
Aku tahu rasanya merindu, aku juga tahu sakitnya cemburu, sekarang aku ingin kau rasakan itu, agar kau bisa tahu susahnya mencintaimu.
____________________________________________
Angga membawa Bella menjauh, saat itu Bella tampak menghembuskan napas dalam, walaupun tampak begitu tenang dan benar-benar menjalankan perannya sangat baik, tapi sebenarnya Bella menahan begitu banyak emosi dan gejolak yang ada di dalam dirinya, marah, dendam, sakit hati, dan kegugupan itulah semua yang dia tutupi dari tadi.
Angga yang melihat perubahan Bella terlihat tersenyum lembut, dia membawa Bella sedikit ke sudut ruangan, membiarkan Bella untuk sedikit beristirahat dan mengatur emosinya, dia tahu, walalupun begitu Bella sebanarnya tertekan.
"Kau melakukannya dengan sempurna," kata Angga tampak begitu mesra berbisik di telinga Bella, bisikan Angga membuat seluruh bulu kuduk Bella berdiri, ada perasaan menjalar keseluruh tubuhnya, membuat wajahnya otomatis memanas, kedua matanya yang indah menatap ke arah Angga, Angga tampak tersenyum senang.
Jantung Bella berdegup dengan sangat kencang, sangat kencang sehingga membuatnya kesusahan mengatur napasnya. Belum selesai dia mengatur perasaannya yang tiba-tiba muncul itu, dengan sangat mesranya Angga melingkarkan tangannya ke pinggang Bella, menariknya mendekat ke arah Angga, Angga menatap mata indah Bella dengan begitu dalam, mata Angga yang tampak lembut dan sendu itu seketika membuat Bella terperangkap, Angga lalu mendekatkan wajahnya ke arah Bella, begitu dekat hingga napas Angga terasa menerpa pipi Bella yang halus, hal ini membuat napas Bella terhenti, dia menahan napasnya karena tak tahan akan perasaan yang diciptakan oleh Angga, terlalu sesak, seakan dadanya akan meledak.
" Dia sedang melihat ke sini, " kata Angga pada Bella pelan.
Bella langsung tersadar, ternyata semua yang di lakukan oleh Angga padanya dari awal hingga kini hanya untuk menarik perhatian dari Aksa, Bella dengan bodohnya menganggap apa yang di lakukan Angga ini memang untuknya, perasaan yang tadinya penuh sesak namun membahagiakan itu hilang seketika, berganti kekecewan dan perasaan getir, serasa baru saja dia ingin terbang namun tiba-tiba terpersok pada jurang yang dalam, semangat Bella hilang lenyap seketika.
Bella mengigit bibirnya, sedikit tersenyum kecut, baiklah, dia akan mengikuti permainan Angga, kalau tadi Bella yang bermain peran, kali ini Angga yang bermain peran dengan memperlakukan Bella begitu lembut, menunjukkan kemesraan mereka pada Aksa, sehingga Aksa terpancing, bagaimanapun dia sudah tergoda dengan Bella.
Bella meletakkan tangannya ke pundak Angga, hingga terlihat mereka begitu mesra, dan benar saja, Aksa terpancing oleh permainan mereka, dia sangat penasaran, bagaimana wajah wanita di balik topeng itu? Hingga membuat seorang Angga dengan reputasinya sebagai seorang yang sangat dingin itu tampak begitu tergila-gila pada wanita itu, selain wanita itu memang sangat mengoda dan merupakan tipenya, Aksa juga tertantang dengan wanita itu, karena wanita itu adalah milik Angga. Jika Angga bisa menahlukkannya, dia pun harus bisa!.
" Aku rasa dia akan mendekatimu, aku akan pergi dari sini, katakan saja aku tidak menikmati pesta seperti ini, tenang aku akan tetap memperhatikanmu, " kata Angga begitu lembut berbisik pada Bella, kalau tadi Bella begitu senang dengan perlakuan Angga, sekarang malah dia merasa tak nyaman dengan kelembutan itu, ada kesedih yang muncul mengingat kelembutan ini hanya kepura-puraan belaka. Bella tak tahu kenapa? Tapi kan memang semua ini dari awal hanya rekayasa saja, apa yang Bella harapkan?
