Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
111



Baru saja Aksa ingin masuk ke dalam mobilnya, dia langsung mendapatkan laporan dari salah satu penjaganya.


"Pangeran, keadaan di dalam kastil sekarang gelap gulita karena masalah mesin, tapi saat para penjaga melaksanakan perintah Pangeran..." Kata penjaga itu terputus.


"Ada apa?" Dahi Aksa berkerut, dia tahu ada yang tak beres.


"Nona Bella tidak ada di kamarnya, setelah dilakukan pemeriksaan, Nona Bella sepertinya kabur lewat lorong kecil di kamarnya, sekarang para penjaga sedang mencarinya di seluruh kastil." Kata Penjaga itu.


Aksa terdiam, sorot matanya tajam penuh emosi, bagaimana bisa Bella tahu tentang lorong itu?, Dia meremas ujung pintu mobilnya.


"Perintahkan pencarian di sekitar hutan, aku mau kalian mencarinya sampai dapat!" Perintah Aksa keras sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Aku ingin sampai di sana secepatnya." Kata Aksa berterika pada supirnya, supir langsung mempercepat jalan mobil itu melintasi aspal yang basah.


Bella, kau juga sudah berani denganku ya? Pikir Aksa menatap air hujan yang mengalir di jendela mobilnya


---****----


Bella mengerutkan wajahnya, mau tak mau dia mengikuti wanita itu, walaupun sekarang rasanya kakinya kesemutan gara-gara tertekuk dari tadi, tapi dari pada di tinggalkan di tempat antah berantah seperti ini, dia lebih baik mengikutinya dengan terpincang-pincang.


Lorong ini sama gelap, pengap dan menakutkan dengan yang tadi, tapi syukurlah, ukurannya jauh lebih besar dari yang tadi, bahkan sangat besar, jika Bella melempar sesuatu, maka gemanya akan sangat terasa, di sana becek, suara air menetes bahkan jadi suara yang menyeramkan, beberapa kali mendengar suara decit tikus dan suara-suara lain yang bahkan menambah merinding bulu kuduk, bukan hanya itu, hawa dingin yang menusuk membua Bella beberapa kali harus mengusap tangannya dan lengannya sendiri, dia sungguh gila berani untuk masuk ke dalam hal seperti ini, padahal dari kecil dia termasuk wanita penakut kalau soal seperti ini.


Tapi bayangan penyiksaan dan kelamnya hidup di dekat Aksa membuatnya lebih berani, dari pada harus mengulang penyiksaan yang tadi, lebih baik dia merangkak ke tempat ini lagi dan lagi, Bella rasa Bella cukup beruntung karena ada pengawal yang memanggil Aksa tadi, kalau tidak, dia tidak tahu lagi bagaimana nasibnya, mungkin saja, ah… Bella tidak ingin membayangkannya.


"Nona, berhati-hatilah, ujung jalan ini adalah jurang, tapi tetap bisa berjalan, jangan sampai melamun seperti itu. " kata wanita itu dengan halus, Bella mengerutkan dahi, masa dia tahu Bella sedang melamun.


Suara petir terdengar sangat mengelegar, di ujung lorong terlihat awan dan kilat yang saling bersautan, wanita itu tersenyum, akhirnya Bella bisa melihat lagi wajahnya, dia berhenti beberapa langkah dari ujung lorong itu.


Dia mempersilahkan Bella untuk jalan duluan, Bella lalu dengan hati-hati melihat ke arah ujung lorong itu, ternyata benar-benar jurang, hanya ada jalan setapak kecil di sisinya yang bisa di lewati dengan perlahan, jalan itu tampak licin karena air hujan, lumut juga banyak menyelimutinya, tampak sekali jalan itu sudah lama sekali tidak di jalani.


" Ehm, ayo kita jalan. " kata Bella yang menatap wanita itu, terlihat dia bahkan lebih jauh sekarang di dalam namun Bella masih bisa melihatnya dengan jelas, wajahnya murung tak lagi tersenyum.


"Pergilah Nona saya tidak ikut. " katanya dengan suara begitu sedih.


"Kenapa? nanti jika kau tinggal, Aksa pasti akan menghukummu, bisa-bisa dia akan membunuhmu. " kata Bella ingin mendekatinya, namun semakin Bella mendekatinya tapi entah kenapa malah semakin jauh dia terasa.


Dia hanya tersenyum manis sekali, angin berhembus memasuki lorong itu dengan sangat kencang, membuat hawa dingin di sana bertambah, suara gemuruhnya pun membuat begidik ngeri.


Entah kenapa Bella merasa dia makin menghilang, Bella hanya terpaku melihatnya, wanita itu terlihat tersenyum pucat.


"Mereka tak akan bisa membunuhku dua kali." katanya mengema bersamaan dengan itu, tubuhnya seolah lenyap, hilang tak bersisa.


Bella terbelalak, dia terhuyung, hingga harus menopang dirinya dengan memegang dinding, apa yang baru di liatnya membuatnya lemas, rasanya jantungnya baru saja jatuh ke bawah, mukanya pucat, dan semua sendinya dipenuhi oleh rasa takut yang dalam, membuatnya gemetar, apa yang baru di lihatnya tadi?.


