
Angga menatap Jofan dengan sangat tajam, Angga rasanya hampir gila membayangkan apa yang terjadi. Bagaimana pun Mika adalah wanita yang pernah ada di dalam hidupnya, sejak kecil mereka bersama, bagaimana bisa dia menyembunyikan segalanya dari Angga, menerima Angga hanya karena balas budi? Lalu apa? Bagaimana bisa Daihan juga menyembunyikan segalanya, apa Jofan juga tahu?. Bagaimana bisa mereka mempermainkan Angga seperti ini?.Angga merasa benar-benar di permainkan, bahkan dengan orang-orang terdekatnya, orang-orang yang seharusnya bisa dipercayainya, tapi mereka pula yang menipu dia sekarang. Siapa lagi sekarang yang bisa di percaya olehnya?. bahkan Angga tak tahu siapa yang harus dia salahkan sekarang.
"Apa kau sudah tahu semua ini? " tanya Angga dengan suara menahan amarahnya, tersengal dengan emosi yang tertahan di tenggorokan.
Jofan terdiam, dia bingung harus menjawab apa, dia hanya memperhatikan mata Angga yang merah, Jofan tahu amarah Angga sudah tak terbendung lagi
" Jawablah! " teriak Angga lagi.
"Kalau soal Mika menyukai Daihan, ya aku tahu, Mika menyukai Daihan sejak kecil, tapi percayalah, Daihan tidak pernah membalas apapun perasaan Mika. Dia benar-benar mementingkan persahabatan kita. " kata Jofan menjelaskan.
"Lalu apa? apa akibatnya? jika saja Daihan tidak menolak perasaan Mika, apa Mika akan frustasi, pergi ke tempat itu dan bertemu Aksa?" kata Angga tidak bisa berpikir jernih.
"Angga, itu bukan salah Daihan. Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? " kata Jofan lagi.
"Katakan padaku, Malam itu Mika meminta tolong pada Daihan, jika saja malam itu dia menolong Mika. maka Mika mungkin masih ada di sini." kata Angga lagi dengan amarahnya pada Jofan, Jofan hanya bisa terdiam, tak sadar, matanya malah menangkap sosok di belakang Angga.
Jofan menatap Bella yang sekarang ada di belakang Angga. Dari wajahnya tampak kesuraman, Bella juga tampak kaget dan terpukul mendengar kata-kata Angga, seperti ada sebilah sembilu yang langsung di tancapkan di jantungnya, perih, bahkan seperti di beri asam dalam lukanya. Sesakit itu rasanya hati Bella sekarang. Jadi Angga masih meginginkan Mika ada di sisinya? Jadi selama ini apa yang dilakukan oleh Angga untuknya apa? apa hanya untuk pelampiasan? apa kata Medeline benar, hanya karena dia mirip dengan Mika.
Pandangan mata Bella berkabut, kabut tebal air mata yang membuat sosok Angga yang di lihatnya dari belakang itu perlahan menghilang, air mata Bella turun tanpa terbendung. Mengalir lepas meninggalkan kelopak matanya yang indah, menuju sudut bibirnya. Asin… tapi hal itu tidak bisa juga menenangkan perasaannya,rasanya sedih sekali. Nyeri sekali, bahkan sakitnya tidak sesakit penyiksaan yang di beri oleh Aksa.
Tubuh Bella begetar, dia mencoba menahan tangisnya, tidak ingin banyak orang melihatnya, dia lalu tersenyum sedikit melihat Jofan yang memperhatikannya dengan serba salah, mengumpulkan sedikit demi sedikit tenaganya untuk kembali ke ruangannya, dia tidak ingin lagi menyiksa dirinya untuk mendengar apa yang akan di keluarkan oleh Angga.
Di sisi lain rumah sakit, Sania keluar dari messnya, dia mendegar suara yang terdengar sangat keras, lalu dia melihat Angga dan Jofan yang sedang tampak bertengkar. Tapi pandangan Sania jatuh pada wanita yang hanya berdiri di belakang Angga. sekali lihat dia bisa tahu itu Mika. Tapi kenapa dia ada di sini? pikir Sania.
"Ada apa? " kata Sania pada salah satu tentara yang berjaga di messnya.
"Tuan Jofan dan Tuan Angga sepertinya terlibat dalam suatu masalah Nona. " kata Tentara itu seadanya, tidak boleh terlalu ikut campur.
"Ehm, wanita itu, kenapa ada di sini? " kata Sania lagi.
"Nona itu baru diselamatkan dari penyekapan. " kata Tentara itu lagi.
