
"Eh, tidak ada apa-apa,kami tidak punya hubungan apa pun, ya kan kak Daihan?"kata Nakesha langsung menyela.
Daihan terdiam, dia mengambil air minum di depannya. Tidak tahu harus berkata apa, namun perasaannya menjadi tidak nyaman karena kata-kata Nakesha, Jofan langsung tersenyum.
"Kalau begitu, kita masih bisa pergi bersama, " kata Jofan kembali mencondongkan tubuhnya, tersenyum manis pada Naeksha.
"Baiklah, akan ku pertimbangkan, "kata Nakesha lagi, Daihan menunjukkan gestur yang makin tidak nyaman mendengar kata-kata Nakesha, namun Jofan tidak memperhatikannya, dia hanya menatap Nakesha dengan tesenyum manis.
Handphone Daihan berdering, dia segera mengangkatnya.
"Halo, ada apa? " Kata Daihan yang moodnya tiba-tiba turun. Dia mendegarkan dengan sangat serius. "Bagaimana bisa begitu?", Wajah dan suara Daihan makin serius, membuat Nakesha jadi penasaran dengan siapa Daihan berbicara, karena dia tidak pernah melihat Daihan begitu serius, bukan hanya Nakesha semua yang ada di sana langsung terdiam melihat Daihan seperti itu. "Baiklah, aku akan segera ke sana, siapkan semuanya, aku akan membawanya pulang secepatnya," kata Daihan lagi, dia segera memutuskan panggilan teleponnya.
"Ada apa?" kata Nakesha melihat Daihan buru-buru berdiri, Angga dan Jofan hanya memperhatikannya dengan serius.
"Aku harus menjemput Archie sekarang, dia sakit, kau ikut?" kata Daihan, Nakesha buru-buru mengangguk, Bella mendengar itu juga sedikit khawatir, Angga dan Jofan hanya menatap bingung.
"Apakah Archie keadaannya gawat?" kata Bella menghentikan Daihan dan Nakesha yang sudah ingin bergegas.
"Mereka bilang cukup gawat, Maaf kami pergi dulu," kata Daihan segera bergegas namun tidak lupa menunggu Nakesha yang sesegera mungkin mengikuti Daihan, mereka lalu meninggalkan Angga dan Jofan yang memandang mereka bingung.
"Siapa Archie? " kata Angga pada Bella yang masih terlihat khawatir.
"Eh, dia anak? ehm ... kak Daihan, dia yang akan menjelaskannya ya, " kata Bella merasa tidak enak untuk mengatakan bahwa Archie adalah anak Mika dengan Aksa.
" Anak? Jangan-jangan selama ini Daihan sudah punya anak, woh! Kenapa kalian mencuri start dari ku semua, Angga sudah menikah, Daihan tiba-tiba punya anak, aku merasa harus punya sesuatu juga, Nakesha masih kosong kan? " kata Jofan berspekulasi sendiri dan sedikit bercanda.
"Jangan menganggu mereka Jofan," kata Bella melirik Jofan.
"Ah, kenapa wanita-wanita cantik sekarang menjauhiku? Padahal dulu aku bebasa memilih siapa pun yang mau denganku," kata Jofan dengan gayanya, kembali minum Champagne-nya.
"Serius lah, jika kau ingin menjadi Presiden, kegemaranmu itu harus kau kurangi," kata Angga
"Jika sudah menjadi Presiden, ayahku akan menjodohkan ku dengan wanita yang punya kedudukan juga, jadi untuk apa aku serius, toh akhirnya aku juga tidak punya pilihan, sebelum semua tingkah laku ku di awasi seluruh masyarakat, lebih baik aku bersenang-senang dulu kan? " kata Jofan memainkan gelas champagne-nya.
"Bermainlah, asal jangan membuat hal itu menjadi sandungan untuk dirimu sendiri, " kata Angga lagi serius.
