Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
211



Jofan berjalan mantap menyusuri lorong-lorong di markas militer itu, dia pergi menuju gerbang utama markas militer untuk menyambut ke datangan ayahnya. Saat dia tiba di sana, mobil ayahnya baru saja sampai, dia segera memperbaiki jasnya dan berdiri tegak, di sampingnya Jendral Indra juga sudah bersiap.


Pedana Menteri Abraham dengan gaya wibawa yang di turunkannya pada Jofan langsung turun dari mobilnya, melihat anaknya sudah menunggunya di sana, dia sedikit tersenyum, namun tidak meninggalkan kewibawaannya, dia berjalan ke arah Jofan, Jofan memberikan sedikit senyuman sopannya.


"Selamat pagi Tuan Pedana Menteri, "kata Jofan menyambut ayahnya, dia tahu ayahnya tidak suka di panggil 'ayah' jika saat sedang bekerja. Mereka langsung berjabat tangan.


"Selamat pagi," Jawab Tuan Abraham tegas. Melepaskan jabatan tangan itu lansung beralih ke jendral Indra, Jendral Indra memberikan hormat, lalu segera menjabat tangan Tuan Abraham.


"Bisa kita langsung berbicara? " kata Tuan Abraham setelah dia bersamalan dengan Jendral Indra.


"Silakan Tuan,"kata Jofan mempersilakan ayahnya untuk memimpin jalan. Tuan Abraham segera tersenyum melihat anaknya, merasa telah benar mendidik anaknya menjadi seperti ini.


Mereka segera masuk ke dalam sebuah ruangan kerja Jofan, mereka duduk bertiga di sofa yang ada di sana.


"Aku dengar ada hal yang sangat penting yang akan kau katakan, aku sudah tahu, tapi kau yakin akan melakukan ini semua, tidak ingin menunggu, Tuan Presiden akan turun jabatan 1 tahun lagi,"kata Tuan Abraham lebih santai karena mereka hanya bertiga.


"Aku sudah yakin, Tuan Pedana Menteri, lagi pula jika memang ingin menjadi Presiden aku rasa ini kesempatan yang baik, Presiden sekarang sangat terpojok dengan isu-isu kerajaannya dan kabar perselingkuhannya, bagaimana pun dia tidak akan bisa turun dengan hormat nantinya,"kata Jofan dengan gayanya yang tegas.


Tuan Abraham mengerutkan dahinya, mencoba menganalisa wajah anaknya, namun tak bisa menemukan keraguan di dalamnya. Tuan Abraham memang memiliki obsesi untuk menjadi orang nomor 1 di negara itu, namun dia tidak bisa menjadi seorang Presiden, sebentar lagi adalah masa pesiunnya, karena itu dia sudah mendidik Jofan sebisa mungkin menjadi Presiden, dan untungnya Jofan juga serius dalam melakukannya.


"Sekali lagi aku ingin bertanya padamu, Kau yakin? " kata Tuan Abraham pada anaknya, suaranya lebih lembut, seperti ayah yang bertanya pada anaknya.


"Ya, Aku yakin, sekarang boleh kah aku yang bertanya? Apakah Anda yakin Tuan Pedana Mentri, untuk mendukung saja menjadai Presiden sekarang? " kata Jofan dengan tegas melihat ayahnya, Tuan Abraham terkejut mendengar pertanyaan anaknya, baru kali ini dia mendapatkan pertanyaan itu dari Jofan, mendengar itu dia tersenyum puas, anaknya benar-benar sudah siap.


"Baiklah, apa yang akan kau lakukan? "kata Tuan Abraham.


"Saya butuh dukungan Anda dan dukungan dari militer, dan tentang Presiden, aku sudah memiliki sesuatu yang pasti membuatnya mundur, jika dia tidak mau mundur, masyarakat yang akan membuatnya mundur," kata Jofan.


"Benarkah? apa yang kau punya? " kata Tuan Abraham yang melihat anaknya begitu yakin dan penuh percaya diri.


Jofan menyerahkan tablet ke depan ayahnya, dia lalu memberikan video tentang skandal yang melibatkan presiden yang sekarang.


"Dari mana kau dapatkan ini? " kata Tuan Abraham yang tak menyangka anaknya bisa mendapatkan video seperti ini.


