Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
107



Angga segera masuk ke dalam mobilnya, seluruh tubuhnya basah, tangannya berdarah hingga menetes mwngalir di antara sela-sela jarinya, namun dia tidak memperdulikannya,  dia mengambil handphonenya,  Asisten Jang sibuk menelepon rumah sakit agar menyediakan dokter terbaik.


"Jofan, aku butuh bantuanmu." kata Angga cepat.


"Ada masalah apa?" kata Jofan serius


"Aksa menculik Bella, aku tidak bisa menemukannya." kata Angga tegas.


"Serahkan padaku, datang  ke rumah ku." kata Jofan.


"Baiklah." kata Angga.


Tanpa memperdulikan rasa sakit di tangannya, dia segera memutar mobilnya, menekan pedal gas bergitu dalam, meninggalkan tempat itu segara.


Tak lama dia sampai di sebuah rumah mewah, dengan begitu banyak penjagaan ketat, Angga segera membuka pintunya, hujan hanya tinggal meninggalkan rintiknya, sangat halus bahkan bagaikan salju. Jofan memerintahkan penjaganya untuk mengizinkan Angga masuk.


Angga segera keluar dari mobilnya ketika dia sudah sampai di depan pintu utama,  dia langsung bergegas masuk, Jofan yang menyambutnya sedikit kaget, Angga basah kuyup, penampilannya jauh dari biasanya, wajahnya dingin dan tatapan tajamnya itu terasa sekali, di punggung tangannya, darah masih segar terlihat.


" Apa yang terjadi padamu? " kata Jofan serius.


"Aku butuh laporannya sekarang. "kata  Angga.


"Aku sudah mengerahkan, Jendral Indra langsung turun tangan, kita hanya harus menunggunya, selain itu, kau tenang saja, Aku sudah melakukan sesuatu yang pasti membuat Aksa harus kembali ke kerajaan secepatnya." kata Jofan santai.


Angga memiringkan sedikit kepalanya, menandakan dia ingin tahu apa rencana Jofan.


"Masuklah dulu, kau bisa pakai baju ku, dan aku rasa tanganmu itu harus di obati, hubungi Dokter pribadiku, suruh dia datang sekrang juga. " kata Jofan pada Asistennya.


Angga segera keluar dari kamar tamu di rumah Jofan, setelah mandi, dia segera menggunakan pakaian yang di sediakan oleh  Asisten Jang. Dia lalu segera menuju ruang tengah, Jofan tampak sibuk dengan laptopnya, beberapa pengawal menjaganya di belakang


"Bagaimana? "kata Angga.


"Mereka masih mencari, jika mereka sudah menemukan Aksa, mereka akan mengintainya, kau tenang saja, seluruh pasukan itu adalah pasukan khusus. "kata Jofan menatap Angga yang sama sekali tidak meninggalkan wajah tegang, khawatir dan dinginnya itu.


Angga mengambil napas dalam, luka di tangannya tampak cukup dalam, beberapa kulitnya terlihat mengelupas dengan sisi-sisi yang masih berdarah, namun walaupun seperti itu dia seperti tidak merasakan apapun di tangannya itu, mungkin karena rasa khawatir dan takutnya lebih besar dari perasaan perih yang ada di tangannya.


"Kau urus dulu luka tanganmu itu, Dokter Han, tolong obati lukanya. "kata Jofan menyuruh seorang dokter yang sudah standby dari tadi disana.


" Baik Tuan. "kata dokter itu, dia segera mendekati Angga. Angga menyerahkan tangannya, dokter itu langsung melakukan tugasnya, membersihkan luka dengan perlahan, bahkan ketika di berikan antiseptik, Angga hanya diam saja, tidak ada ekspresi nyeri atau kesakitan, karena rasanya hatinya lebih sakit sekarang, dia teringat lagi tatapan Bella, dan dia tak berdaya untuk menolong wanita itu, hal itu membuat emosinya naik lagi, ingin dia bunuh Aksa sekarang.


"Tuan, maaf, tapi saya kesusahan jika tangan Anda mengepal. "kata dokter Han pada Angga. Angga yang mendengar itu langsung membuka kembali tangannya.


"Mobil Aksa terlihat terakhir di jalanan hutan Palm Wood di daerah pegunungan utara. " kata Jofan memberi informasi.


"Palm Wood, Kastil Rose? " kata Angga.


"Kastil Rose? "kata Jofan.


"Kakekku pernah berbicara, seorang raja membangun kastil di sana untuk istrinya, tapi karena istrinya kabur, kastil itu jadi ditinggalkan, mungkinkah Bella di bawa di sana? " kata Angga mengingat, pupil matanya membesar, melihat ada sebuah pencerahan dan harapan, dia jadi antusias, untung saja dokter itu sudah selesai memperban tangannya, kalau tidak, lukanya akan kembali terbuka.


"Bisa jadi. "kata Jofan


Angga berpindah mendekati Jofan, melihat apa yang terpampang di sana, hanya ada sebuah peta, namun tidak ada sedikitpun terlihat bangunan di sana, hanya hutan lebat.


" Kau tahu di mana tempatnya? "kata Jofan lagi.


"Tidak, aku cuma dia ada di hutan Palm Wood, kakekku tidak cerita lebih rinci, dan kastil itu hanya di ketahui oleh pihak kerajaan. " kata Angga.


"Baiklah, aku akan memberitahu tentang ini semua padanya." kata Jofan.


"Aku akan ke sana." kata Angga buru-buru, dia tidak bisa duduk tenang, kepalanya sudah ingin meledak saking kalutnya, apa lagi hatinya sekarang cemas, khawatir, sedih menjadi satu, dia benar-benar tidak bisa tenang jika tidak menemukan Bella secepatnya.


"Angga jangan gegabah, aku takut jika Aksa tahu, dia akan melukai Bella. Lagi pula percayalah, Aksa akan pulang ke kerajaan secepatnya. Itu bisa mengulur waktu. " kata Jofan dengan sangat percaya diri.


"Apa rencanamu?"


"Aku sudah menyebarkan video tentang pertemuan Bella dan Sania, aku menarik simpati publik tentang ketidakadilan, sejauh ini respon mereka positif untuk kita." kata Jofan dengan senyum sinis.


Angga terdiam, dia seperti berpikir sesuatu.


"Cepatlah mencarinya." kata Angga.


"Baik, tenang saja, lagi pula rencana yang lain juga sudah hampir selesai. kalau tidak ada kejutan yang lain, semua akan mulus. " kata Jofan.


Angga masih datar, tidak bisa menunjukkan ekspresi senyum sama sekali. Hatinya tak tenang, entah apa sekarang yang sudah di buat oleh Aksa pada Bella, dipikirannya muncul begitu banyak hal-hal yang sama sekali tidak ingin dia bayangkan, namun rasa khawatirnya malah memunculkan bayangan-banyangan yang membuat Angga makin tak bisa mengontrol dirinya.