
Riuh tepuk tangan membuat Daihan kembali ke dunia nyata, Nakesha pun menyudahi permainannya.
"Nakesha, mainkan satu lagu lagi untukku," teriak seorang pria bule dari bangku penonton sambil mengacungkan bir di gelasnya.
"Hari ini aku harus pulang cepat Joseph, besok saja ya," kata Nakesha tersenyum.
"Ah! my lovely Nakesha, aku akan datang lagi besok ke mari, aku sudah jatuh cinta padamu," kata Joseph lagi.
Semua orang di sana tertawa, Nakesha hanya tertawa kecil, dia lalu segera turun panggung, pelayan yang tadi melayani Daihan dengan cepat mendatangi Nakesha, membisikkan sesuatu sehingga lirikan Nakesha jatuh pada Daihan.
Wajah Nakesha tampak berubah berjalan ke arah Daihan, Daihan hanya tersenyum hangat.
"Ada apa Tuan mencari saya? kan saya sudah bilang akan menghubungi Tuan jika sudah punya uangnya," kata Nakesha kesal.
"Hei, Bung, jangan ganggu my lovely Nakesha," kata Joseph tiba-tiba muncul dan merangkul Nakesha, melihat itu Nakesha tampak kaget dan tak suka, dia segera melepaskan rangkulan dari Joseph.
"Kenapa? Nakesha, kau berani menolakku?" kata Joseph yang bertubuh gepal itu mencengkram pipi Nakesha, menekannya dengan kuat, terlihat sekali dia sudah mabuk. Nakesha yang mendapatkan perlakuan itu langsung mencoba melepaskan dirinya dari Joseph.
"Tuan, lepaskan dia." kata Daihan yang tampak marah dengan kelakuan Joseph pada Nakesha.
"Oh, kau berani padaku? Baiklah, kita liat," cengkraman tangan Joseph pada pipi Nakesha terlepas, Joseph langsung mengambil botol bir yang ada di sana, memukulnya ke meja, hingga tinggal setengah dengan kaca-kaca tajam yang mencuat, melihat itu mata Nakhesa membesar takut, kalau Daihan tak mengelak, dia bisa terluka.
Daihan juga melihat itu, tapi dia tampak tenang, dengan cepat Joseph menodongkan kaca itu padanya, namun Daihan segera mengangkap pergelangan tangan Joseph dengan kedua tangannya, memutar pergelangan tangan itu hingga botol pecah itu jatuh dari tangannya, dan dengan cepat Daihan menendang kaki Joseph hingga dia tersungkur ke tanah. semua terjadi sangat cepat.
Semua orang yang melihat itu tegang, Nakesha yang biasanya berani juga terlihat takut, namun melihat Daihan berhasil melumpuhkan Joseph, semua orang terpana menatap Daihan, padahal Daihan tampak begitu tenang, semua orang berpikir Daihan akan habis di buat Joseph, tapi akhirnya malah berbeda.
Daihan menatap Nakesha sebentar, dia sebenarnya tak suka perkelahian, jadi setelah itu, Daihan langsung meninggalkan tempat itu setelah meletakkan beberapa lembar uang 100.000 di atas meja.
Nakesha yang melihat itu langsung mengambil beberapa lembar uang itu, menyisakan 1 lembar di sana, dan dia segera mengejar Daihan yang berjalan cepat meninggalkan pantai itu.
"Tuan! hei! Tuan, siapa sih namanya?" kata Nakesha lupa nama Daihan.
Mendengar teriakan dari arah belakang, Daihan berhenti dan melihat ke belakang.
"Tuan, sebentar, aku kehabisan napas," kata Nakesha yang harus berlari mengejar langkah Daihan, berlari di atas pasir itu sungguh tak mudah.
Daihan melihat tingkah Nakesha itu hanya bisa mengerutkan dahi, membuat sedikit senyuman hangat itu mengembang.
"Tuan, terima kasih, sebagai tanda terima kasih aku akan meneraktir Anda makan," kata Nakesha setelah dia bisa mengatur napasnya.
"Kau ingin meneraktirku makan?" kata Daihan sedikit tidak percaya.
"Ya, kau pikir aku tak punya uang? kalau hanya meneraktir makan aku masih bisa," kata Nakesha serasa Daihan mengejeknya.
"Tak perlu, simpanlah uangmu," Kata Daihan ingin berbalik.
"Aku memaksa, aku paling benci berhutang budi dengan orang, cukup aku berhutang uang, jangan berhutang budi juga," kata Nakesha lantang membuat Daihan urung melanjutkan langkahnya.
"Baiklah, aku akan ikut, dengan syarat kau yang membawaku makan," kata Daihan
"Baiklah, tidak masalah, di dekat sini ada warung mie yang sangat enak,"
"Mie?"
