Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
39



Pernahkah kau merasa begitu bahagia hingga kau takut akan rasanya, tak tahu karna takut kehilangan atau hanya takut rasa ini tak terbalaskan.


___________________________________________


Bella baru saja sampai di apartemennya, dia terus tersenyum begitu puas melihat reaksi Sania, Sania pasti merasa sangat di permalukan di sana, dia benar-benar menikmati wajah terkejut Sania, awal yang sangat bagus, pikir Bella.


"Nona, Asisten Jang tadi memberitahukan saya bahwa Tuan Angga menyuruh anda untuk datang ke rumahnya nanti malam, " kata Judy melaporkan.


"Baiklah, terima kasih Judy, " kata Bella.


Dia lalu berjalan menuju kamarnya, menganti bajunya dengan baju yang lebih santai, dia lalu mengikat rambutnya ke atas. Dia lalu meletakkan beberapa buku novel yang dibelinya di atas meja bundar kecil di dekat sofa kecil yang menghadap ke arah jendela, itu sekarang menjadi tempat favoritnya, langit masih mendung, terlihat sangat sendu, tapi enggan untuk mengizinkan air hujan untuk segera turun, siang yang sempurna untuk duduk membaca sambil sesekali melihat pemandangan gedung-gedung yang indah.


Baru saja dia duduk dan ingin membuka novelnya, tiba-tiba handphonenya berdering, sebuah panggilan video dari Daihan, dengan cepat dia mengangkatnya.


"Halo, apa kabar? " kata Daihan, tampak dia sedang berjalan di luar, sepertinya di sana juga sedang malam hari.


"Halo, Kak, aku sehat, bagaimana keadaan kakak? " kata Bella tersenyum.


"Baik, sedang ada waktu kosong untuk keluar, " kata Daihan dengan senyumannya yang manis.


"Tidak mengunakan mobil? " kata Bella


"Tidak, ingin menikmati suasana, di sini sedang ramai karena sebentar lagi tahun baru, lagi pula ada suatu tempat yang aku tuju, tidak bisa mengunakan mobil jika ingin ke sana, tapi di sini cukup dingin," kata Daihan lagi, Bella bisa melihat sepertinya di sana memang dingin, Daihan saja mengunakan padding tebal, pelindung telinga, dan setiap dia berbicara terlihat uap yang keluar dari mulutnya, hidungnya juga sampai memerah, membuat dirinya tampak lebih imut.


"Wah, kalau begitu hati-hati ya kak, seharusnya kakak jangan keluar di malam begitu dingin, nanti kakak bisa sakit, " kata Bella tersenyum sangat manis pada Daihan dan nada perhatian, Daihan yang mendengar nada perhatian dari Bella, juga senyuman manis Bella tiba-tiba berhenti, dia memperhatikan wajah Bella dalam-dalam. Bella yang melihat Daihan yang terhenti dan menatapnya jadi bingung.


"Kenapa kakak? Apakah ada masalah?" kata Bella lagi


"Tidak, aku hanya merindukanmu," kata Daihan dengan sangat lembut.


Sekarang Bella yang terdiam mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Daihan, wajahnya langsung bersemu merah, ada rasa senang di hatinya.


"Kalau begitu cepatlah pulang, setelah itu kita akan bertemu," kata Bella sumringah.


"Baiklah, aku akan pulang secepatnya setelah semua urusanku selesai, tunggu aku ya," kata Daihan tersenyum begitu bahagia karena Bella menanggapinya, setelah itu dia tampak melihat ke arah tertentu.


"Baiklah, aku akan menunggu, " kata Bella


" Baguslah, aku sudah sampai, tunggu sebentar ya, jangan putuskan panggilannya, " kata Daihan


" Iya."


" Lihatlah, " kata Daihan tersenyum.


Kamera lalu berganti menyorot ke tangan Daihan, di tangannya terdapat bunga merah muda dengan banyak kelopak dan mekar dengan sangat indah, mungkin ada 6 buah, di rangkai dengan indah dengan bunga baby breath putih dibungkus oleh kertas merah muda yang tambah memaniskan bouqeut bunga itu.


" Ini bunga yang kau cari, akhirnya aku menemukannya, bunga Peony, " kata Daihan lagi.


Bella terdiam kembali melihatnya, wajahnya tampak terpana, menatap bouquet bunga yang sekarang di pegang oleh Daihan, dia benar-benar tidak menyangka, Daihan pergi berjalan di malam yang begitu dingin hanya untuk menunjukkannya bagaimana bentuk bunga kesukaannya? Bella benar-benar tersentuh, tersentuh sangat dalam, belum ada seorang pria yang mempelakukannya begitu, hati Bella sekarang benar-benar tak karuan, antara kaget, dan senang, namun juga ada rasa takut di dalamnya.


Kamera lalu berpindah lagi menyorot wajah Daihan dengan wajahnya yang memerah sumringah sambil menunjukan bunga itu di dekat wajahnya.


"Kau suka?" kata Daihan yang melihat Bella hanya terdiam.


"Kakak berjalan di malam yang begitu dingin hanya untuk menunjukkan bunga itu untukku? " kata Bella seperti masih tidak percaya apa yang di lakukan Daihan untuknya.


"Iya, dan bunga ini memang tidak tumbuh di negara kita, begitu aku tahu bunga itu ada di sini, aku segera mencari toko bunga yang menyediakannya, jadi kemarin siang aku berjalan ke mari, memesan bunga ini untukmu, karena cukup sulit mendapatkannya di musim dingin, sayang aku tidak bisa membawanya ke sana, pasti sudah layu, aku minta maaf," kata Daihan lagi.


Bella benar-benar tidak bisa berkata apapun, dia kehabisakan kata untuk mengekspresikan dirinya, bahkan sekarang dia merasa terharu karena Daihan membuatnya meresa sangat spesial, ternyata ada seorang pria di dunia ini yang bisa mempelakukannya begitu spesial sebagai dirinya sendiri, tanpa sadar air matanya mengumpul di sudut matanya.


"Kau tidak apa-apa?" kata Daihan yang melihat mata Bella yang berkaca-kaca.


"Tidak, tidak, hanya terlalu bahagia, terima kasih kakak, " kata Bella dengan senyuman, air matanya turun ke pipinya yang halus.


"Jangan menangis, aku melakukan ini untuk melihat senyumannya, " kata Daihan lagi.


"Aku menangis bahagia, terima kasih ya kak, aku merasa sangat spesial sekarang, " kata Bella menghapus air matanya.


"Kau memang gadis spesial untukku, jika kau punya waktu, aku akan membawamu ke Jepang, di sana bahkan ada Kuil untuk bunga Peony, " kata Daihan dengan senyumnya yang menenangkan.


"Iya, baiklah, " kata Bella lagi.


"Sepertinya Aku akan pulang, aku mulai tidak tahan dengan dinginnya, setelah di rumah aku akan memfotokan bunganya, kau boleh memajangnya nanti, " kata Daihan lagi dengan senyumannya.


"Iya kakak, hati-hati di jalan, jaga kesehatanmu," kata Bella


"Iya, aku matikan ya, " kata Daihan lagi, lalu dia mematikan panggilannya.


Bella masih terdiam, memandang pantulan wajahnya yang tampak samar di kaca, Bella kembali merasa takut, takut tidak bisa membalas semua perbuatan Daihan yang begitu baik padanya.