
Angga masuk ke dalam kediaman khusus Perdana Meteri, kediamannya jauh lebih bagus dan modern dari pada gedung yang lain, berbentuk minimalis dengan ruangan lengkap dan besar, prabotannya juga terlihat mewah dan baru.
Angga masuk dan melihat ruangan tengah yang lumayan besar bersatu dengan ruang makan yang ada di sampingnya, Angga melihat Judy yang sedang menyiapkan makanan.
"Selamat datang Tuan," kata Judy saat sadar Angga pulang.
"Di mana Nyonya?" kata Angga mengamati ruangan-ruangan itu, masih terasa asing walau pun nyaman.
"Nyonya sedang ada di kamar Tuan."
"Apakah dia sudah makan?"
"Nyonya bilang akan makan setelah Anda pulang, jadi Nyonya langsung masuk ke dalam kamar utama," Jelas Judy.
"Baiklah, siapkan makanan untuk kami, di mana kamar utamanya?" kata Angga.
"Di sini Tuan," kata Judy mengarahkan Angga, Angga segera berjalan menuju arah yang di tunjukkan oleh Judy.
Angga membuka pintu dari kayu jati yang tampak elegan dan sesuai dengan dinding dengan wallpaper hitam yang indah.
Saat dia membukanya, kamar itu cukup besar, ranjangnya pun luas dengan dinding kaca yang besar, bernuansa minimalis yang indah. Namun Angga tak melihat Bella, dia mengerutkan dahinya.
"Bella?" kata Angga.
"Ya?" kata Bella yang membuka pintu kamar mandi, dia baru selesai mandi, semerbak wangi segar menyeruap seketika.
Angga tersenyum melihat Bella yang terlihat lebih segar.
"Sudah kembali, ingin makan? biar aku siapkan," kata Bella yang mengingat dia sekarang istri Angga, dia harus melayaninya.
"Judy sudah menyiapkannya, kita makan bersama setelah aku mandi," kata Angga membuka bajunya, Bella langsung gugup melihat Angga membuka sweaternya, menunjukkan tubuhnya yang indah dengan otot-ototnya, walau pun tampak luka-luka goresan, namun tetap tampak memukau.
"Baiklah, aku akan menyiapkan bajumu," kata Bella memalingkan wajahnya, Angga hanya tersenyum melihat tingkah Bella, memeluknya dari belakang, Bella kaget saat tubuh hangat Angga melingkupi tubuhnya.
"Terima kasih, istriku," kata Angga mengoda Bella, Bella yang mendengar itu langsung kaku, tubuhnya merinding mendengarkan bisikan Angga dan terpaan napas yang mengenai daun telinganya.
Angga melepaskan Bella yang masih kaku, lalu berjalan ke kamar mandi. Bella hanya bisa melihat Angga, Ah ... masih sore, apa yang dia pikirkan, tapi kan suami istri memang harus melakukan itu? memikirkannya, Bella jadi malu sendiri, Bella menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, lalu berjalan menuju lemari, mengambil baju Angga yang sudah di siapkan oleh Asisten Jang, ketika dia menyiapkan baju Angga, dia bahkan malu saat meyiapkan pakaian dalam Angga.
Bella menunggu Angga sambil duduk gugup, apa dia keluar saja dari kamar ini, nanti kalau Angga keluar, dia harus apa? Bella bingung, harusnya bersikap biasa saja kan? tidak mungkin melakukannya sekarang kan?, pikir Bella gugup.
Dia semakin gugup ketika pintu kamar mandi terbuka, Bella menatap pemandangan yang bisa membuat semua wanita terpana. Angga keluar dengan hanya mengunakan handuk melilit di bagian pinggangnya, kulitnya yang putih dan bentuk tubuhnya yang sempurna, rambutnya jatuh ke bawah, ujung-ujungnya tampak basah, Bella hanya bisa menatap Angga.
Angga langsung mendekati Bella yang semakin gugup, Angga langsung mengambil baju yang sudah di sediakan oleh Angga dan memakainya. Saat Angga membuka handuknya, Bella langsung membuang pandangannya ke segala arah, terasa benar-benar cangung. Angga melihat itu hanya menaikan sedikit sudut bibirnya.
"Sudah, ayo makan," kata Angga menatap Bella.
"Oh, baiklah," kata Bella tersenyum pada Angga.
Angga berjalan duluan, Bella hanya mengukuti Angga, mereka segera makan, Bella tidak bisa makan terlalu banyak, mungkin karena memang terlalu kosong, jadi tak bisa makan banyak.
"Apa sudah makannnya?" kata Angga menatap Bella yang sudah meletakkan sendok dan garpunya.
"Ya, terlalu kosong, saat di isi jadi tak enak, " kata Bella pada Angga.
"Baiklah, tapi nanti malam kau harus makan lebih banyak ya," kata Angga perhatian.
"Baiklah, apa yang mau kau setelah ini?" kata Bella.
Bella mendengar itu hanya diam, ada perasaan kecewa karena mendengar Angga akan pergi, sepertinya dia masih ingin menghabiskan waktunya dengan Angga, tapi ...
