
Bukan, bukan aku sengaja ingin jahat, menjerat dan membuatmu terpikat, namun, kau lah yang mengubahku menjadi begini, aku tak akan seperti ini jika tidak sangat tersakiti.
____________________________________________
Mobil mereka berhenti tepat di depannya istana pangeran, di sana sudah tampak begitu ramai dengan teman dan kolega Aksa yang terlihat sudah sangat siap untuk berpesta, Angga turun dari mobilnya ketika pintu di buka, Angga lalu mengitari mobilnya, tak seperti biasanya, dia membukakan pintu mobil itu untuk Bella, membuat Bella sedikit terkejut dengan perlakuan Angga, Angga tampak tersenyum di balik topeng hitam yang di gunakannya, bahkan topeng itu tak bisa menghalangi ketampannnya.
Angga menjulurkan tangannya untuk membantu Bella keluar dari mobilnya, Bella tersenyum membalas senyuman Angga, lalu dengan anggunnya menyambut tangan Angga, dia keluar perlahan, benar-benar terlihat anggun saat keluar dari sana, bahkan proses Bella untuk keluar dari mobil itu saja sudah menarik perhatian banyak mata di sana.
Bella benar-benar mengeluarkan aura putri yang dia punya, dia berjalan dengan dagu yang terangkat, wajahnya setengah tertutup oleh topeng berukir dan bertabur belian, hanya menampilkan bibirnya yang merah merekah bagai mawar merah, membuat orang-orang yang menatapnya begitu penasaran dengan wajahnya, selain itu penampilannya yang begitu mengoda, tubuhnya yang bak gitar spayol itu bahkan membuat seluruh mata menatapnya, seolah dia lah bintangnya malam ini.
Bella berjalan dengan sangat anggun, melewati banyak orang, pria-pria menatapnya begitu kagum, sedangkan wanita terlihat begitu iri, apa lagi wanita ini terlihat begitu sempurna mulai dari atas hingga ke bawah, beberapa pria bahkan terlihat melongo melihatnya.
Angga yang berjalan di sampingnya pun hanya tersenyum tipis, Bella benar-benar menakjubkan, dia bisa berubah dari begitu gugup menjadi begitu percaya diri dan anggun dalam sesaat, melihat reaksi orang-orang di sana, Angga cukup menikmatinya, rasa bangga karena dialah yang bisa mengenggam tangan wanita ini.
Pintu istana pangeran yang begitu bersar dan megah itu sudah terbuka, Angga dan Bella memasukinya, di dalam terdapat ruangan yang begitu luas, tampak 2 tangga yang menyatu menjadi satu, khas gaya istana-istana zaman dulu, di sana terlihat lebih banyak orang, dan semenjak langkah pertama mereka, Angga dan Bella segera menjadi pusat perhatian.
Aksa sedang berbincang dengan beberapa orang temannya tepat di bagian belakang tengah ruangan itu, dia tampak begitu menarik dengan pakaian pangerannya, dia tidak mengunakan topeng sama sekali, dia adalah Tuan rumah acara itu, untuk apa dia mengunakan topeng?
Dia harus memperlihatkan betapa menariknya dirinya. Sania setia mendampingannya, dengan gaun putih putih bertabur belian dengan ekor yang sangat panjang, membuatnya seperti pengantin wanita Aksa, dan memang itu lah yang di inginkannya, setelah mengoda dan menghasut Aksa untuk segera melenyapkan Bella, dia tidak sabar untuk mengantikan posisi Bella sebagai istri Aksa, istri seorang pangeran mahkota.
Perhatian Aksa teralih saat Bella masuk, sebenarnya seluruh perhatian di ruang itu teralihkan menatap ke suatu titik, kedatangan Bella dan Angga. Aksa menatap Bella begitu terpesona, bahkan dia tidak bisa berkedip melihat lengak-lengok Bella yang berjalan mendekatinya, seakan seluruh perhatiannya tersedot oleh Bella, dia tidak bisa memalingkan wajahnya lagi, hanya menatap sorot mata Bella yang begitu tajam dan percaya diri. Siapa dia? Sepertinya dia tidak penah melihat wanita dengan kesempuranan seperti itu. Hasrat Aksa seakan berontak, ingin mendapatkan wanita itu, siapapun dia?, Aksa tersenyum dengan senyuman mengodanya, Sania yang melihat itu tampak begitu kesal dan tak senang.
