Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
149



Akan ku tanyakan pada diriku sendiri, Bagaimana cara aku menikmati rasanya patah hati?


_____________________________________________


"Ma, makan yang banyak ya, setelah ini harus makan obat," kata Bella mengelap sisa-sisa makanan yang ada di sisi-sisi bibir ibunya yang terus menatapnya.


"Ma, mulai sekarang izinkan aku menjagamu, Nakesha akan selalu ada di sampingmu, maafkan aku membiarkanmu terlalu lama mencariku, hingga keadaanmu seperti ini," kata Bella kembali mengenggam tangan ibunya yang hangat, mencium telapak tangannya, entah bagaimana? tiba - tiba air mata ibunya turun walau pun wajahnya masih datar, matanya mulai bergerak-gerak acak mencoba mengamati wajah Bella, melihat itu Bella terkejut, apa ibunya sudah mengerti apa yang di katakannya? Bella tersenyum senang, dan tanpa sadar air matanya sendiri pun mengalir


"Ma, kenapa kau menangis?, jangan menangis, aku ada di sini sekarang," kata Bella mengatakannya, menghapus air mata ibunya dan dirinya sendiri.


"Nakesha?" Kata ibunya berusaha memegang wajah Bella, Bella melihat itu rasanya bener-benar senang.


"Ya, Ma, ini aku."


"Nakesha, Anakku, Nakesha, mereka menculikmu?" Kata Ibu Bella segera menariknya dalam pelukkannya, dia memeluknya dengan sangat erat, Bella pun melakukan hal yang sama, memeluk erat tubuh ibunya yang terasa sangat kurus, bagaikan memeluk sebongkah tulang.


Namun kehangatan itu tak bisa mengalahkan apa pun, Bella rela melakukan apa saja agar terus bisa merasakan kehangatan ini, air mata kerinduan yang sudah berkumpul 20 tahun ini, mengalir anggun di antara kedua matanya yany indah, Akhirnya ibu dan anak bisa bersatu kembali. Ibu Bella mengelus rambutnya dengan sangat pelan dan penuh dengan perasaan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara wanita itu tiba-tiba muncul, menyadarkan Bella, membuat dia melepaskan pelukan ibunya, menatap Nakesha sudah ada di ambang pintu.


Bella menghapus air matanya, Ibunya tampak bingung menatap Bella dan Nakesha beberapa kali.


"Nakesha?" Katanya melihat Nakesha lalu beralih pada Bella.


"Tidak Ma, aku Nakeshamu, kau keluarlah," kata Nakesha memeluk kepala ibunya yang terlihat pasrah, berusaha agar ibunya tak lagi melihat Bella.


"Aku tidak akan keluar, dia ibu kandungku, kau tak boleh memisahkanku dengan ibuku," kata Bella, dia sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan Nakesha


"Lalu apa? Kau memang anak kandungnya, tapi di mana kau 20 tahun ini?, kau hidup dengan enak, meninggalkannya sendiri dan selama 20 tahun ini aku yang menjaganya, walau pun tak bergelimang harta sepertimu, kami hidup bahagia."


"Itu bukan salahku, aku juga ingin mencarinya, dan apa kau tidak tahu kami di pisahkan secara paksa?" Kata Bella sekali lagi mencoba bicara dengan nada baik pada Nakesha, mencoba agar Nakesha mengerti keadaanya, bukannya dia senang dipisahkan dengan ibunya walau pun ditukar dengan hidup bergelimang harta.


"Tetap saja kau tidak bisa mengambil ibuku,"


"Dia itu ibuku Nakesha!" Kata Bella tak sabar lagi.


"Baiklah, kau ingin ibumu?"


"Kalau begitu, sebagai gantinya, berikan priamu dan hidupmu itu padaku!, Bisakah kau melakukannya?" Kata Nakesha dengan mata memerah, memandang Bella dengan sangat penuh ke bencian.


Bella terdiam, matanya menatap lurus pada mata Nakesha? Apa? Dia ingin Angga? Bagaimana dia bisa meminta Angga sebagai ganti ibunya? mengapa wanita ini bisa begitu kejam?.


