
Kemarilah, mendekatlah, akan ku buat kau nyaman, kan ku tunjukkan arti cinta yang sebenarnya.
____________________________________________
Angga yang tadinya terlihat marah, tiba-tiba terdiam, menatap Bella tak percaya, dia masih mencerna apa yang di tangkap oleh telinganya? Apa? Bella yang memasukkan racun itu?.
“Apa maksudmu?”kata Angga dengan wajah tak percaya.
“Aku yang memasukkan racun itu ke dalam minuman Aksa, aku menyuruh orang memasukkannya,"kata Bella lagi dengan serius, Angga menatap wajah Bella yang tampak polos, apa yang di pikirkannya memasukan racun itu, tapi dia pula yang meminumnya?.
“Apa kau gila? Kau yang memasukkan racun itu pada minuman Aksa, lalu kenapa kau pula yang meminumnya? Kau ingin membunuh Aksa atau ingin bunuh diri sebenarnya!" kata Angga sedikit marah karena dia tidak meyangka Bella bisa melakukan hal seperti ini, di otaknya dia belum bisa menerima semuanya.
"Aku tidak ingin bunuh diri, aku juga tidak ingin membunuh Aksa, membunuh Aksa sekarang akan membuat masalah bagiku, karena selama waktu itu yang bersama dia adalah aku, karena itu aku juga pasti akan di curigai, aku hanya ingin membuatnya pingsan, obat itu sudah disesuaikan dosisnya hanya untuk membuat orang tak sadarkan diri, tidak sampai membunuh. Awalanya aku ingin dia tak sadarkan diri, lalu Sania akan di salahkan, karena saat Aksa bangun, dia pasti curiga dengan Sania yang sebelumnya bertengkar dengannya, percobaan pembunuhan anggota kerajaan hukumannya adalah hukuman mati, dan paling rendah adalah pengasingan seumur hidup." kata Bella menjelaskan, matanya yang indah bergerak-gerak, Angga hanya diam mendengarkan apa yang ingin di jelaskan oleh Bella, mencernanya perlahan sehingga emosinya tidak akan naik, karena kalau dia emosi, bisa-bisa tidak akan mendengarkan penjelasan Bella.
“Lalu kenapa malah kau yang meminumnya?”kata Angga serius.
“Sebelumnya aku kira pelayan akan mengantarkannya, tapi ternyata yang mengantarkannya adalah Sania, dan sebelum itu Judy sudah menghubungiku, Judy bilang ada pelayan yang melihat dia memberikan racun pada minumanku, karena itu dia yang membawakannya, minuman Aksa sebelumnya sudah aku racun, kedua minuman itu jadi beracun." kata Bella mengambil napas sejenak.
“Karena aku pikir aku tidak tahu apa yang dimasukkan oleh Sania pada minumanku, dan aku tahu racunku hanya untuk membuat orang tidak sadar, aku lalu menantangnya meminum minumanku, dan aku meminum minuman Aksa, aku harus meminumnya agar Aksa percaya Sania juga ingin meracuninya, karena itu aku minum minuman itu, suatu keuntungan bahwa Sania sendiri yang membawakannya, aku rasa sekarang Aksa tidak akan lagi percaya padanya.” kata Bella menatap Angga.
Angga yang mendengar itu sungguh tidak percaya, bagaimana seorang Bella yang begitu polos ini bisa merancang hal yang begitu rumit ini?, dia bahkan sampai geleng-geleng kepala.
"Apa kau tidak berpikir, jika dosisnya salah atau Sania benar-benar juga memasukkan racun ke minuman Aksa, racun itu bisa membunuhmu?," kata Angga masih dengan wajah tak percaya.
"Aku sudah memikirkannya, kalau memang itu membunuhku, setidaknya aku sudah berusaha," kata Bella lagi.
Angga terdiam, matanya suram, sesuram hatinya sekarang, Bella sama sekali tidak memikirkan jika dia meninggal apa yang terjadi pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia benar-benar hanya memikirkan caranya untuk balas dendam.
"Kau sangat egois, bagaimana kau bisa berpikir kalau kau mati setidaknya kau sudah berusaha? Apa kau tidak memikirkan orang-orang yang kau tinggalkan?” kata Angga marah. Matanya memerah. Bella yang menatap Angga marah itu hanya bisa terdiam.
“Bukannya kau juga sudah tidak peduli padaku? Kau bilang terserah aku ingin melakukan apapun, tidak perlu melapor lagi padamu," kata Bella dengan suara yang lemah, dia tertunduk, bulu matanya yang lentik menyembunyikan matanya yang indah, namun suram.
"Aku memang mengatakan terserah, tapi bukan berarti aku tidak peduli, aku juga tahu seluruh kabarmu, memang Judy tidak lagi melapor, tapi apa kau tidak tahu aku punya banyak orang yang menjagamu?” kata Angga masih dengan nada marahnya.
Bella kembali terdiam sejenak...
“Jadi kau masih memperhatikan aku?” kata Bella tak percaya, dia kira Angga benar-benar tidak memperhatikannya lagi, dia sangat sedih mengetahui itu, air matanya bahkan turun tak bisa dia kendalikan saat memikirkannya, dia menangis terus saat di apartemen, seperti ada yang hilang di hatinya, terasa hampa dan berlubang.
Walaupun Angga sering membuatnya kesal, kelakuannya ‘semau gue’, tapi pria itu ternyata sudah menyusup sangat dalam ke hatinya, karena itu begitu dia mengatakan tidak peduli lagi pada Bella, hatinya terasa tercabik.