Bella menatap Aksa terus dengan tatapan tajamnya, semenjak masuk dan menangkap sosok pria itu di tengah ruangan, emosi yang ada di dalam dirinya segera memuncak, pria itu yang tertawa menatap kematiannya, kali ini dia yang akan menatap dirinya saat merasakan kesakitan nanti, itu tekatnya, dia terus berjalan begitu percaya diri, menunjukkan segala kemampuannya agar Aksa terpikat oleh dirinya, dia lalu melihat senyum manis Aksa yang seperti mengodanya, dia tahu, Aksa sudah terjebak olehnya, karena itu dia menaikkan sedikit sudut bibirnya.
Bella dan Angga berhenti di depan Aksa dan Sania, Bella terus menjaga pandangan matanya dengan Aksa yang sepertinya juga tidak bisa keluar dari tatapan Bella yang begitu menggoda. Setelah di rasa cukup, Bella lalu melihat ke arah Angga, seolah terhipnotis, saat Bella melihat Angga, pandangan Aksa pun mengarah ke arah Angga.
" Terima kasih sudah mengundang kami, " kata Angga.
" Angga? " kata Aksa tak percaya.
" Ya, " kata Angga singkat.
" Wah aku tidak sangka kau benar-benar datang, " kata Aksa benar-benar tidak percaya, apa lagi dia melihat tangan Bella melingkar di lengan Angga.
" Dia wanitaku, " kata Angga dengan suara beratnya, menatap Bella dengan dalam.
" Oh, jadi ini kekasihmu, wow, senang mengenalmu, Nona… " kata Aksa benar-benar tidak bisa menutupi kekagumannya pada sosok wanita di depannya. Bella menyerahkan tangannya di hadapan Aksa, tangannya yang putih dan halus itu, jari-jemarinya yang lentik bahkan terlihat sangat indah.
" Mika, " kata Bella begitu halus, Aksa yang begitu terbuai bahkan tidak menyadari suara Bella yang seharusnya dia kenali, dengan cepat menyambut tangan Bella yang ada di depannya.
" Nama yang indah, " kata Aksa sebelum mencium tangan Bella, semerbak harum mawar tercium oleh Aksa, membuatnya makin mengila, seakan tak ingin melepaskan tangan Bella, bahkan hanya tangannya saja sudah membuat Aksa mabuk. Bella segera menarik tangannya untuk menyudahi perkenalan ala bangsawan dalam dongeng itu, dia lalu segera mengandeng kembali lengan Angga, Aksa terlihat tak rela, menatap Angga dengan sangat tajam, Angga juga menatap Aksa, menaikkan sedikit bibirnya seolah mengejek Aksa.
" Pesta yang menyenangkan Tuan Aksa, " kata Bella begitu lembut, bahkan bisa menghipnotis.
" Semoga Anda menikmati pesta ini, Nona Mika, " kata Aksa, seolah yang sekarang ada di matanya hanya Mika.
Angga kembali menaikkan senyum sinisnya pada Aksa, tanpa banyak bicara membawa Bella pergi dari hadapan Aksa, Aksa masih menatap mereka pergi.
" Kenapa kau menatap wanita itu hingga begitu ? " kata Sania tampak begitu kesal pada Aksa.
" Jangan memasang wajah begitu buruk jika ingin berada di sampingku, " kata Aksa seolah tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Sania.
Sania mengertakan giginya, tak bisa menjawab apapun, karena kalaupun dia marah, Aksa tak akan peduli, dia menatap Bella dengan penuh kebencian, mengenggam tangannya hingga kuku-kunya yang panjang menusuk dagingnya, terasa sakit namun tak sesakit hatinya ketika melihat Aksa begitu tertarik dengan Bella.