Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
110



Suasana hening, Bella kembali fokus dengan makanannya yang sebenarnya sangat sederhana, kilatan-kilatan cahaya menjadi penerang mereka, pelayan itu setia berdiri di samping Bella, tak lama Bella menyudahi makannya.


"Sudah Nona?"kata pelayan itu lagi.


"Ya, aku rasa aku harus kembali ke kamar mandi itu lagi," kata Bella sedikit tertawa kecil.


"Apakah di sana tidak dingin?, Anda bisa sakit."


"Ehm, anggap saja aku tidak ingin membuat mataku yang lain juga terluka." kata Bella tersenyum kecut, tidak mungkin menjelekkan Aksa karena dia juga baru kenal dengan pelayan ini, masih menaruh sedikit curiga.


"Nona, jika Anda ingin pergi dari sini, saya akan tunjukkan jalannya." kata pelayan itu,


Bella menatap dengan kerutan di dahi, wajahnya sedikit tidak percaya, bagaimana bisa dia mengatakan itu? bukannya dia bekerja untuk Aksa.


"Kau tahu apa hukuman yang akan kau dapatkan jika melakukan itu?" kata Bella serius.


"Saya tahu Nona, tapi saya tidak bisa melihat pangeran melakukan hal yang lebih pada Nona, saya tahu Nona orang yang baik, jadi saya akan membantu Nona. Saya di besarkan di kastil ini, bahkan jalan tikusnya saja saya hapal." kata wanita itu.


Bella kembali mengerutkan dahi. Benarkah? jangan-jangan ini hanya mimpi, sekarang Bella sebenarnya sedang pingsan karena hipoglikemia dan bermimpi seperti ini, pikir Bella menatap wanita di sampingnya.


Bella lalu mencubit pipinya, terasa cukup sakit hingga Bella meringis kesakitan, dia tidak sedang bermimpi sepertinya.


" Bagaimana caranya? Kita harus melewati penjaga yang banyak itu." kata Bella masih tidak bisa mencerna perkataan wanita ini dengan baik.


"Ini kastil tua Nona, semua kamar punya jalan keluar mereka masing-masing, kamar ini beberapa waktu yang lalu di pugar, mereka hanya membersihkannya dan di cat ulang, jadi pintu rahasianya tampak tertutup, tapi karna saya besar di sini, saya tahu jalan keluarnya." katanya tampak sumringah danĀ  percaya diri.


"Benarkah?" kata Bella tak percaya, dia tahu ini kastil tua dan memang setiap kastil pasti punya rahasianya masing-masing, tapi tak menyangka wanita ini tahu jalan keluarnya.


"Di mana?" kata Bella terlihat lebih bersemangat.


"Bantu saya mendorong meja riasnya Nona, di baliknya ada jalan." kata wanita itu juga antusias, dia terlihat senang karena merasa berhasil membujuk Bella.


"Baiklah," kata Bella segera berdiri, dia segera mengikuti wanita itu, mereka segera mendorong meja rias itu, suara meja rias itu sedikit berdecit ketika tergeser.


"Pelan-pelan Nona, saya takut para penjaga mendengar." kata wanita itu begitu lembut dan halus, seolah bagaikan bisikkan yang di bawa oleh angin, Bella sempat berpikir mungkin dia juga di besarkan dengan peraturan kerajaan.


Mereka perlahan-lahan mengesernya, lalu setelah mereka mengesernya cukup jauh, wanita itu segera duduk di lantainya, mengetuk beberapa batu bata di sana mendengarkannya dengan seksama, setelah mengetuk beberapa batu bata, terdengar suara yang berbeda dari salah satu batu bata di sana, seolah ada ruangan kosong di baliknya. Pelayan itu lalu tersenyum senang, melihat ke arah Bella yang hanya memperhatikan.


"Ketemu!" katanya girang


"Lalu?" kata Bella


Wanita itu lalu sedikit memukul-mukul bata itu, perlahan namun pasti batu bata itu mundur ke belakang, hingga akhirnya jatuh, Bella melihat itu kaget dan takjub, dia benar-benar mengerti tentang kastil ini.


Pelayan itu segera membuka batu bata yang lain, hingga terbentuklah lubang yang tak terlalu besar, namun cukup untuk di lewati seseorang dengan cara merangkak.


"Nona, saya rasa lubangnya memang begini. Saya rasa Anda cukup melewatinya. "


Bella memperhatikan lubang itu, sangat gelap, Bella juga tidak tahu di mana ujungnya, jika nanti dia terperangkap bagaimana?, jadi dia sedikit ragu melihatnya.


" Aku akan memimpin jalannya, Anda tidak perlu takut." kata wanita itu seolah mengerti pikiran Bella.


"Oh, baiklah. "kata Bella masih ragu, apa benar dia harus mengikuti wanita ini? bagaimana jika ini cuma jebakan dan nantinya dia malah lebih parah di siksa oleh Aksa, tapi kalau hanya menunggu di kamar mandi itu, hidupnya juga akan parah kok, tidak ada salahnya mencoba bukan? Pikir Bella yang akhirnya memberanikan diri untuk mengikuti wanita itu yang sudah duluan masuk ke dalam lubang itu.


Lubangnya cukup sempit, bahkan hanya seukuran tubuh Bella, untung saja Bella tak punya fobia ruangan sempit, karena walaupun dia tidak fobia, dia cukup gentar merangkak dalam lorong itu.


Bella merangkak dengan sangat hati-hati, bahkan sekarang hanya suara rangakakan kaki mereka yang terdengar, Bella beberapa kali kaget, karena mendengar suara-suara bebatuan yang jatuh, Bella sudah mulai takut, takut jika tiba-tiba lorong yang mereka jalani ini nantinya akan runtuh, itu bisa terjadi bukan? mengingat ini adalah kastil tua.


Bella melihat wanita yang merangkak di depannya, dia merangkak begitu cepat, seolah memang sudah biasa melakukan hal itu, sekarang Bella saja sudah kelelahan merangkak di ruang sempit nan gelap itu, terkadang lorongnya becek dan Bella sudah tidak tahu bau apa saja yang sudah di ciumnya di sana.


"Apa masih jauh?" tanya Bella tersengal, apa sudah terlambat untuk kembali? pikir Bella yang tangan dan lututnya mulai perih.


"Sebentar lagi Nona, bertahan lah, sedikit harga untuk mendapatkan kebebasan." kata wanita di depannya dengan santai, bahkan napasnya pun masih sangat teratur, dia benar-benar terlatih dengan ini.


Cukup lama menyusuri lorong sempit nan gelap itu, Bella akhirnya berhasil keluar dari situ, dia melihat ke arah ruangan gelap itu, minim sekali cahaya, bahkan hampir gelap gulita, namun karena dari tadi matanya memang sudah terbiasa dengan gelap, dia bisa melihat beberapa lorong besar di sana, itu seperti tempat pertemuan seluruh lorong di kastil ini.


"Kita sampai di lorong bawah tanah, Anda ingin keluarkan? Ayo ikut saya." kata wanita itu tanpa basa basi dan sama sekali tak membiarkan Bella untuk beristirahat sejenak, dia lalu berjalan di salah satu dari beberapa lorong di sana.