Suara angin berhembus kembali kencang, membuat Bella mencoba menahan rasa kagetnya, dia cukup lama terpaku di sana, mencoba menenangkan dirinya yang gemetaran.


Setelah merasa cukup membaik, dia lalu berjalan di tepi jurang itu, angin berhembus semakin kencang, hujan pun mulai rintik kembali, Bella menginjakkan kakiknya yang gemetar, mencoba mendapatkan pijakan yang mantap, tangannya meraba-raba dinding kastil yang di penuhi lumut dan basah, sedikit saja dia salah langkah, dia pasti terjerembab masuk dalam jurang yang bahkan Bella tidak bisa lagi melihat ujungnya.


Dengan tertatih dia berjalan, badannya gemetaran cukup keras, bahkan bibirnya pun tak bisa berhenti bergerak, entah karena dingin yang menusuk, atau takut karena dia sekarang ada di ujung kematian. Angin yang keras dari arah bawaah membuat dia semakin gemetar.


Bella berusaha mempercepat jalannya, dia sudah melihat ujung jurang itu, dia bahkan menahan napasnya, perlahan-lahan namun juga dengan langkah yang pasti, di ujung jurang itu dia sedikit melompat, untunglah pijakannya tepat, jika tidak, sedikit lagi dia sudah akan jatuh.


Rintik gerimis mengiringi jalan Bella, dia segera berlari, entah kemana saja, asal jangan dekat dengan kastil itu, cahaya kilat yang terus menerus menemaninya, membuat dia setidaknya bisa melihat ke mana dia akan pergi.


Bella sudah tidak merasakan lagi kakinya yang tersayat-sayat oleh ilalang dan juga tanaman berduri, seperti benar-benar di kejar oleh setan, dia terus berlari, entah arahnya benar atau tidak, yang penting dia tidak ingin kembali ke sana.


---***---


Angga akhirnya sampai di tempat tujuan, rintiknya hujan dan bau dedauan yang basah tercium, di sana berdiri tenda darurat khas miliret, Jendral Indra yang masih berumur 35 tahun itu datang ke arahnya, dia adalah jendral termuda yang pernah ada di negara itu, tubuhnya tegap, tinggi dan besar, dari perawakannya dia terlihat sangat tegas, bahkan dengan melihat wajahnya saja pun seluruh lawan pun akan gentar.


" Selamat malam Tuan Angga. Sudah di lakukan usaha pembebasan, aku sudah mengerahkan orang-orang terbaikku ke sana, kita tinggal menunggu laporan dari mereka. " kata jendral Indra dengan kharismanya.


"Ya. " kata Angga tak kalah dengan Jendral Angga, membuat orang bisa melihat aura kepimpinan mereka berdua, Angga langsung dipersilahkan masuk tenda yang telihat seadanya dengan beberapa tentara sibuk memantau keadaan.


Angga menunggu sama seperti tadi, tak bisa diam dan terlihat sangat khawatir, Jendral Indra pun tampak serius berbicara dengan beberapa bawahannya.


"Lapor Jendral, 104 melaporkan sepertinya ada masalah di dalam, menurut anggota kita yang menyusup, Nona Bella menghilang melewati lorong rahasia, para penjaga disana sedang mencari mereka, sebagian berpencar. " kata prajurit itu tegas, membuat Angga pun bisa mendengarnya.


Mendengar itu Angga kaget, matanya membesar melihat ke arah Jendral Indra, Angga lalu berpikir.


" Kastil ini mempunyai banyak jalan rahasia. Dia pasti pergi dari salah satunya. " kata Angga berjalan cepat keluar dari tenda.


"Tuan Angga apa yang ingin Anda lakukan. "kata Jendral Indra.


"Perintahkan pasukanmu untuk masuk ke bawah tanah, di bawah tanah ada semacam lorong yang akan membawa mereka ketempat pemilihan lorong yang lain, jika dia tidak ada di antara lorong-lorong itu, maka dia sudah ada di luar." Kata Angga tegas.


Dia ingat bagaimana kakeknya bercerita tentang begitu banyak lorong yang saling bersambungan di dalam sana, untungnya kakeknya selalu menceritkan tentang kastil yang di buat untuk ibu kakeknya, ya, Kastil itu milik leluhur Angga.


"Perintahkan yang lain untuk menyebar ke hutan, karna jika dia sudah keluar, dia pasti ada di sekitaran hutan. " kata Angga memutar otaknya.


Jendral indra yang mendengar itu langsung memberikan perintah.


"Lumpuhkan semua penjagaan mereka, 104 pencarian di bawah tanah, 103 dan 105 berpencar disekitaran hutan." Tegas Jendral Indra.


Angga melihat ke arah luar, otaknya benar-benar mau pecah, bagaimana Bella bisa tahu jalan keluar dari kastil itu? di mana dia sekarang? Angga benar-benar khawatir, saking khawatirnya, dia ingin berteriak sekarang. Tangannya dikepalkannya dengan sangat erat. Hingga seluruh uratnya menegang.