
Jangan terlalu terkejut melihatku, aku hanya datang dan bukan untuk dirimu, bukan juga untuk mengenang bagaimana hubungan kita, hanya untuk mengingatkan diriku untuk tidak mengulang cerita yang sama.
____________________________________________
Aksa segera menyerahkan tangannya untuk di genggam oleh Bella, Bella langsung menyambut tangan Aksa, dengan sikap formilnya sebagai pangeran, Aksa membawa Bella menuju ke tengah ruangan, Bella juga dengan anggunnya berjalan di samping Aksa, semua orang memperhatikan mereka, alunan biola dan piano klasik langsung mengema, Angga segera merangkul pinggal kecil Bella, tangannya mengenggam tangan Bella dengan erat, menatapnya dalam-dalam seolah sudah begitu terpaut dengan mata Bella, sepertinya dia benar-benar sudah jatuh hati bahkan hanya dengan memandang matanya Bella.
Bella memandang wajah Aksa, pria ini pernah dicintainya dengan sepenuh hati, dengan seluruh raga dan jiwanya, pria satu-satunya yang dulu ada di dunia Bella, namun dia ternyata mencampakannya, sama sekali tidak memandang dirinya dan cintanya. Seketika hati Bella nyeri, mengingat betapa wajah hangatnya yang sekarang tampak, begitu dingin dan tak berperasaan menatap Bella yang merenggang nyawa, dia tidak akan pernah melupakkannya, sakitnya air yang menusuk bagaikan jarum-jarum kecil di kulitnya bahkan masih terasa hingga kini, dan semua itu gara-gara pria ini.
Bella mengetatkan gengaman tangannya yang di genggam oleh Aksa, namun secepatnya dia menetralisir hatinya dengan tersenyum. Tak ingin menunjukkan emosi dan amarah yang tertumpuk di hatinya, takut Aksa akan melihatnya pada matanya.
Angga menatap dengan tajam, wajahnya tampak begitu dingin, menatap begitu dalam hingga tak terasa ada rasa nyeri pada dirinya, ada rasa tak rela, dia tidak rela melihat cara Aksa dengan begitu mesranya memeluk pinggang Bella, bagaimana genggaman eratnya memengang tangan lentik Bella, tanpa dia sadari tangannya mengepal begitu kuat, namun dia mencoba menahannya, bagaimana pun jika dia keluar sekarang, semuanya akan kacau balau, dia tidak boleh mengikuti perasaan, lagi pula bagaimana dia bisa begini?, pikirnya sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain, berusaha mengontrol dirinya sendiri.
Sania benar-benar cemburu, rasanya seluruh tubuhnya begitu panas, terbakar api cemburunya yang membuatnya tidak tahan, dia lalu mengambil minuman yang ada di nampan yang dibawakan oleh pelayan, dia segera berjalan ke tengah lantai dansa itu, dan dengan segera menyiramkan air itu pada Bella, mendapatkan kelakuan seperti itu Bella tampak kaget, bukan hanya Bella, Aksa dan seluruh orang di sana benar-benar kaget.
" Apa yang kau lakukan? " kata Aksa dengan suaranya yang begitu besar, membuat suaranya mengema di ruangan itu.
"Aku tidak suka caranya menatapmu, Dasar, gadis murahan!” kata Sania hampir menampar Bella, namun cepat di tangkap oleh Angga yang tiba di sana tepat dengan waktunya, dia mengenggam erat tangan Sania, hingga dia meringis kesakitan. Angga sudah tidak mengunggunakan topengnya, menunjukkan betapa dingin wajahnya, tatapannya mengintimidasi Sania.
"Siapa yang kau sebut wanita murahan," kata Angga dengan nada marah. Bella bahkan begitu terkejut dengan nada bicara Angga, dia tidak pernah mendengar suara Angga begitu marah.
"Kau! Siapa kau ini? Lepaskan," Kata Sania berontak, ingin melepaskan dirinya.
"Aku Angga, benarkan, sepupu? "kata Angga berbalik melihat ke arah Aksa yang masih tampak kaget dengan kejadian ini, sedangkan orang-orang di sana terdengar berbisik-bisik, Angga termasuk orang yang terkenal, dia pengusaha sukses dengan pengaruh di mana-mana, namun tidak pernah menunjukkan diri jika tidak perlu, sekarang dia menunjukkan dirinya, bagi beberapa orang hal itu mengagetkan, karena hanya untuk bertemu dengannya saja sangat susah.
