
"Bella apa yang kau lakukan? "kata Aksa kaget, dia segera ingin mendekati Bella.
"Majulah selangkah lagi, kau akan mendengarkan kepalaku meledak,"kata Bella tegas, wajahnya serius diantara linangan air mata yang tersisa.
Aksa yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya, dia benar-benar ngeri melihat pemandangan di depannya, dia tidak akan membiarkan Bella bunuh diri, untuk apa dia melakukan semua ini jika akhirnya Bella bunuh diri, dia tidak akan mengizinkan Bella bunuh diri.
"Dokter keluarlah, aku tidak ingin kalian melihat kematianku," kata Bella pada para petugas medis yang ada di sana, mereka yang melihat itu perlahan-lahan meyetujuinya, mereka segera keluar dari ruangan itu, dan menutup pintu ruang IGD itu, untungnya tidak ada lagi pasien yang lain di sana, hanya ada Bella, Aksa dan penjaganya.
Mata Bella terus menatap tajam pada Aksa, dia tidak membiarkan Aksa sedikit pun bergerak.
"Bella turunkan pistol itu, apa kau sudah gila? " kata Aksa mencoba membuat Bella mengurungkan niatnya, namun Bella tak bergeming.
"Gila? Aku memang sudah gila, ibuku seorang yang memiliki penyakit mental, besar kemungkinan aku juga memilikinya, " kata Bella histeris, akal sehatnya sudah tertutupi dengan segala perasaan yang sekarang campur aduk di kepalanya, sepertinya dia benar-benar sudah gila, Suaminya sudah meninggal di saat dia mendapat kan kabar bahwa dia hamil, dia bahkan sekarang harus tinggal bersama orang yang sudah membunuh suaminya dan ingin membunuh anak yang ada di kandungannya, jadi tentu dia bisa gila dengan semua ini.
Angga aku akan menyusulmu bersama anak kita, hanya itu yang ada di pikiran Bella sekarang.
"Apa yang kau mau Bella? "kata Aksa mencoba perlahan mendekatin Bella lagi, namun Bella kemudian lebih siap menembakan dirinya, membuat Aksa mengurungkan niatnya, menatap ngeri kepada Bella, dia benar-benar tidak rela Bella mati seperti ini, bagaimana pun kelakukaannya, Bella adalah wanita yang sekarang dia cintai.
"Kalau kau mati, anakmu juga akan mati, apa yang kau pikirkan? "kata Aksa lagi mengingatkan Bella.
"Kalau aku hidup, dia juga akan mati, jadi untuk apa aku hidup?, kau tak akan membiarkannya hidup kan! Kau sudah membunuh suamiku, aku tahu kau juga akan membunuh anakku, karena itu aku … "kata Bella.
Bella menarik pelatuk dari pistol itu, suara pistol itu terdengar.
Aksa lemas dan kaget dengan apa yang baru dia dengar, seluruh tubuhnya lemas, dia gemetar, ketakutan yang amat sangat terbersit di matanya, namun ternyata pistol itu tidak hanya meledakkan suara tanpa peluru, Bella bergetar mendengarkan suaranya, matanya terpejam, air matanya merembes keluar berpikir ini adalah saat terakhirnya namun kenapa dia tidak mati?.
"Pistol itu berisi?" tanya Aksa pada penjaganya, wajahnya benar-benar cemas.
"Ya, itu bagian yang kosong, ada 2 peluru di dalamnya, 3 kosong," kata Penjaga itu juga masih syok dengan apa baru dia liat.
Bella mendengarnya. Aksa segera melihat Bella lagi, dia memandang Bella dalam, ternyata wanita ini benar-benar ingin mengakhiri hidupnya, entah kenapa sekarang Aksa yang benar-benar ketakutan, dia benar-benar ketakutan kehilangan Bella. Yang satu ini dia beruntung karena Bella tidak meninggal, namun apakah bisa keberuntungan datang lagi?.
"Aku tidak ingin dirimu, aku ingin bersatu dengan suamiku, kami akan menyusulnya,"kata Bella dengan sangat histeris, di antara tangisannya, Bella lalu menyunggingkan sebuah senyuman manis, senyuman yang mebuat Aksa semakin gemetaran.
Bella sekali lagi menarik pelatuknya, membuat Aksa kembali terpaku.
"Bella!! "kata Aksa lagi dengan penuh kengerian, dia bahkan hingga gemetar hebat melihat tingkah Bella yang serius ingin mengakhiri hidupnya di depan Aksa, sekali lagi suara pistol terdengar dan ternyata itu masih kosong. Sekali lagi semua tegang dan cemas.
"Bella, aku berjanji tidak akan menyentuh dirimu dan anakmu, aku berjanji akan membiarkan kalian hidup, aku berjanji tak akan menganggu hidup kalian, asalkan kau tetap hidup!, Jangan lakukan itu lagi, tolong! "kata Aksa memelas, baru kali ini dia memelas pada seorang wanita, bahkan ini pertama kalinya dia memelas.
Bella masih menangis, dia sudah sangat siap mati, tapi kenapa dia sama sekali tidak bisa mati, seolah Tuhan tidak mengizinkannya mengakhiri penderitaannya di dunia ini, sampai kapan lagi dia harus menanggung penderitaan ini?.
"Aku mohon, lepaskan pistol itu, aku berjanji, kau boleh lakukan apa pun jika aku nantinya tidak menepati janjiku, lahirkan anak itu, jangan mati, aku mohon, hanya itu, tolong jangan tinggalkan aku, berilah kesempatan Anakmu hidup, aku tak akan menyentuh atau menyakiti kalian,"kata Aksa lagi mencoba mengurungkan niat Bella sekali lagi.
Bella yang mulai sadar apa yang dia lakakukan hanya menangis dengan keras, dia hampir saja menghabisi nyawanya dan anaknya, 1 kali lagi, kemungkinan besar dia benar-benar akan mati. Bella menjatuhkan pistol itu dari tangannya.
Penjaga itu dengan sigap mengambilnya, memeriksa pelurunya, jika Bella melanjutkan aksinya, kali ini kepalanya pasti tertembus timah panas, Penjaga itu menunjukkan peluru itu pada Aksa, Aksa yang melihatnya langsung benar-benar tak bisa bernapas, untungnya dia bisa membujuk wanita itu.
"Panggilkan dokter, biarkan mereka merawat dia,"kata Aksa segera keluar dari IGD itu, para dokter,perawat juga Shella yang menunggu cemas di luar segera masuk ke dalam, mereka segera mengecek keadaan Bella karena mendengar suara pistol tadi, untungnya tidak ada apa-apa, Bella hanya bisa menangis di dalam pelukan Shella.
"Nona, sudah jangan menangis,"kata Shella dengan sangat prihatin meliaht keadaan Bella, ternyata Nona ini benar-benar menderita.
Aksa keluar dari sana, dia langsung menyandarkan tangannya ke tembok, seluruh tubuhnya benar-benar lemas, dia tidak bisa membayangkan melihat kematian Bella di depan matanya, dia tidak bisa membayangkan timah panas itu menembus kepala Bella, kali ini dia benar-benar tahu, dia tidak bisa kehilangan Bella, dia tidak akan bisa jika kehilangan wanita itu.
"Pangeran, Anda tidak apa-apa? " kata penjaga itu yang melihat wajah pucat Aksa.
"Awasi dia, jangan sampai dia melakukan hal yang tidak-tidak lagi,"kata Aksa tercekat, masih belum bisa mengatasi rasa takut yang baru di alaminya.
"Baik, Pangeran,"kata Penjaga itu,
Aksa langsung pergi dari sana.