
Angga baru saja ingin masuk ke dalam mobilnya, pagi ini dia punya janji dengan Bella, tiba-tiba handphonenya berdering, suara Judy bergetar hebat ketika melaporkan keadaannya, Angga langsung tampak kaget, dia segera memutari mobilnya.
"Kunci! " kata Angga sangat tegas, supir langsung memberikannya kunci, melihat keadaan itu Asisten Jang pun langsung masuk tanpa aba-aba.
Angga langsung menekan gasnya dengan kencang, wajahnya tegang, di matanya terlihat emosi yang sangat, jantungnya bahkan sangat terpacu, tangannya memegang stir itu dengan sangat kuat.
"Cari keberadaan Nona Bella sekarang, lakukan dengan melacak sinyal handphonenya, cepat! Aku butuh sekarang! " kata Angga.
Asisten Jang dengan sigap melakukan tugasnya, tak menunggu begitu lama, dia menemukannya.
"Dua blok dari sini Tuan, pergi ke arah utara. " kata Asisten Jang menunjukkan lokasinya, Angga langsung menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh Asisten Jang, menekan pedal mobil dengan begitu keras,bahkan jalanan yang tampak buram tak menghalanginya untuk menancap gas mobil itu.
" Tuan Nona ada di mobi hitam itu, " kata Asisten Jang menunjuk sebuah mobil sedan hitam di depan mereka. Melihat itu Angga makin menekan pedalnya dengan keras, walaupun beberapa kali mendapat teguran dari pengendara lain yang membunyikan klakson panjang, Angga tak peduli, bahkan dia beberapa kali memakan jalan orang lain agar cepat bisa menyalip mobil itu.
Tak lama akhirnya mobil itu terkejar, begitu Angga rasa cukup aman untuk berhenti, dia langsung menyerongkan mobilnya menghadang jalan mobil itu, dia langsung turun dan disambut hujan deras.
Tiba-tiba mobil yang Aksa dan Bella naiki berhenti mendadak, Bella bahkan sampai terbentur dengan jok di depannya, seketika telinganya terasa berdengung, semua langsung kaget dan panik.
"Kenapa berhenti mendadak? "kata Aksa sedikit marah.
"Seseorang memblok jalan kita dengan mobilnya." kata supir itu, mendengar itu Bella langsung melihat ke depan, hujan di luar sangat-sangat deras, bahkan untuk melihat ke luar mobil sangat susah, suara gemuruh hujan hampir membuat pendengaran Bella terasa kosong, namun dia bisa melihat samar-samar sosok Angga di sana, dia bermimpi? Baru saja dia berharap pria itu datang, dan dia ada di sana sekarang, berdiri tegak menjadikan tubuhnya tameng, di belakang mobil Aksa juga sudah tertutup oleh 2 mobil yang lain.
Bella langsung terlihat senang, senyumnya terlihat lebar, sesaat dia benar-benar sudah pasrah, tapi melihat ini, harapan itu segera muncul, dia langsung cepat-cepat ingin membuka mobilnya, sebelum sebuah benda terasa menekan pinggangnya, Bella sontak melihat ke arah benda itu, sebuah pistol di todongkan di pinggang Bella, Bella langsung terdiam, kaku, bahkan tubuhnya gemetaran, dia melihat Aksa dengan tidak percaya, Aksa hanya tersenyum sinis.
" Kalian habisi dia." kata Aksa menyuruh supir dan salah satu penjaganya.
"Baik Tuan." kata mereka, mereka keluar, lalu segera menghadang Angga.
Angga melihat dua orang dari kursi depan keluar dari mobilnya, dia menatap mereka dengan tatapan yang sangat marah, matanya tampak sangat memerah, tajam dan menusuk, seakan bisa membunuh siapapun yang menghalagi langkahnya.
Supir yang tadi turun, melayangkan pukulan pertama, namun bisa langsung di tangkis oleh Angga dengan cepat, dia bahkan menangkap pukulan pria itu, dengan sikunya Angga memukul bagian rusuk kiri supir itu, bersamaan dengan itu tendangan di layangankan oleh Angga ke arah penjaga yang satu lagi, hingga penjaga itu tersungkur, perhatian Angga kembali pada supir itu, supir itu masih kesakitan, Angga menginjak kakinya dengan keras, lalu kembali memukul ulu hatinya dengan keras, membuat supir itu tersungkur tak sanggup lagi berdiri.
