Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
170



Nakesha baru saja keluar dari apartermennya, memicingkan sedikit matanya karena matahari sudah begitu terik, ini sudah tengah hari, dia terlalu asik memasak dan menata tempat tinggal barunya yang menurutnya harus banyak ditata. Ibunya pasti senang karna Nakesha membawakan makanan kesukaannya.


Dengan gayanya yang tomboy, hanya memakai jeans dan kaos, rambut indahnya kembali di masukkannya ke dalam topinya, dia lalu mulai berjalan dengan ceria, perjalanan ke rumah sakit ibunya tak terlalu jauh, hanya beberapa menit dari tempat tinggalnya, Angga benar-benar memikirkan semuanya, sehingga Nakesha bisa dengan mudah bolak balik merawat ibunya.


Baru beberapa langkah dia berjalan, dari tasnya handphonenya berdering, Nakesha berhenti sebentar, menatap handphone barunya yang dia beli bersama Daihan sebelum dia sampai ke apartemen ini, di layarnya hanya ada serangkaian nomor, Nakesha agak ragu-ragu mengangkatnya,


"Halo?" kata Nakesha


"Apakah tidak panas berdiri di sana?" kata suara di dalam handphone.


"He?" kata Nakesha yang langsung bingung, melihat ke seluruh arah, menatap mungkin ada orang yang menatapnya.


"Di belakangmu," kata suara itu lagi.


Nakesha melihat ke belakang, melihat sosok Daihan sedang berdiri, sambil menurunkan Handphonenya, Daihan segera mendatangi Nakesha.


"Kenapa kau ada di sini?" kata Nakesha cukup kaget melihat Daihan muncul di sini.


"Ini jam makan siangku, aku sedang mencari tempat makan karena aku sedang bertugas di dekat sini, aku melihatmu baru keluar dari apartemen, kau ingin ke mana?" kata Daihan menjelaskan.


"Aku tak percaya kebutulan Bung Daihan, kau pasti sengaja ingin bertemu denganku, dan kau mengikutiku kan?" kata Nakesha memicingkan matanya pada Daihan bagaikan orang yang curiga.


"Hahaha, kau memang berbeda dari wanita lain ya? Baiklah, Nona Nakesha, di sini panas, ayo, masuk ke dalam mobil, aku akan mengantarmu ke tempat ibumu," kata Daihan tertawa mendengar dan melihat tingkah Nakesha.


"Kau tidak akan menculikku kan?" kata Nakesha lagi.


"Untuk apa? ayo lah, terlalu panas di sini," kata Daihan membukakan pintu mobilnya.


"Baiklah, kalau Bung Daihan memaksa," kata Nakesha dengan gayanya, membuat Daihan hingga geleng-geleng kepala.


Daihan masuk dan segera menjalankan mobilnya, dia senang menyetir tanpa supir.


"Kau benar-benar sedang ingin mencari makan siang?" kata Nakesha.


"Ya."


"Baiklah, ayo makan."


Daihan mengerutkan dahinya.


"Kau ingin makan juga?"


"Tidak, tapi secara tak langsung mengajakku makan dan kau orang yang banyak menolongku, maka aku aka setuju makan siang denganmu," kata Nakesha dengan percaya dirinya. Daihan mengerutkan dahinya, padahal dia tidak berminat sama sekali mengajak Nakesha untuk makan siang, dia hanya ingin mengantar Nakesha, namun melihat wajah ceria Nakesha dan kepercayaan dirinya, Daihan jadi tak enak mematahkan kata-kata Nakesha.


"Haha, baiklah," kata Daihan


"Ok, tapi kita ke rumah sakit dulu ya, karena aku harus memberi makan ibuku dulu," kata Nakesha memeluk bekal makanan untuk ibunya.


"Kau memasak untuk ibumu? bukannya sudah dapat makanan dari rumah sakit?" kata Daihan tak percaya.


"Ya, tapi rumah sakit kan tidak tahu makanan kesukaan Ibuku, dia pasti bahagia mendapatkannya," kata Nakesha memandang bekalnya, tersenyum polos membuat Daihan hanya memandangnya, wanita itu pasti sangat menyayangi ibunya, pantas saja dia begitu marah ketika berpikir ibunya akan dipisahkan darinya.


"Iya,aku akan mengantarkanmu dulu," kata Daihan lagi.


"Baiklah, terima kasih," kata Nakesha ceria bagai anak kecil mendapat es krim.


Daihan hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala, melihat tingkah Nakesha yang 'cengengesan', baru kali ini bertemu wanita yang tak malu dengan sifat aslinya, tak seperti wanita lain yang terlihat dewasa dan anggun.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit,


"Ayo, eh, tapi bosmu tidak akan marah kan? karena kalau begini jam makan siangmu akan lebih lama," kata Nakesha menatap Daihan sungguh-sungguh.


"Iya, bos? kau kan kerja dengan Angga bukan? kemarin kau pulang di antar oleh helikopter Angga," kata Nakesha polos.


Menangkap keseriusan dan kepolosan dari nada bicara Nakesha, Daihan hanya tersenyum tipis.


"Bosku tak akan marah, tapi bosku bukan Angga, Ayo, jangan terlalu lama," awalnya Daihan hanya ingin menunggu di mobil, namun dia berubah pikiran


"Oh, benarkah? aku kira kau kerja dengan Angga," kata Nakesha tetap bicara sembari keluar dari mobilnya.


