
Matahari baru saja seperuhnya turun, kembali ke peraduannya, membuat bulan menjadi satu-satunya cahaya menerangi permukaan bumi, Nakesha menunggu dengan cemas, beberapa hari yang lalu dia tidak bisa ikut menjemput Archie karena masalah dokumen, dan keadaan Archie sudah tidak bisa menunggu lagi karena itu Daihan meyuruhnya untuk tinggal dan menyambut ke datangannya, dan sekarang dia sudah ada di bandara, Menunggu dengan cemas di temani oleh Asisten Yu yang setia menemaninya.
Udara di ruang khusus menunggu itu sangat dingin, membuat Nakesha harus beberapa kali mengusap lengannya sendiri, Dia sengaja kembali mengunakan gaun agar saat bertemu dengan Archie dia akan terlihat sedikit anggun dan keibuan.
"Jet pribadi Tuan Daihan sudah mendarat Nona, apakah Anda ingin menjemput beliau?" kata Asisten Yu. Nakesha mengangguk dengan mantap.
Asisten Yu segera menyiapkan semuanya, lalu segara mengarahkan Nakesha ke tempat dia bisa menjemput langsung Archie dan Daihan. Dia berdiri dengan sedikit gugup, dia tidak tahu harus bagaimana nantinya jika bertemu dengan Archie, ambulans juga di sediakan di sana.
Pintu pesawat itu terbuka, Nakesha menarik napas panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya dan mencoba membuat dirinya siap, Daihan turun sambil mengendong Archie yang terbungkus selimut berwarna biru muda, dia tampak panik, melihat itu Nakesha tahu bahwa keadaan Archie tidak main-main, bahkan Daihan segera menuju ke ambulans, Nakesha pun menuju ke sana, Archie segera di tidurkan di ranjang pasien yang ada di dalam ambulans, Daihan masuk, dia lalu menjulurkan tangannya pada Nakesha, Asisten Yu membantu Nakesha masuk ke dalam dan duduk di samping Daihan.
Pintu ambulans langsung di tutup, perawat di sana segera memberikan oksigen pada Archie, Nakesha langsung memperhatikan Archie, wajahnya pucat, tubuhnya tidak terlalu gemuk namun cukup mengemaskan dengan pipi tembemnya, dia tampak tertidur, Nakesha segera menyentuh tangannya yang kecil, sudah terpasang infus dari sananya, terasa sangat panas.
"Dia demam? " kata Nakesha pada Daihan yang wajahnya dari tadi tampak tegang dan cemas.
"Ya, tidak turun-turun dari aku menjemputnya," kata Daihan.
Tangan Nakesha langsung di genggam erat oleh Archie tiba-tiba, seolah dia tahu bahwa ibunya ada di sana, Nakesha langsung kaget dan tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh Archie walau pun mata Archie masih tertutup, Nakesha segera mendekatkan bibirnya ke telinga Archie.
"Ibu di sini sayang, maafkan ibu lama meninggalkanmu, ibu ada di sini, cepatlah bangun, ibu akan selalu ada di sisimu mulai sekarang, sehat ya nak, ibu ada di sini," kata Nakesha begitu lembut, Daihan mendengarnya terdiam, tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh Neksha, Seandainya ibu Archie seperti Nakesha, dia pasti sangat bahagia, Nakesha mengelus kepala Archie, menyanyikan lagu anak-anak yang dia tahu dengan suara merdunya, bahkan perawat yang ada di sana sampai terkagum dengan suara dan tindakan Nakesha.
Tak lama mereka sampai ke rumah sakit milik Angga, dan segera mereka membawa Archie ke IGD, Dokter melarang Nakesha maupun Daihan untuk masuk ke dalam, jadi mereka hanya berdiri di depan ruangan itu. Daihan tampak begitu cemas, Dia hanya bisa duduk sambil menopangkan tangannya di kedua pahanya, terkadang mencoba menarik napasnya dalam-dalam, terlihat begitu gelisah.
Nakesha yang memperhatikan kelakuannya Daihan hanya bisa diam, Dia tak tahu harus apa, mereka menunggu cukup lama di sana, hingga dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana dok? " kata Daihan secepat kilat bangkit lalu segera mendekati dokter itu.
"Keadaannya stabil, kita sedang berusaha membuat demamnya turun, tadi kami juga sudah mengambil sampel darahnya, mudah-mudahan kita bisa mendapatkan penyebab dari penyakitnya ini, Archie akan kita pindahkan ke ruang rawat, kami akan melakukan sebaik mungkin, " kata dokter itu menjelaskan, mencoba membuat Daihan tenang, namun dia tetap tidak bisa tenang.
