
Daihan yang baru saja memasuki areal dari kerajaan langsung dicegat beberapa orang berbaju tentara, Daihan yang melihat itu tentu emosi, dia ingin menerobos masuk san hampir menambark beberapa tentara yang ada di sana, namun jalannya tetap terhalang oleh mobil yang memblokade jalan, dia frustasi, Daihan langsung memukul stir mobilnya dan menghempaskan tubuhnya ke jok mobilnya. Tak lama kaca jendela mobilnya di ketuk oleh salah satu tentara di sana.
"Selamat malam Tuan Daihan, kami dari militer yang ditugaskan oleh presiden untuk melakukan misi penyelamatan, Anda tidak bisa masuk, namun Anda bisa ikut memantau," kata tentara itu memberikan penjelasan pada Daihan.
Daihan merasa tidak senang, dia tidak bisa tinggal diam dan hanya memantau keadaan, Daihan langsung keluar dari mobilnya.
"Apakah Presiden sudah memerintahkan penyelamatannya?" kata Daihan lagi
"Ya, Kami di perintahkan untuk melakukan penyelamatan, Presiden mengatakan apa pun yang terjadi ini adalah tanggung jawabnya nanti," kata Tentara itu lagi.
"Aku tidak bisa menunggu di sini," kata Daihan dengan wajah cemas, dia sekali lagi mencoba menerobos masuk.
"Tuan, tidak bisa, biarkan kami bekerja," kata tentara itu menahan Daihan
"Di dalam sana ada anakku, di dalam sana juga ada wanitaku, jika mereka aku tidak melakukan apa pun untuk mereka dan hanya memantau di sini, aku tidak akan bisa menjadi penjaga untuk mereka, kau tenang saja, aku bisa melakukannya," kata Daihan, matanya yang biasa tampak ramah itu sekarang penuh dengan amarah, emosi yang bahkan membuat tentara itu tampak tidak bisa menolak, ketegasan Daihan membuatnya langsung menyuruh para bawahannya untuk menyiapkan rompi anti peluru, dan perlengkapan lain untuk Daihan, bahkan alat komunikasi.
"Anda bisa mengunakan senjata?" kata tentara itu menyodorkan senjata api pada Daihan
"Aku punya izin kepemilikan senjata api dari pihak berwajib," kata Daihan mengambil senjata api itu dan memegangnya dengan mantap, seolah sudah terbiasa.
"Anda ikut saya," kata Tentara itu segera memimpin jalan.
Daihan segera mengikutinya, saat mereka sampai di gerbang istana, ternyata para tentara sudah menguasai tempat itu, bahkan saat mereka masuk ke dalam halaman dan menuju tempat Aksa, semua tempat itu sudah di amankan, namun mereka sebisa mungkin tidak membuat Aksa meyadari keadaan di luar istanannya. Para penjaga istana di lumpuhkan bahkan sebelum mereka bisa saling berkomunikasi.
Tentara itu membawa Daihan menyusup ke dalam ruangan istana Aksa, namun saat mereka hampir sampai di ruang tengah.
"Lapor, Nona Nakesha menyerang Pangeran Aksa dengan mengunakan botol minuman, sekarang mereka sedang mengejarnya," terdengar laporan dari alat komunikasi mereka. Daihan yang mendengar itu jantungnya langsung tak tenang, Nakesha sudah melakukan hal nekat untuk melindungi dirinya dan Archie, mereka harus cepat bertindak.
"Lumpuhkan," kata tentara itu yang ternyata pemimpin dari pasukan penyerangan ini.
Aksa terus mencoba mengejar Nakesha, Nekesha yang panik, hanya bingung dia harus ke mana, karena memang dia tidak tahu tempat ini, dan mungkin dewi keberuntungan belum berpihak padanya, lorong yang dipilihnya malah buntu, Nakesha bingung, tidak ada tempatnya bisa pergi apa lagi bersembunyi.
Aksa melihat Nakesha yang terpojok, dia hanya menyeringai jahat sambil terus memegangi kepalanya yang mengucurkan banyak darah, dia bahkan hampir merasa linglung karenanya, wanita ini benar-benar sudah membuatnya marah.
