
Di sinilah kita sekarang, walau berada di ruangan yang sama, tapi berusaha untuk tidak saling menyapa, dan menganggap di antara kita tidak pernah terjadi ada apa-apa.
____________________________________________
Matahari menusuk mata Bella hingga mengharuskan dia untuk bangun, Bella lalu terduduk perlahan-lahan, kemarin setelah dia pulang, dia segera mandi, dia men-relax-kan dirinya dengan berendam dan ternyata cara itu tetap tidak berhasil, entah kenapa dari kemarin malam, dia sangat merasa tidak senang, sangat sedih, karena perlakuan Angga yang lembut padanya, dia tidak suka Angga melakukan itu padanya, walaupun kelembutan itu sangat terasa nyaman, tapi Bella tahu itu bukan yang sebenarnya.
Bella lalu turun dari tempat tidurnya, menatap taman belakang rumah Angga yang sudah tampak dengan sempurna karena matahari sangat cerah menerangi semuanya, dia lalu masuk ke kamar mandi, mencuci muka dan mengosok gigi, di lihat waktunya sekarang pasti Angga sudah pergi kerja, ya, baguslah, dia sedang tidak ingin melihat Angga.
Dia lalu keluar dari kamarnya, ingin berjalan menuju ke ruang makan, namun di tengah jalan dia malah bertemu dengan Angga, Bella kaget, bukannya biasanya jam 7 Angga sudah pergi ke kantor, sekarang sudah jam 8, dan dia masih ada di rumah dengan pakaian rumahanya, Bella menatap wajah Angga, namun segera menunduk.
" Kenapa? "kata Angga dengan suara beratnya.
" He? Kenapa? Aku tidak apa-apa,"kata Bella tampak salah tingkah, Angga lalu memperhatikan Bella saja dengan wajahnya yang datar, membuat Bella tambah salah tingkah.
"Dari kemarin aku lihat kau begitu murung, kenapa? Apa kau sedih memperlakukan Aksa seperti semalam?” kata Angga lagi ingin tahu, sudah 1 malaman di tidak bisa tidur karena di kepalanya terngiang kata-kata itu, dan dia benci sekali menerka-nerka apa yang sedang ada di pikiran orang, lebih baik dia menanyakannya langsung dari pada harus penasaran.
"Oh, bukan, aku senang malah Aksa begitu kaget waktu melihatku,"kata Bella masih salah tingkah.
"Lalu kenapa terlihat begitu sedih?” kata Angga.
"Itu…" kata Bella, Bella tidak mungkin mengatakan dia sedih karena Angga yang memperlakukannya begitu lembut hanya untuk sandiwara, Bella juga tidak mungkin mengatakan pada Angga dia ingin diperlakukan lembut oleh Angga yang memang untuknya.
"Maaf menganggu Tuan dan Nona, saya sudah mendapatkan info yang Anda minta saya carikan," kata Asisten Jang mendatangi mereka.
"Baiklah, jadi bagaimana?”kata Angga pada Asisten Jang
"Tuan Aksa akan ada di Memorial Hall untuk acara amal, dia akan datang sebagai utusan kerajaan, saya sudah mengurus semuanya agar Nona Mika akan memberikan kata sambutan di sana," kata Asisten Jang.
"Aku?” kata Bella terkejut, dia sama sekali tidak tau tentang rencana ini.
"Ya, nanti kau akan ke acara itu, pergilah bersama Judy dan penjaga, kita akan membuat Aksa kembali terkejut, Asisten Jang dan Judy akan membuat kondisi di mana semua orang di sana akan mengenalmu, jadi dia akan benar-benar penasaran denganmu," kata Angga dengan santainya seolah hal itu sudah di pikirkannya matang-matang.
"Lalu apa yang akan aku bicarakan, aku bahkan tidak tahu itu acara apa? "kata Bella bingung.
" Asisten Jang akan mengatur semua, kau tinggal membacakannya, dan juga mengunakan bahasa isyarat,"kata Angga lagi.
"Oh, baiklah,"kata Bella masih gugup dan bingung.
"Sarapan dan bersiaplah, kau harus sudah ada di sana sebelum pukul 10,"kata Angga memerintahkan.
"Baiklah,"kata Bella lagi
"Jangan begitu murung, ingat untuk ceria,"kata Angga
"Baiklah Tuan Angga,"kata Bella dengan suara cerianya, dia jadi kesal mendengar nada bicara Angga yang seperti berbicara pada bawahannya, Bella kan bukan bawahannya. Bella lalu pergi meninggalkan Angga menuju ruang makan.
Mendengar nada kesal dari Bella, Angga jadi tersenyum sedikit, setidaknya gadis itu tidak murung lagi.
____________________________________________
Bella berbicara di atas podium di aula Memorial Hall itu, sebenar dia sendiri tidak mengerti apa yang dia katakan, hanya membacakan teks yang sudah di sediakan oleh Judy dan Asisten Jang. Dia hanya sempat membacanya sedikit saja, inti yang di tangkap oleh Bella, ini adalah acara anak-anak disablitas dan juga yatim piatu, sebuah acara amal, selebihnya Bella tidak begitu mengerti. Setelah dia berbicara setengah dari teks itu, dia melihat Aksa masuk ke dalam ruangan itu, dia berusaha tidak seperti melihatnya, Aksa masuk dan langsung di sambut oleh kepala panitianya.
Aksa yang begitu masuk ke dalam ruangan itu langsung dapat melihat Bella, terhenti seketika, dia melihat Bella dengan tidak percaya, gadis itu lagi, semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan gadis itu, dan di sekarang ada di depannya.
" Siapa dia? "kata Aksa sebelum duduk pada kepala panitia.