“Aku sudah pernah kehilangan orang yang penting dalam hidupku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi kedua kalinya," kata Angga tampak tegas dan serius saat mengatakannya, Angga menatap bola mata Bella yang bergerak-gerak.
Mendengar pengakuan dari Angga, tanpa terasa air mata Bella turun, turun tanpa bisa dia kontrol, membasahi matanya, mengalir ke pipinya yang halus. Arti kata-kata Angga bukannya menegaskan bahwa Bella adalah orang yang penting dalam hidupnya?.
Bella pernah mencintai Aksa setulus hati, dengan segalanya, tapi pria itu mengkhianatinya dan hampir berhasil menghilangkan nyawanya, lalu datang Angga yang dengan sifatnya yang dingin dan tak tertebak itu, tanpa dia sadari Angga yang dingin itulah yang berhasil menghangatkan hatinya kembali, tapi karena terlalu takut akan cinta yang menyakiti itu datang lagi, dia malah menghindari pria itu, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa perasaannya pada Angga hanya sebatas kenyamanan, Angga juga tenyata memiliki perasaan yang sama, pria itu bergitu menjaganya, tapi Bella malah mendorongnya pergi… bagaimana bisa Bella melakukan itu? Saat cintanya salah, dia malah berusaha mendapatkan cinta itu kembali, dan akhirnya sakit, sekarang ada cinta dari seorang pria yang benar-benar menunjukan cintanya pada Bella, dia malah tak ingin berusaha… logika cinta memang aneh dan berbeda.
Melihat tangis Bella, hati Angga melembut kembali, dia lalu berdiri mendekati Bella, duduk di samping ranjangnya, memegang dagu wanita yang sekarang setiap hari, jam dan detik ada dipikirannya.
Angga tersenyum sedikit, menghapus air mata Bella dengan ibu jarinya, menatap ke wajahnya, ternyata 1 hari tak bertemu, Angga pun begitu merindukan wanita ini.
“Jangan menangis, aku di sini, aku janji menjagamu sampai kapanpun, hanya satu yang aku minta..." kata Angga lembut pada Bella. Bella akhirnya berani menatap Angga.
"Apa?” kata Bella.
Angga tersenyum dulu sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Jangan pernah lagi mendorongku pergi, dan mengatakan perasaanku hanya sementara, aku bukan pria yang gampang terbawa suasana atau apapun yang kau bilang sebelumnya," kata Angga.
Mendengar itu hati Bella bertambah hangat. Dia jadi tersenyum tipis, Angga yang melihat wajah Bella tersenyum menjadi ikut tersenyum.
"Kalau kau coba-coba melakukannya lagi, aku akan menghantuimu terus menerus,” kata Angga.
"Tapi kalau aku tidak punya perasaan padamu bagaimana?” kata Bella lagi. Wajah Angga langsung suram, bagaimana Bella menanyakan ini?, apa memang dia tidak punya rasa dengan Angga?, tapi kenapa dia malah menangis saat Angga mangatakan hal itu tadi.
“Tidak peduli, aku akan tetap menghantuimu sampai kau mau denganku,” kata Angga lagi dengan wajahnya yang serius. Bella mendengar itu langsung tersenyum, benar-benar nyaman berdekatan dengan Angga.
Angga mengelus pipi Bella yang masih terlihat sedikit basah, tangannya turun dan memegangi dagu Bella, dengan perlahan namun pasti dia menempelkan bibirnya pada bibir Bella, bibir Bella benar-benar sangat manis, lembutnya membuat Angga sangat ketagihan.
Bella pun ternyata menikmatinya, ciuman ini berbeda seperti ciuman pertama yang diberikan oleh Angga, sangat lembut dan membuai, Angga menciumnya hanya sebentar, lalu menatap Bella yang menutup mata menikmati hangatnya bibir Angga. tak lama Bella membuka matanya.
“Jadilah wanitaku," kata Angga lagi. Wajah Bella memanas, tak tahu karena ciuman itu atau karena kata-kata Angga. Namun dia ingat statusnya sekarang.
"Tapi aku itu istri orang," kata Bella lagi.
"Nona Bella Anda terlalu banyak bicara,”kata Angga dia malah menarik wajah Bella agar mendekat lagi dengannya, mencium Bella sekali lagi dengan sangat ganas, tangannya yang satu ada di belakang kepala Bella, dan yang lain menyusup di sela-sela rambutnya, menjaga agar Bella tidak melepaskan diri.
Bella yang kaget awalnya ingin mendorong Angga, namun karena tertahan dia hanya pasrah, tapi lama-lama dia mulai menikmatinya. Awalnya memang angga begitu ganas, menekan bibirnya pada bibir Bella, sesekali mengigitnya kecil, namun semakin lama ciuman itu malah berubah menjadi begitu lembut, perlahan, tak buru-buru, hingga Bella dapat menikmatinya.
Angga bagaikan ingin merasakan rasa bibir Bella yang seperti kelopak bunga mawar itu sejengkal demi sejengkal, tidak ingin terburu-buru, apa lagi ganas… dan sensasi setiap bibir mereka bersentuhan seperti sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuh bagi keduanya.
Setelah cukup lama bermain dengan bibir Bella, Angga melapaskannya, menatap ekspresi dan wajah Bella yang tampak merah seperti tomat, sangat imut dan Angga begitu menyukainya, dia tersenyum manis dan memeluk wanitanya.
“Tak peduli kau sudah menikah atau tidak, aku rela jadi pria selingkuhanmu," kata Angga memeluk erat Bella. Mendengar itu Bella sedikit merasa lucu, masa Angga yang sangat hebat, angkuh, sombong, punya kedudukan yang sangat hebat itu, mau menjadi pria selingkuhan.