
Kau wanita pertama bagiku
Kau wanita dengan senyuman sendu
Yang mengulum pahit dan dukamu
dan kau wanita terhebat dalam hidupku...
___________________________________________
Aksa berjalan di lorong menuju istana utama tempat ayahnya tinggal, di belakangnya dengan setia 2 orang menjaganya. Begitu sampai di pintu utama istana, dua orang yang bertugas menjaga pintu istana segera membukakan pintu untuknya.
"Selamat datang Pangeran." Kata mereka dengan suara yang hampir serempak.
Aksa langsung masuk ke istana mewah dengan banyak ukiran-ukiran khas gaya *E*ropa. Di depannya sudah ada kepala bagian rumah tangga, dia berdiri menyambut Aksa.
"Selamat datang Pangeran." Kata Kepala itu pada Aksa setengah membungkuk.
"Di mana ayahku?" kata Aksa dengan wajahnya yang datar.
"Yang Mulia sedang bersantai di ruang tengah." Kata Kepala itu lagi.
Aksa tak menjawab, dia hanya segera melangkahkan kakinya ke arah ruang tengah yang terdiri dari sofa-sofa besar yang terlihat sangat mewah. Dia segera menemukan ayahnya, sedang duduk diapit oleh 2 orang wanita muda yang bahkan umurnya lebih muda dari Aksa. Aksa menaikkan sedikit sudut bibirnya, terlalu muak dengan pemandangan yang terlihat di depan matanya.
Raja Leonal menatap anaknya yang baru datang, dia lalu duduk lebih tegak, tidak lagi tampak bersantai dengan 2 wanita itu, dia lalu membuat gestur agar kedua wanita itu pergi, Aksa yang melihat itu hanya tersenyum sinis.
" Kenapa tidak mengabarkan saat datang kemari?" kata Raja Leonal dengan dingin.
"Sekarang aku juga harus minta izin untuk bertemu ayahku?" kata Aksa masih dengan sorot mata merendahkan.
"Duduklah." Kata Raja Leonal, duduk tegak dengan sikap sempurnanya, memperlihatkan aura kepimpinannya, menunjukkan bahwa di sana dialah yang berkuasa.
Aksa duduk di depan ayahnya yang memandangnya sinis, Aksa hanya melihatnya malas.
"Apa yang sudah kau lakukan?" kata Raja Leonal datar saja.
"Kira-kira apa menurut ayah yang sudah aku lakukan?" kata Aksa.
"Kau memang akan menjadi raja, tidak ada yang bisa mengesermu dengan status itu, tapi kau tetap harus menjaga nama baik kerajaan ini di depan publik, jika mereka tidak percaya lagi dengan kita, bisa jadi hak istemewa kita selama ini akan hilang, kau ingat… kau juga punya kejahatan yang bisa dituntut dengan mudah, jika hak istimewa kita itu terhapuskan." Kata Raja Leonal lagi.
"Kita semua punya kejahatan kita masing-masing Ayah… kau hanya takut jika Angga membalas dendam padamu karena sudah memusnahkan orang tuanya kan?" kata Aksa lagi dengan senyum sinis.
Raja leonal tampak marah mendengar kata-kata Aksa, dia memandang Aksa dengan sedikit menyipitkan matanya, namun dia sangat pintar mengatur emosinya.
"Dinding bisa berbicara di sini Nak, aku tak menyangka anak itu bisa sangat berkembang seperti ini, bahkan kolega kita yang dulu setia pada kita, sudah mulai condong padanya." Kata Raja Leonal lagi.
"Itu belum urusanku, itu masih urusanmu Ayah, jadi kalau kau mau aku berurusan dengannya, berikan saja kekuasaanmu padaku." Kata Aksa.
"Licik." Kata Raja Leonal lagi menatap anaknya, matanya terlihat memerah, namun dia tetap terlihat tenang.
"Lagi pula, ada hal yang lain yang harus ayah khawatirkan, kau ingat kutukkan di keluarga kita, berhati-hatilah, jika kau salah langkah, bisa-bisa dia tidak akan memberikamu darahnya." Kata Aksa.
"Bagaimana denganmu?, kau harus mulai bisa menyembunyikan emosimu, wanita murahan seperti itu tidak seharusnya kau bawa ke mana-mana. dan kenapa kau harus membunuh Putri Alexandritemu secepat itu, seharusnya kau tidak perlu menyingkirkannya, dia itu wanita terpilih, di mana lagi kau akan mendapatkan wanita seperti dia?" kata Raja Leonal terlihat lebih santai.
Aksa kembali tersenyum sinis, seolah tidak menganggap sama sekali kata-kata ayahnya.
"Jadi seharusnya aku mengurung dia terus menerus, memaksanya melahirkan anak laki-laki untukku, setelah itu membiarkannya terkurung hingga gila, seperti Ibu? Ayah… aku rasa kita sama saja, tapi setidaknya aku sudah membuatnya bebas." kata Aksa lagi.
"Kau benar-benar harus mengontrol apapun yang mau kau katakan. Kontrol lah emosimu. " kata Raja leonal santai
"Bukankah itu ciri keluarga Huxley, kita tidak bisa mengotrol emosi kita. Di mana Ibuku?" kata Aksa berdiri.
