
Angga dan Bella akhirnya sarapan, perut Bella merasa sangat keroncongan, ternyata melakukan hal begitu saja sangat menguras tenaga, dan dia merasa sarapan ini sangat nikmat.
Melihat Bella makan dengan lahap, Angga hanya menaikkan sudut bibirnya.
"Aku akan pergi sebentar mengurus beberapa pekerjaan, jangan keluar dari sini tanpaku, kita masih belum tahu Aksa akan melakukan apa lagi nantinya," kata Angga pada Bella dengan sedikit lembut.
"Baiklah, tapi bisakah kita pergi bertemu ibuku, aku ingin melihat tempat dan keadaannya sekarang," kata Bella menatap Angga.
"Baiklah, aku akan merencanakannya, kita akan ke sana setelah aku pulang hari ini,"
"Kau juga harus hati-hati ya," kata Bella menatap Angga sedikit cemas.
"Ya, tenang saja, istirahat lah di rumah," kata Angga mengusap rambut Bella.
"Selamat pagi Tuan, Tuan Jofan mencari Anda, Beliau menunggu di ruang tamu," kata Asisten Jang melaporkan pada Angga.
"Baiklah, aku akan datang ke sana," kata Angga meletakkan garpu dan sendoknya. Wajahnya langsung tampak serius. Angga melihat Bella sebentar, Bella hanya tersenyum. Angga segera berjalan ke ruang tamu rumah itu, melihat Jofan sedang melihat beberapa lukisan yang terpampang di sana.
"Hei, ada apa?" kata Angga menyapa Jofan.
"Wah, selamat pagi, pengantin baru, bagaimana kabarmu?" kata Jofan basa basi melihat ke belakang Angga seakan mencari sosok lain.
"Mencari siapa?"
"Bella? jangan membuatnya terlalu lelah, bro, bagaimana pengalaman pertamamu?" kata Jofan mengoda Angga sambil mendekat dengan sahabatnya, Angga menatap Jofan serius.
"Kalau kau ingin mengatakan ini, aku akan memukulmu," kata Angga.
"Haha, aku kira setelah menikah kau akan lebih santai, ternyata tetap saja kaku, tapi aku serius, menyenangkan bukan? kau pasti menyesal tak melakukannya dari lama," kata Jofan lagi sedikit tertawa, sepertinya moodnya sangat baik.
"Kau pikir aku sama denganmu?" kata Angga malas melawani candaan Jofan, Angga lalu duduk di salah satu sofa di sana, Jofan masih saja tertawa, mengikuti Angga duduk di depannya.
"Ada apa?" kata Angga.
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?" kata Jofan.
"Hanya menandatangani beberapa berkas dan akan pergi menemui ibu Bella, tolong jaga dia selama aku bekerja," kata Angga.
"Baiklah, aku akan menyuruh beberapa tentara berjaga dan mengawal kalian nantinya," kata Jofan.
"Ya, baiklah, terima kasih."
"Hahaha ... aku masih tak terbiasa mendengar kata-kata terima kasih darimu,"
Angga hanya tersenyum tipis.
"Oh, tentang Sania, dia akan mengirimkan kabar nanti malam, aku akan segera melaporkan padamu jika ada perkembangan," kata Jofan lagi berdiri,
"Baiklah," kata Angga segera berdiri dan mengikuti Jofan yang melangkah keluar dari rumah itu, setelah Jofan keluar, Angga kembali ke dalam, mencari Bella yang sedang menyiapkan baju kerja Angga.
Angga melihat itu segera mendatangi istrinya, memeluknya dari belakang.
"Aku sudah siapkan bajumu," kata Bella.
"Ya, Tolong kali ini jangan keras kepala ya, jangan keluar jika aku tak ada," kata Angga berbisik pada Bella, membuatnya bergidik geli.
"Ya, ya, aku akan patuh, suami," kata Bella membalik tubuhnya, menatap Angga dengan lembut.
"Baiklah, aku siap-siap dulu," kata Angga segera mengambil setelan jas untuk bekerja yang di siapkan oleh Bella.
Bella memasangkan dasi dan merapikan jas Angga, Angga hanya memperhatikan semua yang di lakukan oleh Bella, rasanya ternyata menyenangkan punya seseorang yang memperhatikan kita.