"Dari sumber yang dapat di percaya, Presiden bermain api dengan sekretarisnya, sayangnya sekretarisnya di pecat oleh ibu presiden karena dia mengetahui itu, wanita ini ingin menuntut balasan, namun keluarga presiden mengancam keselamatan keluarganya, dia datang padaku, dan menyerahkan semua bukti dengan jaminan aku membantunya dan juga menjaga keluarganya, "kata Jofan menerangkan.


"Tapi wanita ini berbeda dengan wanita yang sekarang sedang ramai di beritakan,"kata Tuan Abraham.


"Ya, karena itu, jika bukti ini muncul di masyarakat, bukannya akan lebih menekan Presiden? Lagi pula, dengan bukti yang begitu banyak, menurut Anda apakah dia akan masih bisa bertahan? " kata Jofan dengan senyuman liciknya.


Tuan Abraham diam, mengamati anaknya lagi, dia lalu tersenyum.


"Baiklah, aku akan mendukungmu, Wakil Presiden juga sudah tidak berminat untuk menjadi Presiden, aku rasa kau bisa melanjutkannya,"kata Tuan Abraham.


"Terima kasih,"kata Jofan, dia lalu melirik ke arah Jendral Indra yang dari tadi hanya memperhatikan.


"Kami akan siap mendukung Anda, Tuan Presiden,"kata Jendral Indra dengan sangat tegas, membuat Jofan tersenyum, dengan dukungan Pedana Mentri dan Militer juga dari Angga, dia sudah pasti menjadi Presiden


"Kapan kau akan mengeluarkan ini semua? "kata Tuan Abraham.


"Secepatnya, aku ingin segera menjadi Presiden, ada yang harus segera aku lakukan, Jendral Indra, aku rasa akan ada sedikit kerusuhan nantinya karena Presiden juga tak akan mudah menyerah pada jabatannya, aku minta kalian memberikan pelayanan pada masyarakat, hingga mereka berpihak pada kita,"kata Jofan lagi dengan sangat serius.


"Ya, kami akan mengatasinya, Tuan,"kata Jendral Indra.


"Pada bagian parlemen, saya akan menyerahkannya pada Anda, Tuan Pedana Menteri," kata Jofan lagi dengan serius.


"Serahkan saja padaku, Jika ini semua berhasil, kau akan menjadi Presiden termuda, " kata Ayahnya merasa bangga dengan Jofan.


Jofan tak menjawab hanya memberikan senyuman pada ayahnya.


"Namun kau harus hati-hati, kau harus melakukan semuanya dengan baik, bersikap dan berlaku lah yang baik selama proses ini, jangan sampai yang kau lakukan ini malah menjadi bumerang bagi mu," kata Tuan Abraham menasehati.


"Baiklah, aku rasa kau benar-benar sudah siap,"kata Tuan Abraham berdiri, Jofan dan Jendral Indra mengikutinya.


"Terima kasih atas waktu Anda,"kata Jofan.


"Aku yang senang mendapat kehormatan mendukungmu menjadi Presiden, ayo, antarkan ayahmu ini keluar, " kata Tuan Abraham terdengar lebih santai.


"Baik Ayah,"kata Jofan menanggapinya.


Tuan Abraham dan Jofan segera keluar dari ruangan itu, Jendral Indra mengikuti, namun dia segera berpisah setelah memberikan hormat pada Jofan dan Tuan Abraham, meninggalkan anak dan ayah ini berbincang lebih santai, saat mereka berbincang, Tuan Abraham mengamati markas militer itu, menemukan sosok yang janggal yang ada di sana, seorang wanita.


"Siapa dia? "kata Tuan Abraham terus melihat Sania. Jofan jadi melihat ke arah yang di tunjukan ayahnya.


"Seorang teman yang harus aku lindungi,"kata Jofan lagi.


"Wanita dari Presiden itu? "kata Tuan Abraham menekukkan dahinya, melihat ke arah Jofan.


"Bukan, dia sudah membantuku dalam suatu masalah, dia juga punya masalah dengan pihak kerajaan, karena itu aku mengizinkannya tinggal di sini, karena pihak kerajaan tidak akan bisa menyentuhnya di sini,"kata Jofan menjelaskan pada ayahnya.


