
Kita berdiri di sini... menatap malam yang sendu dan dingin... saling diam namun seluruh cerita tertumpahkan... dan seluruh resah terlepaskan...
____________________________________________
Bella terus ada di kamarnya setelah dia mandi tadi, sesekali bermain dengan handphonenya, perasaannya sudah lebih lega, tapi tetap saja dia masih khawatir dengan Angga, dan seolah-olah tidak memperdulikan Bella, Angga sama sekali tidak membarikan pesan apapun.
Ya, Sudahlah lah, kalau memang Angga tidak ingin aku tahu apa tentang dia, lebih baik tidak berharap, tidur sajalah. Pikir Bella, dia lalu mengambil posisi tidur, lagi-lagi di peluk oleh Teddy Bearnya, mungkin karena dari tadi siang dia sudah mengantuk tapi dia tahan, jadinya dia cepat terlelap.
Angga turun dari mobilnya, dia segera melihat ke dalam, lagi-lagi hanya ada Judy yang menyambutnya, kerutan dahi menghiasi wajahnya yang dingin.
"Nona sedang tidur Tuan. " kata Judy memberitahu tanpa harus ditanya.
"Tidur, ini masih pukul 7 malam. " kata Angga sedikit heran.
"Ya, mungkin karena Nona kelelahan, dia pergi keluar tadi siang. "
"Keluar? Kemana?"
"Hanya berjalan-jalan Tuan," kata Judy lagi, dia memang tidak melaporkan dengan siapa Bella keluar, dia hanya melaporkan pada Asisten Jang bahwa Bella keluar mencari udara segar, Judy tidak mau Angga akan marah pada Bella nantinya, dan memperkeruh suasana.
"Baiklah, siapkan makanan." kata Angga, dia berjalan masuk dan lansung menuju kamarnya di lantai 2.
Setelah Angga selesai mandi, seperti biasa dia langsung menuju ruang makan yang ada di lantai 1, dia segera duduk di tempat makannya. Dia memandangi kursi yang biasa Bella duduki jika mereka sedang makan bersama.
"Apa Nona sudah makan?" kata Angga menatap Judy.
"Belum Tuan. " kata Judy
Angga tampak berwajah masam, dia lalu berdiri dan segera berjalan ke arah kamar Bella. Dia membukanya perlan, melihat Bella yang meringkuk di dekat bonekanya.
Angga segera melihat wajah Bella yang tidur, terlihat lebih nyaman dari pada semalam, tapi bagaimanapun Angga tidak mau Bella kembali melewatkan makan malamnya.
"Bagunlah, sudah saatnya makan malam," kata Angga dengan suara beratnya, dia menelus pipi Bella yang halus dengan punggung tangannya. Mendapat perlakuan seperti itu, perlahan Bella membuka matanya. Dia lalu melirik Angga sedikit.
"Kau sudah pulang? Apa sudah sangat malam?" kata Bella lagi, dia mencoba untuk duduk, Angga hanya memperhatikan Bella.
"Belum, masih hampir pukul 8 malam, sejak kapan kau sangat hobi tidur?" kata Angga lagi.
"Entahlah, aku rasa tidur lebih menyenangkan sekarang, kau pergilah makan, aku tidak berselera, perutku rasanya tidak enak." Kata Bella ingin menarik kembali selimutnya untuk melanjutkan tidurnya, tidak ingin mengubah perasaannya yang sudah mulai tenang karena melihat wajah Angga yang dingin itu lagi.
Angga tampak menghela napas, dia lalu bangkit, dan segera menggendong Bella, gadis ini kalau tidak dipaksa tidak akan mau melakukan apa yang di suruh oleh Angga, dasar keras kepala, pikir Angga.
Bella yang kaget sedikit ketakutan karena di gendong oleh Angga.
"Hei, hei, turunkan aku! " kata Bella yang takut jatuh.
"Jangan banyak bergerak atau kau memang akan jatuh. " kata Angga dingin, dia melirik wajah Bella sejenak.
"Jika takut lingkarkan saja tanganmu ke pundakku, aku tidak akan membuatmu jatuh." Kata Angga mulai berjalan.
