Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
224



Daihan masuk ke dalam mobilnya, Nakesha juga mengikutinya, Nakesha segera menarik seatbelt tempat duduknya, mungkin karena gelap dia tidak bisa memasangkannya, Daihan yang baru saja selesai memasang seatbeltnya langsung membantu Nakesha, dia menarik seatbelt itu dan memasangkannya perlahan.


"Terima kasih," kata Nakesha canggung pada Daihan.


"Sama-sama," kata Daihan.


Daihan segera mengemudikan mobilnya, menerobos hutan yang lebat di belakang mobil pengawalan Jofan, mereka segera berpisah arah ketika sampai di jalan besar, suasana di mobil itu sepi, tidak ada yang berbicara, baik Nakesha mau pun Daihan, Nakesha menatap lurus ke jalan yang sudah gelap, terasa cangung untuk mereka berdua.


"Kenapa kau tadi melakukan hal itu?" kata Nakesha melirik Daihan.


"Ehm, melakukan apa?" kata Daihan tampak konsen memperhatikan jalannya di depan.


"Tadi, tentang ‘Kami’, "kata Nakesha lagi melirik wajah serius Daihan.


5 bulan ini tidak ada yang terjadi pada mereka, Daihan sibuk dengan pekerjaannya membantu Angga, Nakesha lah yang menjaga Archie sekarang, mereka jarang bertemu, apa lagi berkomunikasi, sesekali Daihan datang, itu juga untuk melihat Archie dan bukan dia. Daihan memang terlihat sibuk, tapi Nakesha sangat tahu kenapa dia sibuk, dia ingin membuang semua pikirannya agar tak terlalu fokus dengan Bella, Daihan juga terlalu khawatir dengan Bella, tapi karena takut hal itu akan membuat Angga terganggu, dia hanya bisa memendam ke khawatiran itu sendiri.


"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin membuat Angga dan Bella menjadi canggung melihatku di sana, dengan begini mereka akan berpikir aku bukan lagi penganggu bagi mereka," kata Daihan, matanya lurus menatap jalanan yang kosong, sekosong perasaannya sekarang.


"Oh, menjadikanku tameng ya? padahal bagaimana pun kau tetap mencintai kakakku, bukan?" kata Nakesha yang memang tidak pernah bisa menutupi perasaannya sambil tertawa sinis.


"Maafkan aku," kata Daihan.


Mendengar kata-kata maaf Daihan, Nakesha bukannya tenang dia malah menjadi lebih marah, dia tak tahu apa yang ada di pikiran Daihan, Bella itu istri sahabatnya sendiri, bahkan sekarang sudah mengandung anak dari sahabatnya itu, kenapa dia masih saja mencintai Bella?, apa yang Daihan harapkan dari kakaknya?.


"Untuk apa minta maaf, mengunakan ku agar tetap bisa berdekatan dengan kakakku dengan leluasa, itu bukan hal yang harus kau mintai maaf, walau pun hal itu cukup kejam, "kata Nakesha lagi dengan ketus, dia membuang pandangannya jauh ke luar jendela yang gelap, menampakkan refleksi wajahnya dengan jelas di kaca jendela itu.


Daihan terdiam, dia sedikit mengertakkan giginya, tak tahu apa yang dipikirkannya tadi dengan membuat seolah-olah dia dan Nakesha ada hubungan sekarang, tapi dia memang tak ingin canggung berhubungan dengan Angga, terutama dengan Bella.


Mobil mereka terus melaju dalam hening, tak ada satu pun dari mereka mulai berbicara lagi, hingga mobil Daihan berhenti di depan gedung apartemen Nakesha. Nakesha segera bersiap turun, tapi dia juga melihat Daihan membuka seatbeltnya.


"Kau ingin apa? " kata Nakesha yang masih sedikit emosi dengan Daihan.


"Sudah malam, aku akan menantarkan mu ke apartemenmu, " kata Daihan.


"Tidak perlu, jika Archie melihatmu, dia tidak akan ingin berpisah denganmu," kata Nakesha lagi, masih sada nada ketus di  bicaranya, dia membuka seatbeltnya, lalu keluar.


