
Bella membuka matanya menangkap wajah putih dan tampan Angga tepat di sampingnya, Bella terkejut langsung terbangun dan terduduk, lalu melihat ke sampingnya, kosong ... Dia hanya mimpi, mungkin dia hanya rindu dengan kehadiran pria itu.
Tiba-tiba handphonenya berdering, dia langsung mengambil handphonenya, melihat panggilan video dari Angga. Dia langsung menjawab panggilan itu.
"Baru bangun tidur?" Kata Angga yang melihat wajah baru bangun tidur Bella, Bella melihat Angga yang sudah sangat rapi dengan jas dan dasi hitamnya, wajahnya seperti biasa dingin namun memukau.
"Ya, kau sedang apa?" Kata Bella dengan suara serak - serak manja karena baru bangun tidur.
"Kau tidur dengan siapa?"
"Ya, tidur sendiri, memangnya ingin tidur dengan siapa?" Kata Bella menunjukkan tempat tidurnya
"Oh, bagus lah, sudah bersiaplah, dan sarapan, aku harus pergi sekarang, siang ini aku akan pergi ke sana," kata Angga lagi tampak sibuk dengan yang lain.
"Baiklah ... " Kata Bella, baru saja dia mau mengucapkan kata 'I miss you' Angga sudah mematikan panggilan telepon itu, Ah, benar-benar tak peka. Pikir Bella membanting handphonenya ke kasurnya lalu turun dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi, dan membersihkan dirinya.
Setelah mandi dan sedikit bersiap-siap, dia keluar dari ruang kamarnya, menuju ke ruang makan.
"Selamat pagi Nona, apa sekarang Anda sudah ingin sarapan Nona?" Kata Judy.
"Selamat pagi Judy, baiklah, ehm, apa kak Daihan sudah bangun?" Kata Bella duduk di tempat biasa dia makan.
"Tuan Daihan sudah pergi dari hotel pagi-pagi sekali Nona."
"Benarkah? Ke mana dia pergi?" kata Bella dengan heran mencoba mulai memakan roti panggang yang sudah di sediakan.
"Maaf, Tuan Daihan tidak memberitahukannya Nona."
"Baiklah." Kata Bella melanjutkan makannya, mungkin dia hanya berolah raga seperti biasanya Angga lakukan pada pagi hari, tiba-tiba pikirannya jauh melayang saat mengunyah makanannya, apakah ibunya sudah makan?.
"Judy, bisakah kita kembali ketempat ibuku? Aku ingin tahu apakah ibuku hari ini sudah makan atau belum?" Kata Bella.
"Tapi Nona, Tuan Angga sangat melarang Anda keluar, apa lagi Tuan Daihan sekarang tidak ada di sini," kata Judy menjelaskan.
"Hanya sebentar saja, ya, Aku mohon, kita bawa semua orang, aku janji tak lama-lama, lagi pula banyak yang menjagaku kan? kau juga menghubungi Kak Daihan agar dia bisa bertemu denganku di tempat ibuku nanti," kata Bella lagi, berusaha membujuk, berkata begitu lembutnya.
Hah, dan Judy tak bisa menolaknya, "Baiklah Nona, saya akan menyiapkan semuanya dulu."
"Ya, terima kasih Judy," Kata Bella kegirangan.
"Sama-sama Nona," Kata Judy.
----***----
Daihan berjalan menyusuri lorong-lorong pasar tradisional yang penuh sesak, bahkan matahari saja masih enggan untuk bangun dari peraduannya, tapi hiruk pikuk pasar itu sudah semeriah pesta di musim panen.
Mata Daihan awas memperhatikan semua gerakan, dia bukan ingin membeli sesuatu, tapi dia memperhatikan seseorang, cukup jauh hingga orang itu tak bisa melihatnya, seorang gadis yang dengan ramah menyapa mereka satu per satu.
Nakesha tampak licah melayani semua orang, senyum manisnya selalu menghiasi, rambutnya yang tadi malam di biarkannya terurai sekarang kembali di masukan ke dalam topi, tanpa perasaan jijik atau bagaimana dia mengambil ikan, menyiapkan sayur-sayuran yang di minta pelanggan, kalau yang membeli adalah orang tua, tak segan dia membawa belanjaan itu sampai ke tempat kendaraan pembeli, begitu cekatan.