Mendengar itu Bella mau tak mau melingkarkan tangannya ke pundak dan leher Angga, Angga segera membawa Bella keluar menuju ke ruang makan.
"Turunkan aku, aku kan bisa jalan sendiri ke ruang makan." kata Bella yang sedikit malu melihat beberapa pelayan, Asisten Jang dan Judy yang melihat Angga mengendongnya.
"Lain kali jika aku menyuruhmu sesuatu, kau tidak boleh keras kepala, lakukanlah sebelum aku melakukan tindakan yang lain."kata Angga tanpa melirik sedikitpun pada Bella, nada bicaranya bagaikan atasan memberikan perintah pada bawahan, tidak dapat di tolak dan Angga tetap saja berjalan menuju ke ruang makan. Bella yang mendengar itu hanya memanyunkan bibirnya, sehingga bibirnya sedikit maju.
"Kenapa memajukan bibir seperti itu, ingin di cium ya?" kata Angga lagi.
"Tidak, kenapa kau lama sekali." Kata Bella sedikit kaget dan wajahnya memerah mendengar kata-kata Angga, Bella merasa perjalanan ke ruang makan itu lambat sekali.
Angga tidak menjawab, setelah sampai di ruang makan, Angga baru menurunkan Bella dengan hati-hati, Asisten Jang dan Judy tampak senyum-senyum melihat tingkah Bella yang salah tingkah.
"Kau benar-benar pintar membuatku malu. "kata Bella cemberut.
"Di mananya aku membuat mu malu?"
"Hah, tidak, sudah lupakanlah." Kata Bella lagi.
"Baiklah, kau juga makan." kata Bella.
Bella awalnya memang tidak bernafsu makan, tapi setelah beberapa suap, dia mulai semangat untuk makan, sepertinya memang karna lapar jadi perutnya merasa tidak nyaman.
Angga menyelesaikan makanannya duluan, biasanya dia selalu menunggu Bella selesai makan baru dia akan pergi dari sana, tapi kali ini begitu dia selesai makan, dia langsung berdiri.
"Naiklah ke atas, temui aku di kamarku, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Kata Angga lagi.
"Hmm.. baiklah. " kata Bella dengan mulut masih menguyah makanan.
Angga lalu meninggalkan Bella sendiri untuk menghabiskan makanannya. Bella hanya menatap kepergian Angga, dia segera menyelesaikan makannya, berpikir apa yang akan dikatakan oleh Angga, pasti soal Sania lagi. Bella langsung mempersiapkan hatinya, jika memang tidak bisa bertemu, sekarang dia harus ikhlas.
Setelah selesai makan, Bella segera menuju ke lantai dua, di depan kamar Angga sudah ada Judy dan Asisten Jang, mereka segera membukakan pintu untuk Bella, Bella masuk begitu juga mereka.
"Tuan sedang melakukan conference sebentar Nona." Kata Asisten Jang mempersilahkan Bella untuk duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
Bella hanya mengangguk, dia melihat Angga yang sedang diam mengamati apa yang di sampaikan di sana, di layar yang cukup lebar itu terlihat beberapa orang seperti sedang ada di ruang rapat. Angga ternyata sangat menarik jika sedang memimpin rapat seperti itu,pikir Bella.
Tak berapa lama, Angga mematikan layar yang ada di depannya, dia lalu berdiri dan melihat ke belakang, menyadari Bella sudah ada, dia keluar dari ruangan itu, lalu duduk di kursi kerjanya.
Asisten Jang dan Judy mendekat, Angga seperti mengintruksikan sesuatu pada mereka, tapi Bella tidak dengan jelas mendengarnya, dia juga tidak tertarik untuk mengetahuinya, kalau memang Angga ingin dia tahu, pasti Angga sudah memanggilnya.
Setelah memberikan instruksi, Asisten Jang dan Judy terlihat mulai meninggalkan Angga, dan mereka segera keluar. Angga berdiri lalu menghampiri Bella.
"Ayo, kemari." Kata Angga.