" Nona Mika, dia adalah satu pengagas dari acara ini, dia dulunya menjadi guru disabilitas di yayasan Blessing, namun sekarang hanya sebagai pengawas di sana,"kata kepala panitia.
"Pengajar? Sudah berapa lama Anda mengenalnya,"kata Aksa penasaran.
"Mungkin sudah lebih dari 5 tahun, ada apa Tuan? "kata Kepala Panitia itu dengan wajah penasaran.
"Tidak apa-apa,"kata Aksa menatap Bella yang tampak tenang, percaya diri, ceria di atas panggung itu, dia benar-benar berbeda.
Bella adalah orang yang pendiam, wajahnya suram, walaupun pintar, dia tidak akan punya keberanian melakukan hal seperti ini, gadis di depannya ini memang sangat mirip, tapi gayanya, pembawaannya, semuanya sangat bertolak belakang dengan Bella, benarkah ada orang yang bisa semirip ini? Pikir Aksa sambil duduk dan terus memperhatikan Bella.
Bella sebenarnya tahu Aksa memperhatikannya, tapi dia berusaha tidak gugup, dan terus melanjutkan pembacaannya dengan nada ceria dan suaranya yang lembut, Bella juga sempat mengunakan bahasa isyarat. Tepuk tangan riuh memecahkan lamunan Aksa yang terus menatap Bella.
Bella memberikan hormat, beberapa anak-anak dari panti asuhan datang padanya memberikan bunga, dia menyambutnya dengan senyuman hangat dan ceria, dia juga membiarkan anak-anak itu menciumnya, bermain sedikit dengan dirinya, Bella berusaha seceria mungkin, senatural mungkin, karena dia tahu, Aksa dari tadi memandang terus ke arahnya, bahkan setelah dia turun dari panggung, beberapa orang segera mendatanginya.
"Pembukaan yang bagus sekali Nona Mika, sudah lama sekali tidak melihat Anda,"kata seorang pria setengah baya pada Bella, Bella sebelumnya sama sekali tidak mengenal siapapun, namun sebelum Aksa datang, Judy sudah mengenalkan mereka satu per satu, untung ingatan Bella sangat baik, jadi walaupun sekali di perkenalkan, dia akan mengingatnya.
"Ya, terima kasih, Pak Harson, iya, sudah sangat lama, saya sudah tidak mengajar lagi,"kata Mika berbicara seolah mereka adalah teman lama.
Lalu pandangan Pak Harson telihat jatuh ke belakang Bella, dia lalu tesenyum lebar.
" Wah, Pangeran Aksa, Anda datang juga,"kata Pak Harson menyapa Aksa yang ternyata sudah berdiri di belakang Bella, Bella lalu mengalihkan pandangannya ke balakang, Aksa berdiri tepat di belakangnya, melihat wajah Aksa yang begitu dekat, membuat bulu kuduk Bella bergidik ngeri, namun dia tetap berusaha tenang seolah tidak ada apa-apa.
" Oh, Tuan Aksa, senang Anda datang," kata Bella seadanya.
"Ya, ehm… Anda sudah lama mengenal Nona Mika, Tuan Harson? "kata Aksa sekali lagi memastikan si Mika ini.
"Ya, tentu, semenjak Tuan Angga membuat yayasan Blessing saya sudah mengenal Nona Mika, dia dulunya adalah teman kecil Tuan Angga, namun sekarang adalah pacar Tuan Angga, selain itu Nona Mika dulu adalah pengajar di yayasan Blessing, walaupun sekarang sudah tidak lagi,"kata Pak Harson menjabarkan sangat lengkap, Aksa hanya memandang Bella dalam-dalam, Bella membetulkan rambut yang jatuh di dekat pipinya, Aksa melihat tahi lalat kecil di bawah matanya, dia juga melihat di tangan kirinya, Bella memiliki tanda lahir yang terlihat di tangan kirinya namun Mika ini tidak memilikinya, apa memang mereka orang yang berbeda?.
" Ada apa Tuan Aksa?, kenapa Anda memperhatikan saya begitu? "kata Bella yang tampak risih karena Aksa memperhatikannya, lagi pula dia harus sedikit tampak kesal karena kemarin Aksa sudah memarahinya.
"Tidak apa-apa," kata Aksa.
"Kalau begitu, saya pergi dulu," Kata Bella bersikap acuh tak acuh pada Aksa membuat Aksa semakin penasaran.
"Periksa semua tentang dia, aku ingin kau segera melaporkannya saat kita selesai dari acara ini,"kata Aksa dingin pada Asistennya.
"Baik Tuan,"kata Asistennya.
Acara itu berjalan dengan baik, hebatnya apa yang dikatakan oleh Angga semua terjadi, Bella tidak tahu bagaimana? tapi ada hampir 100 orang di sana dan semua orang tampak ramah dan mengenal Bella, seolah mereka sebelumnya memang sudah sering berkumpul, suasana hangat membuat Bella hampir saja lupa mereka itu sebenarnya sama sekali tidak mengenal, dan di sepanjang acara, Aksa terus memperhatikan Bella diam-diam, tanpa sadarnya mengikuti Bella ke mana pun Bella pergi.
"Nona, apakah Anda ingin pulang sekarang? " Kata Judy setelah acara itu selesai.
"Baiklah,"kata Bella, dia baru saja ingin melangkah keluar, sebelum Aksa mendatanginya.
"Nona Mika,"kata Aksa menegur Bella, Bella menghentikan langkahnya, senyum sinis sambil tertunduk, dia tahu Aksa pasti akan memanggilnya, dia lalu melihat ke belakang.
"Ya? "kata Bella dengan lembutnya.
"Maukah Anda makan siang dengan saya sebagai permintaan maaf atas apa yang saya lakukan kemarin malam," kata Aksa dengan begitu sopan.