
Jangan! Jangan katakan semua akan baik-baik saja, jangan berikan senyuman menentramkan, jangan berikan aku harapan, karna bagaimanapun, rasa cemas itu tetap ada dan tertanam.
____________________________________________
Angga hanya terdiam, terlihat berpikir serius dengan apa yang baru dikatakan oleh Jofan.
Tiba-tiba Angga melihat Bella yang masuk saja ke dalam ruang tengah itu. Bella tampak kaget melihat Angga yang ternyata sudah ada di rumah.
Jofan juga terkejut dengan kedatangan Bella, dia menoleh ke arah Bella, seketika terdiam dan terpana melihat Bella yang sangat berbeda dengan yang di lihatnya kemarin, Bella tampak santai tapi juga tampak rapi mengunakan kemeja hitam dengan lengan di gulung sedikit di bawah sikunya dan celana semata kaki berawarna bata, tampak dia juga memakai sedikit riasan diwajahnya, membuat aura kecantikannya itu keluar. Jofan hingga tak bsia berkedip.
"Kau di rumah?" kata Bella kaget melihat Angga, dia kira Angga sekarang sedang rapat atau apalah di kantornya, tidak disangka, Bella malah bertemu dengannya di ruang tengah.
"Kau sudah pulang? Kenapa tidak memberi tahu dulu?" kata Angga, sedikit melirik ke Jofan yang tidak bisa berkedip melihat Bella, dia lalu segera mengambil langkah, berjalan menuju Bella secepatnya, Bella yang masih cemas berusaha menutupi kegelisahannya.
"Apa sekarang jika aku ingin pulang juga harus melapor?" kata Bella yang melihat Angga sudah ada di depannya.
"Aku sedang ada pertemuan dengan Jofan, tunggulah di kamarmu, setelah ini aku akan menemuimu, jangan keluar kalau aku tidak memintamu."
"Ehm… baik lah." Kata Bella bingung dengan tingkah Angga.
Mata Jofan mengikuti Bella hingga dia hilang dari pandangan, Angga yang melihat itu hanya menatap Jofan dengan sangat sinis.
"Ehem… " Angga berdehem mengalihkan pandangan Jofan padanya.
"Sorry, mata ini memang tidak bisa di ajak kompromi," kata Jofan sedikit bercanda.
Angga kembali ke tempat duduknya, tetap memasang wajahnya yang dingin.
"Bro, pantas saja kau bisa langsung melupakan Mika, dia benar-benar cantik." Kata Jofan lagi sedikit berbisik.
Angga tidak punya minat untuk membalas temannya yang tampak sesekali melihat ke arah Bella tadi pergi, walaupun sebenarnya dia sama sekali tidak bisa melihat Bella lagi.
"Baiklah, seperti yang tadi aku katakan, temui wanita itu, aku yakin kita bisa dapat sesuatu darinya, dan lagi jika kita mendapatkan bukti yang lain, hal itu akan sangat mendukung." kata Jofan kembali serius memandang Angga.
"Baiklah," kata Angga.
"Jika kau butuh bantuan, katakan padaku, saat ini kekuatan militer kita sudah ada di genggaman keluarga kami, dan Ayahku pasti sangat mendukung rencanamu ini."
"Aku tahu itu. Aku akan menghubungimu."
"Baiklah, aku akan membicarakan ini pada Ayahku, aku pulang dulu."
"Mulai sekarang kurangi bermain dengan hobimu, mulai sekarang kau harus fokus, dukunganku akan sia-sia jika publik menilaimu jelek."
"Siap komandan, kirim salamku pada Bella." Kata Jofan berdiri.
"Baiklah."
Jofan langsung berbalik, Angga mengantarnya sampai ke pintu utama, mobil sport Jofan sudah terparkir di sana. Setelah dia masuk, dia langsung pergi dari sana. Angga berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah mobil Jofan sudah tidak terlihat lagi.
Bella tampak masih cemas, dia berjalan bolak balik, sesekali duduk di pinggir ranjangnya, beberapa kali melihat jam. Kenapa Angga lama sekali sih pertemuannya.
