Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
119



"Angga, aku pusing." kata Bella sedikit lirih, bingung dengan keadaan yang terjadi sekarang.


"Baiklah." kata Angga, Angga lalu segera mengendong Bella, membawanya ke ranjang.


Daihan yang melihat kelakuan Angga itu hanya terdiam, mengigit bibirnya lalu melihat ke arah Angga membawa Bella. Jofan yang melihat tingkah Angga, hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


Bella menatap Angga yang mengendongnya ke ranjang, dia juga melihat Daihan yang ada di belakang Angga, dia jadi bingung dia harus apa sekarang.


Angga meletakkan Bella dengan perlahan di ranjangnya, menaruhkan beberapa bantal untuk Bella agar bisa duduk, dia juga menyelimuti kaki Bella, Bella yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu senang, jadi dia tersenyum manis untuk Angga.


Daihan yang melihat senyuman itu terasa terpukul, melihat senyuman Bella itu dia tahu siapa yang sekarang ada di hati Bella, ternyata apa yang di katakan oleh Angga benar. Tapi bagaimana dia bisa merelakan cinta pertamanya ini.


"Masih pusing?" kata Angga


"Tidak." kata Bella tersenyum, tapi senyumnya sedikit pudar melihat Daihan yang sekarang menatapnya nanar.


"Kak, apa kabar?" kata Bella mencoba untuk menyapa Daihan sekali lagi, dia tidak mungkin mengabaikan Daihan yang ada di sana.


"Baik. Bagaimana dengan keadaanmu?" kata Daihan berusaha memberikan senyuman manisnya. Angga yang melihat itu hanya terdiam.


"Aku juga baik. Tidak perlu khawatir, hanya sedikit nyeri di kepala. Terima kasih sudah menjengukku." kata Bella lagi, Bella sedikit melirik Angga yang tampak risih dengan keadaan mereka. Apa lagi sekarang Daihan berpindah menjadi di sisi Bella satunya lagi, Bella benar-benar merasa cangung di antara mereka berdua sekarang.


"Ah, Nona Bella, bukankah sedikit pusing, kemarin dokter mengatakan Anda harus banyak istirahat. Jadi sekarang istirahatlah." kata Jofan kembali menengahi.


"Ya." kata Bella menimpali


"Karena itu, kita semua harus keluar dari sini, kalau di sini ramai begini bagaimana dia bisa beristirahat, Judy, kau saja yang menjaga Nona Bella, Angga, Daihan, ayo makan siang bersama." kata Jofan.


"Aku akan menjaganya di sini." kata Angga menolak.


"Aku juga." kata Daihan tak mau kalah


"Kalau kalian begini, yang ada dia semakin pusing, apa aku harus memanggil pasukan untuk membuat kalian keluar?" kata Jofan kesal, 2 orang ini bagaikan anak kecil ternyata.


"Baiklah. Judy laporkan semuanya padaku. " kata Angga.


"Baik Tuan."


"Makan siang dan istirahatlah." perintah Angga pada Bella, Bella tersenyum canggung lalu mengangguk.


"Jangan lupa minum obat ya." kata Daihan lembut dengan senyum hangatnya. Bella mengalihkan pandangan pada Daihan, dia juga mengangguk.


Kembali Angga melayangkan tatapan tajam pada Daihan, seharusnya dia yang mengatakan itu, Daihan pun membalasnya, Jofan hanya geleng-geleng kepala sambil menghembuskan napas panjang.


"Nah, ayo, jalan, kalian berdua terlalu kekanak-kanakan." kata Jofan menyuruh kedua sahabatnya itu.


Dan akhirnya Angga dan Daihan bisa juga di bawa keluar dari sana.


Jofan membawa Angga dan Daihan pergi makan di salah satu café di dekat markas militer itu, keadaan tidak membaik sama sekali, Angga dan Daihan seperti sedang perang dingin.


"Ayolah, kita jarang untuk bisa berkumpul bertiga, sekalinya berkumpul sekarang kalian malah seperti orang tak kenal." kata Jofan


Namun Angga dan Daihan tak bergeming, seperti memang mereka sudah tidak bisa lagi berbasa basi seperti biasanya.


"Kau harus melepaskannya. " kata Angga tajam pada Daihan.


Daihan tersenyum seperti biasanya.


"Apakah kalau aku menyuruhmu untuk melepaskannya, kau juga bisa melepaskannya. "


Angga terdiam, dia hanya menatap Daihan dengan tatapan kesal. Tak di sangka sifat Daihan juga kerasa kepala.


"Dia sudah memilihku. " kata Angga lagi.


"Terlepas siapa yang di pilihnya, aku akan tetap menyukainya. " kata Daihan.


"Kau ini! " kata Angga emosi, Daihan tak mau kalah hanya menatap Angga dengan tajam.


"Aduh, aku pusing melihat kalian, tak bisa kah kalian mencari wanita yang lain? banyak sekali wanita yang cantik di luar sana, bahkan lebih dari Bella." kata Jofan menyerah, menyandarkan bahunya pada kursi.


"Eh... aku bersyukur aku tak seperti kalian, selalu bermasalah dengan 1 wanita, dulu Mika, sekarang Bella." kata Jofan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


Angga menatap Jofan dengan kerutan dahi.