" Baiklah, " kata Bella pelan dan lemah, Angga menatap Bella, Bella lalu segera tersenyum manis, kembali memasang wajah cerianya, Angga menatap itu terdiam, ada perasaan tidak enak tiba-tiba terasa di hatinya ketika menatap Bella yang seperti ini. Rasa khawatir yang menyelimuti, apakah Bella baik-baik saja? dia terlalu cepat berubah perasaan.
Angga tak bisa melakukan apapun, tidak juga bertanya, dia hanya tersenyum sedikit, lalu meninggalkan Bella ketika melihat Aksa yang sedang memperhatikan mereka. Dia berpura-pura mendapatkan panggilan telepon sehingga dia harus keluar.
Aksa yang melihat kepergian Angga benar-benar terpancing, dia memperhatikan dengan seksama, memperhatikan Bella yang terlihat sangat cantik berdiri, sesekali tersenyum pada orang yang melewatinya, Aksa benar-benar tertarik dengan wanita yang menarik seluruh perhatian, bahkan bukan dia saja yang terpancing, seluruh pria di sana seperti mencoba menarik perhatian Bella, semakin dia melihat Bella semakin kuat dia tertantang untuk mendekati wanita itu. Karena itu dia langsung bergerak mendekatinyanya.
" Kau ingin ke mana? " kata Sania tahu apa yang ingin di lakukan oleh Aksa.
" Nona Mika, " kata Aksa lembut dengan senyumannya yang begitu mengoda.
" Oh, Tuan Aksa, " kata Bella mulai dengan perannya.
" Di mana Angga? " kata Aksa basa-basi menatap lurus ke mata coklat Bella.
" Dia bukan orang yang dapat menikmati pesta, jadi dia lebih memilih untuk mengurusi pekerjaannya, " kata Bella tersenyum indah. Sania yang memperhatikan Aksa dan Bella yang berbicara dengan akrab, terasa benar-benar terbakar, siapa wanita itu? Berani-benarinya mengambil calon suaminya.
Bella yang melihat reaksi Sania tersenyum puas dalam hatinya, sekarang dia bisa rasakan sakitnya menahan api cemburu yang membakar habis tubuhnya hingga hangus, sama seperti yang di rasakan Bella dulu, ketika Sania dan Aksa terang-terangan bermesraan di depan matanya.
" Lalu bagaimana dengan Anda Nona Mika? Apakah Anda menikmatinya? " kata Aksa dengan senyum mengodanya.
" Ya, pesta ini lumayan menyenangkan, Classical party seperti ini cukup berbeda dengan yang lain, " kata Bella seolah-olah dia sudah sering sekali berpesta.
" Ya, orang-orang suka hal-hal yang berbeda, seperti Anda, Anda begitu berbeda dengan yang lain, Nona Mika, apakah Anda ingin berdansa dengan saya?" kata Aksa memberikan tangannya.
" Ehm…sepertinya saya akan menunggu Angga saja, lagi pula saya perhatikan wanita Anda begitu cemburu, dia menatap saya begitu tajam dari tadi, " kata Bella mencoba jual mahal.
Aksa memperhatikan Sania yang terus menatap mereka dengan tatapan begitu tajam, dia menatap Sania kembali, membuat Sania membuang tatapannya.
"Aku yakin dia tidak akan marah, lagi pula aku rasa Angga tidak akan marah jika sepupunya mengajak wanitanya untuk berdansa, tidak baik menolak keinginan dari Tuan rumah, bukan kah begitu Nona Mika?" kata Aksa mencoba mengoda Bella dengan caranya.
Bella memperhatikan Aksa sesaat, menatap wajahnya yang punya pesona sendiri, tak kalah dengan Angga, dia benar-benar memancarkan wajah seorang yang punya kelas tersendiri, mata Aksa sangat memikat, bahkan dengan lirikan matanya saja seluruh wanita akan jatuh dalam pelukannya.
"Kalau begitu baiklah,"kata Bella dengan senyuman manisnya.