"Ah, setelah menikah kenapa kau malah terdengar seperti ayahku? Bella, Angga pasti jadi ayah yang ditakuti anaknya, kau harus merubahnya, kalau tidak anak-anak kalian nanti akan sekaku dirinya, " kata Jofan lagi, melihat gaya Jofan, Bella menjadi tertawa kecil.
Angga melirik istrinya, anak? ya, kenapa Angga belum memikirkannya, tentu dia ingin punya anak dari Bella. Angga jadi merasa sedikit sendu, dia lalu mengenggam tangan istrinya, Bella langsung memperhatikan Angga.
"Baiklah, aku akan merubahnya, " kata Bella pada Jofan.
"Ya, ehm, aku harus segera pulang, banyak hal yang harus aku lakukan lagi, ayo, " kata Jofan berdiri, Angga dan Bella mengikutinya, mereka segera pulang mengunakan Helikopter Angga, sesampainya di kantor, Jofan langsung pamit pergi.
Bella dan Angga masuk ke ruangan Angga, Bella berjalan di depan, Angga mengikutinya dari belakang, melihat lekat-lekat tubuh istrinya di depan, semerbak wangi mawar dari tubuh Bella selalu bisa membuatnya mabuk kepayang.
Angga memeluk Bella dari belakang tiba-tiba, Bella tentu kaget, dia lalu membalikkan tubuhnya, menatap Suaminya yang tepat ada di depannya sekarang.
"Aku juga akan pulang, jam berapa kau akan pulang?" kata Bella membenarkan posisi dasi suaminya, walau pun sebenarnya posisi dasi itu sudah benar.
"Sebenarnya aku ingin pulang sekarang, " kata Angga melingkarkan tangannya ke pinggang kecil istrinya.
"Apa kau tidak punya kerjaan sehabis ini? " kata Bella menatap mata Angga yang hitam menghayutkan itu. sendu sekali.
"Seharusnya aku cuti untuk bisa bersamamu, kita kan baru menikah," kata Angga lagi.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini? " kata Bella yang sedikit tersenyum sumringah melihat tingkah suaminya.
"Aku memikirkan sesuatu dari tadi."
Angga mendekatkan dirinya pada Bella, lalu berbisik lembut ke tellinga istrinya.
"Aku ingin memiliki anak darimu secepatnya, " kata Angga tepat di telinga Bella, terpaaan napas Angga mengenai daun telinga Bella membuatnya merinding di seluruh tubuhnya. Bella tesenyum mendengar kata-kata manis Angga, membuat hatinya menghangat.
"Kalau begitu pulanglah secepatnya, aku akan menunggu," kata Bella dengan senyum yang tidak bisa lepas. Angga menatapnya tajam, penuh dengan nafsu, membuat Bella terperangkap dengan mata hitam Angga.
"Di sini saja bagaimana? " kata Angga mengoda Bella.
"Ada-ada saja, bagaimana jika nanti ada yang masuk, dan lagi pula ada CCTV bukan? " kata Bella lagi.
"Tidak ada CCTV di sini, aku hanya mengertak Madeline, lagi pula tidak akan ada yang berani masuk jika aku tidak mengizinkannya, " kata Angga membuka Jasnya, melihat itu Bella yang masih tidak yakin melakukannya di kantor Angga mundur perlahan-lahan, namun Angga malah terus maju mendekati Bella.
"Tidak bisa melakukannya di sini, mau melakukannya di mana? lagian, ehm … pulang saja. " kata Bella malah ketakutan melihat tingkah suaminya yang seperti siap memangsanya.
"Kita bisa melakukannya di sofa."
"Sofa? Tidak nyaman, lagian ini kantor, tidak boleh melakukan hal itu di sini, "kata Bella terus mencari alasan, Angga hanya mengamati Bella.
"Memangnya ada peraturan yang mengatakan tidak boleh melakukannya di kantor, Nyonya Xavier? " kata Angga menarik kembali Bella dalam pelukannya, Angga tidak main-main ternyata, napas Angga yang memburu menerpa wajah putih Bellla.
