di sudut matanya dan tanpa meminta izin mengalir begitu saja. Dia mematung… tak bisa bergerak, hanya saja seluruh tubuhnya gemetaran.


Angga menatap pria yang sekarang tepat ada di belakang Bella, Aksa… Pria itu secara estetis wajahnya bisa dibilang menarik, tubuhnya tinggi dan pakaian yang rapi, tampak berwibawa, pantas saja reputasinya di kalangan wanita begitu terkenal.


Tapi bagi Angga Pria itu sangat mengerikan, dia tertawa, memeluk pinggang wanitanya dengan bahagia, dari luar jika tidak tahu akan ceritanya, pasti semua akan iri dengan kebahagian mereka yang terpancar, bagaimana dia bersikap seperti itu setelah membunuh istrinya sendiri?, Mereka bahkan sangat bahagia, seolah tak pernah ada darah yang mengotori tangan mereka, mereka benar-benar bukan manusia.


Pertanyaan itu juga ada di kepala Bella, dari suaranya saja dia tahu pasti pemandangan di sana sangat menyesakkan, mereka pasti sangat bahagia, bahagia di atas kematiannya. Bagaimana bisa? Apa mereka tidak punya hati sama sekali?.


Perhatian Angga teralihkan ke arah Bella, walaupun mengunakan kacamata dan masker, Angga dapat melihat air mata kepedihan yang tampak mengalir di wajah Bella, entah kenapa dia merasa tidak suka kalau ada yang membuat Bella menangis. Dia juga bisa melihat tubuh Bella yang begitu gemetar, wajahnya merah padam, tangannya mengepal, wanita ini pasti sedang menahan segala emosinya, mengerikan… bahkan mereka bisa merubah wanita yang begitu polos menjadi pendendam.


" Tuan Angga, Terima kasih Anda memutuskan untuk datang hari ini, kami sangat senang " kata Gubernur yang langsung mendatangi Angga bersama beberapa pekerja dan panitia festival itu. Membuat seluruh perhatian menjadi mengarah ke arah Angga. Mereka senang, karena selama ini Angga selalu di undang ke acara negara, tak sekali pun dia mendatanginya.


Aksa pun melihat hal itu, dia sedikit penasaran, siapa pria yang bahkan di sambut lebih meriah dari pada dia? Sedangkan dia adalah seorang Pangeran, Putra Mahkota, tidak mungkin ada yang lebih di hormati di sini, pikirnya menatap Angga. Angga pun hanya memandangannya dengan sorot mata tajam dan dingin.


" Ya " kata Angga singkat tak ingin menanggapi Gubernur itu, dia sangat membenci keramaian, apa lagi hal seperti ini, dia bukan orang yang suka di sanjung-sanjung, bukan tipe orang yang gila akan kehormatan.


" Baiklah Tuan, semoga Anda menikmati tempat yang indah ini, " kata Gubernur itu jadi sedikit cangung karena respon Angga yang begitu dingin.


" Baiklah, " kata Angga lagi.


Gubernur itu benar-benar cangung, dia lalu tersenyum dan langsung memberi salam dan pergi dari sana, benar-benar pria yang aneh, pikir Gubernur itu.


" Siapa pria itu?, " kata Aksa pada pengawal yang mengikutinya.


" Dia Tuan Angga Xavier, Tuan, " kata pengawal itu memberitahu.


Aksa kembali menatap Angga, sedikit tersenyum sinis, dia lalu pergi mendekati Angga. Angga menatap Aksa dengan dingin, begitu juga Aksa, mereka belum pernah bertemu, tapi dari tatapan mereka tampak kebencian di pihak masing-masing.


" So, akhirnya aku bisa bertemu dengan seorang Angga Xavier yang sangat di agung-agungkan itu, Apa kabar sepupu? " kata Aksa terus mendekati Angga.


Angga menatap Bella yang semakin gemetaran menahan segala emosi yang ada di benaknya.


" STOP! Berhenti di situ!, " kata Angga menghentikan Aksa, Aksa yang mendengar itu langsung berhenti kerena kaget, kenapa pria ini? Tiba-tiba saja begini… Pria yang aneh, seaneh reputasinya yang pernah di dengar Aksa.


Angga memposisikan tangan kirinya di belakang kepala Bella, lalu dengan cepat doa. mendekatkan badannya ke arah Bella, membuat Bella masuk dalam pelukannya, Bella tentu terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Angga, sekarang tubuhnya sampai menempel dengan tubuh Angga, bahkan sekarang Bella dengan jelas bisa mendengar suara detak jantung Angga, tiba- tiba semua emosi yang tadinya sudah sampai puncak hilang seketika, berganti menjadi kegugupan, pipinya jadi memanas, dia belum pernah sedekat ini dengan tubuh seorang pria, wangi tubuh Angga yang khas membuatnya tenang seketika, tubuh Angga yang hangat membuat dirinya tak lagi gemetaran, namun sekarang napasnya malah tambah sesak, dan sekarang dia bingung, yang dia dengar sekarang apakah detak jantung Angga atau detak jantungnya? Karena sekarang rasanya jantungnya seperti ingin melompat keluar karena terlalu berdegup kencang.


Angga menempatkan tangannya di pundak Bella, memeluknya dengan satu tangan, agar Bella tidak bergerak, sebisa mungkin menyembunyikan Bella, karena menurutnya Bella belum siap untuk bertemu dengan Aksa sekarang, Angga masih menatap Aksa dengan tajam dan dingin, membuat Aksa dan Sania sedikit ciut, namun bukan Aksa namanya jika menunjukkan ketakutannya.


“ Stop, jangan mendekat, wanitaku sedang sakit, aku tidak mau dia bertambah parah gara-gara kalian, " kata Angga dingin menatap Aksa.