Tuan Abraham kembali mengamati Sania yang sibuk menghiasi taman depan kediamannya, cara jalannya yang tidak sempurna sedikit menganggu Tuan Abraham, dia tahu anaknya tidak akan terlalu peduli soal seperti ini jika wanita ini bukan orang yang spesial baginya.


"Kau harus hati-hati, DIA … " kata Tuan Abraham menekankan kata ‘Dia’ juga menunjuk Sania, "Akan menjadi bumerangmu,"kata Tuan Abraham dengan sangat serius.


"Aku pastikan itu tidak akan terjadi,"kata Jofan lagi.


"Jagalah sikapmu, itu saja," Kata Tuan Abraham menasehati anaknya kembali, Jofan mengangguk, Tuan Abraham masih mengamati wajah Jofan sebelum dia pergi meninggalkan Jofan dan pergi dari sana.


Jofan menatap Sania, Sudah 2 bulan ini dia terlalu sibuk sampai tidak memperhatikan keadaan Sania, dia hanya mendapatkan kabarnya dari Ajunannya juga tentang kemajuan penelitian untuk penyakitnya, dan terakhir kali mereka bertemu, Jofan juga memarahinya, karena itu dia merasa dia harus bertemu dengan Sania, ada dorongan yang sangat kuat agar Jofan mendekatinya.


Sania yang melihat kedatangan Jofan berhenti melakukan pekerajaanya, dia langsung mencuci tangannya, berdiri dengan anggunnya, memberikan sedikit senyuman manisnya, perpisahan mereka terakhir kali itu membuatnya merasa sedikit cangung dengan Jofan.


"Apa kabarmu, Nona Sania? "kata Jofan dengan senyuman khasnya.


"Baik Tuan,"kata Sania, kulitnya yang putih tampak memantulkan cahaya matahari.


"Maafkan aku soal terakhir kali, aku benar-benar banyak masalah akhir-akhir ini, " kata Jofan lagi.


"Tidak apa-apa Tuan, aku juga minta maaf pada Anda,"kata Sania sungkan.


"Kau sudah minum obatmu? Aku sudah menyuruh ajudanku menyerahkan beberapa obat untuk dirimu, dokter bilang obat itu sangat baik untuk kondisimu sekarang. "


"Sudah, terima kasih Tuan,"kata Sania masih merasa cangung.


"Baiklah, lanjutkan apa yang ingin kau lakukan, aku harus melakukan tugas yang lain, jaga kesehatanmu,"kata Jofan segera ingin bergegas pergi.


"Tuan Jofan, apa Anda di sini hingga malam nanti? "kata Sania memberanikan diri.


"Ehm, ada apa? "kata Jofan lagi.


"Saya … ehm, hanya ingin berterima kasih kepada Anda, saya ingin menyediakan makan malam untuk Anda, apakah Anda memiliki waktu? "kata Sania lagi yang memang punya niat untuk berterima kasih sekaligus meminta maaf karena sudah pernah membuat Jofan marah, namun beberapa bulan ini malah Jofan tak pernah lagi terlihat, Sania kira Jofan tak lagi ingin melihatnya, karena itu saat Jofan datang hari ini, dia cukup terkejut, dan sebisa mungkin mengemukakan keinginannya.


Jofan yang melihat tingkah Sania yang tampak gugup menyampaikan hal itu, hanya merasa tingkah laku Sania itu tampak begitu manis, dia tidak mungkin menolaknya.


"Aku akan datang pukul 7, aku harap itu tidak akan terlalu cepat,"kata Jofan lagi dengan senyumannya.


"Oh, Tidak Tuan, baiklah, apa makanan kesukaan Anda?"kata Sania lagi.


"Masaklah apa pun yang kau mau, aku akan menyukainya semua, Nona Sania, aku pergi dulu,"kata Jofan dengan senyuman yang begitu hangat yang berhasil menembus hati Sania yang sudah beku, Sania merasa kata-kata dan senyuman Jofan itu begitu manis, membuatnya merasa hangat, benar-benar membuatnya bahagia, hingga tak bisa berhenti tersenyum menatap punggung Jofan yang menjauh.