"Aku harus mandi selesai melakukannya, "kata Bella mencoba sekali lagi untuk mengubah pikiran suaminya.
"Aku punya kamar mandi pribadi di sini, apakah masih ada alasanmu yang harus aku dengarkan lagi sebelum aku menciummu, Nyonya? " kata Angga lagi mencoba masih sabar menghadapi istirnya yang mencari alasan lain.
"Tidak, "kata Bella akhirnya menyerah, menatap mata Angga yang benar-benar memandangnya dengan penuh nafsu.
Baru saja Bella selesai mengatakannya, Angga langsung mencium bibir Bella, Bella menerima, dia melingkarkan tangannya ke leher Angga, perlakukan Bella membuat Angga makin liar, dia langsung membuka dasinya dengan buru-buru, Bella membantunya membuka kemeja putihnya, setelah melepas kemejanya, Angga mengiring Bella ke arah salah satu sofa yang di sana, dan tanpa menunggu lama, melancarkan semua aksinya.
Keringat di tubuh mereka bercucuran bersamaan dengan napas mereka yang semakin memburu, bibir saling berpaut, saling meraba seluruh jengkal tubuh mereka, bersama-sama mencapai kepuasan berasama, hingga membuatnya sama-sama lemas, Angga mengubah posisi Bella agar dia tidak menimpa Bella. Membiarkan sejenak Bella berbaring di atas tubuhnya yang sama-sama polos.
"Aku akan mandi dulu, pakailah bajumu, " kata Bella yang masih ingat ini sekarang di kantor, dia tidak bisa santai tiduran di atas tubuh Angga.
"Iya, " kata Angga yang masih ingin tiduran, namun dia segera duduk dan mulai mengambil celananya yang berserakan di lantai, melihat kemejanya yang sudah kusut, dia lalu melihat ke arah kamar mandi, dia segera menelpon Asisten Jang.
" Asisten Jang, siapkan handukku, bawakan 2 dan siapkan kemejaku, "kata Angga pada Asisten Jang.
"Baik Tuan," kata Asisten Jang.
Tak perlu waktu lama, Asisten Jang segera mengetuk pintu ruangan Angga. Tak seperti biasanya Angga tak menyuruh Asisten Jang untuk masuk, dia yang membukakan pintu sendiri, melihat Angga bertelanjang dada, Asisten Jang jadi malu sendiri, mengerti apa yang dilakukan pengantin baru ini, Angga segera mengambil barang-barang yang di bawa Asisten Jang, dan segera menutup kembali ruangan kantornya, tidak lupa menguncinya.
Angga segera berjalan menuju kamar mandi pribadinya, mendengar suara shower yang masih menyala, dia lalu mengetuk pintu itu karena ternyata di kunci oleh Bella.
"Ya? " kata Bella mematikan showenya, lalu mencoba mencari handuk, ternyata tidak ada, dia lalu membuka seidkit pintu kamar mandinya.
"Kenapa mengunci pintunya? " kata Angga pada Bella.
"Ya kan aku sedang mandi, " kata Bella yang tidak ingin Angga kembali masuk begitu saja seperti di rumah.
"Ini handuknya, aku akan menunggu, " kata Angga memberitahukan bahwa dia juga ingin segera mandi.
"Baiklah, aku sudah selesai, "kata Bella lagi, dia menyambar handuk itu, dan segera mengeringkan tubuhnya dan segera mengunakan kembali bajunya. Tak lama dia keluar, Angga langsung masuk dan segera mandi. Saat Angga sudah selesai, dia tidak melihat Bella lagi di sana, dia hanya melihat catatan kecil di mejanya.
‘Aku sudah pulang, tidak akan menganggu pekerjaanmu, cepatlah pulang, aku menunggu, Istrimu.’
Angga mengulas senyum manis, pasti Bella takut akan di kerjai lagi oleh Angga jika dia ada di sana, Angga terus tersenyum, memasukkan catatan manis yang di buat istirnya itu ke kantung jasnya dan segera melakukan segala tugasnya yang tertunda sesaat.