"Baiklah, hati-hati ya, Aku ke kamar dulu ya," kata Bella dengan wajah sedikit kecewa. Angga menatap Bella yang segera berdiri dan pergi meninggalkan Angga, Angga hanya tersenyum melihat Bella.
Bella masuk ke dalam kamarnya, dia kesal sendiri karena Angga sibuk dengan pekerjaannya, kenapa harus kesal, bukannya dari dulu Angga memang sangat sibuk dengan pekerjaannya, memangnya Bella mengharap apa? mengharap Angga membatalkan pekerjaannya demi dia?.
Baru saja dia mengatakan itu, pintu kamar terbuka, Angga masuk ke dalamnya, perlahan menutup pintu.
"Bukannya ada pekerjaan?" kata Bella mencoba menutupi wajah kesalnya.
"Ya, aku hanya ingin mengambil beberapa barang," kata Angga lagi, Bella kembali kecewa, dia pikir Angga masuk untuk membujuknya.
"Oh, baiklah, ambilah," kata Bella lagi, dia duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut.
Angga mendekati Bella, dia langsung mengedong Bella yang kaget dengan kelakukan Angga, Bella menatap Angga dan langsung terjebak dalam mata hitam Angga menghipnotis, Bella hanya terdiam.
"Aku sudah mengambilnya," kata Angga saat telah mengendong Bella, Bella yang kaget hanya melingkarkan tangannya ke leher Angga.
"Kau benar-benar punya urusan?"
"Ya, sekarang kau adalah urusan paling penting bagiku," kata Angga membawa Bella ke ranjang, meletakkannya di atas ranjang dengan perlahan, Angga langsung memposisikan dirinya di atas Bella.
"Kau pintar mengoda juga ya," kata Bella yang menatap Angga yang sekarang ada di atasnya, Bella merasa jantungnya seakan ingin copot, detaknya sangat keras hingga dia bisa mendengarnya sendiri.
"Ayo lakukan hal yang sudah tertunda," kata Angga yang sekarang bahkan sengat dekat dengan Bella, terpaan napas hangat Angga mengenai pipi Bella.
"Tapi kan belum malam," kata Bella malu-malu, wajahnya memerah.
"Memangnya ada peraturan bahwa melakukannya harus malam hari?" kata Angga menatap Bella dengan lembut.
"Akan malu jika terdengar oleh Judy dan Asisten Jang."
"Mereka sudah aku perintahkan keluar," kata Angga mulai mengerutkan dahi, merasa Bella mencari-cari alasan tak jelas.
"Jadi mereka tahu kita akan ..." kata Bella lagi.
"Nona Bella, Anda tidak bisa lagi mengelak kali ini," kata Angga memotong pembicaraan Bella dan langsung membekap bibir Bella dengan bibirnya, menciumnya dengan ganas, merasakan lembut dan manisnya bibir Bella, menyapu setiap inci dari bibir Bella, menyedot seluruh napas Bella, walau kewalahan Bella pun mulai menikmati perlakuan Angga.
Tangan Angga mulai menyusup ke dalam baju Bella, Bella memekik sedikit namun tak bisa keluar karena bibir Angga masih menutupinya saat jari jemari Angga mulai menyetuh bagian pinggangnya yang terus naik perlahan, mengalirkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Bella, Tangan Angga menjamah seluruh tubuh Bella dengan lembut membuat Bella bisa merasakan sensasinya, membuat tubuh Bella beberapa kali menegang.
Ciuman Angga turun perlahan, menjelajahi leher Bella yang harum, putih dan jenjang, membuat seluruh tubuh Bella menegang menerima sensasi yang tak pernah dia rasakan, terus turun hingga mencium tulang leher Bella yang menonjol.
Bella mendesar pelan, matanya sayu menatap Angga yang menghentikan ciumannya, Tubuhnya terasa sangat panas, walau pun suhu ruangan itu terasa sejuk, pipinya saja sangat panas, Angga mengamati wajah Bella yang sudah memerah, membuat dia semakin tak sabar melakukannya, Angga segera membuka baju Bella, cukup kasar namun tetap tak memaksa, setelah itu dia juga membuka bajunya.
Angga memulai lagi aksinya, mencium dan meraba inci demi inci tubuh Bella yang pasrah menerima semua perasaan yang di berikan oleh Angga, dia hanya bisa mendesah, Angga tak ingin buru-buru, mencoba membuat Bella nyaman dan siap.
"Sakit?" kata Angga melihat wajah Bella yang meringis sedikit.
Bella mengangguk diantara wajahnya yang sudah seperti udang rebus, menahan rasa nyeri namun juga gejolak yang dirasakannya.
"Bertahan sedikit ya," kata Angga lembut berbisik di telinga Bella.
Bella menarik napas, mengangguk lemah, matanya tertutup.
Angga kembali mencium Bella, mencoba membuatnya nyaman, senyaman-nyamannya, dan akhirnya semua terjadi seperti seharusnya.