
"Coba kau pikirkan, seorang pria dan wanita bersama 5 tahun, memajukan tanggal pernikahan dengan buru-buru, apa artinya itu? Kau seharusnya sudah tahu arah pembicaraanku kan? lagi pula, lihatlah, bahkan sudah 2 tahun lebih, dia masih mengingatnya, dia sangat terpukul, dia kehilangan wanita yang paling dia cintai sekaligus anaknya, itu kenapa kak Angga tidak mungkin menyukaimu kalau kau tidak mirip dengannya, seharusnya kau sadar itu." kata Medeline dengan tenang, namun ketenangan itulah yang menusuk hati Bella, rasanya seluruh ruangan itu seperti berputar, bahkan dadanya sekarang sangat berat, seperti ada palu gada yang memukul dadanya, hingga membuat Bella kesusahan bernapas.
Dia berusaha, sangat berusaha agar air matanya tidak tampak, walaupun sekarang rasanya matanya mulai pedih, Bella sadar, dia akan menangis sebentar lagi.
Bella menghirup udara dalam-dalam, terasa sangat berat dan tebal, hingga rasanya walaupun sudah menghirup begitu dalam, udara yang masuk dalam paru-parunya hanya sedikit.
"Lalu bangaimana dengan Anda Nona Medeline? Anda sudah tahu Angga tak punya perasaan apapun dengan Anda, bahkan sedikit perhatian pada Anda pun tidak ada, dan Anda masih dengan percaya diri mencarinya pagi-pagi begini?" kata Bella dengan sedikit senyum sinis, dia tidak mau Medeline merasa dia kalah, walaupun sebenarnya apa yang di katakan Medeline itu membuat dia terpukul, tapi dia tidak ingin menunjukkannya.
Medeline yang mendengar itu raut wajahnya yang tadi tersenyum puas, langsung datar, seolah tersiram air panas membuat wajahnya merah, berani sekali wanita ini mengatakan ini padanya.
"Kau tahu aku siapa? " kata Medeline akhirnya tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
"Anda siapa menurut saya tidak penting, sekarang yang penting, siapa yang di pilih Angga ada di dekatnya, kalau tidak ada yang ingin Anda bicarakan, saya ingin bersiap-siap karna Angga ingin mengajak saya makan siang." kata Bella berdiri dan meninggalkan Medeline.
Medeline melihat Bella yang menjauh darinya dengan mata memerah, berani sekali wanita itu mengatakan itu di depannya, dia benar-benar ingin membantai wanita itu sekarang.
Bella berjalan dengan mantap awalnya, namun ketika dia sampai di kamarnya, dia hanya bisa bersandar di pintu kamarnya yang tertutup, menahan rasa pedih di hatinya, kenapa Angga tidak pernah cerita? Kemarin dia bicara seolah dia tidak pernah melakukan hal itu dengan Mika, tapi kalau memang yang di katakan Medeline itu benar, berarti…
Bella menahan rasa sakit di dadanya yang seolah tercabik-cabik di dalam, dia bahkan menahannya hingga berjongkok di depan pintunya. rasanya jantungnya berdetak sangat kencang, namun setiap detakkannya seperti palu yang menghantam, nyeri, sesak, hingga susah sekali bernapas, apa lagi tenang. Air matanya yang dari tadi di tahannya, mengalir tanpa sadarnya, membuat matanya sekarang terasa pedih.
Kenapa Angga bergitu tega menutupi semuanya? Kanapa Bella harus tau dari orang lain? Dan mungkin memang yang di katakan oleh Medeline benar, Angga menyukainya karna dia mirip dengan Mika, kalau tidak… tidak mungkin dia menyukai Bella.
Bella tiba-tiba saja meresa kesal dengan dirinya sendiri, mudah sekali terhanyut dengan perasaan, sekarang apa yang terjadi? Sakit kan?.
Dia mengambil handphonenya, mengirim pesan pada Angga, dia tidak ingin makan siang dengannya. Baru saja handphone itu di letakkanya, Angga langsung menelepon Bella.
Bella enggan mengangkat telepon Bella, dia membiarkan handphone itu terus berdering, tidak ingin bicara dengan Angga untuk saat ini.
Setelah panggilan itu mati, Bella melirik handphonenya, berpikir mungkin saja Angga akan meneleponnya lagi, tapi tidak… yah kan Angga orangnya memang begitu, sekali saja tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, dia tidak akan mengulangnya ke 2 kali.