"Bukan," kata Daihan mengikuti Nakesha yang sudah turun, mereka segera masuk, karena mereka dari basemen, mereka harus naik lift untuk naik ke lantai 3 tempat ibu Nakesha di tempatkan, lift itu kosong, hanya ada Daihan dan Nakesha di dalamnya, Daihan mengambil posisi di belakang Nakesha, pantulan wajah mereka terlihat samar dari pintu lift yang mulai tertutup.


Pada lantai Ground, lift berhenti sebentar, perlahan terbuka, dan mereka saling memandang siapa yang ada di depan mereka sekarang.


Bella dan Angga berdiri di sana, Nakesha berhadapan langsung dengan Bella, sedangkan Daihan dan Angga saling berhadapan.


Suasana canggung menyergap, serasa detik waktu tiba-tiba berhenti, membuat mereka hanya terdiam melemparkan pandangan mereka, pintu lift hendak menutup, membuat mereka sadar bahwa waktu tak bisa berhenti, hanya mereka saja yang terjebak di sana.


Nakesha mencoba menekan tombol pintu lift agar tak jadi menutup, Angga dan Daihan juga sibuk mencoba menahan pintu.


"Ingin bertemu ibu?" kata Nakesha buka suara, mencoba memecahkan ke canggungan.


"Ya," kata Bella tersenyum manis, kerinduan terpacar dalam dari mata Daihan, Angga menangkap itu dan seketika hatinya tak suka.


Bella masuk dan berdiri menyamping, Angga masuk dan berdiri percis di samping Daihan, wajah mereka dingin, seolah sedang bersaing.


Nakesha mengikuti posisi Bella yany bersandar di dinding lift, membuatnya berhadapan dengan Bella yang berdiri Anggun, dari pengamatannya, dia menemukan tangan Angga yang mengenggam tangan Bella namun tersembunyi di antara mereka, pasangan yang manis pikir Nakesha.


"Kenapa kalian bisa sama-sama begitu tampan ya?" kata Nakesha lagi nyeletuk hal yang tak penting, hanya berusaha mencairkan suasana tegang yang menyelimuti.


Bella tertawa kecil melihat tingkah Nakesha, Daihan menatap tawa yang sangat dia rindukan, matanya sayu menatap Bella, sedangkan Angga meremas lebih kuat tangan Bella, berusaha agar Bella berhenti melakukan tawa itu, karna dia tak suka Bella tertawa di depan Daihan. Nakesha langsung tahu, tingkahnya salah kali ini.


Untungnya pintu lift segera terbuka, Awalnya Nakesha mau keluar duluan, Namun Angga menyerobotnya,l berjalan cepat seraya menarik Bella keluar, dia sudah kegerahan di dalam sana, padahal di sepanjang rumah sakit itu penuh dengan pendingin udara.


"Dasar pria arogan," kata Nakesha mencibir.


"Ayo," kata Daihan menekan tombol lift agar tak menutup.


"Baiklah, terima kasih," kata Nakesha tersenyum, mencoba menghibur Daihan yang terlihat sendu.


Angga menunjukkan Bella ruangan ibunya, jauh dari sebelumnya, ruangan ini sangat bersih, terawat, bernuansa putih, cerah, dan nyaman.


Bella menatap ibunya dari luar, sudah mengenakan baju yang layak, rambutnya tampak terawat, hanya saja memang masih kelihatan diam.


"Ayo, kak, masuk ke dalam," kata Nakesha tiba-tiba menarik Bella dengan antusias, Kak? tanya Bella dalam hati.


Nakesha membawa Bella ke dekat ibu mereka, dari sini Bella bisa melihat dengan jelas, wajah ibunya jauh lebih segar, Bella jadi terharu melihatnya.


"Selamat siang ma!, Maaf Nakesha datang lebih lama hari ini karena Ta da ... Nakesha membuatkan mama makanan kesukaan mama, yee!! " kata Nakesha lembut namun penuh dengan kesenangan, Bella menatap Nakesha, memang benar, dia yang mengerti cara menjaga ibunya.


"Oh, ma, lihatlah kak Bella sudah datang, anak yang kau cari-cari sudah pulang," kata Nakesha memalingkan dengan lembut wajah ibunya agar menatap Bella.


Bella menatap mata ibunya, menemukan kasih sayang walaupun sepenuhnya terlihat kosong, Bella benar-benar terharu, membenarkan beberapa helai rambut ibunya yang mengenai wajahnya.


"Kita kan berbagi ibu, Aku akan menganggapmu sebagai Kakak, boleh ya?" kata Nakesha menatap Bella.


"Ya, tidak apa-apa," kata Bella sedikit serak.


"Ma, mari makan dulu ya?" kata Nakesha kembali memalingkan wajah ibunya ke arahnya, dan mulai menyuapi ibunya dengan perlahan, tentu ibunya tak mau membuka mulutnya, namun Nakesha merayunya dengan caranya, hingga sukses menyuapkan makanan pada ibunya, Bella melihat pemandangan ini, hatinya menghangat, Nakesha benar-benar menyayangi ibunya.


Sedangkan dua orang pria di dekat pintu itu hanya saling diam bagaikan sedang melakukan perang dingin.