Sania kaget, Angga? Bukannya dia pengusaha sukses itu? Jadi wanita ini adalah wanitanya?, pikir Sania.
"Jangan pernah menyentuh wanitaku, lagi! "kata Angga menatap Sania lalu beralih ke Aksa, menekan kata 'lagi', seolah memperingatkan ke dua orang ini, dia menghempaskan tangan Sania dengan keras, baru melihat ke arah Bella. Angga memperhatikan Bella, wajahnya hingga ke bagian dadanya basah karena ulah Sania.
"Kau tidak apa-apa?” kata Angga melihat keadaan Bella, Bella tersenyum sedikit, minuman tadi terasa lengket pada rambut dan wajahnya, Angga merasa ini saat yang tempat untuk menunjukkan wajah Bella pada dunia, setidaknya ini akan membuat kekagetan Aksa akan bertambah, Angga lalu membuka topeng Bella, awalnya Bella merasa kaget, tapi dia mengerti tujuan Angga.
Angga melepaskan topeng itu pada wajah Bella, setelah melepaskan topeng itu, Bella lalu segera mengangkat wajahnya, menunjukkan wajahnya pada Aksa dan Sania, Angga terlihat berpura-pura mengelap wajah Bella dengan sapu tangannya.
Melihat wajah Bella, Aksa yang tadinya masih kaget bertambah kaget, bahkan saking kagetnya dia hingga mundur beberapa langkah, matanya bahkan terbelalak, seolah melihat hantu di tengah hari, Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tidak mungkin, Bella sudah mati, dia sudah memastikan bahwa Bella tidak bisa selamat di malam dingin itu, lagi pula mereka ada di perairan lepas, dengan gaun itu, dia bahkan akan kesusahan untuk mencapai permukaan, tapi kenapa sekarang dia ada di sini, seolah menebarkan teror untuk Aksa.
Sania pun begitu, dia kaget sekali melihat wajah Bella, benar, gadis ini yang beberapa hari lalu di lihatnya.
"Bella?” kata Aksa lemah tapi tetap terdengar karena suasana di sana sedang hening.
Bella dan Angga menatap Aksa, dia lalu memasang wajah bingungnya, menatap Aksa dalam, namun Aksa masih dengan wajah kagetnya yang teramat sangat, menatap tajam pada Bella, seolah ada emosi yang sangat terpendam dalam matanya.
"Siapa Bella?” kata Angga pada Bella.
"Entahlah, kemarin juga ada wanita yang memanggilku Bella,"kata Bella melihat ke arah Angga.
"Dia wanita yang kemarin aku ceritakan padamu," Kata Sania, dia membuat perhatian mereka tertuju padanya, dia lalu membuka topengnya, menunjukkan wajahnya pada Angga dan Bella.
"Oh, ya, kau wanita yang ada di café waktu itu kan?” kata Bella dengan aktingnya yang pura-pura baru ingat.
"Ya, dia juga memanggilku Bella, sama seperti Anda memanggilku tadi, siapa Bella?” kata Bella bertanya pada Aksa yang masih tidak bisa menutupi kekagetannya, mendengar pertanyaan itu Aksa segera terdiam, Sania juga tampak gugup.
"Jangan berpura-pura di depanku? Apa yang kau lakukan di sini?” Kata Aksa tampak marah, suara Aksa begitu keras, menggema di ruang yang terasa sepi, padahal begitu banyak orang di sana, mereka hanya menonton adegan yang ada di depan mereka sekarang seolah melihat film.
" Ada apa denganmu? Jangan mengunakan nada itu pada wanitaku,"kata Angga tampak membela Bella yang tampak kaget di bentak seperti itu.
"Wanita ini bernama Bella, Aku mengenalnya! Karena…” kata Aksa tercekat, untung saja dia masih bisa mengontrol dirinya, kalau tidak dia akan membuka rahasia kelamnya.
"Karena apa?” kata Bella begitu lembut seolah hanya ingin tahu, namun kelembutan suara Bella malah mengusik Aksa, membuat emosinya tak terbendung.
"Kau! Jangan berpura-pura lagi,"kata Aksa keras.
"Aku rasa ini sudah cukup keterlaluan Pangeran Aksa, Anda sudah melakukan hal yang tidak pantas pada wanitaku, dan 1 hal lagi, namanya Mika, aku sudah mengenalnya sejak aku kecil, jadi dia tidak mungkin dia bernama Bella, Terima kasih atas keramahan Anda, aku rasa aku tahu bagaimana sikap sopan keluarga kerajaan saat ini, permisi,"kata Angga dengan sangat tegas, membuat semua orang yang di sana jadi ribut kembali.
