
2 hari kemudian.
Jam di dinding menunjukkan pukul 09.00 malam, Jofan berjalan dengan cepat, mengarah ke kediaman Angga di markas militer, dia segera mengetuk pintunya dengan sedikit buru-buru. Judy segera membukakan pintu untuk Jofan.
"Selamat malam Tuan Jofan, " kata Judy memberi hormat.
"Aku ingin bertemu dengan Angga," kata Jofan.
"Tuan Angga sedang ada di kamarnya, harap menumggu Tuan, saya akan memanggilkan Tuan Angga," kata Judy segera masuk ke dalam, Jofan mengeluarkan gestur agar para ajudan dan penjaganya menunggu di luar, dia segera duduk di sofa yang ada di sana, wajahnya serius tampak berpikir. Tak lama Angga keluar menemuinya, Jofan langsung menatap Angga. Angga menyuruh Judy untuk meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa?" kata Angga duduk di kursinya.
"Aku sudah mendapatkan informasi dari Sania tentang yang terjadi di sana, dia mengirimkan sebuah sampel obat yang biasa di berikan untuk Ratu," kata Jofan.
"Ratu? Ratu yang mana? bukannya ibu Aksa sudah meninggal?" kata Angga kaget.
"Ibu Aksa masih hidup," kata Jofan menatap Angga serius.
"Bagaimana bisa?, pihak kerajaan sudah mengkonfirmasi bahwa Ratu Ayana meninggal 1 tahun setelah kematian Ibu dan Ayahku," kata Angga, otaknya berputar, pupil matanya membesar.
"Jangan-jangan ...." kata Angga menemukan sesuatu di otaknya.
"Ya, aku juga berpikiran seperti itu, Ratu Ayana adalah saksi atas pembunuhan orang tuamu," kata Jofan tegas, menunjukkan sebuah foto yang di kirimkan oleh Sania.
Angga mengertakkan giginya, menatap serius foto yang ada di handphone Jofan, melihat seorang wanita yang tampak pucat dan tertekan, namun tak menutupi kecantikannya.
"Dia di kurung di istana utama, di bagian menara sebelah utara, Sania mendapatkan posisi sangat strategis untuk menjadi pelayan yang merawat Ratu," kata Jofan.
"Bagaimana keadaannya?" kata Angga lagi.
"Mengalami kelainan mental, selalu diam, dan tiba-tiba lupa segalanya."
"Tentu, dia sudah di kurung 15 tahun di sana, siapa pun akan gila karena itu."
"Tapi kenapa? bukannya kalau dia merupakan satu-satunya saksi kejahatan Raja Leonal, kenapa dia tidak dibunuh saja oleh Raja, kenapa harus mengurungnya?"
"Aksa, aku yakin alasannya adalah Aksa, Aksa juga sudah pasti tahu dosa Ayahnya, untuk membuat dia diam, kalau Raja Leonal membunuh Ibunya, maka Aksa akan berontak, maka itu Raja Leonal hanya mengurungnya," kata Angga sambil menyampaikan logikanya.
"Masuk akal, oh, ya, Sania mengirimkan sampel obat ini pada ku kemarin, dia curiga ada yang tidak beres dengan obat ini, jadi dia mengirimnya, aku sudah menerima hasil pemeriksaan di laboratorium, ini ... " kata Jofan menyerahkan selembar kertas. "Aku juga belum membacanya."
Angga membuka kertas itu, meletakkanya di atas meja, agar dia dan Jofan sama-sama bisa membacanya.
Di sana tertulis bahwa obat itu merupakan sejenis obat dengan efek membuat orang tak bisa mengingat apa pun yang terjadi, juga bisa membius seseorang, efek jangka panjangalnya adalah kerusakan otak dan pola pikir, juga halusinasi.
Angga dan Jofan saling berpandangan, otak mereka sepetinya saling berpaut.
"Ini obat bius, mengapa di berikan untuk Ratu, Sania bilang obat ini di berikan 3 kali sehari untuk mengobati masalah mental Ratu, namun bukannya efeknya malah memperburuk keadaannya?" kata Jofan.