Bella kembali lagi mondar-mandir tidak tentu arah, semakin dia menunggu semakin dia cemas.
Pintu kamarnya di ketuk, dia langsung berjalan ke arah pintu itu. Judy berdiri dengan sikap sempurnanya.
"Tuan Angga memanggil Anda ke ruang tengah Nona."
"Oh, baiklah."
Bella berjalan dengan cepat menuju ke ruang tengah, melihat Angga yang masih sibuk dengan pekerjaannya, Bella duduk dengan sedikit menghempaskan badannya ke sofa di dekat Angga. Angga yang melihat tingkah laku Bella lalu mengalihkan perhatiannya pada Bella.
"Ada apa?" kata Angga dengan wajah sedikit berkerut.
"Aku merasa sangat bersalah sekarang." Kata Bella tak tenang, duduk dengan memegang tangannya sendiri, memainkan jari-jemarinya yang lentik, terkadang meyatukan mereka dan seperti berusaha untuk saling melepaskan.
"Memang kenapa?" kata Angga menangkap sinar kecemasan dari mata Bella.
"Aksa tadi datang ke Yayasan, dan dia bilang bahwa Sania dijatuhi hukuman mati dari pengadilan kerajaan."
"Benarkah?"
"Ya."
"Tapi bukankah itu memang rencanamu, membalas dendam untuk Sania, lalu Aksa?" kata Angga lebih memandang Bella dengan serius, mendengar itu Bella makin gelisah.
"Ya, itu masalahnya, aku kira aku akan senang mengetahui bahwa Sania akhirnya akan dihukum, aku kira aku akan lega karena dia akan merasakan apa yang aku rasakan saat itu, tapi aku tidak tahu kenapa? mendengar Sania akan dihukum mati, aku malah merasa sedih dan bersalah. Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?." Kata Bella terdengar cukup frustasi.
Angga tidak segera menjawab, dia mengeser tubuhnya lebih dekat dengan Bella, memperhatikan Bella sejenak, perhatian Bella pun teralihkan, menatap wajah Angga yang tampak menatapnya lembut.
"Lalu kau ingin apa?" kata Angga dengan lembut, seolah mengerti harus berbicara bagaimana saat keadaan Bella seperti ini, hanya mendengar suara Angga saja hati Bella sedikit lebih tentram.
"Bisa kah kau membantunya?" kata Bella menatap Angga.
"Bukankah lucu, kau yang merancang ini semua, saat apa yang kau inginkan terjadi, tapi kau malah merasa kasihan padanya."
"Itulah masalahnya, aku juga kesal, aku… aku rasa balas dendam itu bukan cara terbaik membuat hatiku tenang." Kata Bella lemah, kenapa baru sekarang dia menyadarinya, tidak ada yang menang dalam balas dendam, yang ada hanya jiwa kita yang makin tidak tenang.
"Di mana dia sekarang?" kata Angga.
"Di penjara kota, dia sedang menunggu ekskusinya. Dan untuk bertemu dengannya, harus ada izin dari Aksa."
Angga kembali tampak berpikir. Berpikir hingga dahinya sedikit tampak berkerut, dia lalu berdiri, mencari cara bagaimana caranya.
"Aku tadi mengatakan ingin pergi menemuinya, dan Aksa bilang aku bisa menemuinya tapi Aksa harus ikut." Kata Bella lagi.
Angga yang tadinya sedang berpikir, langsung melihat ke arah Bella.
"Kapan kalian akan ke sana? " kata Angga dengan suara beratnya.
"Aku belum mengatakan padanya, aku masih ragu jika pergi ke sana dengan Aksa."
"Jangan pergi, aku takut kau kenapa-kenapa di sana." Kata Angga tegas.
"Tapi aku benar-benar ingin bertemu dengan Sania, bagaimanapun jika memang dia di eksekusi mati, itu semua salah ku." Kata Bella bersikeras.
"Apa kau tidak berpikir jika ini hanya jebakan? Bagaimana jika ternyata mereka masih saling bekerja sama." Kata Angga yang emosinya tersulut karena rasa cemas yang muncul.