Daihan yang melihat itu hanya mengigit bibir, namun dia tetap memutuskan untuk mengantar Nakesha, dia lalu segera mengejar Nakesha yang sudah berjalan cukup jauh ke dalam gedung itu.  Di depan Lift, Daihan langsung menekan tombol ke atas, mendahului Nakesha, Nakesha tentu terkejut, bukannya dia sudah mengusir Daihan secara halus tadi.


"Tidak baik wanita pulang sendiri malam-malam begini," kata Daihan cukup salah tingkah.


"Oh, Terima kasih untuk perhatiannya," kata Nakesha lagi, dia berdiri diam, lalu segera masuk ketika pintu lift terbuka, Daihan segera menekan lantai apartemen Nakesha.


Dari pantulan pintu lift itu, Daihan bisa melihat wajah cemberut dari Nakesha, sebenarnya cukup imut dan lucu, membuat Daihan yang melihat itu tersenyum tipis, Nakesha dapat menangkap senyum tipis itu.


"Kenapa tersenyum? "kata Nakesha.


"Bisa tidak jangan bertampang cemberut seperti itu, Archie akan takut melihat ibunya pulang dengan wajah cemberut seperti itu," kata Daihan melihat Nakesha yang berdiri di belakangnya.


Nakesha langsung tersenyum lebar yang di buat-buat pada Daihan, melihat itu Daihan malah jadi tambah merasa gadis ini terlihat imut sekali, jadi dia malah tertawa. Membuat Nakesha tambah kesal, saat pintu terbuka, Nakesha buru-buru keluar dan memotong ****** Daihan, Daihan yang melihat tingkah Nakesha hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Nekesha segera menekan bel apartemennya, dia lalu melirik Daihan.


"Aku sudah sampai di rumah, pulang lah," kata Nakesha mengusir Daihan.


"Aku sudah di sini, aku akan melihat Archie sebentar," kata Daihan mencari alasan, hanya saja tidak ingin langsung pulang. Nakesha yang melihat Daihan hanya memutar matanya dan menunjukkan wajah malas, pria ini maunya apa sih?.


Pintu Apartemen itu terbuka, seketika wajah Nakesha yang tadi kesal dan cemberut berubah 90 derajat menjadi sangat ramah dan lembut, apa lagi dia melihat Archie yang berlari ke arahnya di kawal oleh pengasuhnya, Nakesha langsung mengendong keponakannya itu, namun Archie langsung berontak ketika melihat Daihan.


"Wah, Archie belum tidur, " kata Daihan mengambil Archie dari gendongan Daihan, membuat Nekesha makin ‘Be-te’ melihatnya. Nakesha masuk, lalu Daihan dan Archie.


"Archie, ibu bersih-bersih dulu, setelah ibu selesai, kita tidur ya," kata Nakesha lembut, Daihan yang melihat itu tersenyum manis, suka sekalli melihat perubahan Nakesha yang jadi begitu lembut.


Archie tak melihat ibunya, hanya mengangguk, seperti mengerti, dia lebih sibuk bermanja dengan Daihan.


Nakesha lalu melihat Daihan, wajahnya kembali kesal, namun dia segera masuk dan berberes diri. Setelah selesai Nakesha segera keluar dari kamarnya dan melihat Archie masih begitu semangat bermain dengan Daihan.


"Wah, sudah malam, Archie tidur yuk,"kata Nakesha merayu Archie.


"No, no,"kata Archie langsung masuk ke dalam pelukan Daihan, seolah mengatakan dia tidak ingin lepas dari papanya.


"Sudah malam nak, yuk, Papa juga harus istirahat, karena besok papa harus bekerja lagi, " kata Nakesha memberikan penjelasan, Archie melingkarkan tangannya di leher Daihan dan segera bersender di bahu Daihan dengan sangat manja. Nakesha tidak bisa melihat wajah Archie yang memelas seperti itu.


"Bolehkah aku menemaninya tidur malam ini? " kata Daihan.


"Kamar di sini hanya dua, 1 untuk pengasuh, 1 lagi untuk kami, "kata Nakesha lagi.


"Aku akan pulang setelah dia tidur," kata Daihan lagi.


Melihat wajah Archie yang benar-benar tidak bisa dipisahkan oleh papanya dan juga wajah Daihan yang kelihatan juga berharap, Nakesha tidak bisa menolaknya.