Bella menurut, dia bangkit dan mengikuti Angga untuk masuk ke dalam area kamar tidurnya, Angga mengambil sesuatu dari meja di dekat tvnya, seperti sebuah remot, lalu dia menekan salah satu tombol, gorden jendelanya terbuka otomatis. Menunjukkan jendela kaca yang besar dengan gelapnya malam di sana.
Bella melihat ke arah jendela itu, menunjukkan balkon kamar Angga yang luas.
Angga membuka jendelanya, semilir angin malam yang sejuk langsung masuk, seolah menyapa mereka dengan ramah, Angga tak melanjutkan, hanya berdiri antara balkon dan kamarnya, Bella berhenti sejenak, dan terpukau dengan apa pemandangan yang di suguhkan di sana. Hamparan pohon cemara yang tersusun indah yang setiap saat Bella lihat jika ingin keluar dari areal rumah Angga tampak lebih indah dari atas balkon ini, lampu-lampu taman yang sengaja diletakkan di sana malah membuat pemandangan itu makin indah. Selain itu langit malam ini sangat memukau. Penuh dengan bintang-bintang, sangat cerah, bagaikan ribuan galaxy tertabur di sana.
Bella tanpa sadar berjalan hingga pagar pembatas di balkon itu, menatap indahnya langit yang terpantul di matanya yang indah.
Angga menekan salah satu tombol di remot itu lagi, seluruh lampu di kamar itu meredup, bahkan hampir mengelap seluruhnya, membuat kerlip bintang-bintang itu makin nyata terlihat, Bella sampai tidak bisa melepaskan pandangannya.
Angga berdiri di belakang Bella, begitu dekat, hingga napas Angga terasa di teliga Bella.
Tangan Angga menyusup di antara tangan Bella, dia lalu memegang pagar itu juga, seolah mengurung tubuh Bella dengan tangannya. Bella yang di perlakukan itu langsung mematung, terdiam, detak jatungnya kembali memburu menyebabkan napasnya semakin berat.
Angga menghirup wangi mawar dari tubuh Bella, menghirupnya dalam-dalam, dia beberapa hari ini mencari ketenangan ke tempat-tempat lain, yang jauh dari Bella agar nantinya bisa menghadapi Bella dengan tenang, namun ternyata dia salah, tempat yang bisa membuatnya tenang adalah di dekat Bella.
Bella merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri, merinding seluruh bulu romanya, harum khas dari tubuh Angga tercium, membuat rasa nyaman itu hinggap begitu saja, ternyata kegelisahannya tak perlu perlakukan apa-apa, merasakan hangat yang di berikan Angga saja dia sudah cukup tenang.
"Maafkan aku, Aku akan membatumu bertemu Sania, aku sudah menyuruh Asisten Jang dan Judy untuk menghubungi Aksa, mengatakan kalian akan pergi menemui Sania 3 hari lagi." kata Angga dengan lembut seakan berbisik pada telinga Bella.
Bella mendengar itu sedikit terkejut…dia memutar tubuhnya, menghadap Angga yang sekarang menatapnya sendu.
"Benarkah?" kata Bella sedikit senang, namun tahu bahwa sebenarnya Angga enggan untuk melakukannya, dia sedikit meredam perasaannya.
"Ya. Jofan akan mengatur dan menjamin keselamatanmu di sana, berhati-hatilah."
Kata-kata lembut itu keluar dari bibir Angga yang merah, Bella memperhatikan Angga lagi, pria ini pasti sangat gusar beberapa hari ini hanya karena memikirkan dirinya.
"Aku juga minta maaf, bukannya aku tidak ingin menurut, tapi…" kata Bella, namun Angga langsung mencium bibirnya, hanya sebentar, namun kehangatan dan kelembutannya membuat tubuh Bella lemas.
"Nona, Bella, sudah aku katakan jangan terlalu banyak bicara." Kata Angga tersenyum manis.
"Kenapa memangnya?" kata Bella lagi dengan pipi yang memerah.
"Karna aku tidak bisa mengontrol diriku untuk tidak menciummu."
"Haha, Tuan Angga, Anda benar-benar sudah pintar mengoda." Tawa Bella yang menutupi kegugupannya.