
Bella terus berlari, dia tidak tahu ke mana arah dia pergi, yang dia lihat jika dia bisa menginjaknya, dia akan berlari ke sana, kabut tebal mulai menyergap, angin tak berhenti berhembus kencang, hujan pun tak menunjukkan akan berhenti, dengan insting mempertahankan dirinya Bella tak sedikit pun menoleh ke belakang, dia benar-benar takut.
Namun mungkin karena terlalu kencang berlari, tanpa memperhatikan jalan, dia malah tersandung dahan pohon yang tumbang, terjerembab jatuh di antara daun-daun yang mulai layu san kepalanya terbentur batang pohon besar yang ada di sana.
Kepalanya seketika sakit dan langsung pusing, namun dia masih sadar, seluruh tubuhnya basah dan kotor karena lumpur, dia mencoba untuk bangkit di antara semak dan daun-daun yang basah itu, dia duduk dan melihat ke arah belakang, tidak ada orang mengejar bukan?, sudah cukup jauh kah? tapi entah kenapa dia tetap saja merasa tak aman.
Tiba-tiba dia merasa ada cairan hangat yang mengalir di dahinya, Bella mengelapnya, di antara kilatan cahaya petir, dia melihat darah kental, Bella segera mengelapnya lagi, darahnya makin banyak dan rasa pusingnya makin parah. dan tiba-tiba semuanya terasa berputar dan gelap. Tubuh Bella lunglai dan terjatuh kembali di antara daun-daun itu.
----***----
Aksa sampai ke kastil itu, namun baru saja dia ingin sampai di gerbang pertama, dia mendapat laporan.
"Pangeran, keadaan di kastil sudah tidak kondusif, ada beberapa pasukan yang menyergap." kata Penjaga yang mendapatkan laporan.
Aksa tersenyum sinis.
" Berputarlah, kita lewat jalan belakang. " kata Aksa yang sedang berpikir. Dia mengertakkan giginya, dia harus menemukan Bella sebelum Angga menemukannya.
---***---
Angga merasa dia tidak bisa lagi menunggu, dengan cepat dia meninggalkan tenda itu, masuk menuju ke dalam hutan yang tampak gelap gulita, suasana suram terasa, tapi hatinya lebih suram, rasa cemas sudah di tahannya dari tadi siang, tidak, tidak! dia tidak bisa lagi diam.
Berjalan di bawah rintik hujan yang sangat halus, pohon-pohon yang ada di sekitarnya, menjatuhkan air hujan perlahan-lahan, mata Angga awas menatap seluruh hutan yang gelap itu. Kilatan petir yang menamaninya.
Dia terus masuk, tidak peduli ada apa di depannya, bahkan jika dia bertemu macan pun saat ini, dia tidak akan gentar untuk menyusuri hutan gelap itu.
Angga berhenti sejenak, menatap sekelilingnya yang tampak sama, hanya semak belukar dan kabut yang mulai menutupi pandangannya, dia mengigit bibirnya, menatap ke segala arah, ke mana aku harus mencarimu? Kata hati Angga yang tidak bisa berhenti membuang pandangannya ke segala arah.
Bella…
terdengar suara hembusan angin sehalus bisikan dari arah kanan Angga, membuatnya langsung awas, menatap ke arah jalan di sebelah kanannya yang mulai tertutup oleh kabut, udara yang dingin cukup menusuk.
Seolah terpanggil oleh sesuatu, Angga berjalan ke arah hatinya membawanya, dia terus berjalan bahkan terlihat terburu-buru seperti dia harus secepatnya pergi ke suatu tempat. Angga merasa Bella ada di tempat yang sekarang dia tuju.
Angga terus berlari namun matanya terus waspada melihat apapun yang kemungkinan bisa dia dapatkan, hingga di suatu titik, dia melihat ke arah semak-semak, melihat sebuah tangan yang mengantung di atas pohon yang tumbang.
Dia segera berlari ke sana, mendekatinya secepat mungkin, menemukan tubuh Bella yang tergeletak di sana, dia langsung mengangkat tubuh Bella, meletakkan pada pangkuannya.
"Bella? Bella?" kata Angga cemas, dia melihat darah yang membasahi sebagian wajah Bella, Bella tak bergeming, hanya tampak lemas, apa yang terjadi padanya? Pikir Angga.