"Apa maksudmu?" Tanya Angga dengan tatapan tajam. Jofan kelihatan gugup, dia melirik Daihan yang juga menatapnya tajam, bagaimana dia bisa keceplosan.


"Bukan apa-apa, sudah begini saja, kalian pulanglah, Angga kau harus istirahat, dari kemarin kau tidak istirahat, pulanglah, Bella akan dijaga dengan baik, apa lagi dia di wilayah militer, aku yang mempertaruhkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa padanya. Daihan, kau juga pulanglah, aku yakin urusanmu pasti sangat banyak, apalagi usaha keluargamu sangat bergantung padamu. " kata Jofan dengan tatapan serius pada dua sahabat ini, mencoba membuat mereka tidak meluapkan emosinya di sana.


" Baiklah." kata Daihan yang mencoba mengerti, dia memang tidak mungkin terus begini dengan Angga.


Angga tak memberikan komentar apapun, dia hanya diam namun segera berdiri.


"Siapkan mobil." kata Angga pada  Asisten Jang yang ada di sana.


Melihat itu Jofan sedikit bernapas lega. Dia lalu juga berdiri. Mereka keluar dari café itu bersamaan.


Jofan kembali ke markas militer, dia menuju kamar Bella, dia sedikit mengetuk pintu dengan pelan, Judy membukakan pintu itu tak lama.


" Nona, sedang tidur?" kata Jofan.


"Tidak Tuan, Nona baru saja selesai makan dan minum obat, masih duduk untuk menurunkan makanannya." kata Judy.


"Boleh aku masuk?"


"Silakan Tuan." kata Judy membuka pintu lebih lebar.


Jofan segera masuk ke dalam ruangan Bella, melihat Bella yang duduk manis di atas ranjangnya, melihat Jofan, Bella langsung tersenyum menyambutnya, Jofan juga melayangkan senyum manisnya.


"Maaf menganggumu Nona Bella." kata Jofan


"Anda bisa memanggil saya Bella, tidak perlu menggunakan Nona. " kata Bella lagi


"Baiklah Bella, ehm, aku hanya ingin sedikit berbincang dengamu. "


"Baiklah, silahkan duduk." kata Bella lagi.


Judy mengeser sebuah kursi ke dekat rajang Bella. Jofan tersenyum  lalu duduk di sana, dia memperhatikan Bella, memang pantas Angga dan Daihan memperebutkan dia, bahkan tanpa mengenal kepribadiannya, pasti banyak pria yang ingin  bersamanya.


"Ada apa Tuan Jofan? " kata Bella yang sedikit risih di padang oleh Jofan.


"Jofan saja, lagian kau adalah wanita temanku, jadi tenang saja, aku tidak akan aneh-aneh denganmu." kata Jofan sedikit tertawa kecil


"Baiklah, ada apa Jofan? " kata Bella dengan suara lembutnya.


" Aku sudah dengar ceritamu, tentang statusmu, aku sangat bersimpati dengan cerita itu." kata Jofan lagi mencoba menjaga wibawanya.


Bella hanya membalasnya dengan senyuman.


"Tapi Bella, aku ke sini bukan untuk itu, kau tahu, Angga itu sahabatku, Daihan pun juga sahabatku, jika aku boleh tahu, siapa yang kau pilih?" kata Jofan


Bella terdiam sejenak, dia menatap Jofan yang memandangnya serius.


"Aku tidak bermaksud membuat sahabatmu menjadi seperti itu, aku juga bingung harus bertindak seperti apa, bagiku mereka punya tempat masing-masing, kak Daihan benar-benar sangat baik padaku, saat aku sedih dia selalu ada, tapi aku hanya menganggapnya kakak." terang Bella


Jofan tersenyum, walaupun tidak dengan tegas mengatakan, Bella memang sudah memilih Angga.


"Angga dan Daihan punya kisahnya masing-masing, sialnya mereka selalu terlibat dengan 1 wanita di antara mereka. Kau pasti sudah dengar tentang Mika bukan."


"Ya."


"Angga menyukai Mika, tapi apa kau tahu siapa yang Mika sukai? " kata Jofan


Bella memiringkan sedikit kepalanya, ekspresinya tampak bertanya, bukan bertanya siapa yang Mika sukai, Bella sudah tahu, tapi Bella bertanya apakah Jofan juga tahu siapa pria yang di sukai oleh Mika?.


"Mika menyukai Daihan, tapi Daihan sama sekali tidak membuka celah untuk Mika, bagaimana pun Mika mengodanya, Daihan tetap memilih persahabatannya dengan Angga, dia juga merahasiakan semuanya agar Angga tidak merasa patah hati. Melihat tingkahnya sekarang, aku cukup terkejut, karena dia tak pernah memperjuangkan sesuatu seperti ini, bahkan tidak memandang lagi persahabatannya dengan Angga, dari situ aku tahu, dia benar-benar menyukaimu, Daihan belum pernah menyukai wanita manapun, sedikit miris sebenarnya, dia menyukai orang yang salah." kata Jofan menerangkan. Bella yang mendengar itu menjadi tak enak hati. Benarkah dia wanita pertama yang ada di hati Daihan?. Rasanya sedih menjadi penhancur hati pria sebaik Daihan.