Tak lama ranjang Archie di dorong keluar dari IGD segera menuju ruang rawatnya, di dalam ruang rawat itu Daihan hanya duduk di samping ranjang Archie yang masih tertidur, Nakesha yang ada di sana juga hanya duduk di sisinya yang lain.
"Terima kasih sudah menjemput kami, seharusnya pertemuaan kalian bukan seperti ini? " kata Daihan sedikit memecahkan suasana.
"Baiklah, ehm, kau sudah makan? aku akan menyuruh Asisten Yu untuk membelikan makanan untuk kita, " kata Daihan.
"Ya, baiklah," kata Nakesha.
Daihan berdiri, lalu menuju keluar, Nakesha memandangi wajah Archie, dia tidak pernah bertemu dengan Aksa, namun saat melihat Archie dia tahu wajahnya mirip sekali dengan kakaknya, tentu saja juga mirip dengannya. Nakesha tersenyum, lalu sedikit mengusap kepala Archie, dalam tidurnya Archie tersenyum, hal ini membuat Nakesha kaget, namun juga tersentuh, anak begitu manis, kenapa kakaknya tega ingin membuangnya dulu.
Daihan masuk, Nakesha lalu menatapnya, Daihan membawa beberapa keperluannya, sepertinya dia ingin mandi.
"Aku ingin membersihkan diri dulu, jika ada apa-apa, jangan sungkan memanggilku," kata Daihan.
"Iya, " kata Nakesha seadaanya.
Nakesha terus menjaga Archie, namun tak lama Archie terbangun, dia langsung menangis, mungkin karena demamnya yang tinggi, bisa juga karena merasa sakit, namun karena umurnya baru 1 tahun, dia tidak bisa mengatakannya sejelasnya, Nakesha melihat Archie yang langsung menangis sangat keras itu bingung, walau pun dia menyukai anak-anak, namun dia belum punya pengalaman dalam menjaga anak sama sekali.
Nakesha langsung mengendong Archie dengan perlahan, dia lalu mencoba menenangkan Archie, Archie akhirnya menatap Nakesha, matanya yang hitam namun sayu itu memperhatikan wajah Nakesha, Nakesha yang akhirnya bisa melihat mata Archie yang indah itu tersenyum senang, bahkan sangat senang, Archie terus mengamati wajah Nakesha.
Nakesha bergumam, mengeluarkan senandung yang bisa dia keluarkan agar membuat Archie merasa tenang, dan mungkin karena bisa merasakan ketulusan hati Nakesha dalam merawatnya, Archie perlahan-lahan mulai kembali menutup matanya, beberapa kali hampir tertutup namun seolah tidak ingin kehilangan wajah Nakesha dia berusaha membukanya lagi.
Daihan keluar dari kamar mandinya, menggunakan pakaian yang lebih santai, sweater dan celana panjang, dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika melihat dan mendengar Nakesha sedang menimang Archie dalam gendongannya, suara senandung lagu yang di buat Nakesha terdengar sangat lembut, membuat siapa pun yang mendengarnya akan ikut terbuai.
Daihan mendekati Nakesha perlahan, Nakesha langsung sadar atas kedatangan Daihan. Daihan hanya tersenyum manis.
"Dia bangun dan menangis, karena itu aku mengendongnya, " kata Nakesha pelan agar tidak menganggu Archie, bahkan walau pun sudah mengecilkan suaranya, tetap saja Nakesha membuat Archie kembali terbangun, namun dengan sigap Nakesha kembali mengeluarkan senandung lagunya sekalian menimang tubuh Archie, hingga dia kembali terbuai.
Nakesha benar-benar sibuk membuat Archie merasa nyaman, hingga tidak memperhatikan Diahan yang hanya menatapnya dengan sendu, Daihan merasa pemandangan yang di lihatnya sekarang begitu indah, melihat Nakesha mengendong Archie dengan tulus dan penuh kasih sayang, seperti sebuah mimpi di mana dia selalu ingin melihat Archie mendapatkan kembali kasih sayang dari ibunya yang tidak mungkin dia dapatkan, namun sekarang, semua itu ternyata bisa terwujud karena Nakesha.
Tak lama pintu diketuk, Mereka berdua langsung sama-sama melihat ke arah pintu, Daihan dengan cepat berjalan menuju pintu itu, ternyata Asisten Yu yang membawakan beberapa makanan untuk mereka, Daihan menyuruh Asisten Yu untuk meletakkan makanannya di meja makan di ruang rawat Archie.