Sesekali dia menyeka keringat yang membasahi dahi dan lehernya yang putih mulus, terlalu kontras wanita secantik itu ada di sana, membuat banyak orang terpaku sekedar melihatnya.
"Anda mengenalnya?" Kata Daihan membalas senyum ramah wanita tua itu.
"Ya, gadis rajin dan cantik itu, siapa yang tak kenal, banyak pria sepertimu yang diam-diam mencuri pandang padanya, gadis yang malang," kata wanita tua itu menatap Nakesha yang asik bercengkrama dengan pelanggannya.
"Kenapa malang?"
"Usianya masih sangat muda saat Ibunya sakit mental, sekarang dia yang mengurusinya, Ibunya sangat-sangat beruntung punya anak ssperti dia, tak pernah malu, bekerja apapun untuk menghidupi dirinya dan ibunya, dia bekerja tak henti, dari subuh hingga malam hari, jika siang dia akan mengurusi ibunya," kata Wanita itu menerangkan.
"Benarkah?"
"Kau terlihat pria yang baik Tuan, jagalah dia, aku pergi dulu, akan aku katakan kau mencarinya," kata wanita itu.
"Tidak, tidak perlu, aku sebentar lagi akan pergi."
"Baiklah." Kata wanita tua itu berlalu begitu saja pergi mendekati Nakesha, Nakhesa menyambutnya dengan senyum bahagia. Melihat itu Daihan jadi tersenyum sendiri.
Daihan tak pergi, dia terus mengamati Nakesha dari jauh, semakin dia mengamatinya, semakin kagum dia, bahkan Daihan yang hanya berdiri mengamatinya saja merasa lelah, tapi wanita itu yang dari tadi tangkas ke sana ke mari, tak tampak sedikit pun lelah, hingga toko itu tutup, dia masih menyungingkan senyum ramah
Hari sudah terang, matahari sudah gagah di atas kepala, barulah Nakesha pergi meninggalkan toko itu setelah menyerahkan kunci pada pemilik tokonya, pemandangan yang luar biasa bagi Daihan yang dari kecil hidup dengan segala kemudahan.
---***---
Bella berjalan perlahan menyusuri jalan masuk rumah sakit itu, setiap sudutnya sudah penuh pengamanan, sepertinya Angga benar-benar tidak main-main dengan penjagaan untuk Bella.
Bella membawa beberapa makanan, dia tak tahu apa makanan kesukaan ibunya, jadi dia membeli beberapa macam makanan.
Saat dia masuk, ibunya seperti habis mandi, beberapa petugas seperti baru selesai menganti bajunya.
"Nona." Kata petugas itu memberikan salam.
"Ya." Kata Bella seadan lalu berjalan mendekati ibunya, Judy dan beberapa tentara berjaga di sana, namun mencoba tak menganggu momen ini.
Seorang penjaga ibunya mengeluarkan sebuah sisir, Bella melihat itu.
"Boleh aku?" Kata Bella.
"Tentu Nona," kata penjaga itu memberikan sisir itu pada Bella.
Bella segera duduk di belakang ibunya yang hanya mematung, menatap satu titik tanpa berkedip sedikit pun, Bella menyelipkan tangannya di bawah rambut ibunya yang hitam namun mulai tampak beberapa helain rambut putihnya, tangannya yang lain mulai menyisir rambut ibunya, perlahan dengan lembut.
"Ma, apa kabarmu hari ini?" Kata Bella lembut.
Namun ibunya diam tak bergeming, Bella tetap saja tersenyum manis, melanjutkan menyisir rambut ibunya, setelah selesai, Bella menata sedikit rambut ibunya, membuatnya tampak rapi dan indah.
Bella lalu mengambil bubur yang tadi di bawanya, dia lalu dengan sabar mulai menyuapi ibunya, awalnya ibunya tak mau mekan, namun perlahan-lahan ibunya mulai menelan bubur yang di sodorkan Bella.
Pandangan mata ibunya yang awalnya kosong, mulai berpindah menatap wajah Bella, menatap mata Bella dengan tatapan nanar, dari mata ibunya, Bella senang menemukan pantulan wajahnya di sana.