"Tak bisa kah kau membuat rencana agar aku bisa datang ke sana dengan aman?" kata Bella memelas.
"Tidak." Kata Angga.
"Tapi ini semua gara-gara aku, jika pun kau tidak izinkan, aku akan pergi sendiri." Kata Bella menatap Angga seolah kata-katanya bukan hanya sekedar ancaman.
Angga menatap Bella dengan tajam, dia mengigit bibir, mengambil handphonenya dengan kasar, lalu pergi meninggalkan Bella. Bella hanya menatap ke pergian Angga.
Angga pergi ke ruang tamu, memanggil nomor Jofan segera. Tak lama teleponnya tersambung.
"Ada apa lagi?" kata Jofan yang untungnya memakai handsfreenya karena dia masih menyetir.
"Aku punya info tentang wanita itu. Dia akan dihukum mati." Kata Angga lagi.
"Yang benar? Itu sangat bagus." Kata Jofan tersenyum senang.
"Maksudmu?" kata Angga.
"Psikologi manusia, jika dia tidak punya harapan lagi, dia akan mau melakukan apapun, itu kesempatan kita untuk bisa mendapatkan semua info darinya, di mana dia sekarang?" kata Jofan.
"Penjara kota. Hanya Aksa yang bisa melihatnya." kata Angga.
"Baguslah, tenang saja, akan ku kabari kau nanti." Kata Jofan tampak senang dari nada suaranya.
"Satu lagi, Bella ingin menemui wanita itu, tapi syaratnya adalah Aksa yang akan menemaninya, kau punya cara untuk membuatnya aman di sana?" kata Angga lagi.
"Untuk apa dia ke sana? Bukannya wanita itu yang dulu ingin membunuhnya? " kata Jofan, dahinya berkerut, padahal tidak ada orang yang akan melihat kerutan wajahnya itu.
"Dia merasa bersalah, karena yang sudah menjebak Sania sebenarnya adalah Bella."
"Wow! Gadismu cerdas sekali, sayang hatinya belum terbiasa dengan kehidupan seperti ini."
"Bagaimana?"
"Tenanglah, aku punya caranya, aku yakinkan kau dia tidak akan kenapa-kenapa." kata Jofan
"Baiklah aku percaya padamu." Kata Angga.
"Ya, aku akan segera menghubungimu."
"Ya."
Angga segera menutup panggilannya, dia tampak masih cemas, tapi mencoba untuk lebih tenang, lalu dia kembali berjalan menuju ke ruang tengah.
Bella masih terduduk di sana, dia masih memainkan tangannya terus menerus, tapi pandangannya sekarang kosong.
"Aku akan membantumu untuk bertemu dia. " kata Angga dengan suara beratnya, sedikit serak karena ada rasa tak rela untuk mengatakan itu.
Mendengar suara Angga yang ada di belakangnya itu, Bella menatap Angga, ada sunggingan senyum kecil di bibir Bella. Bella lalu berdiri menghampiri Angga yang terlihat sedikit enggan bertatap mata dengan Bella, dia takut dia tidak bisa mengontrol dirinya.
"Terima kasih, aku akan baik-baik saja, biar aku menuntaskan apa yang sudah ku perbuat." kata Bella lembut di depan Angga. Angga masih dengan sikapnya yang acuh, seolah tak mendengar perkataan Bella.
Suasana di sana canggung, Angga bukan orang yang bisa mengekspresikan rasa cemasnya, jika dia mengeluarkannya yang ada hanya nada emosi, dan itu akan membuat Bella tidak nyaman mendengarnya.
"Baiklah, aku harus kembali ke perusahaan sekarang. " kata Angga pergi begitu saja. Bella menatap punggung Angga yang meninggalkannya, menghilang di balik tembok pembatas.
Bella tahu Angga cemas, dia juga tidak ingin membuatnya cemas, dan sebenarnya dia juga tak yakin tentang rencana untuk pergi bersama Aksa ke sana, namun perasaannya benar-benar mengatakan dia harus bertemu Sania. Dia harus membenarkan apa yang sudah di perbuatnya.