"Ya, mie, jangan bilang kau tak tahu mie itu apa?"
"haha.. aku tau mie itu apa, baiklah," kata Daihan jadi sedikit tertawa melihat tingkah Nakesha.
"Simpan saja, anggap saja itu tips dariku untuk nyanyianmu yang indah," kata Daihan
"Ehm... kalau begitu aku akan menerimanya," kata Nakesha memasukkan uang itu kembali ke kantongnya dan segera berjalan, melihat itu Daihan sedikit heran, namun segera tertawa kecil melihat tingkah Nakesha, terlalu random dan tak bisa di tebak.
"Kita naik mobilku saja,"
Nakesha berhenti, lalu melihat Daihan yang belum memulai langkahnya.
"Jangan manja, temparnya dekat, lagipula Anda ingin melewatkan malam begitu indah dengan cahaya bulan purnama seperti ini?" kata Nakesha
Daihan menatap sekitarnya, ya tampak sangat indah, cahaya bulan tampak terang menerangi jalan berpasir itu, Daihan tersenyum sedikit, mengikuti langkah Nakesha yang sudah jalan duluan.
Deru ombak yang menghantam bibir pantai terdengar mengiringi langkah mereka, suara-suara serangga bagaikan lantunan musik di antara mereka, Daihan hanya mengikuti Nakesha yang berjarak beberapa langkah darinya, menatap tubuhnya yang tampak kurus, Daihan baru merasa perbedaan Mika dan Nakesha, Nakesha tampak lebih kecil dari Mika.
"Tuan,"kata Nakesha berhenti mendadak dan berputar ke belakang, membuat Daihan yang melamun itu berhenti tepat di depannya, untung saja tak bertabrakan.
"Ya?" kata Daihan hangat seolah melawan dinginnya deru angin pantai yang mulai kencang.
"Eh, kita sudah sampai, itu tempatnya," kata Nakesha tiba-tiba gugup, dia baru menyadari betapa tampan pria yang ada di depannya sekarang, kenapa tiba-tiba dia jadi deg-degan sendiri. Nakesha menunjukkan suatu tempat makan kecil, di seberang jalan, namun ada pula tempat khusus di seberang yang lain.
"Oh, baiklah," kata Daihan.
"Anda duduk di sana saja, aku akan memesankan yang spesial di sini," kata Nakesha segera pergi dari sana, masih cukup gugup melihat senyum indah Daihan.
Daihan menatap kepergian Nakesha sebentar, dia lalu pergi ke tempat yang di tunjukkan oleh Nakesha, sebuah tempat khusus dengan kayu-kayu, dan beberapa tempat duduk, sehingga bisa langsung menikmati laut malam.
Daihan kembali menikmati laut, tak lama Nakesha datang membawakan 2 botol bir dingin.
"Silakan! makanannya sedang di buat," kata Nakesha duduk di seberang Daihan yang kembali menatap wajah cantik Nakesha yang terlihat sangat polos, Nakesha lalu meminum bir itu langsung dari botolnya.
"Tidak bagus wanita minum seperti itu,"kata Daihan menarik botol bir itu, namun Nakesha mengeluarkan gestur untuk menahannya sekejap.
"Ah! ku harus minum, hari ini penuh dengan kejutan yang tak terduga, kepala ku sampai pusing memikirkannya," kata Nakesha.
"Ada apa?" kata Daihan dengan suara lembutnya yang selalu bisa membuat semua orang nyaman.
Nakesha tampak ragu berbicara pada Daihan, dia juga baru mengenalnya, tapi pria ini cukup menyakinkan.
"Kau tahu, ibuku yang paling aku sayangi, bukanlah ibu kandungku, aku dan dia bertemu saat umurku 5 tahun, aku kabur dari panti asuhan karna mencari kakakku, tapi aku malah bertemu dengannya, sejak itu dia merawatku, tapi dia tetap mencari anaknya yang hilang, hingga tadi siang anak itu tiba-tiba muncul dan ingin mengambil ibuku,". Kata Nakesha terdengar sedih, menatap laut yang menderu di antara gelapnya malam, dia kembali meminum birnya.
Daihan mendengar itu terkejut, jangan-jangan...
"Kakak? apa kalian kembar?" kata Daihan
Nakesha melirik Daihan, dahinya yang mulus itu tampak berkerut.
"Dari mana kau tahu aku memiliki kakak kembar?" kata Nakesha lagi.
Daihan tampak kaget, dia mengambil handphonenya, mencari foto Mika.
"Ini," kata Daihan menunjukkan foto itu, Nakesha yang melihat itu langsung membesarkan matanya kaget, wanita di foto itu sangat mirip dengannya, bedanya hanya dia tak punya tahi lalat di bawah matanya.
"Di mana kakakku?" kata Nakesha menatap Daihan seketika.