"Apa kau tak punya malu? Meminta hal yang bukan punya mu, aku kira kau wanita yang baik walau pun tempramenmu buruk, tapi aku tidak menyangka, kau tega menyuruhku menukar kekasihku dengan ibuku?!" Kata Bella geram menatap Nakesha.


Nakesha tertawa sedikit sinis, menatap Bella seakan merendahkannya.


"Lihatlah, pada akhirnya kau hanya wanita egois Nona, kau sudah punya hidup yang indah, priamu kaya dan melindungimu bahkan membuat tempat ini bagaikan markas militer, dan kau masih meminta satu-satu hal yang aku punya? Kau tidak bisa memiliki semuanya, pilih lah, priamu atau ibumu? Aku ingin tahu, seberapa besar kau bisa merelakan hidup indah mu ini hanya untuk ibuku?" Kata Nakesha dengan tawa mengejek.


"Itu tak adil." Kata Bella mengeleng-gelengkan kepalanya, wajahnya sedih, dia tahu bagaimana dalamnya perasaanya pada Angga, bahkan dia sudah sangat ketergantungan dengan pria itu, sehari saja tak melihatnya, dia benar-benar merindukannya. Tapi dia hanya punya satu ibu di dunia ini? dan dia tak ingin lagi berpisah dengannya.


"Hahaha, kau baru tahu bahwa dunia ini tak adil Nona, oh ya aku lupa? Kau hidup dengan sangat enak 20 tahun ini bukan? Di mana aku dan ibuku harus bekerja keras hanya untuk bisa bertahan hidup, ibuku satu-satunya yang aku miliki, jika kau ingin mengambilnya, maka berikan aku hidupmu!" Kata Nakesha lagi.


Bella tak tahan lagi, dia lalu menampar Nakesha, apa yang wanita ini tahu tentang hidupnya? Bertahan hidup terpenjara selama 20 tahun, saat di kira dia akan bebas, malangnya dia ternyata harus dibunuh, harus hidup dalam bayang-banyang orang lain, sekarang bahkan dia tak bisa kemana-mana dengan bebas karena keselamatannya terancam, dan saat dia menemukan cinta dan ibunya, dia harus menukar keduanya agar bisa memiliki salah satu dari mereka.


Nakesha yang menerima tamparan itu hanya bisa menatap Bella dengan mata merah padam.


"Nona, Tuan Angga akan tiba sebentar lagi, " kata Judy memberitahu Bella.


Bella mendengar itu, tangannya di kepalkan dengan erat, dia lalu menatap ibunya sebentar yang tampak pasrah di pelukan Nakesha, menatap Nakesha dengan tatapan penuh kamarahan, Nakesha pun membalasnya, dia mengambil tasnya, lalu berputar dan berjalan keluar.


"Hei, Nona, jangan menyesal dengan keputusanmu, jika kau memilih pria itu, maka akan ku pastikan seumur hidupmu, kau tidak akan pernah bertemu ibumu lagi," Kata Nakesha lantang.


Bella yang mendengar itu hanya terdiam, tangannya makin dia kepalkan, dia menahan seluruh emosinya, kalau tidak terdidik dengan baik, mungkin Bella sudah akan lebih menyerang wanita itu dari tadi.


"Aku akan memberitahumu jika aku sudah memutuskan," kata Bella lagi dengan suara begetar, hatinya kacau, sedih dan marah bersatu, membuat kepalanya terasa ingin pecah lagi.


Bella lalu segera keluar dari ruangan itu, tak ingin mengambil keputusan gegabah, karna mengambil keputusan saat penuh amarah adalah hal yang paling tak boleh di lakukan, pasti hanya penyesalan yang ada.


Nakesha tersenyum puas, wanita egois itu? Mana mungkin bisa melepaskan hidupnya yang begitu indah hanya demi ibunya, dia ingin lihat apa yang bisa di lakukan wanita itu, Nakesha sungguh membencinya!.


"Ma, kita pindah ya?" kata Nakesha berbisik