"Bella, bangun lah, aku sudah di sini, maafkan aku tidak bisa datang lebih cepat." kata Angga memeluk Bella beberapa kali, namun kembali melihat wajah Bella yang masih terkulai lemas, air mata Angga menumpuk di sudut matanya, seluruh emosinya keluar tak dapat di bendungnya lagi, bahkan untuk seorang pria yang dingin dan tak punya perasaan, dia tetap bisa merasakan keputusasaan yang dalam.
Dia memegang lengan Bella, seluruh tubuhnya dingin, Angga melepaskan jaket nya, lalu menutupi tubuh Bella yang terasa sedingin es.
Angga tak tahu perasaannya sekarang, panik, cemas, takut, sedih, semua bercampur jadi satu, hanya bisa lampiaskan dengan geraman dan air mata yang mulai membuat matanya suram.
"Bella! Bangun lah! Bella!" teriak Angga keras seolah ini adalah usaha terakhirnya untuk membuat Bella sadar. Dia kembali mengoncangkan tubuh Bella.
Usahanya tidak sia-sia, perlahan Bella membuka matanya, Angga melihat itu tampak kaget namun juga haru, dia lalu tersenyum namun air matanya menetes, tersamar oleh air hujan yang juga sudah mulai membuat seluruh tubuhnya basah.
"Bella..." kata Angga lemah diantara senyuman dan tangis haru. Matanya menatap mata Bella, wajahnya berubah sedih, melihat perdarahan di sudut mata Bella yang tampak indah di bawah cahaya kilat. Separah itukah Aksa menyiksanya?.
"Aku sedang bermimpi? " kata Bella pelan.
"Tidak, aku di sini, aku ada di sini, aku bersamamu, aku berhasil menemukanmu, aku ada di sini." kata Angga dengan suara cemasnya, memegang tangan Bella yang sedingin air hujan di sana, meletakkannya di pipi Angga yang hangat, beberapa kali dia mencium telapak tangan Bella.
Bella memperhatikan Angga, bibirnya yang seindah kelopak bunga mawar itu menyungingkan sebuah senyuman, tipis namun indah.
"Mimpi ini sangat indah, aku berharap ini jadi kenyataan." Kata Bella lagi menatap lekat-lekat wajah Angga, seolah ini adalah terakhir kalinya dia menatap Angga, dan perlahan-lahan matanya kembali sayu, dan tertutup.
"Bella, jangan tidur lagi, ayo, bagun lah." kata Angga kembali mengoncangkan tubuh Bella, namun Bella tidak merespon.
Angga tahu, Bella butuh penanganan lebih lanjut, dia lalu segera mengangkat tubuh Bella, di antara jalan tanah yang becek dan licin juga semak-semak yang lumayan menghalangi langkah, Angga berusaha dengan cepat mengendong Bella kembali ke tenda.
"Aku rasa kau membawa istriku. " kata Aksa yang tiba-tiba keluar dari balik pepohonan di samping kiri Angga.
Angga yang mendengar suara Aksa segera melihat pria itu, Aksa berjalan agar bisa berhadapan dengan Angga, di tanganya lagi-lagi mengacungkan pistol, kali ini di arahkan tepat ke arah kepala Angga.
Angga menatap Aksa dengan tatapan emosi, seluruh tubuhnya kembali menegang menahan amarah, pria ini! kalau saja Bella saat ini tidak butuh perawatan segera, dia akan dengan senang hati melayaninya, bahkan hingga bertaruh nyawa sekali pun, dia akan membuat perhitungan dengannya.
Aksa membalas sorot mata Angga yang tajam, dia tidak suka melihat pemandangan di depannya, dia tidak suka Bella sekarang ada di dekapan Angga. Bagaimana pun Bella adalah istrinya, wanita miliknya.
"Dia butuh pertolongan, aku tidak sedang ingin bermain-main denganmu." kata Angga tegas, dia berjalan mendekati Angga yang sekarang ada di depannya.
Aksa melepaskan tembakan, suara tembakan itu melengking, membuat semua orang kaget dan siaga bahkan pasukan yang sedang berpencar langsung tanggap, dan menuju ke arah suara itu terdengar.