Sania hanya diam, menatap Bella dari jauh, dia tahu, pasti yang melakukannya adalah Aksa. ternyata nasib buruk memang menaungi siapapun yang mencoba-coba dekat dengan Aksa.
Jofan baru saja ingin memanggil Bella, berusaha membuat Angga sadar bahwa dari tadi Bella ada di belakangnya. Namun belum lagi dia berbicara, Angga kembali melangkah, untungnya Jofan sempat untuk menahannya.
"Kau mau kemana?" kata Jofan buru-buru menahan Angga. Jofan jadi lupa tentang Bella.
"Aku ingin mememui Daihan." kata Angga.
"Dengan 1 syarat aku harus ikut denganmu. kalau tidak aku tidak akan mengizinkan kau keluar dari areal ini." kata Jofan tegas.
Awalnya Angga hanya diam, namun dia segera mengangguk.
"Baiklah, siapkan mobil untuk kami." kata Jofan.
"Halo?" kata Daihan
"Halo, Daihan kau sekarang ada di mana? " kata Jofan.
"Aku sedang di rumah, ada apa? "
"Aku akan ke rumah mu." kata Jofan lagi
"Baiklah." kata Daihan.
Angga memperhatikan Jofan dari awal dia menelepon Daihan, tangannya di kepalkannya dengan sangat erat. Nyeri di tangannya pun tidak terasa lagi.
"Setelah dari sini, kau harus ke dokter lagi, sejak kapan hobimu menyiksa diri sendiri. " kata Jofan menyelipkan handphonenya di jas yang di pakainya.
Angga tak punya minat untuk menjawab. Dia menatap dedaunan pohon yang tampak berkejaran ditinggalkannya.
Tak lama mereka sampai juga di rumah Daihan, Daihan tampak mengerutkan dahi menatap Jofan dan Angga keluar dari mobil bersamaan, apa lagi wajah Angga begitu ketat.
" Ada apa? " kata Daihan yang menyambut Angga dan Jofan. Tapi belum ada kata apa-apa, Angga segera melayangkan kepalan tangannya, mendarat telak di pipi Daihan.
Daihan hingga terhuyung, Jofan yang melihat itu langsung menarik Angga. apa-apaan Angga ini? datang ke rumah orang dan segera main pukul, pikir Jofan bingung.
Daihan yang menerima pukulan itu segera melihat ke arah Angga, sepanjang mereka berteman, tak pernah sekali pun mereka bertengkar karena Daihan selalu mengalah, baru kali ini Angga tampak begitu marah dengan Daihan, namun Daihan mencoba tenang, walaupun sebenarnya sebagai pria, rasa egonya cukup terusik gara-gara kelakukan Angga.
"Angga, semua bisa di bicarakan baik-baik!" kata Jofan marah.
"Katakan padaku! Apa Mika menemuimu malam sebelum dia bunuh diri?" kata Angga dengan mata memerah pada Daihan
Daihan mendengar itu langsung menunjukkan wajah terkejutnya, dari mana Angga bisa tahu.
"Aku rasa ini bukan tempat yang pas untuk menjelaskan semuanya, kita harus duduk tenang." kata Jofan lagi-lagi mencoba menghandle keadaan, kalau tidak bisa-bisa Angga dan Daihan akan berkelahi lagi, apa lagi mereka sekarang bahkan belum masuk ke rumah Daihan.
Mereka bertiga berkumpul di ruang tengah rumah Daihan yang tampak begitu rapi dengan dominasi warna putih, terasa hangat dan cerah. Seluruh pelayan dan pegawai di rumah itu semuanya diperintahkan untuk keluar, jadi di rumah itu hanya ada Angga yang sedang menatap tajam pada Daihan yang duduk di depannya, dan seperti biasa, Jofan ada di antara mereka.
"Apa yang dia katakan malam itu?" kata Angga mencoba mengontrol dirinya, sedikit merasa menyesal telah memukul Daihan yang bibirnya sobek.
"Apa aku harus menjawabnya?" kata Daihan datar. Dia masih ingat betul apa yang di minta oleh Mika malam itu, dan dia masih saja memikirkan perasaan Angga hingga detik ini, karena jika Angga tahu apa permintaan terakhir Mika padanya, dia pasti merasa sangat sedih.
"Katakanlah… aku sudah tahu semuanya," kata Angga melemparkan flashdisk Mika yang di bawanya. Daihan menatap flashdisk itu , dia tahu kebiasaan Mika yang menuliskan hal-hal pentingnya di sana, jadi Angga sudah tahu semuanya?.
"Dia meminta tolong padamu, tapi kau tidak mau menolongnya! Kalau kau menolongnya dia pasti ada di sini. " kata Angga dengan suara tingginya.