Benar… saking kagetnya Aksa jadi lepas kontrol dan membuat hal seperti ini, padahal hari ini begitu banyak teman dan kolega yang ada di sana, hal ini tentu membuat jelek namanya, membuat orang berpikir Aksa memilki tempramen yang buruk, bahkan bisa marah pada seorang wanita yang menurut mereka tidak punya salah apapun.
Angga membawa Bella keluar dari sana, seolah sudah puas membuat Aksa tampak buruk di begitu banyak orang, Angga tampak sedikit menaikkan sudut bibirnya, cukup bagus untuk permulaan mereka.
Aksa yang ada di sana hanya terdiam menatap kepergian Bella dan Angga, menatap dengan sangat tajam hingga tangannya terkepal kuat, urat-urat di tangannya terlihat jelas, suasana masih begitu riuh, namun dia benar-benar tidak peduli, dia hanya peduli, siapa sebenarnya wanita itu? Tampak begitu mirip, namun juga tampak berbeda… Bella tak mungkin punya keberanian untuk membalasnya, dan wanita itu punya aura yang sangat berbeda dengan Bella, siapa dia?
" Aksa? bagaimana dengan pesatanya? "kata Sania lembut mencoba menenangkan Aksa.
" BUBAR, PESTA SUDAH SELESAI! " kata Aksa dengan suara sangat keras, membuat Sania kaget, bukan hanya dia, seluruh orang di sana pun kaget, setelah mengatakan itu Aksa segera meninggalkan tempat itu, seluruh orang di sana pun juga pergi sambil saling menceritakan tentang Aksa yang begitu tempramental.
Angga segera membawa Bella ke mobil mereka, dia membukakan pintu untuk Bella, lalu membantu Bella memasukkan gaunnya, setelah itu dia baru masuk, dengan cepat segera mengambil kembali sapu tangannya, dan segera membersihkan cairan yang masih tersisa di wajah Bella.
"Apakah ada sesuatu yang basah di sini?” kata Angga pada supirnya, karena biasanya Asisten Jang selalu menyediakan apapun untuknya, saat ini Asisten Jang dan Judy tidak ikut, jadi dia tidak tahu apakah ada tisu basah di sana, supir segera menyerahkan tisu basah pada Angga. Angga dengan cepat mengambilnya, lalu dengan perlahan dan lembut membersihakn cairan yang lengket pada wajah Bella.
Bella melihat hal itu hanya terdiam, kenapa Angga tampak begitu cemas? Apakah dia masih bersandiwara juga? Padahal mereka kan sudah tidak bisa dilihat oleh Aksa lagi?, Bella hanya bisa terus menatap ke arah Angga yang masih sibuk membersihakan rambutnya. Bella tersenyum sedikit, bolehkah dia sekarang sedikit saja merasa perhatian Angga ini memang untuknya?. Kelembutan yang di berikan oleh Angga sekarang malah terasa begitu menyesakkan, Bella benar-benar tidak suka perasaannya sekarang.
"Masih terasa lengket? " kata Angga lagi.
"Tidak, sini biar aku saja,"kata Bella tersenyum tipis pada Angga, Angga yang melihat itu lalu menatap pada Bella, dia segera memberikan tissu itu pada Bella.
"Tadi bagus sekali,"kata Angga pada Bella.
"Yah, awal yang sempurna,"kata Bella tersenyum
Angga menatap Bella yang tampak tidak senang, dia tidak tahu kenapa? Tapi seharusnya Bella senang dengan apa yang sudah terjadi, tapi Bella tampak sendu, tampak sedikit suram, Angga jadi bingung kenapa? Apa jangan-jangan Bella masih memiliki hati dengan Aksa, sehingga melihat Aksa di permalukan seperti tadi dia menjadi tidak enak?, kenapa sekarang Angga yang merasa tak enak?. Angga membenarkan tuxedonya, lalu dia menatap ke arah depan.
" Kita pulang,"kata Angga dengan nada dinginnya.
Perjalanan pulang hanya hening, Bella tidak berbicara apapun, dan Angga pun hanya diam, setelah sampai di rumah, Bella segera masuk dan segera ke kamarnya, mereka tak bertegur sapa.