Bella nyeka hidungnya yang berair karena menangis terus, matanya sedikit merah dan bengkak, rasa sepet di mata. Dia bodoh, kenapa harus menangis? toh dia dan Angga juga tidak punya hubungan. Bukan juga pacaran? Tapi… kan Bella suka sama Angga, mendengar ini pasti hatinya sakit, bahkan sekarang saja nyerinya masih saja terasa, sama sekali tidak berkurang, walaupun dia sudah menangis ½ jam.
Bella baru saja ingin turun dan ke kamar mandi, ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Angga berdiri di sana. Bella tentu kaget, ini jamnya bekerja, dan Angga sekarang di rumah, sekarang Bella merasa tak enak, pasti dia sudah mengacaukan jadwalnya Angga lagi, kasihan Asisten Jang, pikirnya.
Angga masuk lalu menutup pintunya, memperhatikan mata Bella yang bengkak, hidungnya yang merah, wajahnya juga merah. Wanita ini pasti habis menangis.
"Kenapa menangis?" kata Angga.
"Tidak ada apa-apa." kata Bella acuh.
"Tidak ada." Kata Bella lagi.
Angga mendekati Bella, melihatnya dengan tajam dan serius.
"Aku pulang meninggalkan semuanya karena khawatir denganmu, tapi semua jawabanmu hanya tidak." kata Angga menatap Bella dengan tajam, membuat Bella sedikit gentar.
"Aku tidak menyuruhmu pulang." kata Bella, dia lalu ingin pergi dari sana, tidak ingin melihat wajah Angga, Namun tangannya segera di tarik oleh Angga.
"Dia bicara tentang Mika padamu?" Kata Angga. Bella menatap mata Angga yang hitam, sehitam rahasia di baliknya. Bella merasa Angga sudah cukup keterlaluan.
"Kalau sudah tahu kenapa bertanya? Iya dia cerita semuanya, tentangmu dan Mika, tentang kalian yang mempercepat pernikahan kalian, kenapa kau tidak pernah cerita padaku? Bodoh… kita kan bukan siapa-siapa ya? Untuk apa juga kau bicara denganku." kata Bella tersenyum dengan manis, namun kembali air matanya berkaca-kaca.
Angga yang melihat wajah Bella yang begitu menjadi tak tega, wajahnya melembut, lalu melepaskan tangan Bella.
"Apa lagi yang dia ceritakan padamu?" kata Angga.
"Oh, iya, kenapa tak pernah bilang kau seharusnya sudah punya anak? dan lagi kau menyakaiku hanya karena aku mirip Mika!. " kata Bella emosi.
Angga terdiam sebentar, menatap lurus pada mata Bella, dahinya berkernyit, sejak kapan dia punya anak?.
Angga menarik napas dalam-dalam, melirik lagi ke arah Bella, dia lalu tersenyum sedikit.
"Hah, aku mengacaukan jadwal kerja hanya untuk hal yang tidak penting. "kata Angga tampak lucu dengan kata-kata Bella.
"Kenapa malah tertawa, ini tidak lucu, ini hal penting bagiku. "kata Bella lagi serasa di permainkan, bagaimana menurut Angga ini bukan hal yang penting.
"Aku sedikit kecewa padamu, kau pecaya dengan semua yang dikatakan oleh Medeline, artinya kau percaya dengan kata-kataku tadi malam. "
"Aku… bagaimana aku tidak percaya, dia kan kenal denganmu lebih dulu dari aku."
"Medeline sudah lama menyukaiku, bahkan sebelum aku pacaran dengan Mika, dari dulu dia sudah berusaha memisahkan kami, jadi menurutmu apa yang bisa dia lakukan untuk memisahkan kita?" kata Angga menatap Bella dengan serius. Mendengar itu Bella tidak bisa menjawabnya, jadi dia hanya diam saja.
"Aku dan Mika memang memajukan tanggal pernikahan kami, tapi bukan itu alasannya, Mika meminta memajukan pernikahan karena dia ingin mengikuti perlombaan yang sudah diidam-idamkannya sejak dulu. Karena itu dia meminta ku memindahkan tanggal pernikahan. " kata Angga tersenyum sedikit lembut.
"Lalu kenapa tergesa-gesa? " kata Bella seolah mengintrogasi Angga sekarang.