Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
204



Sudah 3 minggu Bella hanya terkurung di kamar itu, yang dia bisa lakukan hanya menangis dan merenung, dia tidak peduli dengan keadaannya, terkadang tidak makan sama sekali walau pun makanan yang di suguhkan sangat menarik namun melihat itu saja dia sudah mual, seluruh tubuhnya bahkan seperti tidak ada tenaga, ketika menggerakan badannya, rasanya seluruh sendinya ingin putus.


Aksa juga sudah tidak tampak sejak pertama kali dia bangun, menurut orang-orang yang menjaga Bella, Aksa sudah kembali ke istananya, ya, dia pasti tidak ingin orang curiga tentangnya, hingga dia tidak tinggal di sana, sesekali kepala pelayan menunjukkan keadaan Bella dari sambungan panggilan video.


Bella duduk di balkon kamarnya, selama 3 minggu ini pula dia tidak pernah keluar sama sekali dari ruangan ini, sebenarnya Aksa tidak melarangnya, namun Bella hanya enggan keluar dari sana, tidak cukup tenaga untuk melakukannya.


Terpaan Angin laut yang asin menyentuh wajahnya yang pucat, wajahnya tidak lagi bersinar, layu dan redup, lingkaran hitam di matanya yang sembab dan bengkak sangat terlihat, hidungnya merah, bibirnya yang biasanya bagai kelopak bunga mawar itu tampak putih, semenjak pertama kali mengetahui suaminya sudah tak ada, jiwanya pun ikut mati, hanya tubuhnya saja yang masih bertahan, semangatnya juga hilang tak bersisa lagi.


Matanya yang kosong menatap deburan ombak yang saling mengejar, pemandangan indah di depannya pun tak bisa menambah semangatnya sama sekali, padahal balkon kamarnya sekarang menampakkan langsung keindahan dari lautan yang biru di depannya.


"Putri, mari mandi,"kata seorang pelayan wanita yang di tunjuk menjadi seorang penjaganya.


Bella tak bergeming, hanya menatap kosong ke arah laut yang tak berujung, membuat hatinya makin hampa, untuk apa lagi dia hidup jika beginia.


Melihat Bella yang tanpa respon itu, Pelayan mendekatinya, Pelayan itu dengan lembut mengangkat tubuh Bella yang bagaikan tak bernyawa, dia segera mengarahkan Bella ke kamar mandi, membuka kan baju perlahan, tonjolan tulang tampak mulai terlihat di tubuhnya, 3 minggu saja sudah membuatnya tampak bagaikan tengkorak hidup.


Bella menatap pantulan dirinya di cermin, benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu, siapa pun yang melihatnya pasti tidak bergairah sama sekali.


Pelayan itu lalu menyalakan keran air panas dan dingin untuk Bella, mencampurnya hingga bisa sesuai hangatnya untuk memandikan Bella.


Mendengar suara air itu, Bella tersadar, melihat pelayan wanita yang terlihat sabar menghadapinya.


"Biar aku saja,"kata Bella perlahan, suaranya serak, bahkan pelayan itu terasa asing mendegar suara Bella, karena jarangnya dia berbicara. Bella mengambil sabun yang di sediakan di sana, dia menuangkannya ke dalam air mandinya, melihat Bella begitu pelayan wanita itu tersenyum senang, setidaknya ini menajadi kemajuan yang lumayan.


"Siapa namamu? " kata Bella menatap pelayan yang masih terlihat remaja itu.


"Shella, Putri,"kata Shella sambil memberikan hormat.


"Namaku Bella, jangan panggil aku Putri, aku bukan seorang Putri, berapa umurmu? " kata Bella melangkah diri masuk ke dalam air hangat yang bahkan hangatnya membuatnya mengigil.


"Umurku 17 tahun Nona, "kata Shella lagi, dia buru-buru membantu Bella untuk masuk ke dalam Bath up nya, Bella menatap Shella, tubuhnya lebih kecil dari Bella, wajahnya pun sangat berseri, ciri khas anak remaja.


"Seharusnya aku yang menjagamu, "kata Bella melirik Shella.


"Sudah berapa lama aku di sini? "kata Bella lagi.