Penjaga itu bangkit dan mulai ingin menyerang Angga lagi, tapi Angga segera kembali mengelak, begitu ada kesempatan, Angga langsung memukul rahang penjaga itu, bahkan hingga tulang rahangnya terdengar bergeser, penjaga itu tersungkur jatuh. Darah keluar dari hidung dan mulut penjaga itu.
Angga lalu melihat ke arah mobil itu, siap dengan siapapun yang keluar dari sana, emosinya benar-benar sudah sampai puncak, dan Aksa salah mencari lawan.
Bella yang melihat adegan perkelahian, tubuhnya tambah menegang, dia hanya bisa menyaksikannya dengan diam, apa lagi pistol itu terus di tekan pada tubuhnya, dia hanya diam mematung. Di matanya hanya terdapat kengerian.
Angga bisa melihat sosok Bella di dalam mobil itu walaupun hanya samar-samar, dia lalu mendekati pintu Bella, ingin membukanya, namun tertutup dari dalam, kenapa Bella tidak keluar? Pikirnya.
Jendela pintu mobil Bella terbuka perlahan, Bella yang membukannya, Angga langsung melihat keadaannya, dia terdiam, tatapan matanya langsung suram, dia menatap mata Bella yang juga terlihat sekali suram, wajahnya tertekan, bibirnya gemetar, raut wajah Bella tegang sekali seperti tubuhnya sekarang. Angga tidak bisa apa-apa, melihat sebuah pistol tepat di samping kepala Bella. Aksa mengacungkannya hingga menempel di kulit dekat pelipis Bella.
Aksa memandang Angga dengan sangat tajam, dia seolah menegaskan bahwa dia tidak sedang main-main, Angga mundur beberapa langkah, wajah Bella menatapnya nanar, sangat tertekan, bahkan dia mulai berkaca-kaca menatap Angga, penuh dengan keputus asaan, Angga hanya bisa terdiam, mengertakan giginya satu sama lain, kedua tangannya mengepal kuat, menunjukkan urat-urat di tangannya, dengan mata tajamnya dia hanya membalas tatapan Aksa yang sekarang tersenyum sinis.
"Perintahkan orangmu untuk membuka jalan, dan 1 lagi, jangan coba-coba mengikuti kami, atau hanya akan ada tubuhnya yang kau temukan tergeletak di tepi jalan dengan lubang peluru di kepalanya. Sekarang, panggilkan supirku. " kata Aksa memperingatkan.
Angga mau tak mau mengikuti kata-kata Aksa, dia memberikan gestur pada orang-orang di dalam mobil, melihat itu mereka segera mematuhinya, selain itu Angga mengangkat kerah supir yang tadi dia pukul, supir itu langsung lari ke dalam mobil.
"Cepat jalan! " perintah Aksa dengan pistol masih di kepala Bella. Bella hanya gemetar, duduk kaku dengan rasa ketakutan di seluruh tubuhnya, bahkan sekarang tangan dan kakinya terasa sangat dingin, ternyata perasaan takut mati ini kembali dirasakan oleh Bella.
Mobil berjalan, supir menghindari penjaga yang masih tak sadarkan diri karena hantaman Angga, saat mereka jalan, Bella hanya bisa melihat Angga yang mereka lewati, matanya kembali berkaca-kaca, Angga pun hanya bisa menatap suram pada Bella yang bisa di lihatnya sekilas, menatap hingga mobil itu pergi sangat jauh.
Angga jatuh bersujut, kedua tangannya menjadi tumpuan di aspal yang sekarang terasa lebih hangat dari pada tubuhnya, dia memukul aspal itu beberapa kali hingga tangannya berdarah, darah mengalir bersama dengan air hujan, Angga frustasi, bahkan sakit ditangannya tak sesakit melihat tatapan mata Bella yang begitu berharap dia bisa menolongnya. Angga berteriak keras seolah meluapkan seluruh emosinya, tersama dengan suara ujan yang mendominasi, dia tak bisa begini, harus mencari cara bagaimana Bella bisa di selamatkan, dia lalu berdiri dan segera kembali ke salah satu mobil yang menunggu di sana.