"Sudah, suamiku tampan sekali," goda Bella
---****---
Jofan duduk di ruangannya dengan tenang, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka,
"Kakak!!!" kata Madeline datang segera mendatangi kakaknya langsung memeluknya.
"Wow, kau sudah pulang dari Paris?" kata Jofan kaget menerima pelukan adiknya,
"Ya baru kemarin, dan aku tadi ke rumahmu, mereka bilang beberapa hari ini kau ada di sini, jadi aku datang ke sini, aku membawakanmu ini," kata Madeline memberikan sebuah kotak pada Jofan.
"Apa ini?" kata Jofan semangat melihat oleh-oleh dari adiknya, membuka kotak yang tampak mewah, dia lalu melihatnya, sebuah jam merk terkenal dan tentunya sangat mahal Jofan tersenyum pada adiknya.
"Kau memang mengerti kesukaanku."
"Oh ya, kak, apa kau tahu kak Angga di mana?" kata Madeline.
"Ehm ... kenapa?" kata Jofan sedikit kaget dengan apa yang Madeline tanyakan, bagaimana kalau Madeline tahu kalau Angga sudah menikah?.
"Aku membawakan oleh-oleh juga padanya, ehm, apa kau rasa dia akan suka?" kata Medeline menunjukkan pada Jofan apa yang dia bawa, sebuah jam yang jauh lebih bagus dan eksklusif dari hadiah Jofan.
"Gila, kau membelikannya jam ini? kenapa punya ku jauh sekali darinya?" kata Jofan iri.
"Tapi tadi katanya kakak suka," kata Medeline lagi pada kakaknya dengan sedikit tersenyum.
"Ya, dibandingkan ini, tentu aku akan memilih yang punya Angga," kata Jofan lagi sedikit cemberut.
"Tidak boleh, ini punya kak Angga. So, di mana dia?" kata Madeline.
"Eh, dia sedang ada di kantornya."
"Baiklah, aku akan ke sana," kata Madeline bergegas ingin keluar dari kantor kakaknya.
"Maddy, Angga sudah menikah," kata Jofan, mendengar itu Madeline langsung terhenti, menikah? sepertinya dia salah dengar.
"Maksud kakak?" kata Madeline.
"Angga dan Bella sudah menikah, mereka baru menikah 2 hari yang lalu, memang mereka belum melakukan pesta, tapi secepatnya mereka akan mengumumkan pernikahan mereka," kata Jofan mendekati adiknya terlihat syok.
"Siapa Bella?"
"Oh, ya, Mika, kau ingat wanita yang bernama Mika itu kan? nama aslinya adalah Bella," kata Jofan lagi berhenti di depan adiknya, menatapnya lembut.
Madeline tampak syok, tidak mungkin, tidak mungkin Angga sudah menikah, badan Madeline langsung terasa panas, hatinya terbakar api cemburu, dia mengepalkan tangannya kuat, pasti wanita itu sudah menjebak Angga hingga harus menikahinya, dasar wanita murahan, licik.
"Dia tak mungkin menikahi wanita murahan itu, pasti kak Angga di jebak bukan?" kata Madeline tampak begitu emosi.
"Maddy, Angga benar-benar mencintai Bella, dia tidak dijebak, Maddy, terima lah, Angga tak pernah mencintaimu," kata Jofan mencoba menenangkan adiknya yang begitu terpukul dengan berita yang baru dia dapatkan.
"Baiklah," kata Madeline mencoba menarik napas dalam-dalam, sedikit tersenyum pada kakaknya, walau pun dia masih tidak bisa menerimannya, dia harus benar-benar bertemu wanita murahan itu.
"Ya, sudah," kata Jofan
"Baiklah, aku pulang dulu ya kak," kata Madeline tersenyum manis.
"Baiklah, akan ku antar sampai gerbang."
"Tak perlu, aku sudah besar, lagian siapa yang mau menculikku di markas militer."
"Haha, benar juga, ya sudah, hati-hati ya," kata Jofan membukakan pintu untuk adiknya.
Madeline keluar segera berjalan menuju ke gerbang utama, namun dia sedikit terhenti karena ingin mengambil kunci, ketika dia mendengar sesuatu yang membuatnya terdiam ....