"Baiklah," kata Nakesha lagi.


Daihan langsung terlihat sumringah, dia langsung mengendong Archie.


"Kita tidur ya, papa akan menemani Archie tidur malam ini," kata Daihan pada Archie yang mengantung manja pada ayahnya.  Archie tampak mengangguk kecil, seolah mengerti. Daihan langsung membawa Archie ke kamarnya, meletakannya ke ranjang yang cukup untuk 2 orang dewasa, meletakannya di tengah. Daihan segera membuka Jasnya.


"Apa yang kau lakukan?" kata Nakesha kaget melihat Daihan membuka jasnya.


"Aku ingin menidurkan Archie, bagaimana menidurkannya jika mengunakan jas seperti ini," kata Daihan menatap Nakesha.


"Oh … " kata Nakesha, dia sudah berpikir yang tidak-tidak.


Daihan segera tidur di samping Archie yang langsung memeluknya, seolah tak ingin papanya pergi, Nakesha yang cangung bingung harus apa, di kamar itu tidak ada sofa atau apa pun, masa dia harus duduk di lantai.


"Kau bisa duduk di samping Archie, aku hanya sebentar, aku yakin sebentar lagi dia akan tidur," kata Daihan mengelus kepala Archie.


"Hmm … ok," kata Nakesha, dia segera duduk di ranjang itu, bersandar sebentar dengan menumpukkan beberapa bantal, dia lalu mengambil novel tebal yang belum selesai dia baca, dan mulai membaca.


Awalnya masih ada tawa dan gumaman kecil dari Archie, juga ada senandung kecil dari Daihan, entah karena terlalu asik membaca atau bagaimana, Nakesha baru menyadari ruangan itu menjadi senyap, dia lalu melihat ke arah Daihan dan Archie, dan mereka berdua sudah tidur dengan tenang.


Nakesha tentu kaget, namun juga tidak enak membangunkan Daihan yang sudah tidur dengan begitu tenang, wajahnya yang tampan itu benar-benar membuat Nakesha terpesona, sayang sekali, pria ini tidak akan pernah bisa menerima dirinya, karena sampai kapan pun yang ada di hatinya hanya Bella.


Nekesha perlahan turun dari ranjangnya, membuka lemari dan mengambil selimut tambahan, dia lalu perlahan-lahan menyelimuti tubuh Daihan. Hah … sepertinya dia akan tidur di ruang tengah. Tapi baru saja dia ingin berjalan.


"Bu … bubu… "kata Archie yang mengeliat, merengek namun matanya tertutup, Nakesha langsung naik ke ranjang dan tiduran di samping Archie, mengosok-gosok punggungnya seperti yang dia suka lakukan, Archie masih mengeliat, namun dia langsung merasa nyaman, sekarang Nakesha berbaring melihat wajah Daihan yang tertidur menghadapnya, terlalu indah pemandangannya, membua Nakesha tersenyum manis.


Archie masih mengeliat saat Nakesha menghentikan elusannya untuk pindah karena dia sudah mulai mengantuk, tapi karena itu dia harus terus mengelus punggung Archie dan akhirnya entah bagaimana, dia malah tertidur di sana, satu ranjang dengan Daihan.


Daihan membuka matanya ketika Nakesha sudah dipastikannya tidur, dia tersenyum manis sekali melihat wajah imut Nakesha tertidur, dia bahkan lebih imut dan cantik saat tertidur seperti ini, benar-benar alami sekali, kenapa Daihan baru menyadarinya.


Awalanya Daihan hanya ingin menidurkan Archie, namun entah kenapa dia merasa ingin ada di sini malam ini, karena itu dia pura-pura tidur, dan tak menyangka Nakesha bukannya membangunkannya dia malah menyelimuti Daihan, dan sekarang dia malah tidur bersama di sampingnya.


Dia menarik selimut yang ada di kaki Nakesha, menyelimutinya perlahan, lalu dia kembali berbaring di tempatnya, sebelum dia menutup matanya dia mencium pipi Archie, lalu mengelus pipi Nakesha yang sudah terlelap sangat nyenyak, senyuman manis menghias wajahnya.