Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
140



Bella menatap mereka berdua, baik Nakesha dan Angga tampak tegang, pipinya cukup terasa panas, Bella lalu memegang lengan Angga, membuat Angga ingat bahwa yang di hadapinya sekarang adalah seorang wanita, dia lalu menghempaskan tangan Nakesha, bukannya kesakitan, Nakesha bertambah marah.


"Bella, kau tidak apa-apa?" kata Angga melihat sebelah wajah Bella yang memerah, berbentuk telapak tangan, Wanita itu memukulnya dengan keras. pikir Angga melirik Nakesha yang hanya memandang Bella dan Angga dengan senyum licik. Wanita ini sudah pasti bukan Mika. pikir Angga geram.


"Keluar kalian! jangan pernah mendekati ibuku lagi!" kata Nakesha keras, membuat Bella sedikit kaget, kenapa dia semarah itu? Bella lah anak kandungnya.


"Nakesha?" kata ibu itu lagi, dia menatap ke segala arah, sikapnya yang tadinya pasif, tiba-tiba menjadi terlihat panik, dia bahkan tampak kebingungan, mencari-cari, dia lalu ingin turun dari ranjangnya.


Bella dan Angga yang melihat tingkah ibu yang berbeda 180 derajat itu kaget dan hanya bisa melihat kelukuan ibu itu.


"Kau melihat anakku tidak! anakku sangat cantik, umurnya 5 tahun, dia di culik, Anakku!" kata ibu itu menarik jas Angga membuat Angga sedikit memundurkan dirinya, ingin melepaskan diri namun tak enak mendorongnya, masih mengingat bahwa dia ibu Bella.


Bella yang melihat itu langsung berdiri, mencoba menenangkan ibunya, namun tak tahu harus bagaimana?.


"Ma, sudah, sudah, kemari, aku Nakesha," kata Nakesha memegang lembut tangan ibunya, mencoba melepaskan tangan ibunya yang mengenggam jas Angga begitu erat, suaranya berbeda, lembut merayu, membuat Bella hanya menatapnya, pelan-pelan ibunya melepaskan tangannya. Nakesha langsung membawa ibunya kembali ke ranjang.


"Ma, tunggu dulu ya, aku akan mengurusmu," kata Nakesha begitu lembut, melihat itu Bella merasa miris, seharusnya dia yang melakukan itu pada ibunya.


Angga yang melihat itu pun hanya bisa terdiam, tiba-tiba ingat bagaimana Mika dulu juga selembut itu, sekejab saja dia malah ragu, siapa wanita ini sebenarnya?.


Bella lalu melirik ke arah Angga yang hanya terpaku dengan kelakuan Nakesha, perasaannya makin tak enak.


"Kalian masih di sini? mau membuat Ibuku kambuh lagi. Pergi dari sini!" kata Nakesha mendorong Angga hingga Angga terhuyung ke belakang, dia juga menarik tangan Bella yang tak bisa menolak, menariknya hingga keluar, melihat itu Angga sadar, dan segera menyusul Nakesha yang dengan kasar menghempaskan Bella, untungnya ada Judy yang mencoba membuat Bella agar tidak terjatuh.


"Jangan datang ke sini lagi, atau aku akan memanggil polisi untuk kalian dan aku pastikan kau tidak akan bisa bertemu lagi dengannya," kata Nakesha memandang Bella begitu penuh kemarahan dan kebencian, entah apa salah Bella padanya.


Belum lagi Bella berbicara, pintu ruangan itu langsung tertutup dengan keras, semua yang ada di sana hanya bisa mematung terdiam, apa lagi seluruh jendela di tutup oleh Nakesha.


Bahkan Angga saja pun tak bisa berkata-kata. Dia bingung harus bagaimana?.


"Kau tak apa?" kata Angga melihat Bella masih syok, hanya terdiam dengan tatapan suram.


"Aku ingin bicara dengannya, dia Ibuku, aku anak kandungnya, aku ingin merawatnya," kata Bella yang tersadar, dadanya sangat nyeri, baru saja bertemu tapi malah tak boleh melihatnya, Bella sudah menunggu begitu lama, kenapa malah tak di izinkan bersama?.


"Besok kita akan ke sini lagi, saat ini kita tidak mungkin memaksa, akan ada keributan dan ini rumah sakit, dia juga pasti tidak bisa di ajak bicara sekarang," kata Angga menatap pada Bella, merasa sedikit bersalah karna sudah memikirkan Mika tadi.


Bella menatap wajah Angga sebentar, iya, tak mungkin memaksakan hari ini. Bella hanya mengangguk lemah.


"Baiklah, Asisten Jang, hubungi hotel kita," kata Angga lagi menyuruh asisten Jang.