"Menjauh!" kata Nakesha yang tak sadar masih memegang pecahan botol kaca yang tadi dia pukulkan ke kepala Aksa. namun Aksa seperti kesetanan, dia tidak peduli, hanya menatap Nakesha dengan tatapan sinis yang sangat mengancam.
"Nona Nakesha, kau tahu tindakan mu ini sama saja seperti tindakan percobaan pembunuhan pada anggota kerajaan, kau tahu apa hukumannya, Mati! mati dengan cara yang sangat mengenaskan," kata Aksa benar-benar dengan nada suara yang sangat menyeramkan, bahkan diselingi tawa kecil mengancam, dia juga memandang Nakesha dengan sangat beringas, siap menerkam Nakesha.
Nakesha hanya bisa menelan ludah mendengarnya, cukup bingung dan ketakutan, dia tidak takut dengan keadaannya, hanya takut bagaimana nasib Archie nantinya jika Aksa bisa mendapatkannya.
Nakesha terus mengacungkan pecahan botol yang tampak tajam itu, jika Aksa berani masuk dalam jangkauanya, dia tidak peduli dianggap melakukan percobaan pembunuhan pada keluarga kerajaan atah apa, dia memang ingin membunuh pria gila ini, bagaimana kakaknya bisa bertemu dengan pria sekejam ini, dia tidak habis pikir, Nakesha pun akan memilih bunuh diri dari pada harus bersama pria seperti ini.
Saat Aksa sudah hampir mendekati Nakesha, pundaknya tiba-tiba digenggam seseorang, dia langsung melihat siapa yang sudah berani menghentikan langkahnya, namun belum sempat dia melihat ke arah belakang, sebuah pukulan telak sudah mendarat di rahangnya. Sangat keras hinga dia jatuh ke lantai, mungkin karena sudah cukup banyak darah keluar, dan akibat pukulan dari Daihan, Aksa ke susahan untuk bangkit.
Tapi Daihan segera menarik kerah kemeja yang di gunakan oleh Aksa, membantunya untuk kembali berdiri, Aksa melihat samar pada wajah Daihan, dan hanya tersenyum seperti orang gila, tak berapa lama baru terlihat jelas, Aksa tak mengenalnya.
"Ini untuk Mika!" kata Daihan kembali memukul wajah Aksa yang sudah sempoyongan, namun tangan kirinya masih memegang kerah Aksa, menbiarkannya Aksa agar dia tetap tegak dan tidak jatuh ke lantai. Mendapatkan kembali pukulan telak, Aksa benar-benar tidak bisa membalas apa pun kali ini, bahkan berbicara dia sudah tak sanggup, matanya terlihat merah, hidungnya mengeluarkan darah.
"Ini untuk Bella," kata Daihan memukul ulu hati Aksa dengan sangat keras, membuat Aksa langsung membungkuk, terbatuk, menahan nyeri yang sangat di bagian ulu hatinya, dia benar-benar tidak berdaya.
Nakesha yang melihat Daihan begitu benar-benar tidak pernah menyangka, dibalik sosoknya yang selalu tenang, ceria, ramah dan benar-benar hangat itu, jika marah, dia benar-benar sangat menakutkan.
"Dan ini untuk menculik Anakku dan wanitaku!" kata Daihan langsung memukul wajah Aksa dengan lututnya dengan sangat keras, hingga Aksa terjatuh dan tak sadarkan diri, saat dia melakukan itu, Nakesha hanya bisa terdiam, ternganga dengan apa yang di lakukan oleh Daihan, tak sadar dengan apa yang dikatakan Daihan.
Daihan benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan dirinya, dia sudah membenci pria ini bahkan sebelum dia mengenal Bella, saat dia tahu apa yang di lakukannya pada Bella dan Mika, kebencian itu semakin menjadi, saat itu dia masih bisa menahan diri, namun saat ini, karena sudah mencoba menculik dan mencelakakan Archie dan Nakesha, dia sudah tidak tahan lagi, bahkan jika harus mati bertarung dengan pria ini, akan dilakukannya. Daihan kembali menendang tubuh Aksa yang sudah tak berdaya.