Aksa tak menjawab kata-kata ayahnya, dia langsung pergi dari sana, menyusuri beberapa lorong yang awalnya terlihat indah, namun semakin dia berjalan, semakin suram lorong itu, hingga lorong itu buntu dan hanya tinggal pintu kayu usang yang terlihat termakan waktu, suasananya bukan lagi seperti di dalam istana, melainkan penjara yang suram. 2 orang penjaga wanita berdiri di sana, melihat Aksa datang, 2 orang penjaga itu langsung memberikan salam.
Aksa membuka pintu itu, melihat ke dalam sejenak, sebuah ruangan luas dengan jendela seadanya, ranjang dan beberapa sofa tua. Udara di dalam terasa lembab dan pengap, penerangannya pun tak begitu baik. Dia berjalan masuk, mencari sosok yang akhirnya dia temukan sedang duduk di ranjang tua bergaya *V*ictoria itu.
Dia mengunakan baju putih ala baju tidur khas orang Eropa zaman dulu, tatapannya kosong, hanya menatap dinding yang tak bercat, dia memainkan rambutnya yang sedikit ikal tergerai indah, wajahnya yang tampak putih, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sudah lama tak terpoleskan oleh lipstick tampak lebih pucat, matanya yang coklat indah itu di turunkannya pada Aksa.
Aksa duduk di ranjang ibunya yang terasa lembab, menatap wajahnya yang cukup lama sudah tidak di lihatnya. Karena merasakan ada orang yang datang, dia memandang Aksa.
Walaupun umurnya sudah lebih dari setengah abad, kecantikannya tidak luntur, benar-benar wanita pilihan, namun sayang nasibnya juga tak jauh beda dari Bella, Seorang Putri Alexandrite sebelum Bella.
"Apa kabar Bu? " kata Aksa sedikit tersenyum, hanya pada wanita inilah dia bisa tersenyum begitu lembut.
"Kau Aksa?" kata wanita itu terlihat berkaca-kaca melihat Aksa.
"Ya, maafkan aku jarang melihatmu." Kata Aksa menatap nanar pada mata ibunya.
"Kau sudah menjadi raja?" kata Ayana menatap anaknya.
"Belum Bu." Kata Aksa lirih, dari kecil Aksa selalu mengatakan jika dia jadi raja, dia akan membawa ibunya pergi dari sana, berjalan-jalan, karena dia tahu, ibunya selalu terkurung di kerajaan bahkan dari dia kecil.
"Kau sudah menikah?" kata Ayana sangat lembut, memperlihatkan pelatihan yang dari kecil dia dapatkan di istana.
"Sudah." Kata Aksa seadanya, ada rasa sedih di hatinya.
"Di mana Putri Alexandrite mu? Ibu ingin bertemu." Kata Ayana.
"Dia sudah tidak ada Bu," kata Aksa lagi.
"Kau membebaskannya?"
"Aku membunuhnya."
Ayana terdiam, melihat wajah anaknya tampak sedih, Ayana lalu sedikit tersenyum.
"Kau melakukan yang terbaik, jangan biarkan dia terkurung di sini menggantikan ibu, rasanya lebih menyedihkan dari pada kematian." Kata Ayana lagi, kembali menatap tembok kosong itu.
Aksa tersenyum.
"Hari ini ibu minum obat ya?" kata Aksa.
Ayana kembali melihat Aksa, menatapnya lekat-lekat.
"Kau Aksa? " kata Ayana lagi, seolah lupa apa yang sudah di katakannya barusan.
"Tidak, aku bukan Aksa." senyum Aksa pupus.
"Bisakah kau cari anakku, dia akan menjadi raja, dia anak yang pintar, cerdas dan baik hati, anakku akan menjadi raja, tolong katakan padanya aku sangat merindukannya." Kata Ayana memegang tangan Aksa dengan emosi yang mengebu, Aksa menahan emosinya, kalau tidak dia akan menumpahkan air matanya di sana.
"Aku akan menjadi raja Bu, aku akan bawa kau keluar." Kata Aksa lagi.
"Benarkah? kau Aksa? anakku yang sangat baik itu? "kata Ayana memegang pipi Aksa, tangannya yang dingin menyentuh pipi Aksa, Aksa lalu menarik dirinya, berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu. Ibunya memang sakit jiwa, terkadang bisa di ajak bicara, namun hanya sementara.
Pintu ruangan itu kembali tertutup, Aksa berjalan cepat tanpa melihat kebelakang, berjalan menyusuri lorong-lorong panjang dan kembali menemui ayahnya yang sedang bercengkarama kembali dengan wanita-wanita di sampingnya. Aksa terdiam… setidaknya dia tidak membiarkan seorang wanita memberikannya anak, memisahkan anak itu dari ibunya, dan mengurung ibunya hingga sakit jiwa.
Ibunya pernah beberapa kali membawanya pergi dari kerajaan itu, namun dengan kekuasaanya, ayahnya selalu menemukan mereka, dan terakhir kali ibunya pergi dari sana, dia di pisahkan selamanya, di kurung dalam penjara, dan Aksa hanya boleh menemuinya jika ayahnya mengizinkan, jika Aksa ketahuan melihat ibunya tanpa sepengetahuan ayahnya, ibunya yang akan mendapatkan hukumuan cambukan berkali-kali, dan Aksa harus menyaksikan hal itu. Terakhir kali dia melihat ibunya di cambuk saat umurnya 12 tahun, setelah itu dia memutuskan untuk tidak lagi menemui ibunya.
Aksa melanjutkan jalannya keluar dari istana utama itu, dan meninggalkan ayahnya yang tersenyum sinis padanya