"Jadi maksudmu, ada kemungkinan sebenarnya Ratu adalah orang yang waras dan normal, namun sengaja dibuat gila?!" kata Jofan tak percaya, kalau begini ini lebih parah dari pembunuhan, dikurung 15 tahun saja sudah bisa membuat orang gila, ditambah mengkonsumsi obat begini, sama saja seperti penyiksaam yang sangat kejam, Jofan tak habis pikir, orang yang bisa berpikiran picik seperti ini sebenarnya adalah orang gila sebenarnya.
"Ya, dengan begitu dia tetap hidup untuk bisa mengendalikan Aksa, namun juga tak kompeten menjadi saksi, karena dia gila," kata Angga.
"Gila! benar-benar gila!" kata Jofan kaget, dia bahkan tak sadar suaranya membesar, dia melihat pil berwarna merah muda itu, tak terbayangkan harus meminum racun itu terus menerus.
Bella keluar dari kamarnya, awalnya hanya ingin mengambil minum, namun mendengar suara Jofan yang keras, Bella jadi penasaran dan menuju ke ruang tamu, melihat Angga dan Jofan yang sedang serius, Jofan mengenggam pil merah jambu, Bella langsung merasa pernah melihatnya.
"Ehm, ada apa?" kata Bella menegur Jofan dan Angga, perhatian mereka mengarah ke Bella seketika. " Maaf, tadi aku dengar suara keras dan langsung ke mari," kata Bella lagi.
"Oh, maaf kan aku, suaraku menganggu ya, Maaf, aku tahu ini sudah malam," kata Jofan sungkan. Perhatian Bella kembali ke pil itu, Jofan meletakkan obat itu di atas meja kaca di depannya.
"Ehm, boleh aku lihat obatnya?" kata Bella, berjalan mendekat dan mengambil obat itu, mengamatinya, bentuk dan ukiran di obat itu, dia akhirnya yakin.
Angga dan Jofan mengerutkan dahi menatap Bella yang sedang mengamati obat itu.
"Dari mana kalian mendapatkan obat ini, ini kan milik kerajaan," kata Bella. Angga langsung kaget, Bella tahu obat ini, jangan-jangan dia pernah memakannya.
"Kau tahu obat ini?" kata Angga dengan wajah seriusnya.
"Iya, ini obat khusus di buat oleh dokter kerajaan, aku tahu karena Aksa punya obat seperti ini, aku pernah mendengar, dia mengunakannya saat dia berpesta atau pergi ke klub," kata Bella menjelaskan.
"Jangan-jangan ...." kata Jofan menatap Angga.
"Obat ini juga digunakan Aksa untuk membius Mika, Bella, kau tidak pernah memakannya kan?" kata Angga cemas menatap Bella dengan tajam.
"Tidak, Aksa tak pernah memberikannya padaku," kata Bella polos yang sampai sekarang tidak tahu obat apa itu.
"Baguslah, bolehkah kami berbicara lagi berdua?" kata Angga lega lalu tersenyum manis pada Bella.
"Baiklah," kata Bella, dia juga tak mau terlalu ikut campur dengan urusan Angga dan Jofan, tapi dari mana mereka dapatkan obat itu?.
"Kalau begitu kita harus menghentikan pemberian obat ini, mudah-mudahan Ratu akan kembali normal," kata Jofan setelah Bella meninggalkan mereka.
"Ya, aku akan meminta dokter psikiatri untuk memberikan obat yang tepat, mudah-mudahan dia masih bisa ditolong, dia satu-satunya harapan kita,". kata Angga sedikit bersemangat, Akhirnya menemukan titik terang, Ayah dan Ibunya akan bisa tenang saat semua kebeneran akan terungkap.
"Ya, aku akan menyuruh Sania menghentikan obat ini dan memberikan obat dari doktermu," kata Jofan.
"Baiklah," kata Angga.
"Aku akan segera memberikan informasi lain jika sudah ada, baiklah, aku rasa aku akan pergi dulu," kata Jofan berdiri.
"Ya, aku akan menunggu mu, berhati-hati lah," kata Angga, Jofan hanya mengangguk, dia lalu keluar dari kediaman itu, Angga berjalan masuk ke dalam, sebelum langkahnya terhenti karena dihadang oleh Bella.