"Hampir 1 bulan Nona,"kata Shella lagi menemani Bella.


Bella terdiam, sudah hampir 1 bulan dia kehilangan Angga, jika Angga masih hidup, dia pasti sudah datang dan menyelamatkannya seperti yang biasa di lakukannya, sekarang siapa yang akan mencari dan menyelamatkannya? Bella sangat merindukan Angga, sangat hingga tidak bisa tidak mengingatnya sedetik pun, bahkan setiap napas yang berhembus, dia terus menerus merindukannya.


Bella kembali menangis, entah lah, kata orang air mata bisa mengering, namun bagi Bella air matanya tidak bisa berhenti sama sekali, air mata itu terus menerus mengalir, bahkan hingga matanya merah dan perih pun, tidak bisa memuaskan rasa rindunya pada Angga.


Dia benar-benar merindukannya, dulu saat Bella di sekap, hanya memikirkannya sesaat pria itu langsung datang menolongnya, sekarang, dia sudah menangis untuknya setiap hari, namun bahkan banyangannya pun tak pernah Bella lihat lagi.


"Nona, jangan menangis, yang pergi biarlah tenang di sana, jika Anda terus menangisinya, dia juga akan sedih meninggalkan Anda, " kata Shella yang mencoba menenangkan Bella, dia mengusap air mata Bella yang menangis dengan sangat pilu.


"Ini hidup Nona, ada yang datang, dan ada yang pergi, kadang yang kita inginkan tak selalu menjadi apa yang yang kita dapatkan, tapi percayalah, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk Anda, suatu saat di suatu tempat Anda akan tersenyum mengenang semuanya,"kata Shella lembut, membuat Bella sedikit bisa mengontrol dirinya, dia menatap Shella, umurnya masih muda, namun kata-katanya melampaui umurnya.


"Aku hanya punya suamiku, dan Aksa yang merenggutnya dari ku, menurutmu di masa depan mana aku bisa tersenyum mengenangnya? Dia meninggal karena aku, kalau tidak menikahiku, mungkin Angga masih hidup,  " kata Bella yang terus menerus menyalahkan dirinya, dari kemarin dia mencari-cari alasan kenapa Angga harus mati, dan setiap kali dia melakukannya, dia merasa itu memang semua salahnya, jika saja Angga tak menolongnya waktu itu, nasibnya tidak mungkin seperti ini.


"Ini bukan salahmu Nona, tidak ada yang bisa memilih dengan siapa dia bertemu, dengan siapa dia akan berpisah, Suami Anda mungkin sudah meninggal, namun, kenangan dan cintanya akan Anda rasakan selamanya, "kata Shella lagi, Bella terdiam mendengarkan kata-kata Shella, matanya yang basah diusap lembut oleh Shella, "Nona, Suami Anda pasti ingin Anda bahagia, aku tahu itu, karena jika aku pun meninggal, aku ingin orang-orang yang aku tinggalkan bahagia, bukan terus menaratapi kepergianku, dan jangan sampai Anda berpikiran untuk menyusulnya, karena hidup adalah sebuah hadiah dari Tuhan, dia pun ingin Anda hidup bahagia, bertahanlah, selalu ada tawa di balik semua air mata. "


Bella terpaku, benar, Angga selalu ingin Bella senang, dia melakukan hal-hal yang dia tak pernah lakukan, namun untuk Bella dia selalu ingin melakukannya. Bella menangkat sedikit sudut bibirnya, menatap Shella lembut.


"Terima Kasih, "kata Bella.


"Nona, aku akan mengurusmu dengan baik, aku akan memberitahu mu jika Pangeran datang,  " kata Shella lagi, Bella lalu mengangguk sedikit, Dia lalu menyudahi mandinya, saat ingin bangkit, kepalanya langsung pusing, untungnya Shella langsung menangkapnya.


"Nona, Anda tidak apa-apa? "kata Shella.


"Tidak, tidak apa-apa, aku hanya pusing, mungkin karena belum makan,"kata Bella lagi.


"Ya, sehabis ini saya akan menghangatkan makanan Anda, Anda makanlah,"kata Shella lagi.


"Baik, " kata Bella.