Angga kembali menatap Bella yang masih tampak suram, seakan belum rela pergi dari sana. Angga lalu menjulurkan tangannya pada Bella, Bella menatap wajah Angga, dia belum bisa berpikir apapun, dia hanya menggapai tangan Angga, melupakan sejenak, bahwa wanita yang di dalam itu Mika.


Bella duduk di kursi menghadap ke arah jendela besar, menatap jauh ke arah lautan yang tampak terbentang luas dari lantai 10 kamarnya. permukaannya yang biru tampak tenang seolah hanya seperti permukaan kaca, awan dan matahari pun menambah indah pemandangan itu, tapi jauh dari itu semua, pikiran Bella entah melayang ke mana.


Angga berdiri di kamarnya, sama menatap jauh ke hamparan laut, menatap dengan tajam, wajahnya yang berkerut memikirkan sesuatu, Apakah benar dia Mika?.


"Baik Tuan," kata Asisten Jang langsung melakukan tugasnya.


Angga kembali menatap lautan luas itu, perasaanya campur aduk, dia tidak tahu harus bagaimana? dia lalu menunduk sedikit frustasi? kenapa Mika harus kembali dan tak mungkin dia acuh dengan hal ini. dia menatap pantulan wajahnya di jendela kaca itu. Apa yang harus di lakukannya sekarang?.


Angga berjalan ke arah sebuah pintu, pintu itu menghubungkan kamarnya dengan ruangan seperti ruang tengah, dia masih melihat Bella masih mematung menatap jendela ruangan itu.


Angga berjalan ke arahnya, meletakkan tangannya pada pundak Bella, membuat perhatian Bella jatuh padanya.


"Kenapa?" kata Angga berusaha sedikit tersenyum, Bella menatap Angga, Bella juga membalas senyuman Angga.


"Aku tidak pernah berpikir akan begini, Ibuku bahkan tak boleh ku dekati," kata Bella.


"Kita akan mengajak wanita itu untuk bicara," kata Angga lagi dengan suara berat dan sedikit serak.


Bella menatap Angga, 'Wanita itu' Bella jadi ingat, Mika! karena terlalu berfokus pada ibunya, Bella sampai lupa, Mika sudah kembali, dan Angga juga sudah bertemu dengannya, pria ini juga tadi memarahinya, namun di saat bersamaan juga memandangnya dengan dalam, saat ini Angga bahkan tak ingin mengatakan namanya.


"Mika," kata Bella menatap dalam Angga.


"Hmm?" Angga hanya bertanya begitu.


"Wanita itu Mika kan?" kata Bella.


"Kita belum tahu, bagaimana dia selamat? atau dia amnesia, atau bagaimana hingga bisa mengaku sebagai Nakesha dan bersama Ibumu," kata Angga lagi.


"Kau menyelidikinya?" kata Bella, entah kenapa dia merasa itu bentuk pernasaran dan perhatian Angga pada Mika.


"Aku hanya ingin tahu, tidak punya maksud lain, Bella ... " kata Angga mencoba menjelaskan pada Bella.


Bella mengigit bibirnya, tak tahu perasaannya harus bagaimana?, kepalanya pusing sekali, terlalu banyak masalah dalam satu bari ini, dia benar-benar tak bisa berpikir.


"Aku ingin istirahat, tolong jangan ganggu aku," Bella berdiri, lalu segera menuju kamarnya, meninggalkan Angga yang bingung dengan keadaannya.


"Bella, Bella, tunggu!" kata Angga mencoba menahan pintu kamar setelah mengejar Bella.


"Aku bener-benar pusing dan lelah, Angga izinkan aku istirahat dulu, aku janji setelah ini aku akan berpikir lebih jernih," kata Bella memelas, kepalanya ingin pecah saja rasanya, dia pikir hari ini akan menjadi hari yang bahagia karna bisa bertemu dengan ibunya, tapi kejutan hari ini benar-benar luar biasa.


Ibunya ternyata sakit jiwa, Mika kembali dan mengatakan dia tak boleh lagi bertemu dengan ibunya. Apa lagi selanjutnya? dia belum siap jika menemukan hal lain lagi hari ini.


Mendengar nada bicaranya, Angga pun tak tega.


"Aku menunggumu," ujar Angga menarik tangannya dari pintu itu.


Bella tak mengatakan apapun, hanya diam saja dan menutup pintu, Bella berbalik, melihat kamar luas dengan dekorasi begitu mewah memanjakan setiap tamu yang menginap, tapi dia sama sekali tak melakukan apapun, hanya duduk dan termenung. Harus apa sekarang dia pun bingung.